Kabar Yayasan

Mahir Berbahasa Arab Bersama HSI Fusha Academy

Penulis : Reza Firdaus

Editor : Dian Soekotjo


Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami telah jadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kalian memikirkannya”

[QS Yusuf: 2]

Menuntut ilmu adalah kewajiban seorang muslim. Mengarungi samudera pengetahuan, bukan hal yang bisa dilakukan serampangan. Rambu-rambu telah disematkan para ulama agar meniti denyut kesibukan sepanjang hayat itu, tak kehabisan stamina di tengah jalan.

Dalam Kitab Awa’iq Ath Thalab[1], Syaikh Abdussalam bin Barjas, sang mualif, menukil kisah Abu ‘Aina kala berazam menimba ilmu hadits pada Abdullah bin Dawud. Tidak serta merta mengucurkan ilmu, sang ahli hadits terlebih dulu memastikan calon santrinya telah mengantongi bekal yang cukup. “Pulanglah dulu, hafalkanlah Al Quran,” lalu, “Pulanglah dulu, pelajari ilmu faraidh (ilmu waris),” dan kemudian, “Pergilah kamu, pelajari dulu bahasa Arab.” Begitu kurang lebih ucapan sang ahli hadits rahimahullah kepada calon muridnya. Memburu ilmu perlu tahapan dan nyatanya bahasa Arab ialah fondasi.

Ketika bahasa Arab dalam genggaman, tumpukan kitab sumber ilmu Islam, menjadi demikian nikmat kita tafakuri. Ayat, hadits, berbagai dalil, dan atsar lebih cepat tercerna. Bahasa Arab bak senjata andalan, maka jangan sampai tidak tumbuh hasrat untuk menguasai. Sekarang, HSI telah menyediakan program khusus belajar bahasa Arab yang insyaallah berkualitas. Fusha Academy namanya. Untuk ikut bergabung, berikut gambaran sekilas divisi transformasi ini, sajian khas Majalah HSI.

Transformasi dari Divisi Kibar

Fusha Academy merupakan transformasi dari Program Kajian Intensif Bahasa Arab atau Divisi Kibar HSI AbdullahRoy. Sejak September 2024, Fusha Academy digagas dalam rangka mewujudkan program belajar bahasa Arab yang lebih berkualitas. Hal tersebut sebagaimana dituturkan oleh Ketua Divisi Fusha Academy, Ustadzuna Hasan Amin, pada Majalah HSI, awal Februari lalu.

“Fusha Academy adalah metamorfosis atau perubahan nama dari HSI Kibar,” ungkap Ustadz Hasan. “Kata fusha berasal dari bahasa Arab yaitu fasih, yang merupakan lawan dari kata amiyah. Sehingga, fusha ini adalah belajar bahasa Arab yang baku,” terang Ustadzuna.

Menurut beliau hafidzahullah, Fusha Academy diselenggarakan dengan harapan para peserta mendapatkan materi-materi bahasa Arab yang sesuai kaidah, sehingga lulusannya mampu berbicara maupun menulis dalam bahasa Arab yang baku. Pemilihan format akademi juga mengandung suatu maksud. Ustadz Hasan memaparkan, “Artinya kita menginginkan program ini bisa menjadi wadah akademik untuk pelajaran bahasa Arab dan akan dipelajari secara berjenjang."

HSI Kibar sendiri, sebenarnya telah mulai diluncurkan tahun 2021. Ustadz Hasan, yang dulu menjadi Ketua Divisi Kibar, menyampaikan bahwa sejak tahun tersebut, divisi yang dipimpinnya telah membina tiga angkatan, yaitu angkatan 2021, 2022, dan 2023. Program yang berjalan, mencakup pelajaran nahwu, sharaf, dan ilmu gramatikal lainnya, sebagai dasar bahasa Arab baik klasik maupun modern.

Visi dan Misi Fusha Academy

Buah perjalanan adalah catatan dan ulasan. Setelah tiga tahun memberi sumbangsih, pada September 2024, program belajar bahasa Arab HSI akhirnya berganti rupa. “Kita konsen dalam menggunakan kitab-kitab yang dipelajari secara berurutan. Maka di HSI Fusha Academy, kita membuat program per program. Tidak saling berkelanjutan atau saling berkaitan, akan tetapi disesuaikan dengan setiap tingkat,” Ustadz Hasan menjabarkan.

“Misalnya seseorang ingin belajar bahasa Arab secara mendasar atau mengasah kemampuan dasar membaca kitab, maka cukup ia sampai level 2 saja. Bilamana menginginkan, bisa menambah tahap menguasai ilmu-ilmu bahasa Arab yang lebih mendetail. Ada khilaf-khilaf di sana. Maka silahkan lanjut sampai level 3-4," imbuhnya hafidzahullah menerangkan.

Untuk menciptakan kegiatan belajar yang efektif, Ustadz Hasan mengungkapkan bahwa beliau bersama tim mempersiapkan berbagai hal. Perbaikan-perbaikan yang diupayakan, tentu tidak lepas dari visi dan misi yang telah dirumuskan dan ingin dicapai. Ustadz Hasan berkenan menjabarkan visi dan misi Fusha Academy. Visi Fusha Academy ialah menjadi pusat pembelajaran bahasa Arab online maupun offline yang sistematis, membekali santri dengan kemampuan bahasa Arab yang komprehensif sehingga mampu memahami Al-Qur'an, hadits, dan berbagai literatur Islam lainnya, serta berkontribusi aktif dalam pengembangan keilmuan bahasa Arab.

Untuk mewujudkan visi tersebut, Fusha Academy mengusung tiga misi utama. Pertama, menyediakan program yang terstruktur dan sistematis mulai dari dasar hingga lanjutan, demi membantu santri memahami kaidah bahasa Arab dengan baik. Kedua, menghadirkan pengajar dan pembimbing yang kompeten dan berpengalaman, guna memastikan siswa mendapat bimbingan yang berkualitas. Ketiga, menyediakan sesi interaktif dan tasmi' sehingga siswa dapat menghafal dan berlatih percakapan sesuai kaidah.

Keunggulan-keunggulan yang Diupayakan

Lembaga pendidikan bahasa Arab memang tampak kian menjamur. Seiring kesadaran belajar Islam yang terlihat makin subur, tempat belajar bahasa Arab menjadi maktab yang banyak diburu. Sepertinya, Fusha Academy sudah mengambil ancang-ancang mengupayakan keunggulan-keunggulan untuk siap bersaing. Ustadz Hasan mengungkapkan beberapa di antaranya kepada Majalah HSI.

“Di Fusha Academy, peserta akan difasilitasi dengan kehadiran pembimbing-pembimbing,” ujar Ustadz Hasan. “Hal inilah yang membedakan antara Fusha Academy dengan HSI Kibar,” sambungnya kemudian. Ustadz Hasan menjelaskan bahwa kelak, santri didampingi Musyrif atau Musyrifah dalam kelas-kelas privat yang digelar dengan Zoom. Para Musyrif dan Musyrifah ini, berasal dari pondok-pondok pesantren yang memiliki kemampuan serta kompetensi sangat baik di bidang bahasa Arab. Poin tersebut menjadi salah satu persyaratan pada tahap seleksi pembimbing. "Musyrif dan Musyrifah ini telah menguasai kitab-kitab yang ada, di semua program di Fusha Academy, sehingga mereka nantinya akan bisa bertugas di program manapun,” Ustadz Hasan memaparkan salah satu keunggulan akademi yang dipimpinnya.

Kuantitas dan kualitas tenaga pengajar juga turut dirombak. Jika sebelumnya Kibar mempunyai dua asatidz saja, yaitu Ustadz Ja'far Ad-Demaky yang membimbing tingkat dasar dan Ustadz Fida' Munadzir Abdul Lathief sebagai pengampu tingkat lanjutan, Fusha Academy menyiapkan lebih banyak. "Karena tadi kita berkomitmen menyiapkan pengajar yang kompeten, tidak kemudian setiap pengajar yang ada, bisa mengajarkan kitab lintas program. Di Fusha Academy, pengajar akan dipetakan materi mengajarnya sesuai dengan kompetensi para pengajar tersebut. Ada yang kompetensinya di bidang nahwu, maka ia mengajar khusus untuk program nahwu," ujar Ustadz Hasan.

“Setiap program akan berfokus pada latihan yang telah diramu dan menceritakan pengalaman, sehingga di situ para santri dan santriwati akan mendapatkan pengajaran yang lebih intens," imbuhnya. Ustadz Hasan kemudian menjabarkan bahwa sesi latihan akan diletakkan pada setiap akhir sesi privat. Gunanya mengukur peningkatan kemampuan berbahasa Arab para santri dan santriwati sesuai program yang tengah ditempuh. “Seperti sesi baca kitab kuning untuk level dasar, atau sesi hiwar percakapan bahasa Arab, dan sesi menulis bahasa Arab untuk level tingkat lanjut,” Ustadz Hasan mengemukakan. Menurutnya, tahap ini perlu agar santri dan santriwati mampu menerapkan empat komponen utama keterampilan berbahasa yakni membaca, menyimak, berbicara, dan menulis.

Pada akhir silsilah atau program, seperti halnya pada kelas reguler HSI AbdullahRoy, para santri dan santriwati akan mengerjakan evaluasi akhir. Mereka yang mampu mengerjakan evaluasi akhir dengan hasil memadai, akan berhak mendapatkan sertifikat kelulusan sebagai tanda telah menyelesaikan program belajar.

Pilihan Program Belajar

Dalam lima tahun ke depan, Fusha Academy berencana merealisasikan empat level program. Salah satu pengajar Fusha Academy yang dulu juga mengampu HSI Kibar, Ustadzuna Fida' Munadzir Abdul Lathif, berkenan menjabarkan program-program belajar tersebut. Berikut rangkuman Majalah HSI mengenai level belajar dalam Fusha Academy berdasarkan informasi yang terhimpun.

Pembelajaran dalam Fusha Academy dimulai dengan level 1. Ini adalah level dasar di mana para santri akan mempelajari nahwu dan sharaf dasar. Nahwu boleh dikatakan adalah ilmu tentang kaidah pembentukan kalimat dalam bahasa Arab, sedangkan sharaf mempelajari perubahan bentuk kata seperti dari tunggal ke jamak, yang lazim diterapkan dalam bahasa Arab. Level ini dirancang untuk ditempuh para santri selama 1 bulan. Kitab yang digunakan adalah Kitab Kunafa.

Setelah merampungkan level 1, para santri dapat melanjutkan proses belajar dengan menempuh level ke-2. Dalam level lanjutan ini, Fusha Academy menyediakan dua jalur. Ada kelas khusus membaca kitab dan ada kelas khusus percakapan. Dalam program keahlian membaca kitab, tersedia kembali pilihan-pilihan. Ada Mukhtarot, Muyassar, Durus Lughah, dan Sharaf Lanjutan. Sementara, para santri yang lebih meminati program percakapan, akan mempelajari Kitab Al Arabiyyah Bayna Yadayk jilid 1 dan 2.

Level setelahnya, yaitu level 3, merupakan kelanjutan proses belajar di level 2. Pada tingkatan ini, santri dapat memilih salah satu dari dua jalur yang merupakan lanjutan level sebelumnya. Karena merupakan urutan, maka pilihannya tidak berbeda dari level 2, yaitu ada program nahwu dan sharaf, serta program percakapan. Program nahwu sharaf menyediakan kelas Ajjurumiyah, Mutammimah, dan Syarah Qatrunnada. Sedangkan program percakapan akan kembali mempelajari Kitab Al Arabiyyah Bayna Yadayk tetapi yang jilid 3 dan 4.

Selanjutnya, sebagai tingkat pungkasan, level 4 program Fusha Academy berisi pendalaman materi. Kitab-kitab yang akan dipelajari di antaranya Kitab Alfiyah Ibnu Malik sebagai program nahwu lanjutan, materi-materi Balaghah, Adab Arabiy, juga Arudh wal Qawafi.

Program Level Dasar Telah Berjalan

Pilihan kelas yang kian beragam, sangat mungkin menarik para penuntut ilmu untuk mendaftar. Fusha Academy telah melakukan antisipasi dengan mengubah mekanisme penyaringan. Ustadz Fida’ menerangkan bahwa Fusha Academy akan membagi para santri berdasarkan program, bukan hanya mengacu pada tahun angkatan bergabung, seperti yang dahulu diterapkan pada masa Kibar.

Pendaftaran yang dulunya gratis, akan dikembangkan menjadi program berbayar dan program beasiswa berdasarkan kriteria tertentu. Pasca peluncuran Fusha Academy beberapa waktu lalu, Alhamdulillah, pembelajaran level dasar atau program Kunafa, telah berjalan. “KBM telah dimulai 3 Februari 2025 lalu,” ujar Ustadz Fida’ berbagi informasi.

Ustadz Fida’ menambahkan, “Tiga program lanjutan yang waktu pembelajarannya lebih lama, masih dalam tahap development dan akan dibuka setelah berakhirnya bulan suci Ramaḍān tahun ini, insyaallah, mengingat terbatasnya waktu antara Januari sampai dengan Maret nanti.”

Urgensi Bahasa Arab di Era Digital

Dalam Kajian Launching HSI Fusha Academy yang dilaksanakan pada Sabtu (18/01) lalu, Ustadzuna Fida' hafidzahullah, turut membagikan poin-poin renungan. Mempelajari bahasa Arab nyatanya adalah hal urgen. Berikut rangkuman Majalah HSI dari kajian yang dilaksanakan di ruang Zoom tersebut.

“Pertama, bahasa Arab secara statis akan tetap menjadi bahasa utama untuk mendalami syariat, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan dalam mendakwahkan ilmu syariat tersebut. Kita tidak cukup hanya mengandalkan terjemahan-terjemahan saja tanpa mengetahui pemahaman yang asli dan benar. Kita harus merujuk sebagaimana pemahaman salafush shalih. Sedangkan, sesuatu yang viral dan masif di permukaan, justru seringkali bersifat tidak edukatif. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, kita perlu filter yang benar dalam menerima informasi apalagi yang berhubungan dengan bahasa agama kita," ungkap Ustadzuna.

“Bahkan untuk meng-counter berita dan pemahaman yang menyimpang sekalipun, kita perlu belajar Bahasa Arab,” pesan Ustadz Fida’. “Apalagi jika kita harus terjun di dunia dakwah, maka sebuah keharusan untuk bisa berbahasa Arab yang sesuai kaidah dengan pemahaman yang benar,” sambungnya kemudian.

“Kedua, bahasa Arab merupakan bahasa global atau bahasa resmi PBB yang penggunaannya sudah sangat luas. Hal ini menjadikan urgensi belajar bahasa Arab tidak berkaitan pada aspek komunikasi saja, melainkan juga disebabkan aspek geo-politik dan semisalnya,” tutur Ustadz Fida’.

“Ketiga, peluang ekonomi dan peluang mendapatkan pekerjaan. Negara-negara Arab memiliki letak dan kedudukan strategis, growing (pertumbuhan, red) yang pesat, seperti teknologi, investasi, pariwisata, dan bahkan energi terbarukan. Hal ini melazimkan permintaan bagi kebutuhan tenaga profesional semakin meningkat. Dokumen-dokumen resmi misalnya, atau akad kontrak, otomatis menggunakan bahasa Arab. Oleh karena itu, profesional dituntut untuk bisa berbahasa Arab,” lanjut Ustadz Fida’.

Dosen STDI Imam Syafi’i Jember tersebut kemudian juga mengungkapkan bahwa bahasa Arab merupakan bahasa pendidikan. Ini adalah urgensi keempat yang disampaikan Ustadz Fida’ hafidzahullah. Menurutnya bahasa Arab dianggap sebagai Bahasa yang perlu diekspor untuk kegunaan riset maupun penelitian. Masih banyak naskah, berbagai literatur, manuskrip-manuskrip klasik, dan sumber bacaan yang belum terjamah karena berbahasa Arab. Bahkan sampai sekarang, kolaborasi internasional semakin membutuhkan ahli bahasa Arab dan para peneliti berbahasa Arab yang fasih, guna menerjemahkan ilmu umum yang dahulunya banyak dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan muslim dari Arab. Seperti kontribusi al-Zahrawi di dunia kedokteran yang kerap kali dijuluki sebagai Bapak Ahli Bedah Dunia.

“Urgensi kelima, yaitu bahasa Arab juga digunakan untuk memfasilitasi dari sisi budaya dan sejarah atau historis. Era digital dengan berkembangnya sarana komunikasi yang semakin mudah, maka ini memungkinkan kita berinteraksi antar budaya secara intensif. Pengetahuan bahasa Arab membuat kita lebih kaya wawasan dan lebih memudahkan kita dalam memahami lawan bicara kita dalam ranah diskusi dan semisalnya,” pungkas Ustadzuna Fida’.

Fakta Potensial Orang Kafir pun Belajar Berbahasa Arab

Mungkin sebagian dari kita merasa ironi dengan fakta yang satu ini. Namun, kenyataannya demikian. Ustadz Fida’ mengungkapkan bahwa tidak sedikit kaum profesional asal Eropa, termasuk mereka yang kafir, bekerja di negeri Arab[2], di Dubai misalnya, demi uang. Proyek-proyek sangat menguntungkan dengan bayaran yang tinggi, sangat menjanjikan bagi mereka untuk memenuhi hajatnya di sana.

“Pertanyaan untuk kita, apakah kita juga mau mempelajari bahasa Arab ini? Kalau pun mau, apakah hanya untuk gaya-gayaan saja? Jangan. Kalau bisa sampai jadi profesional,” beliau nampak memompa motivasi.

Ustadz Fida’ berkesimpulan bahwa bahasa Arab bukan hanya sarana komunikasi interpersonal saja melainkan sudah menjadi alat komunikasi internasional untuk memahami budaya global. Oleh karena itu, masih sangat potensial untuk kita mempelajari bahasa Arab sebagai sarana transaksional di era digital.

“Orientasi kita jelas yaitu untuk akhirat. Namun, sebagai seorang muslim kita juga hendaknya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar hidup lebih berkualitas dengan menjadi pionir yang unggul, pionir yang kuat di dunia, dan sukses nantinya, di akhirat kelak,” tutup Ustadzuna Fida’ terdengar sarat harapan.

Jadi jika bisa menjadi pionir yang kuat di dunia dengan berbahasa Arab yang fasih sebagai sarana, mengapa tidak kita kejar? Satu hal besar yang menjanjikan, yaitu bahwa dengan menguasai bahasa Arab bakal terbuka kemudahan menyelami ilmu pengetahuan. Ibarat jalan pasti yang memudahkan meraih surga, insyaallah, karena barang siapa menuntut ilmu akan Allah mudahkan jalannya menuju surga. Lengkap sudah, ada keuntungan akhirat, diikuti keuntungan-keuntungan dunia. Tunggu apa lagi? Kapan antum mendaftar ke HSI Fusha Academy? Yassarallahu laakum.. Baarakallahu fiikum.

hsi fusha

2