Serba-Serbi

Membangun dan Merenovasi Rumah : Melibatkan Jasa Perencana atau Kerjakan Sendiri Ya..?

Reporter: Loly Syahrul

Editor: Hilyatul Fitriyah


Suatu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sahabatnya yang sedang mengawinkan kurma. Beliau bertanya, “Apa ini?” Para sahabat menjawab, “Dengan begini, kurma jadi baik, wahai Rasulullah!” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ “Seandainya kalian tidak melakukan seperti itu pun, niscaya kurma itu tetaplah bagus.” Setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata demikian, para sahabat lalu tidak mengawinkan kurma lagi, tetapi justru kurmanya menjadi jelek. Ketika melihat hasilnya seperti itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, مَا لِنَخْلِكُمْ “Kenapa kurma itu jelek seperti ini?” Kata mereka, “Wahai Rasulullah, Engkau telah berkata kepada kami begini dan begitu…” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda,

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kamu lebih mengetahui urusan duniamu” (HR. Muslim, no. 2363)[1]

Rumah adalah tempat bernaung yang mencerminkan siapa penghuninya. Sebuah rumah sejak direncanakan dan ditempati, biasanya akan menginspirasi sang pemilik untuk terus berproses menjadikannya hunian yang lebih nyaman. Meski rumah telah dibangun sebagus mungkin pada suatu ketika, bisa saja dalam perjalanannya, sang pemilik merasa perlu melakukan renovasi sana-sini bahkan mungkin mengubah sama sekali menjadi bangunan baru.

Membangun atau merenovasi hunian, idealnya, dilakukan dengan perencanaan matang. Baik desain, biaya pelaksanaan, hingga waktu pembangunan tampaknya krusial untuk disusun dulu menjadi konsep. Jika dikerjakan begitu saja, bisa-bisa terkendala di tengah jalan, atau malah bangunannya tidak jadi. Wah, bisa rugi dong…

Merencanakan Peran

Perlu sinkronisasi antara desain dan anggaran biaya dari sebuah proses pembangunan. Jika biaya belanja ternyata tidak sesuai dengan pagu dana yang kita siapkan, bangunan impian kita sukar terwujud.

Setelah mengetahui biaya yang tersedia, apakah kita akan membangun sendiri atau melibatkan jasa pihak lain, baru bisa kita tentukan. Ada beberapa pilihan peran yang dapat kita pakai yakni:

Menggunakan jasa arsitek sedangkan perencana dan pelaksanaan pembangunan dikerjakan oleh kontraktor. Menggunakan arsitek yang juga merangkap kontraktor. Pemilik rumah merencanakan dan merealisasikan langsung pembangunannya dengan mempekerjakan tenaga kerja profesional dibawah pengawasannya. Mana di antara pilihan-pilihan ini yang paling efektif? Mari kita lihat..

Mengenali Peran Arsitek dan Kontraktor

Guna mengenali apa saja yang dikerjakan oleh masing-masing bagian, kita terlebih dulu perlu memahami peran dan tanggung jawab tiap posisi. Pada dasarnya ada dua peran penting yang bisa kita peroleh dari luar.

1. Arsitek

Arsitek perencana adalah profesional yang memberi jasa pelayanan untuk melakukan perencanaan arsitektur bangunan. Arsitek perencana membantu pemilik rumah merealisasikan apa yang mereka inginkan sehingga terwujud pola ruang yang efisien sesuai dengan fungsinya serta memberikan kenyaman dan keindahan penampilan bentuk arsitektur.

2. Kontraktor

Kontraktor adalah tenaga yang secara garis besar mengurusi manajemen sebuah proyek bangunan secara detail. Hal-hal yang menjadi tanggung jawabnya di antaranya merencanakan rencana proyek, jadwal, anggaran, alokasi bahan, pelaksanaan pembangunan, pengawasan proses pembangunan, hingga masalah keselamatan para pekerja.

Dari dua peran tersebut, kita dapat memilih hanya salah satu maupun mendapatkan keduanya sekaligus karena banyak juga jasa kontraktor yang turut menyediakan perencana bangunan dari segi desain seperti yang biasa dilakukan oleh arsitek.

Menggunakan Jasa Perencana Bangunan

Keuntungan memilih jasa arsitek sebelum membangun rumah sudah dirasakan oleh Ukhtuna Lana Saria, “Apa yang tadinya tidak terpikirkan oleh kita yang awam tentang bangunan, justru arsitek memberi kita ide dengan sangat baik, seperti tentang pemanfaatan ruang yang lebih efektif serta estetika yang ditampilkan,” ungkap ibu dua orang putri ini.

Santri Angkatan 231 ini menambahkan, “Proses merencanakan kami mulai dengan berdiskusi dengan arsitek tentang konsep bangunan yang kami inginkan. Setelah diskusi panjang, maka arsitek membantu kami merumuskan apa yang kami inginkan dalam bentuk gambar perencanaan.”

“Tentu saja dalam proses gambar ada beberapa kali perubahan, sampai akhirnya bisa memenuhi apa yang kami inginkan. Gambar yang kami terima bukan saja gambar teknik standar yang juga kita jadikan acuan perizinan pembangunan, tetapi kami juga mendapatkan gambar berbentuk video animasi,” jelasnya. Dari gambar berupa video animasi ini Ukhtuna Lana mengaku bisa melihat persis seperti apa hasil jadi bangunan yang ia inginkan nantinya. “Video animasi menambah keyakinan kami bahwa tata ruang dan penampilan bangunan sudah sesuai dengan harapan,” imbuhnya kemudian.

Menurut ASN di Kementerian ESDM ini, biaya yang dikeluarkan untuk jasa arsitek , angkanya terbilang jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan biaya pembangunan. Namun, menurutnya jika dianalisa kembali, keuntungan yang didapat justru melebihi apa yang dikeluarkan. “Dengan perencanaan detail yang baik di awal, maka dalam perjalanan pembangunan, biiznillah tidak ada yang meleset terlalu jauh dari rencana, baik ditinjau dari segi desain maupun biaya pembangunan,” ujarnya.

Menggunakan jasa arsitek, dari pengalaman Ukhtuna Lana, bisa meminimalisir risiko biaya pembangunan melebihi pagu dana di akhir proyek. “Tentunya informasi mengenai anggaran yang sudah disiapkan, perlu disampaikan di awal kepada arsitek perencana,” lanjutnya kemudian.

Ia juga menegaskan bahwa menggandeng arsitek perencana untuk merealisasikan pembangunan rumahnya adalah sesuatu yang paling efisien bagi mereka sebagai suami istri yang sama-sama bekerja dan tidak punya cukup waktu untuk mengurus semua tahap pembangunan. Ukhtuna Lana berbagi tips, “Pilihlah arsitek perencana yang sudah punya bukti referensi karya cipta,” saran beliau.

Melimpahkan Kepada Kontraktor

Setelah rencana pembangunan ada di tangan, tahap berikutnya adalah memulai pembangunan. Dalam tahap ini, seseorang bisa melibatkan pihak lain atau melakukannya sendiri. Melibatkan jasa dari luar berarti menyewa jasa kontraktor, sedangkan melakukannya sendiri bisa berarti tinggal merekrut tenaga tukang-tukang bangunan.

Dari pengalaman Ukhtuna Lana, ia melanjutkan proses pembangunan rumah dengan melibatkan kontraktor. Dan karena di tahap awal ia telah memilih arsitek perencana, maka Ukhtuna Lana memberi keleluasaan kepada sang arsitek untuk memilih partner kontraktor. “Untuk kontraktor pembangunan kami memutuskan dikerjakan oleh perencana sendiri dengan pertimbangan arsitek perencana pasti lebih mengerti bagaimana mewujudkan apa yang direncanakan ketimbang diterjemahkan oleh kontraktor lain,” ungkap Ukhtuna Lana membeberkan alasan.

“Selain itu kami tidak memerlukan biaya ekstra untuk pengawasan pembangunan. Keuntungan kami yang lain dari dua hal di atas adalah ketika pembangunan dilakukan oleh arsitek perencana, maka biaya desain yang sudah kami bayar di depan, dipotong 50% menjadi pengurangan biaya pembangunan,” Ukhtuna Lana berbagi pengalaman. Kalau hal ini, tentu saja mungkin akan berbeda, tergantung penyedia jasa arsitek perencana yang kita libatkan.

Sebelum menunjuk kontraktor, baik melalui arsitek perencana maupun tidak, Ukhtuna Lana mengingatkan, bahwa kita perlu memperhatikan karakter orang atau pihak yang akan kita amanahi, dengan melihat referensi proyek-proyek sebelumnya.

“Dan yang terpenting adalah memanjatkan doa kepada Allah, agar kontraktor pelaksana yang kita pilih adalah orang yang jujur dalam mengemban amanah. Sehingga berkah Allah melimpahi semua yang terlibat dalam proses ini, insyaallah," pungkasnya.

Membangun Secara Mandiri

Berbeda dengan Ukhtuna Lana, Ukhtuna Mona Estiwati, santri HSI Angkatan 242, memilih mengerjakannya secara mandiri. Baginya berkreasi dalam mendesain ruang-ruang di kediaman miliknya justru suatu tantangan yang menyenangkan. “Karena ini bagian dari proses mewujudkan mimpi,” ujarnya.

“Sebelum merenovasi ana berkonsultasi dan berdiskusi dengan tukang dan kepala tukang tentang bagaimana wujud desain yang ana dan suami inginkan,” papar Ukhtuna Estiwati menceritakan langkah pertamanya.

Sedangkan ide desain, diakui Ukhtuna Estimati, banyak diambilnya melalui internet. “Alhamdulillah para tukang yang ana kenal mempunyai keahlian masing masing, sehingga mereka mengerti apa yang ana inginkan,” jelas ibu tiga anak ini. Kemudian, khusus untuk memenuhi kebutuhan material, Ukhtuna Estiwati mengaku telah mempunyai langganan toko bangunan yang jaraknya lumayan dekat. Ini amat menguntungkan karena Ukhtuna Estiwati tak perlu lagi was-was akan kebenaran harga bahan-bahan bangunan. Sedangkan, kebutuhan belanja interior seperti ubin dan cat, Ukhtuna Estiwati memilih berburu di supermarket bangunan terkenal di kotanya.

Biaya Mungkin Membengkak

Hal paling perlu diperhatikan ketika kita memutuskan membangun sendiri atau merenovasi bangunan kita tanpa melibatkan jasa arsitek maupun kontraktor, adalah tentang besaran biaya. Hal ini dibenarkan Ukhtuna Estiwati yang mempunyai pengalaman pembengkakan biaya ketika melakukan pembangunan.

“Yang perlu diperhatikan adalah batas anggaran,” ujarnya. Batas anggaran ini perlu sebagai sistem kontrol di awal menurutnya. Ukhtuna Estiwati rupanya belajar dari pengalaman karena ia mengaku pernah mengalami over budget alias pembangunan yang dilakukannya memakan biaya melebihi anggaran.

Tapi di sisi lain, inilah keuntungan membangun sendiri tanpa melibatkan pihak luar. Dengan membangun sendiri, saat ternyata bujet tak memadai pun, kita bisa langsung menghentikan pembangunan dan melanjutkan pada waktu dana telah tersedia.

Menurut Ukhtuna Estiwati mewujudkan sendiri rumah impian memberikan sensasi yang berbeda dalam jiwa. “Ada kepuasan batin,” timpalnya. “Selain menambah pengalaman dalam mengeksplor dunia arsitektur serta tata ruang,” pungkasnya.

Hati-hati dalan Memilih

Meski terbilang menguntungkan, melibatkan pihak luar dalam proses pembangunan perlu ketelitian. Salah memilih rekan pembangun, bisa rusak semua rencana dan mimpi bengunan tak terwujud.

Pengalaman buruk berbisnis dengan kontraktor menjadi pengalaman berharga bagi Ukhtuna Yesi Jasrah Septia, santriwati HSI Angkatan 222. Ukhtuna Yesi yang juga pengusaha pakan kuda ini menemukan kontraktor dari media online. Bersama sang suami yang juga santri HSI, mereka mempercayakan sebuah proyek pembangunan pada si kontraktor.

“Sebagaimana umumnya, kontraktor tersebut juga mengajukan gambar atas rencana renovasi yang akan kami kerjakan. Lalu dari gambar tersebut kami menyepakati harga bangunan untuk dikerjakan hingga selesai,” ungkap Ukhtuna Yesi.

“Sayangnya karena ketidakpahaman saya dan suami, maka pembayaran kami kepada kontraktor tidak diikuti pengawasan progress pengerjaan,” ungkapnya bernada menyesal. “Pembayaran sudah lunas, tapi pembangunan nyatanya belum selesai,” ujar Ukhtuna Yesi membagikan pengalamannya.

“Qadarullah, si kontraktor meninggalkan pekerjaannya sehingga bangunan kami terbengkalai,” timpal ibu satu putra tersebut. Dari pengalaman pahit tapi demikian berharga itu, Ukhtuna Yesi tidak ragu-ragu lagi menanyakan rekam jejak kontraktor, arsitek, maupun berbagai penyedia jasa perencana bangunan secara detail di awal. Menurutnya hal ini sangat perlu diketahui untuk meminimalisir kemungkinan berpartner dengan pihak tidak bertanggung jawab seperti yang dialaminya.

Mungkin ada baiknya, kita juga mengecek kebenaran informasi rekam jejak yang disampaikan oleh penyedia jasa yang hendak kita pilih juga, karena dengan demikian informasi yang kita peroleh benar adanya. Menanyakan langsung kepada customer atau pelanggan si penyedia jasa perencana bangunan tampaknya juga bisa menjadi jurus jitu menghindarkan diri dari penipuan atau kerja buruk sang kontraktor.

Dari Kacamata Perencana Bangunan

Contoh-contoh gambar desain rumah memang bertebaran di dunia maya, sehingga dengan mudah kita bisa mengaksesnya untuk diaplikasikan di rumah sendiri. Akan tetapi, jika kalangan awam yang hendak merealisasikan contoh-contoh desain tersebut, perlu beberapa hal sebagai pertimbangan.

Bapak Kenny Karli, seorang arsitek yang sudah berpengalaman lebih dari dua puluh lima tahun dalam dunia arsitektur mempunyai pandangan tersendiri tentang fenomena ini. Menurutnya seorang arsitek perencana mempunyai sistem kerja yang terpola dan beraturan. “Garis yang ditarik dalam gambar untuk diwujudkan dalam dunia nyata itu ada asal usul, ada alasan, dan ada analisanya,” ujarnya. “Jadi semua desain yang dihasilkan berasal dari analisa pemikiran yang menyeluruh. Perencana bangunan bekerja dengan konsep yang jelas. Tentu saja hasilnya tidak sama jika orang hanya mengambil atau mencontoh desain dari luar lalu diterapkan di rumahnya,” papar Pak Karli.

“Perencana bangunan merumuskan konsep rumah tinggal sesuai dengan karakter pemiliknya, membantu mewujudkan apa yang diinginkan pemilik rumah agar sejalan dengan kaidah-kaidah arsitektur. Kaidah-kaidah arsitektur itu menghasilkan bentuk yang dihasilkan dari pendalaman yang mendalam. Berawal dari mendalami aktivitas pengguna bangunan di dalam ruang, kebutuhan ruang-ruang yang ideal, urutan-urutan ruang di dalam rumah, pemilihan jenis konstruksi yang ideal dan efisien, material yang akan digunakan, dan pemakaian warna,” ujar Pak Karli merinci. “Semua itu dikemas menjadi penampilan arsitektur yang tidak saja indah dari segi penampilan, akan tetapi juga menjadikan bangunan fungsional dan kokoh,” jelas pemilik Biro Arsitektur KKARCH ini.

Beliau juga memberi catatan bahwa untuk membangun rumah baru dari nol, serta merenovasi besar-besaran yang melibatkan perubahan konstruksi, sebaiknya kita menggunakan tenaga ahli agar terhindar dari kerugian lebih besar di kemudian hari. Sebab jika perencanaan dan pembangunan tidak dikerjakan oleh mereka yang berilmu dalam bidang konstruksi, hasilnya bisa saja jauh dari kenyamanan bahkan mungkin tidak berumur lama.

Sementara, untuk renovasi yang tidak besar atau renovasi yang tidak melibatkan perubahan konstruksi, Pak Karli berpandangan boleh-boleh saja dan masih aman-aman saja seseorang yang tidak punya latar belakang pendidikan arsitektur untuk berkreasi.

Rupanya, membangun atau melakukan renovasi rumah bukanlah perkara sederhana. Diperlukan kecermatan khusus di dalamnya. Kita perlu menetapkan strategi sesuai kondisi masing-masing agar pembangunan yang kita lakukan berjalan efektif. Mau membangun sendiri atau berkolaborasi dengan berbagai penyedia jasa bangunan, silahkan saja. Pilihan ada di tangan antum. Selamat membangun. Jangan lupa berdoa sebelum mulai membangun atau merenovasi ya… Semoga Allah mudahkan semua urusan. Baarakallahu fiikum

4