Melatih Itsar, Mengurangi Ego
Penulis: Hawwina Fauzia Aziz
Editor: Faizah Fitriah
Zaman terus berubah. Tak dipungkiri perubahan tersebut bukan sebatas pada modernisasi teknologi, namun juga berpengaruh pada dinamika sosial bermasyarakat. Perlahan tanpa sadar, arus perubahan tersebut membawa manusia pada sifat individualistis—setiap pihak cenderung memandang dengan lensa “diriku sendiri” dibandingkan “kebersamaan” dalam bermasyarakat. Ukuran kebahagiaan dilihat dari seberapa banyak yang dimiliki, seberapa terpenuhi kepuasan pribadi, dan seberapa besar perhatian yang diterima dari orang lain.
Fenomena ini dapat ditemui, baik pada diri laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi, tak jarang pula stereotipe semacam ini kerap dilekatkan pada diri wanita. Barangkali, kita pernah mendengar adanya anggapan bahwa wanita itu identik dengan sifat pelit, egois, sulit mengalah, terlalu mementingkan dirinya sendiri, dan lain sebagainya. Lantas, apakah sikap tersebut merupakan fitrah ataukah sebatas salah kaprah?
Makna Itsar dan Keutamaannya
Di dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat ke-9, Allah Ta’ala memuji kaum Anshar dengan sifat itsar-nya, Allah Ta’ala berfirman,
وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Secara bahasa, itsar (الإِيْثَارُ) maknanya ialah altruisme[1]; yakni mengutamakan, atau mendahulukan orang lain[2], berasal dari kata آثَرَ-يُؤْثِرُ-إِيْثَارًا)). Adapun secara istilah, itsar ialah mendahulukan orang lain dalam urusan dunia[3] dengan berharap pahala walaupun diri sendiri sebenarnya juga butuh.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam menafsirkan ayat ini beliau menjelaskan, “Yaitu seseorang lebih mengutamakan orang-orang yang membutuhkan daripada kebutuhan dirinya sendiri. Mereka mendahulukan orang lain sebelum diri mereka sendiri ketika mereka juga sedang membutuhkan hal tersebut.”[4]
Itsar berbeda dengan sekadar berbagi biasa. Dalam berbagi biasa, seseorang bisa saja memberi saat dirinya memiliki kelebihan. Namun dalam itsar, seseorang tetap memberi walaupun dirinya sendiri juga sedang membutuhkan hal tersebut.[5]
Kendati demikian, akhawati fillah, Islam adalah agama yang adil dan proporsional. Itsar bukan berarti menzalimi diri sendiri. Seseorang tidak boleh meninggalkan yang menjadi kewajibannya demi manusia lain. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa itsar yang terpuji adalah dalam perkara dunia, bukan dalam kewajiban syari’at.[6]
Ada begitu banyak keutamaan memiliki sifat itsar, dan yang paling utama ialah dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al-Mu’jamul Kabir no. 13280, 12: 453. Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 176).[7]
Wanita Anshar: Teladan dalam Kedermawanan dan Kelapangan Hati
Kaum Anshar adalah salah satu teladan terbaik dalam itsar. Mereka menyambut kaum Muhajirin dengan tangan terbuka, berbagi rumah, makanan, bahkan harta, terlepas dari kondisi mereka sendiri yang bahkan tidak jauh lebih baik.
Tentunya, semangat itsar ini juga hidup dalam diri wanita-wanita Anshar. Mereka mendukung suami-suami mereka untuk membantu saudara sesama muslim. Mereka ikut berbagi makanan, menerima tamu, dan hidup sederhana demi mendahulukan kepentingan orang lain. Pernahkah terbayang oleh kita bagaimana kondisi Madinah saat itu? Di masa itu, tak semua keluarga hidup berkecukupan. Persediaan makanan terbatas, kehidupan sederhana, namun kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi. Akan tetapi, semua itu tidak menghalangi mereka untuk mengedepankan mentalitas memberi.[8]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menceritakan kisah mulia tentang seorang Anshar yang menjamu tamu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal makanan di rumahnya hanya cukup untuk anak-anaknya. Ia dan istrinya pun sepakat menidurkan anak-anak lebih awal, lalu di tengah gelapnya malam, mereka berpura-pura ikut makan agar tamunya tidak merasa sungkan. Bayangkan, mereka rela menahan lapar sekeluarga demi memuliakan tamu.[9]
Setelah taufik dari Allah Ta’ala, hal yang perlu diketahui bersama sifat tersebut merupakan buah manis dari keshalihan seorang istri yang ikut berperan besar dalam pembentukan akhlak itsar. Ia tidak marah karena makanan rumah diberikan kepada orang lain, ia tidak mengeluh karena harus menahan lapar, justru ia membantu suaminya melakukan kebaikan. Inilah gambaran muslimah di zaman salaf yang tidak perhitungan dalam kebaikan dan ikut bahagia melihat orang lain terbantu.
Egoisme Bukan Fitrah Wanita
Barangkali sudah tak asing terdengar di telinga kita, adanya anggapan terhadap wanita sebagai sosok yang lebih emosional, lebih perhitungan, dan lebih mementingkan dirinya sendiri. Harus diakui bahwa faktanya, Allah Ta’ala memang melebihkan wanita dalam hal perasaan. Akan tetapi, sifat-sifat negatif tersebut bukanlah fitrah wanita, melainkan hasil dari kebiasaan, lingkungan, serta lemahnya pendidikan iman.
Kenyataannya, Islam justru membentuk muslimah agar merawat fitrahnya untuk memiliki hati yang lembut, mudah peduli, dan penuh kasih sayang. Banyak perintah dalam Islam yang melatih kepekaan sosial seorang wanita, seperti sedekah, berbagi makanan, memberi kenyamanan atau tidak mengganggu tetangga, memuliakan tamu, dan lain sebagainya.
Akhawati fiddin rahimakunnallah, karakter wanita yang lembut dan berperasaan sejatinya merupakan potensi besar untuk melahirkan sifat itsar. Hanya saja, jika hati sudah dipenuhi cinta dunia dan kebiasaan memikirkan diri sendiri, fitrah empati tersebut perlahan melemah, bahkan menghilang.
Berangkat dari hal ini, penting bagi seorang muslimah untuk terus memperbaiki iman dan membersihkan hati. Akhlak yang indah tidak akan lahir hanya sekadar dari teori, melainkan dari hati yang terus dirawat kebersihannya sehingga ia hidup dalam keimanan yang kuat. Ketahuilah, wahai saudariku, hati yang hidup dengan iman, bi’idznillah akan menggerakkan anggota tubuh untuk melakukan amalan ketaatan.
Tantangan Itsar bagi Muslimah di Zaman Ini
Saat ini, kehidupan modern sangat menekankan self-centered atau fokus berlebihan pada diri sendiri. Terlebih, adanya media sosial kini juga membuat wanita menjadi sibuk membandingkan hidupnya dengan orang lain (kecuali mereka yang Allah rahmati). Tak ayal, hal ini membuat wanita cenderung mudah merasa kurang, iri, dan sulit melihat kebutuhan sesama.
Belum lagi dinamika di dalam rumah tangga yang tak selalu mulus jalannya. Banyak wanita merasa lelah secara mental karena pekerjaan rumah, mengurus anak, tuntutan ekonomi, dan kurangnya dukungan emosional di lingkungan.
Kita memahami bahwa dalam kondisi lelah, seseorang memang biasanya menjadi lebih sensitif dan lebih fokus pada dirinya sendiri. Ia hanya ingin dipahami, diperhatikan, dan dipenuhi kebutuhan perasaannya terlebih dahulu. Akan tetapi, jika kita mampu menurunkan ego dan melihat keadaan dengan perspektif dengan lensa yang lebih luas, maka kita akan mendapati bahwa keluarga yang hangat tidak dibangun dengan sikap “aku dulu”, tetapi dengan pengertian “kita bersama”.
Maka dari itu, itsar mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari menerima. Justru sering kali, hati kita menjadi lebih lapang ketika kita mampu memberi dan saling berbagi kebahagiaan tatkala kita sendiri membutuhkan.
Oleh karenanya, akhawati fillah hafizhakunnallah, hendaknya kita perlu banyak berlatih melawan ego dengan iman. Bukan berarti harus selalu mengalah dalam semua hal, tetapi belajar memiliki hati yang ringan untuk berbagi dalam perkara dunia. Di zaman ini, melatih itsar memang banyak tantangannya, akan tetapi, bukan berarti mustahil untuk dilakukan.
Tips Melatih Itsar
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, sifat itsar adalah akhlak mulia yang tinggi melebihi dermawan. Insyaallah, sifat tersebut dapat dilatih sedikit demi sedikit, dimulai dengan melakukan hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari kita, yakni di antaranya;
1. Mendahulukan Keluarga dalam Hal Mubah
Dalam kehidupan rumah tangga, seorang istri bisa melatih itsar dengan mendahulukan kebutuhan suami dan anak dalam perkara-perkara mubah. Misalnya, memberikan bagian makanan terbaik untuk keluarga, mendahulukan kebutuhan anak sebelum membeli keinginan pribadi, atau meluangkan perhatian kepada pasangan meskipun sedang lelah.
Hal-hal sederhana seperti ini melatih hati agar tidak selalu menjadi pusat perhatian. Tidak harus selamanya “mengorbankan” kesenangan diri. Dengan contoh sederhana inilah setidaknya yang bisa kita praktikkan dalam melatih sifat itsar dalam kehidupan sehari-hari. Tiap-tiap pihak yang ingin agar bahtera rumah tangganya berlabuh di surga, seyogianya menjadikan prinsip “saling menunaikan hak” sebagai jangkarnya, karena faktanya, rumah tangga yang dibangun di atas prinsip “saling menuntut hak”, hanya akan melahirkan egoisme di antara pasangan, dan tak jarang menjadikan bahtera tersebut karam, tak sempat berlabuh.
2. Berbagi dengan Sesuatu yang Terbaik
Berbagi makanan terbaik kepada kerabat, tetangga atau teman yang terlihat membutuhkan, membantu orang yang kesulitan, atau mentraktir orang lain meskipun dengan rupa atau nominal yang sederhana, ini semua sudah termasuk latihan bersikap itsar.
3. Mengurangi Perhitungan Berlebihan
“Kalau aku memberi, nanti buat aku sendiri jadi kurang.”
“Kalau aku membantu, siapa yang membantu aku?”
“Kalau aku mengalah terus, nanti aku capek sendiri.”
Pikiran seperti inilah yang sering kali membuat hati kita sempit. Faktanya, seseorang yang yakin kepada jatah rezeki dari Allah Ar-Razzaq serta balasan kebaikan dari Allah ‘Azza wa Jalla, bi’idznillah akan lebih mudah memberi tanpa banyak perhitungan, karena ia tahu bahwa rezeki masing-masing hamba sudah tertakar dan kebaikan sekecil apa pun pasti ada balasan di sisi-Nya, jika ia benar-benar mengikhlaskan niat dan berharap pahala dari-Nya.
4. Bertanya pada Diri
Empati membuat seseorang lebih mudah memahami kesulitan orang lain. Mari kita berlatih membiasakan diri untuk bertanya, “Bagaimana jika aku berada di posisinya?”
Pertanyaan seperti ini sedikitnya mampu untuk melembutkan hati dan mengurangi ego. Muslimah yang penuh empati akan lebih mudah dalam membantu, memaafkan, dan berbagi.
5. Tetap Menjaga Keseimbangan
Akhawati fillah, itsar bukan berarti menzalimi diri sendiri. Seorang muslimah tetap perlu menjaga kesehatan, menunaikan kewajiban, dan mengatur energi dengan baik. Jangan sampai karena semangat memberi justru membuat diri kelelahan yang menyebabkan dirinya lalai dari kewajibannya terhadap Rabb-nya.[10]
Buah dari Itsar
Sifat itsar, bi’idznillah, melahirkan banyak kebaikan. Dalam rumah tangga, itsar menghadirkan suasana hangat dan saling memahami. Suami dan istri tidak sibuk menuntut hak masing-masing, tetapi berlomba untuk saling memberi. Dalam lingkungan sosial, itsar menguatkan ukhuwah dan mengurangi konflik. Bukankah tak jarang pemicu dari pertengkaran bermula dari sebab setiap orang ingin “diutamakan”? Selain itu, itsar juga membuat hati lebih tenang, karena orang yang gemar memberi biasanya lebih bahagia dibandingkan orang yang terlalu sibuk menjaga miliknya—dan ini adalah nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada mereka yang ringan dalam memberi.
Inilah keindahan Islam. Agama ini tidak hanya mengajarkan ibadah dengan anggota badan, tetapi juga bagaimana agar bisa memiliki hati yang bersih, akhlak yang mulia, jiwa yang lapang dan lingkungan yang harmonis. Muslimah yang memiliki sifat itsar akan menjadi sumber ketenangan dalam rumahnya, ringan dalam membantu, tidak mudah perhitungan, serta ikut bahagia melihat orang lain bahagia.
Kaum Anshar telah memberi teladan bahwa kemuliaan bukan terletak pada banyaknya harta, melainkan pada luasnya hati. Maka, mari belajar menjadi muslimah yang penuh empati dan tidak terlalu sibuk menghitung pengorbanannya sendiri. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memberi taufik kepada kita dalam menghiasi hati kita dengan akhlak itsar, menjadikan rumah-rumah kita dan lingkungan kita penuh kasih sayang, serta menjauhkan kita dari sifat egois yang menyempitkan hati.
Sebab sejatinya, kebahagiaan tidak selalu lahir dari menerima lebih banyak, melainkan justru sering kali tumbuh dari keluasan hati untuk memberi dalam perkara dunia, merelakan sesuatu yang kita inginkan untuk diri sendiri, demi mendahulukan orang lain.
Sikap itsar tak akan pernah sama dengan people-pleasing. Hal ini karena akhlak itsar tidak berorientasi kepada makhluk, akan tetapi meniatkannya dengan tulus karena mengharapkan kenikmatan memandang Wajah Allah ‘Azza wa Jalla.
Saudariku ahabbakunnallah, sadarilah bahwa dunia ini tidak ada apa-apanya dibandingkan kenikmatan yang abadi di surga kelak. Apa yang kita relakan dari perkara dunia yang kita sukai—kelak hal tersebut akan datang kepada kita dalam bentuk lain yang jauh lebih baik; sebuah pahala yang memberatkan timbangan amal shalih di akhirat, dan sungguh hal itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim.
- Shahih Al-Bukhari, Maktabah Syamilah.
- Shahih Muslim, Maktabah Syamilah.
- Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah Syamilah.
- Nashiruddin Al-Albani, Shahih al-Jaami’ ash-Shaghiir wa Ziyaadatuh’, Maktabah Syamilah.
- Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Madarijus Salikin, Dar al-Kitab al-Arobiy, Maktabah Syamilah.
- As-Suyuthy, Al-Asybah wan Nazha’ir, Maktabah Syamilah.
- Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Thariqul Hijratain, Dar ‘Athoat al-‘Ilm: Riyadh, Maktabah Syamilah.
- https://almaany.com
- https://terminologyenc.com
- https://kbbi.web.id