Sirah

Mata Air yang Tak Pernah Kering

Penulis: Fadhila Khasana

Editor: Athirah Mustadjab

Di Damaskus, tersebutlah seorang lelaki shalih yang bernama Muhammad. Ayahnya (Abu Bakr) mengurus sebuah madrasah. Masyarakat sering memanggil Abu Bakr dengan sebutan "Qayyim", yang artinya seorang pengurus madrasah. Oleh sebab itu, Muhammad yang merupakan putra Abu Bakr sering dipanggil dengan sebutan Ibnul Qayyim, yang berarti putra pengurus madrasah.[1]

Ibnul Qayyim lahir dan tumbuh di tengah keluarga yang memberikan perhatian penuh kepada ilmu. Ayahnya, Abu Bakr, mendidiknya di bawah naungan ilmu dan kecintaan kepada para ulama’. Tak heran, jika Ibnul Qayyim menjadi seorang pemuda yang mencintai ilmu dan mampu menggabungkan antara ilmu dan amal.[2]

Adalah hal yang sangat wajar apabila Ibnul Qayyim mewarisi keshalihan dan kecerdasan ayahandanya. Mulai dari membuka mata hingga menutupnya kembali, Ibnul Qayyim melihat ayahandanya sangat memperhatikan ilmu dan adab. Jadilah Ibnul Qayyim -- dengan izin Allah -- seorang lelaki yang shalih, ahli ibadah, sangat rajin belajar, ilmunya sangat luas, akhlaknya baik, penuh kasih sayang dan dicintai banyak orang[3]. Dengan sebab giatnya belajar dan gigihnya dia menuntut ilmu, dia menjadi rujukan ilmu tafsir, ilmu ushulud din, ilmu hadits, ilmu fiqih, dan bahasa Arab.[4]

Kecintaan terhadap Ilmu dan Ahli Ilmu

Ada hal yang sangat mengesankan dari Ibnul Qayyim selama dia menuntut ilmu. Dia sangat menyadari bahwa ilmu tidak akan bisa diperoleh dari berleha-leha sebagaimana perkataan Yahya bin Abi Katsir, seorang tabi’in,

لا يستطاع العلم براحة الجس

“Ilmu tidak akan diperoleh dengan bersantai-santai.”[5]

Oleh karenanya, Ibnul Qayyim rela menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu. Dia menemui para ulama dan para imam, berkumpul, berdiskusi dan mengambil faedah bersama mereka. Dia menyibukkan diri dengan para gurunya yang berada di dalam negerinya terlebih dahulu. Ada yang mengatakan bahwa Ibnul Qayyim pernah menimba ilmu di Mesir. Dia juga melakukan safar ke Syam. Bisa jadi juga tatkala dia haji, dia sempatkan untuk mendengarkan ilmu dari para guru yang berada di Makkah.[6]

Ibnul Qayyim menyibukkan diri dengan belajar bersama Syaikh Ibnu Taimiyyah selama 16 tahun. Dia ber-mulazamah kepada Syaikh Ibnu Taimiyyah hingga akhir hidup Ibnu Taimiyyah. Ketika Ibnu Taimiyyah dikekang di balik jeruji besi pun, Ibnul Qayyim ikut serta tinggal di penjara untuk menemani Ibnu Taimiyyah hingga Ibnu Taimiyyah wafat. Dalam diri gurunya tersebut, Ibnul Qayyim menemukan hal-hal yang memuaskan dahaganya terhadap ilmu.[7]

Selain Syaikh Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim juga berguru kepada banyak imam. Dia mengambil ilmu dari banyak guru berdasarkan keahlian masing-masing gurunya. Para guru Ibnul Qayyim juga bukan orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang yang sangat zuhud, wara’, tawadhu’, berakhlak mulia, dan sungguh-sungguh dalam beribadah.[8]

Dalam ilmu hadits, Ibnul Qayyim berguru kepada Asy-Syihab Al-‘Abir, Ibnu Maktum, Ayyub bin Ni’mah, Ibnu Abdid Da’im, Ala’ud Dien Al-Kindiy, Isa Al-Mutah’im, Ibnu Asakir, Adz-Dzahabiy, dan sebagainya.

Dalam ilmu fiqih, di antara para guru Ibnul Qayyim adalah Al-Majd Al-Harrani, Al-Ba’labaky, dan Syarafuddin Ibnu Taimiyyah (saudara Syaikh Ibnu Taimiyyah).

Dalam ilmu bahasa Arab, di antara para guru Ibnul Qayyim adalah Al- Ba’labaky dan Majdud Din At-Tunisi.

Dalam ilmu tauhid dan ushulud din, di antara para guru Ibnul Qayyim adalah Syaikh Ibnu Taimiyyah dan Shafiyyud din Al-Armawy.

Ibnul Qayyim juga mempunyai murid-murid yang banyak. Di antaranya adalah kedua putranya sendiri (yaitu Ibrahim bin Muhammad dan Abdullah bin Muhammad), Ibnu Katsir, Ash-Shafadi, Ibnu Rajab Al-Hambali, As-Subki, dan lain-lain.[9]

Begitu banyaknya guru dan muridnya menandakan betapa hari-hari Ibnul Qayyim sangat dipenuhi dengan belajar dan mengajar. Tidak hanya itu; Ibnul Qayyim juga menghabiskan waktunya untuk menulis karya-karya yang sangat istimewa. Lebih dari 70 kitab telah dia selesaikan. Di antara karya-karyanya adalah:[10]

  • I’lamul Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin.
  • Ighatsatul Lahfan fi Thalaqil Ghadhban.
  • At-Tibyan fi Ahkamil Qur’an.
  • Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud.
  • Hukmu Tarikish Shalah.
  • Ad-Da’ wad Dawa’.
  • Ar-Ruh wan Nafs.
  • Syarhu Asma’il Husna.
  • Istiqamah hingga Akhir Hayat

Ibnul Qayyim adalah salah satu ulama yang sangat berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunnah di atas manhaj salafush shalih. Murid Syaikh Ibnu Taimiyyah ini ibarat “duplikat” gurundanya. Sewaktu dia hidup di zaman para penguasa yang bermanhaj sufi dan asy’ari, Ibnul Qayyim disiksa oleh penguasa saat itu. Dia dipukul di hadapan penguasa dan qadhi, diarak di atas keledai keliling kota Damaskus bersama dengan para pencuri dan para perusak kemudian dimasukkan penjara seperti gurundanya, Syaikh Ibnu Taimiyyah.

Mungkin orang-orang akan menyangka masuknya Ibnul Qayyim ke dalam penjara adalah akhir dari perjalanan hidupnya. Namun, keadaan Ibnul Qayyim tetap tidak berubah. Di dalam penjara maupun di luar penjara, dia tetap menghabiskan waktunya untuk beribadah, mulazamah dengan Syaikh Ibnu Taimiyyah hingga syaikh wafat. Dengan wafatnya Syaikh, para penguasa membebaskan Ibnul Qayyim dari penjara.

Ibnul Qayyim sangat menjaga waktunya. Tidak ada sedetik pun waktunya digunakan untuk hal-hal yang sia-sia. Hal itu terbukti dengan banyaknya guru, murid dan kitab-kitab yang disusun olehnya. Dia pernah berkata tentang waktu,

إضاعة الوقت أشد من الموت، لأن إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموت يقطعك عن الدنيا وأهلها .[12]

“Menyia-nyiakan waktu lebih buruk daripada kematian. Karena menyia-nyiakan waktu itu memutus seseorang dari Allah dan negeri akhirat sedangkan kematian memutus seseorang dari dunia dan penghuninya.”

Manfaat yang diberikan oleh Ibnul Qayyim dari sepak terjangnya, karya-karyanya, dan nasihat-nasihatnya ibarat mata air yang tak pernah kering. Airnya selalu mengalir deras hingga akhir nanti. Semoga Allah merahmati Ibnul Qayyim.

Referensi:

  1. I’lamul Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin, Ibnul Qayyim.
  2. Ighatsatul Lahfan fi Hukmi Thalaqil Ghadhban, Ibnul Qayyim.
  3. Mukhtashar Zadil Ma’ad, Muhammad bin Abdil Wahhab.
  4. Dzailu Thabaqatil Hanabilah, Ibnu Rajab.
  5. Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah wa Juhuduhu fi Khidmatis Sunnah An-Nabawiyyah wa ‘Ulumuha, Jamal bin Muhammad As-Sayyid.
  6. Tarwidhul Mihani, Syarif bin Abdil Aziz Az-Zuhairi.
  7. Al-Waqtu wa Ahammiyatuhu fi Hayatil Muslim, Ali bin Nayif Asy Syujud.
0