Manajemen Stres dalam Keluarga
Dijawab oleh dr. Luqman Hidayatullah, Sp KJ
Pertanyaan dari Ibu Putri Ariyanti:
Izin tanya, Dokter, Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Saya akhir-akhir ini sudah sekitar 1 tahun, mengalami rasa khawatir yang berlebihan seperti berdebar-debar kencang, pusing, mual, hingga sesak nafas. Saya periksa ke Puskesmas, katanya ada indikasi kejiwaan. Bagaimana cara mengatasinya, Dok?
Jawaban:
Hal ini bisa dijawab diagnosisnya dengan wawancara medis. Namun apa yang Ibu sampaikan, mengindikasikan mungkin masuk ke klaster gangguan kecemasan atau anxiety disorder. Di klaster itu ada berbagai macam diagnosis yang bisa ditegakkan untuk Ibu dengan wawancara medis langsung.
Gejala-gejala seperti ini memang sering saya temui pada pasien, malah salah satu yang paling banyak pada konteks poliklinik rumah sakit yaitu munculnya gejala-gejala cemas. Kadang-kadang ada yang dengan stressor, ada yang tanpa stressor. Ketika ada masalah berat yang sedang dihadapi, ada stressor yang gagal dikelola akhirnya muncul distress lalu distress-nya memunculkan kecemasan. Nah ini kadang-kadang ada yang seperti ini.
Namun ada juga yang tidak ada stressor apa-apa, seseorang tiba-tiba jadi cemas. Hal ini yang disebabkan karena gangguan hormon atau neurotransmitter di otak. Mungkin ada faktor genetik juga. Mungkin faktor cara kita dibesarkan dulu.
Saran saya, kalau memang mencari kesembuhan secara lebih efisien, sebaiknya datang ke profesional mental health untuk dilakukan wawancara medis. Mungkin saat ini kondisinya bisa jadi sudah memerlukan obat, tergantung dari berat ringannya ditentukan dari wawancara medis yang dilakukan.
Namun memang pasien-pasien seperti ini banyak sekali dan bisa jadi memunculkan gejala-gejala fisik tertentu. Ada yang namanya mind and body connection, yaitu saat seseorang mengalami problem tertentu di dalam pikirannya, ada yang dipikirkan lalu menjadi sebuah stres, bisa memunculkan gejala fisik seperti yang tadi sudah kita bahas. Namanya mind connection atau kita bisa bilang namanya somatisasi. Kadang-kadang bisa memunculkan gejala seperti itu padahal sudah diperiksa secara medis, di-USG, di-EKG tapi tidak ada apa-apa. Sehat dan hasil labnya bagus tapi bisa muncul seperti itu. Ada hubungan langsung antara pikiran kita dengan tubuh kita.
Saran saya kepada Ibu penanya sebaiknya diperiksakan ke professional mental health, mungkin bisa jadi sudah membutuhkan obat untuk membantu pada jangka pendeknya. Sedangkan jangka panjangnya nanti bisa dilakukan psikoterapi medis yang dilakukan oleh professional mental health yang terlatih untuk melakukan assessment pikiran kita.
Kadang-kadang sebagian besar orang memang kecemasannya itu berasal dari pikirannya. Pikiran seseorang itu bisa jadi ada yang tepat dan ada yang tidak tepat. Kadang-kadang ada kecemasan yang karena hal yang tepat dan ada yang tidak tepat dan itu bisa dibantu dengan cara psikoterapi. Saran saya kepada Ibu penanya sebaiknya segera berobat dan juga bisa melakukan teknik-teknik relaksasi. Seperti yang diajarkan saat kecemasannya tersebut muncul. Bisa dilakukan teknik-teknik relaksasi seperti tadi box breathing dan teknik 333 tadi. Secara umum dari pengalaman, biasanya kondisi seperti Ibu sudah harus dibantu dengan obat, untuk membantu di fase-fase awal, sehingga Ibu lebih nyaman dan lebih bagus kondisinya. Semoga bermanfaat!
Pertanyaan dari Bapak Agus:
Salah satu tanda kebaikan keluarga adalah dimasukkan sifat kelembutan. Maka pertanyaannya adalah bagaimana agar seorang suami, istri, dan anaknya bisa memiliki sebuah sifat yang melekat yaitu sifat lembut.
Jawaban :
Ada beberapa orang yang memang secara natural memiliki sifat lembut pada dirinya. Hal itu mungkin terkait dengan aspek genetik dan juga dengan aspek bagaimana beliau dibesarkan. Hal ini bisa jadi secara alami dimiliki oleh seseorang, sehingga seseorang menjadi lebih mudah mengajarkan sifat lembut itu. Mengapa? Karena seorang ayah seorang pemimpin rumah tangga ataupun seorang ibu yang sudah memiliki sifat lembut, mudah mencontohkannya kepada anaknya.
Namun kadang-kadang banyak dari kita yang tidak seperti itu secara alamiah. Mungkin kita dibesarkan dengan cara yang keras, mungkin kita pernah mengalami trauma-trauma tertentu pada hidup kita, mungkin kita pernah mengalami ketidaknyamanan pada masa kita tumbuh besar, yang akhirnya menimbulkan kita secara alamiah tidak lembut. Nah, ini yang menjadi masalah. Bagaimana cara memunculkan kelembutan pada orang-orang seperti ini? Yaitu dengan latihan.
Secara psikoterapi, apa sebetulnya sifat lembut itu? Contohnya, sahabat Umar radhiallahu 'anhu ya beliau adalah sosok yang keras dan sosok yang tegas. Namun ternyata beliau bisa menempatkan ketegasan dan kekerasan itu pada tempatnya dan ini butuh latihan. Perlu paham konteksnya dan bisa menempatkan diri yaitu kapan perlu tegas, kapan perlu lembut. Orang yang tidak secara alami memiliki sifat lembut maka harus banyak belajar, banyak membaca, banyak mendengarkan kajian, belajar dari akhlak guru-guru kita yang terbiasa mengendalikan emosi.
Pertanyaan dari Ukhtuna Caca:
Apa perbedaan stres dan depresi? Saat ini saya di posisi ingin menyerah dan lelah menghadapi perilaku suami yang terkadang tidak sejalan dengan pemikiran saya karena suami ketika diajak bicara dan ngobrol, akhirnya jadi ribut, dan suami gak paham dengan apa yang saya maksud. Dari saya bicara pelan sampai meninggi, dan akhirnya kami bertengkar. Saya jadi takut dan tidak bisa lagi curhat sama suami karena tidak nyambung. Akhirnya saya pikul sendiri permasalahan saya yang membuat saya lelah dan tidak tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya saya lelah dan kadang berpikir apa berpisah saja dan mengakhiri hidup saya. Tapi kalau ingat sisi kebaikannya, saya mundur lagi, dan jadi ingat saya punya dua anak yang sangat butuh saya. Saya cuma ingin suami menjadi tempat curhat dan keluh kesah tapi harus bagaimana bicara dengan suami biar nyambung? Apakah karena suami saya pekerjaannya tukang dan lingkungan kerjaannya tukang semua, jadi pola pikirnya seperti itu?
Jawaban :
Beberapa konteks pertanyaan ini lebih bagus dan lebih tepat jika ditujukan kepada Ustadz. Namun pertama yang ingin saya jawab adalah apa beda stres dan depresi.
Stres adalah respon kita terhadap sebuah stressor. Bagaimana cara kita menghadapi hal-hal yang tidak nyaman saat kita komunikasi tidak nyambung dengan suami dan kita emosi, itu namanya adalah kita menjadi stres, memunculkan hal-hal pikiran negatif terhadap suami. Hal itu juga termasuk dalam stres.
Sedangkan depresi itu adalah kondisi saat seseorang mengalami stressor mungkin yang kronis. Walaupun ada juga depresi yang sifatnya endogen, yang tidak terkait dengan stres. Dia muncul begitu saja. Namun, seringkali dia muncul karena stres yang bersifat kronis.
Ketika seseorang sudah tidak bisa lagi meng-handle perasaan stres tersebut, akhirnya muncul beberapa gejala seperti menjadi sedih dan muram secara berlebihan berlarut-larut, terjadi lebih dari 1 bulan sehingga mengakibatkan kemunduran pada fungsi dia sebagai ibu dan sebagai istri. Menjadi sulit untuk mengelola rumah tangga, menjadi hilang minatnya terhadap hal-hal yang sebelumnya dia senangi, mengalami penurunan energi yang signifikan, kognitifnya menurun, memori jadi berkurang, sulit tidur, tidak nafsu makan.
Untuk menegakkan diagnosis apakah seseorang menderita depresi atau tidak, hendaknya seseorang datang ke professional mental health. Dengan wawancara medis bisa ditegakkan apakah seorang itu depresi atau tidak. Jadi depresi adalah suatu kondisi klinis yang bisa muncul karena stres sedangkan stres atau distress ini adalah suatu hal yang bisa dialami oleh semua orang yang pada akhirnya bisa di-handle atau tidak dengan cara coping-nya seseorang.
Hal yang perlu kita sampaikan adalah komunikasi ini memang hal yang sangat penting. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menyarankan kita menikah dengan yang sekufu. Itu adalah salah satunya, mungkin, untuk membuat jembatannya ini tidak terlalu jauh. Karena banyak hal yang patut diusahakan jika kita menikah dengan seseorang yang sangat berbeda latar belakangnya, berbeda minatnya, berbeda status sosial. Hal tersebut bisa mengakibatkan banyak problem.
Cara komunikasi Ibu harus diperbaiki. Mungkin regulasi emosi masih kurang tepat, mungkin masih kurang meletakkan pada konteksnya. Saran saya, agar Ibu penanya berusaha untuk saling berintrospeksi. Sama-sama berusaha untuk bertakwa semaksimal mungkin. Berusaha untuk menghindari pelanggaran agama di rumah. Berupaya untuk sama-sama mencari solusi terbaik. Dalam psikiatri kita mengenal “konseling rumah tangga” jadi kita dudukkan berdua, yang satu maunya apa, yang satunya lagi maunya apa, lalu kita jembatani sehingga konkret perannya tidak awang-awang.
Kalau memang sudah tidak terkendali, apalagi tadi sampai muncul pikiran bunuh diri, saya khawatir ini sudah muncul yang namanya depresi atau misalnya gangguan kepribadian tertentu, sehingga saya sarankan kepada Ibu sebelum muncul hal-hal yang tidak diinginkan, mohon cari bantuan karena ini sudah masuk ke kriteria yang tadi.
Kita perlu mencari bantuan ke profesional, bisa ke Ustadz ataupun ke professional mental health ataupun keduanya sangat lebih bagus. Saya tidak terlalu sarankan untuk meminta pendapat dari teman atau sahabat karena mereka bukan professional mental health dan bukan Ustadz, yang pada akhirnya mungkin akan memberikan saran yang kurang tepat, dan malah memunculkan konflik-konflik baru ataupun tidak nyambung dengan permasalahan yang dialami oleh keluarga.
Saran saya masih banyak yang bisa dibenahi, tapi saya mohon supaya berusaha menyelesaikan secara baik-baik karena menikah dengan baik-baik maka kalaupun berpisah secara baik-baik, karena kita tahu di sini ada anak yang terlibat dan bisa terkena dampaknya.