Tarbiyatul Aulad
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Melatih Anak Menghormati Waktu Mulia dalam Keseharian

Penulis: Indah Ummu Halwa, Hawwina Fauzia

Editor: Za Ummu Raihan


Aba dan Umma, sebagai pendidik, orang tua, sekaligus teladan bagi anak-anak, sudahkah kita benar-benar menyadari bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dalam hidup kita?

Sering kali, tanpa kita sadari, kita memandang waktu hanya sebagai “waktu luang” yang berlalu begitu saja, seolah-olah bisa diisi dengan aktivitas apa pun tanpa makna. Padahal, waktu bukan sekadar ruang kosong yang bebas digunakan sesuka hati.

Sebagai orang tua, kita perlu menanamkan sejak dini kepada anak tentang pentingnya menghargai waktu. Termasuk di dalamnya mengenalkan bahwa dalam Islam terdapat waktu-waktu yang dimuliakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, seperti bulan Dzulqa’dah, salah satu dari bulan-bulan haram yang memiliki keutamaan khusus.

Mengapa hal ini penting? Ketika anak tumbuh dengan kesadaran akan nilai waktu, mereka tidak hanya belajar disiplin, tetapi juga memahami fondasi aqidah yang benar bahwa kehidupan di dunia ini sementara. Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga, dan ia merupakan bekal utama untuk meraih kehidupan terbaik di akhirat kelak.

Ilmu Sebelum Amal: Menjelaskan Teori Sederhana kepada Anak Mengenai Bulan Haram

Sebelum kita melakukan praktik atau menerapkan suatu ilmu, rasanya tentu kita juga perlu untuk menjelaskan kepada anak teori mengenai bulan haram dengan sederhana, sesuai usia dan pemahaman sang anak. Tanpa teori, seorang anak tidak akan memahami apa itu “waktu”? Apa maksudnya waktu-waktu yang dimuliakan oleh Allah ‘Azza wa Jalla? Maka sebagai orang tua, inilah tugas kita untuk memberikan pemahaman kepada anak mengenai bulan haram, yakni waktu-waktu khusus yang ditentukan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, di mana pada saat itu amal kebaikan dilipatgandakan, begitu pula dengan dosa dan keburukan.

Praktik Ketaatan Sederhana untuk Anak di Bulan Haram

Maka di momen bulan haram ini, saatnya kita melatih dan menanamkan ketaatan-ketaatan sederhana pada anak, misalnya seperti:

Adab Ketika Berselisih atau Bertengkar

Hakikatnya, usia kanak-kanak adalah masa yang masih mudah untuk dibentuk karakternya dan diarahkan. Masa kanak-kanak adalah masa belajar, ia baru belajar mengenal jenis-jenis emosi, sehingga untuk mengontrol emosi, ego dan hawa nafsunya pun, tentu masih sangat membutuhkan banyak bimbingan oleh orang tuanya.[1] 

Maka sesungguhnya wajar jika seorang anak memiliki emosi yang mungkin masih suka meledak-ledak. Akan tetapi, tentu dalam hal ini orang tua memiliki tanggung jawab dalam mendidik dan mengarahkannya, agar sang anak bisa melewati fase belajar pengenalan emosinya dengan cara yang baik dan benar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Yang namanya kuat bukanlah dengan pandai bergelut. Yang disebut kuat adalah yang dapat menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari no. 5763 dan Muslim no. 2609).[2]

Hadits ini memberi makna dari perspektif agama tentang kekuatan, bahwa dalam Islam menahan ego diri adalah bentuk kekuatan yang sejati.

Maka, ketika anak sedang berselisih dengan saudaranya misalnya, marah, atau bertengkar, orang tua bisa mendekat, menanyakan alasan, menawarkan solusi, menenangkan, menciptakan perdamaian, sembari mengingatkan/sounding tentang kemuliaan waktu di bulan ini, seperti misalnya, "Kalau di waktu yang Allah muliakan, kita harus lebih bisa belajar tahan marahnya, ya, supaya seterusnya kita nggak mudah marah-marah lagi..”, dan sebagainya.

Insyaallah kalimat ini tidak hanya meredakan emosi, tetapi juga menanamkan latihan pengendalian emosi pada diri anak.

Menjaga Ucapan Sehari-hari

Aba dan Umma, tahukah kita bahwa lisan adalah gambaran isi hati kita? Maka, melatih anak untuk menjaga setiap kata maupun kalimat yang keluar dari lisannya, tidak berkata kasar, tidak mengejek, dan tidak berbohong adalah bagian penting dari pembentukan akhlak sebagai seorang muslim yang sesungguhnya. Mungkin beberapa dari kita sudah banyak mendengar berbagai dalil baik dalil Al-Qur’an maupun As-Sunnah mengenai peringatan akan pentingnya menjaga lisan, maka kali ini, kita akan bawakan salah satu sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang rasanya juga akan sangat memotivasi kita dalam menjaga lisan dan ucapan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim no. 2988).[3]

Maka di waktu-waktu mulia ini, orang tua bisa mengingatkan anak dengan pesan, "Kalau di hari-hari biasanya kita memang harus selalu menjaga ucapan, maka di waktu-waktu sekarang ini kita harus lebih hati-hati lagi, ya.”

Menghormati Hak Orang Lain

Sikap menghormati milik orang lain tidak muncul begitu saja. Ini perlu dilatih, bahkan dari hal-hal yang tampak sepele. Misalnya seperti mengajarkan anak untuk meminta izin sebelum mengambil barang, tidak merusak milik orang lain, bertanggung jawab atas apa yang digunakan. Semua ini adalah bagian dari amanah.[4]

Berlatih untuk Tidak Membantah

Membantah sering kali menjadi fase dalam tumbuh kembang anak. Namun jika tidak diarahkan, ini bisa menjadi kebiasaan. Anak perlu dilatih untuk mendengar sebelum berbicara, tidak memotong pembicaraan dan menjawab dengan tenang. Sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla yang memerintahkan kepada kita semua untuk berlaku lembut kepada kedua orang tua, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

“Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua (menyayangiku ketika) mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al-Isra': 24).

Ketika anak mulai meninggikan suara misalnya, orang tua bisa mengingatkan dengan lembut seperti misalnya, "Nak, jangan lupa bahwa kita sedang berada di bulan haram, kita belajar lebih lembut sama orang tua, ya.”

Hendaknya orang tua menasihati tanpa berbalut dengan emosi, tetapi dengan keteladanan dan kelembutan.

Melatih Tanggung Jawab Kecil

Disiplin akan tumbuh dari kebiasaan kecil yang konsisten. Keteladanan dan ketegasan dari orang tua sangat dibutuhkan dalam membentuk karakter ini, misalnya seperti merapikan mainannya sendiri setelah selesai bermain, menyimpan barang-barang pribadi, dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah tepat waktu, dan sebagainya. Sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ


"Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain)" (QS. Asy-Syarh: 7).

Maka di waktu mulia, orang tua bisa mengingatkan seperti, "Saat ini kita sedang berada di bulan haram, jadi, kita harus coba belajar untuk lebih semangat dan bertanggung jawab atas diri kita sendiri-sendiri, ya…”

Kebiasaan Baik yang Ringan, Namun Konsisten

Sering kali kita ingin anak melakukan banyak kebaikan sekaligus. Padahal, yang lebih penting adalah konsistensi. Mulailah dari kebiasaan baik atau ketaatan yang ringan seperti membaca doa-doa harian yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis-hadis sahihnya, rutin membaca zikir pagi dan petang, menjaga shalat 5 waktu secara berjamaah di masjid bagi anak laki-laki, menjaga shalat tepat waktu untuk anak perempuan, dan sebagainya. Hal ini akan menumbuhkan jati diri anak sebagai seorang Muslim yang teguh pendiriannya dalam beriman dan bertakwa sejak dini.

Orang Tua Sebagai Contoh yang Hidup

Aba dan Umma, anak adalah amanah besar yang Allah titipkan kepada kita. Bersamanya, ada tanggung jawab yang tidak ringan di hadapan Allah, yaitu memastikan anak mendapatkan pendidikan agama yang benar dan terbaik.

Perlu kita sadari, anak tidak hanya belajar dari apa yang mereka dengar, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari. Ketika orang tua mampu mengendalikan emosi, menjaga lisan, menghargai orang lain, serta menunaikan tanggung jawab dengan baik terlebih lagi menjaga perilaku di bulan-bulan haram dengan lebih sungguh-sungguh, maka tanpa banyak nasihat, insyaAllah anak akan meneladani langsung contoh terbaik yang selalu hadir di dekatnya.

Bulan Haram sebagai Titik Awal

Bulan-bulan haram atau waktu-waktu yang dimuliakan dapat menjadi momentum yang tepat untuk memulai pembiasaan kebaikan. Namun, jangan berhenti sampai di sini—jadikan momen ini sebagai langkah awal dalam perjalanan panjang membentuk karakter anak. Mulailah dari satu atau dua kebiasaan sederhana, lalu jaga konsistensinya hingga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, dalam setiap upaya mendidik anak, kita perlu menyadari bahwa yang ingin ditanamkan bukan hanya perilaku baik secara lahiriah, tetapi juga keimanan dalam hati mereka. Keimanan bahwa ada waktu-waktu yang dimuliakan oleh Allah. Keimanan bahwa pada waktu-waktu tersebut, Allah menghendaki kita untuk menjadi lebih baik. Dan keimanan bahwa setiap usaha yang mereka lakukan senantiasa dilihat oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Jika kesadaran ini telah tumbuh, maka anak akan berkembang menjadi pribadi yang memiliki sikap ihsan di mana pun ia berada, ia akan berusaha menjaga dirinya. Inilah buah nyata dari pendidikan yang baik dari orang tua, yang manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh anak, tetapi juga akan kembali kepada orang tua, baik di dunia maupun di akhirat.

Referensi:

  • Al-Qur’anul Karim.
  • Imam Bukhari, Shahihul Bukhari, Dar Ibnu Katsir: Damaskus, Al-Maktabah Asy-Syamilah
  • Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar at-Thiba’ah al-Amiroh: Turki, Al-Maktabah Asy-Syamilah
  • Khadijah, K., Lestari, P. A., Nis, K. ., & Siregar, W. S. . (2022). Urgensi Tumbuh Kembang Anak Terhadap Pembentukan Karakter. Jurnal Pendidikan Dan Konseling (JPDK), 4(4), 442–447. https://doi.org/10.31004/jpdk.v4i4.5255
  • dr. Kevin Adrian, Golden Age Anak, Masa Emas yang Menentukan Tumbuh Kembang, www.alodokter.com
26