Catatan Sang Qawwam

Melangkah Pulang: Qawwam di Musim Mudik

Reporter: Muhammad Wildan Zidan

Redaktur: Gema Fitria


ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًاۚ

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” [QS Al-Maidah: 3]

Saat gema takbir mengalun indah di langit malam terakhir Ramadhan, jalan-jalan mulai dipenuhi deru kendaraan yang bergerak menuju satu arah yang sama, pulang. Mudik seakan sudah menjadi sebuah tradisi. Ia bukan hanya sekadar bermakna perjalanan. Namun, ada luapan rindu bisa berkumpul kembali bersama keluarga di kampung halaman, yang menjadi dorongan.

Namun bagi seorang qawwam, musim mudik bukan hanya soal mengikuti arus tradisi. Ia adalah momen mengambil keputusan dengan tanggung jawab. Islam telah sempurna dan memberikan tuntunan untuk seluruh aspek kehidupan, termasuk bagaimana seorang pemimpin keluarga menimbang sebuah perjalanan.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat kesempurnaan agama adalah nikmat terbesar bagi umat Islam. Setelah turunnya ayat tersebut, tidak ada lagi syariat baru. Umat hanya perlu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Prinsip ini pula yang harusnya menjadi landasan seorang qawwam dalam menimbang tradisi mudik. Selaras kah ia dengan syariat atau justru sekadar jadi ajang pamer keberhasilan. Naudzubillah..

Menimbang Keputusan dengan Ilmu dan Hikmah

Mudik sering kali dipandang sebagai kewajiban sosial. Padahal bagi seorang qawwam, keputusan untuk pulang kampung perlu ditimbang dengan ilmu dan hikmah. Ia perlu mempertimbangkan kondisi keluarga secara menyeluruh agar perjalanan benar-benar membawa kebaikan.

Bagi sebagian orang, mudik menjadi sarana menunaikan bakti kepada orang tua. Akhuna Aditya Wilastra Pratama, karyawan swasta asal Bali yang berdomisili di Jakarta, memaknai mudik sebagai bagian dari birrul walidain.

“Karena besarnya pahala mengunjungi orang tua, apalagi saat tahu ini bagian dari birrul walidain dan bisa diganjar masuk surga,” tuturnya.

Tak cukup dengan niat baik, keputusan mudik atau tidak tampaknya perlu disertai pertimbangan realistis. Kondisi finansial, kesehatan keluarga, serta keselamatan perjalanan perlu turut diperhitungkan. Jangan sampai keinginan mudik justru memaksa seseorang mengeluarkan biaya di luar kemampuan atau mengambil risiko yang membahayakan keluarga.

Akhuna R. Muchammad Nugraha, seorang pekerja di Jakarta, menekankan bahwa mudik seharusnya tidak berubah menjadi ajang gengsi.

“Makna mudik lebaran secara syariat menekankan syiar bahwa di dalam Islam terdapat hari raya,” ujarnya. “Dalam sisi tradisi, terkadang orang cenderung menunjukkan keberhasilan sudah merantau dari kampung halaman,” tambahnya.

“Apabila terdapat kendala, maka tidak perlu dipaksakan,” kata Akhuna Nugraha kemudian. Ia sendiri pernah memutuskan untuk tidak mudik, yaitu saat pandemi, demi menjaga keselamatan keluarga dan mematuhi anjuran pemerintah. Dalam kondisi seperti itu pun, silaturahmi tetap bisa dilakukannya. Akhuna Nugraha memilih panggilan video sebagai jalan keluar. Ia menunda perjalanan hingga keadaan memungkinkan.

Pengalaman tersebut sedikit banyak memberi gambaran bahwa keputusan tidak mudik pun bisa menjadi pilihan yang bijak jika didasari pertimbangan syar’i dan maslahat keluarga.

Menghidupkan Sunnah Safar

Ketika keputusan mudik telah diambil, perjalanan seharusnya dihidupkan dengan sunnah-sunnah safar. Syariat telah mengajarkan berbagai adab perjalanan, seperti membaca doa safar, bepergian bersama, menjaga shalat, serta memanfaatkan rukhsah seperti menjamak dan meng-qashar shalat.

Akh Nugraha menjadikan doa dan shalat sebagai pilar mudiknya. Sebelum berangkat, ia membiasakan membaca doa safar bersama. Ketika menghadapi perjalanan panjang atau kemacetan, ia memanfaatkan rukhsah dengan menjamak dan meng-qashar shalat.

“Di banyak kesempatan, ana terapkan pembelajaran shalat dijamak dan di-qashar,” ujarnya.

Ia juga berusaha menjaga suasana perjalanan tetap bernilai ibadah. Saat kemacetan datang, ia mengisi waktu dengan berdzikir atau berdiskusi ringan tentang agama bersama keluarga sehingga kesabaran tetap terjaga.

Hal serupa juga dilakukan Akhuna Aditya. Ia merencanakan pemberhentian di masjid atau mushala sebelum masuk waktu shalat agar tidak ketinggalan kesempatan berjamaah. Jika kondisi perjalanan membuatnya sulit berhenti, ia menjamak shalat di awal waktu agar tetap terjaga.

Selain aspek ibadah, keselamatan juga perlu menjadi prioritas. Kendaraan diperiksa, rute direncanakan, dan waktu istirahat diperhatikan. Seorang qawwam harusnya memahami bahwa menjaga keselamatan keluarga termasuk bagian dari kewajiban menghindari mudarat dalam safar.

Menjaga Adab Silaturahim

Sampai di kampung halaman, tantangan berikutnya muncul dalam bentuk interaksi sosial. Silaturahmi memang dianjurkan, tetapi tetap harus dijaga adab-adab dalam bermuamalah dengan sanak saudara dan tetangga agar tidak berubah menjadi ladang dosa.

Obrolan keluarga besar terkadang mudah bergeser menuju ghibah atau perbandingan duniawi. Akhuna Nugraha mengaku berusaha menghindari kondisi tersebut dengan memilih waktu kunjungan yang lebih tenang.

“Untuk menjaga hati saat bersilaturahmi, saya memilih waktu yang jauh dari keramaian tamu-tamu lainnya,” ungkapnya.

Ia juga berusaha mengalihkan pembicaraan kepada hal-hal yang lebih bermanfaat dan memperbanyak dzikir dalam hati. Bahkan dalam urusan penampilan, ia memilih berpakaian sederhana. Beliau mengaku tetap memakai barang lama saat Idul Fitri dan membiasakan keluarga untuk tidak berharap pemberian dari orang lain.

Akhuna Aditya memiliki pendekatan serupa. Ketika percakapan mulai mengarah pada perbandingan duniawi, ia memilih tersenyum atau segera pamit. Ia menahan diri untuk tidak menceritakan pencapaian pribadi dan lebih fokus menanyakan kabar keluarga.

Sikap seperti ini insyaallah menjadikan silaturahmi tetap hangat sekaligus menjaga hati dari penyakit riya, iri, dan ghibah.

Menjaga Makna Idul Fitri

Pada akhirnya, seorang qawwam juga memikul tugas penting: menanamkan makna Idul Fitri kepada keluarga. Hari raya bukan sekadar pesta atau perayaan materi, tetapi momen kembali kepada fitrah.

Akhuna Nugraha menanamkan nilai kesederhanaan dalam keluarganya. Ia tidak menjadikan hari raya sebagai ajang membeli barang baru atau saling memberi hadiah berlebihan. Sebaliknya, ia menekankan pentingnya saling mengingatkan untuk senantiasa menjaga ibadah.

“Awal hari diupayakan bangun paling awal agar tidak terlambat shalat Subuh dan shalat Id,” kisahnya.

Sementara Akh Aditya memaknai Idul Fitri sebagai kesempatan bersyukur karena masih diberi umur untuk bertemu kembali dengan keluarga. Karena belum memiliki anak, ia menyalurkan semangat birrul walidain dengan memenuhi keinginan sederhana ibundanya, seperti menemani beliau makan atau jalan-jalan.

Melalui teladan seperti inilah seorang ayah mengajarkan bahwa kebahagiaan Idulfitri tidak diukur dari kemewahan. Melainkan dari kedekatan dengan Allah dan hangatnya hubungan keluarga.

Tips Ringan Menjaga Adab Mudik

  1. Luruskan niat dan timbang maslahat

    Mudik adalah amal kebaikan jika dibangun di atas niat yang benar. Jangan menjadikannya ajang pamer. Jika kondisi finansial, kesehatan, atau keselamatan tidak memungkinkan, pilih cara lain untuk tetap terhubung dengan keluarga.

  2. Persiapkan safar dengan baik

    Periksa kendaraan, rencanakan rute, dan bawa perbekalan. Manfaatkan rukhsah shalat, baca doa safar, serta patuhi rambu lalu lintas.

  3. Jaga lisan dan pandangan

    Hindari ghibah, pamer, dan pembicaraan yang tidak bermanfaat. Perbanyak dzikir dan alihkan percakapan pada hal-hal yang lebih baik.

  4. Gunakan Idul Fitri untuk pendidikan keluarga

    Ajarkan kepada anak bahwa Idul Fitri adalah momen kembali kepada fitrah. Tidak semua harus baru, tetapi ketaatan harus diupayakan lebih baik.

  5. Perkuat ikatan keluarga

    Bangun lebih awal untuk shalat, dan utamakan kebersamaan daripada membicarakan urusan dunia.

Setiap keputusan seorang qawwam adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Termasuk keputusan untuk mudik atau tidak mudik saat Idul Fitri tiba.

Ketika qawwam memimpin dengan ilmu, niat yang lurus, dan adab yang terjaga, maka perjalanan mudik dapat berubah dari sekadar tradisi menjadi ladang pahala. Karena itu, seorang qawwam hendaknya menimbang keputusan mudik dengan hati-hati. Dengan ilmu, hikmah, dan kesabaran, perjalanan pulang bukan sekadar kembali ke kampung halaman, tetapi juga langkah kembali menuju fitrah, insyaallah.

Selamat Lebaran para qawwam di mana pun berada. Taqabbalallahu minna waminkum.


9