Memohon agar Utang Lunas
Penulis: Fadhila Khasana
Editor: Zainab Ummu Raihan
LAFAL DOA
اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ وَرَبَّ الأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَىْءٍ فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَىْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ اللَّهُمَّ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَىْءٌ وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَىْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَىْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَىْءٌ اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ
“Ya Allah, Tuhan langit, Tuhan bumi, Tuhan ‘Arsy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu. Dzat yang membelah biji dan menumbuhkan benih. Dzat yang menurunkan Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau pegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkau adalah Al-Awwal, maka tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu. Engkau adalah Al-Akhir, maka tidak ada sesuatu pun setelah-Mu. Engkau adalah Azh-Zhahir, maka tidak ada sesuatu pun yang berada di atas-Mu. Engkau adalah Al-Bathin, maka tidak ada sesuatu pun yang berada di bawah-Mu. Lunaskanlah utang kami dan bebaskanlah kami dari kefakiran.” (HR. Muslim)[1]
MAKNA LAFAL:
- رَبَّ artinya Pencipta, Raja Diraja, dan Pengatur segala urusan makhluk.[2]
- الْعَرْشِ artinya atap seluruh makhluk. ‘Arsy adalah makhluk Allah yang paling besar.[3]
- فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى artinya Dzat yang membelah biji-bijian, seperti biji gandum, sehingga tumbuh darinya tanaman.[4]
- الْفُرْقَانِ artinya pembeda antara yang benar dan yang batil. Ini merupakan salah satu nama lain dari Al-Qur’an.[5][6]
- نَاصِيَةٌ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ Nashiyah berarti bagian depan kepala, dekat dahi. Maksudnya adalah Allah-lah yang menguasai ubun-ubun seluruh makhluk-Nya, menjadikan mereka tunduk kepada-Nya, serta mengatur segala sesuatu sesuai kehendak-Nya.[7]
- الأَوَّلُ artinya Yang Maha Pertama. Segala sesuatu selain Allah berasal dari ketiadaan. Dialah yang pertama memberikan karunia kepada hamba-Nya.[8]
- الآخِرُ artinya Yang Maha Terakhir. Allah adalah tempat berharap yang paling tinggi bagi seorang hamba. Segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah segala harapan ditujukan.[9]
- الظَّاهِرُ artinya Yang Maha Tampak (Zhahir). Sifat ini menunjukkan keagungan-Nya. Segala sesuatu tampak kecil di hadapan-Nya.[10]
- الْبَاطِنُ artinya Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi. Tidak ada satu pun perkara yang tersembunyi dari pengetahuan Allah.[11]
ULASAN DOA:
- Hadits ini diriwayatkan oleh Suhail bin Abi Shalih. Ia menceritakan bahwa apabila keluarganya hendak tidur, ayahnya, Abu Shalih, selalu menyuruh mereka untuk tidur menghadap ke sisi kanan, kemudian membaca doa pelunas utang.[12]
- Latar belakang diriwayatkannya hadits ini adalah ketika Fathimah binti Rasulullah radhiyallahu 'anhuma datang kepada beliau untuk meminta seorang pembantu guna membantunya mengurus pekerjaan rumah. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan apa yang diminta oleh putrinya. Beliau justru menawarkan sesuatu yang lebih baik, yakni mengajarkan doa yang dianjurkan untuk dibaca sebelum tidur.[13]
- Imam An-Nawawi menyatakan bahwa kalimat dalam doa ini mencakup hak-hak Allah dan hak-hak sesama hamba.[14]
- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kita untuk memperhatikan hak-hak sesama manusia, yaitu dengan berusaha melunasi utang jika memilikinya, sembari memohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan dalam membayarnya.[15]
- Doa ini juga mengandung permohonan agar Allah menjadikan kita tidak bergantung kepada makhluk dan tidak memiliki hati yang fakir.[16]
- Hadits ini menunjukkan disyariatkannya berdoa dengan bertawasul melalui Asmaul Husna.[17]
- Doa ini berisi permintaan perlindungan kepada Allah dari kejelekan semua makhluk-Nya karena hanya Allah-lah yang menggenggam semua urusan makhluk.[18]
- Doa ini juga berisi tentang perintah agar kita berpaling dari dunia menuju kepada dzikir kepada Allah dan berlindung dari kejahatan semua makhluk.[19]
Referensi:
- Imam Muslim. Shahih Muslim. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Situs web dorar.net. Syarah Hadits No. 127168. Diakses dari: https://dorar.net/hadith/sharh/127168
- Abdurrahman As-Sa’di. Taisirul Karimir Rahman. Dar Ibni Hazm.
- Al-Jaza’iri. Aisarut Tafasir. Dar Al-‘Alamiyyah li An-Nasyr wa At-Tauzi’.
- Abu Muslim Majdi bin Abdil Wahhab. Syarh Hishnul Muslim.
- Situs web kalemtayeb.com. Syarah Doa. Diakses dari: https://kalemtayeb.com/safahat/item/3167
- Ibnu Mundah. At-Tauhid Libni Mundah. Maktabah Syamilah.
- Abdurrahman bin Hasan At-Tamimi. Fathul Majid fi Tafsiri Surah Al-Hadid. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Ibnu Majah. Sunan Ibnu Majah. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Ubaidullah bin Muhammad Al-Mubarakfuri. Mura’atul Mafatih Syarhu Misykatil Mashabih. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Ali bin Sulthan Muhammad Al-Harawi. Mirqatul Mafatih Syarhu Misykatil Mashabih. Al-Maktabah Asy-Syamilah.