LGBT Ditinjau dari Sisi Kesehatan
Kontributor : dr. Sri Setya Wahyu Ningrum
Editor : dr. Avie Andriyani
LGBT? Mungkin kosakata ini sudah tidak asing di telinga kita. LGBT bukan lagi istilah yang hanya kita temui dalam pemberitaan. Istilah ini semakin sering muncul di media sosial, lingkungan pendidikan, keluarga, bahkan dalam percakapan anak dan remaja. Sayangnya, informasi yang beredar tidak selalu tepat. Ada yang membahasnya hanya dari sisi moral, sementara sebagian lainnya membicarakannya tanpa mempertimbangkan aspek kesehatan.
Sebagai muslim, bagaimana kita seharusnya memahami persoalan ini? Apa sebenarnya yang dimaksud dengan lesbian, gay, biseksual, dan transgender atau biasa disingkat LGBT? Adakah persoalan kesehatan tertentu yang perlu diketahui? Dan bagaimana Islam mengajarkan seorang muslim bersikap terhadap persoalan tersebut?
Apa Itu LGBT?
Secara definisi, lesbian merupakan seorang wanita namun memiliki kecenderungan secara seksual terhadap sesama wanita. Orang yang secara biologis sebagai laki-laki namun memiliki kecenderungan untuk merasakan atau ingin berhubungan dengan laki-laki disebut Gay. Biseksual adalah orientasi seksual yang menggambarkan seseorang yang secara emosional dan seksual tertarik pada individu dari jenis kelamin mereka sendiri dan jenis kelamin lain. Sedangkan transgender adalah istilah yang merujuk pada individu yang mengalami ketidaksesuaian antara identitas gender mereka dengan jenis kelamin biologis saat lahir.
Perilaku seksual merupakan segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenis. Orientasi seksual dapat diartikan sebagai perasaan tertarik secara emosional ataupun seksual seseorang terhadap orang lain. Istilah identitas gender merujuk pada kecenderungan seseorang sebagai perempuan atau laki-laki. Ketiga istilah ini memiliki makna yang berbeda sehingga tidak dapat disamakan satu sama lain dan tidak boleh digunakan secara sembarangan.
LGBT dan Kesehatan, Apa yang Perlu Dipahami?
Perilaku seksual tidak selalu bermakna negatif. Namun, ada beberapa faktor yang dapat memicu timbulnya risiko kesehatan akibat perilaku seksual. Risiko kesehatan yang paling sering terjadi adalah Infeksi Menular Seksual (IMS). Risiko infeksi menular seksual bergantung pada jenis perilaku dan aktivitas seksual, bukan semata-mata karena label identitas seperti LGBT. Berdasarkan Jurnal yang ditulis oleh Suhaid et al tahun 2026, bahwa hubungan seksual melalui anal dan bergonta-ganti pasangan seksual salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko infeksi menular seksual seperti klamidia, gonore, sifilis, kanker serviks, bahkan risiko infeksi HIV.
Hasil penelitian oleh Supriyanto et al, 2023 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan hubungan seksual yang berisiko. Sehingga edukasi kesehatan seksual perlu digencarkan terutama untuk kalangan usia produktif. Tidak hanya itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala sesuai kebutuhan dapat diupayakan untuk mendeteksi dini risiko infeksi menular seksual. Akses terhadap pelayanan kesehatan tanpa perlakuan yang merendahkan atau bersifat diskriminatif penting untuk menunjang tindakan preventif dan kuratif yang nyaman bagi pasien.
Bagaimana dengan Kesehatan Mental?
Kesehatan mental seseorang tidak luput dari pengaruh sosial atau lingkungannya. Pandangan negatif, perundungan, penolakan dan isolasi sosial, hingga konflik keluarga dapat menjadi sumber tekanan psikologis. Berawal dari tekanan psikologis yang terus menumpuk seperti gunung es lambat laun akan memicu munculnya gangguan kesehatan mental. Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa orang-orang dengan perilaku LGBT sering kali mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan dari lingkungan sekitarnya. Mulai dari pandangan negatif, cenderung dijauhi, bahkan perundungan. Dalam rangka mengantisipasi adanya gangguan kesehatan mental, penting adanya dukungan sosial dan lingkungan yang aman. Meminta bantuan profesional sangat disarankan apabila diperlukan.
Bagaimana Islam Memandang LGBT?
Islam memuliakan manusia sebagai makhluk Allah. Allah melarang kita untuk mencela, menghina dan berbuat zalim kepada sesama manusia. Rasulullah pun pernah berkata kepada Abu Jurayyi Jabir bin Sulaim Radhiyallahu anhu :
لَا تَسُبَّنَّ أَحَدًا قَالَ فَمَا سَبَبْتُ بَعْدَهُ حُرًّا وَلَا عَبْدًا وَلَا بَعِيرًا وَلَا شَاةً
“Janganlah engkau mencela seorang pun!” Abu Jurayyi berkata, “Maka setelah itu aku tidak pernah mencela seorang yang merdeka, seorang budak, seekor unta, dan seekor kambing”. (HR. Abu Dawud, no: 4084; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Islam adalah agama yang sempurna. Berbagai aspek kehidupan diatur dalam syariat Islam termasuk perihal fitrah dan kecenderungan seksual seseorang. Islam menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan fitrah yang lurus, yaitu memiliki ketertarikan dengan lawan jenis.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَأَنَّهُۥ خَلَقَ ٱلزَّوْجَيْنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلْأُنثَىٰ
“Dan bahwa Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan.” (QS. An-Najm: 45)
Fenomena LGBT yang banyak bermunculan belakangan ini di tengah masyarakat, mengingatkan pada kisah kaum Nabi Luth ‘alaihissalam. Allah mencela perbuatan homoseksual yang dilakukan kaum Nabi Luth, sebagaimana firman Allah dalam Al A’raf: 80-81.
لُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ (80) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ
“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al A'raf: 80-81)
Apakah Perasaan dan Perilaku Itu Sama?
Perasaan, identitas atau label, dan tindakan adalah hal yang berbeda dan tidak bisa disamakan. Perasaan yang muncul pada diri seseorang belum tentu selaras dengan tindakan yang dilakukannya. Dalam syariat Islam, kita diperintahkan untuk menjaga batasan syariat dalam berperilaku. Oleh karena itu, dalam kehidupan sehari-hari, yang menjadi titik fokus kita adalah bagaimana sikap dan perilaku kita agar tidak melanggar syariat Islam. Bukan melakukan penilaian atau penghinaan terhadap dirinya.
Mitos dan Fakta tentang LGBT
Mitos: Semua orang LGBT pasti mengalami gangguan mental.
Fakta: Kondisi kesehatan mental tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan orientasi seksual atau identitas gender. Tidak semua orang dengan LGBT mengalami gangguan mental. Kesehatan mental seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor.
Mitos: Semua orang dengan LGBT memiliki perilaku seksual yang sama.
Fakta: Setiap individu memiliki perilaku dan kondisi yang berbeda. Meskipun sesama LGBT tetapi perilaku seksualnya tidak dapat disamaratakan. Hal ini berpengaruh pada risiko kesehatan yang dapat terjadi pada masing-masing individu dengan LGBT. Risiko kesehatan perlu dilihat berdasarkan perilaku dan faktor kesehatan setiap individu.
Mitos: Membenci seseorang adalah bentuk menjalankan agama.
Fakta: Islam mengajarkan keteguhan terhadap aturan agama sekaligus melarang kezaliman, penghinaan, dan tindakan merendahkan manusia.
Bagaimana Orang Tua Menyikapi Anak yang Mengaku LGBT?
Sebagai orang tua, tentu muncul kekhawatiran apabila mengetahui bahwa anak mengaku LGBT. Yang perlu kita lakukan pertama kali adalah jangan langsung panik apalagi melakukan tindak kekerasan kepada anak. Alih-alih main fisik, lebih baik berikan anak ruang untuk berbicara mengenai apa yang dirasakan dan dialaminya. Sebagai orang tua, sudah sepatutnya mendengarkan dan berusaha memahami kondisi anak. Membangun jalinan komunikasi yang baik dan terbuka dengan tetap memberikan batasan yang tegas sesuai nilai-nilai yang dianut dan dipegang teguh oleh keluarga. Apabila anak mulai muncul tanda-tanda tekanan psikologis, mengalami perundungan maupun masalah gangguan mental, segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan atau tenaga profesional yang kompeten dan memahami nilai-nilai Islam.
Bagaimana Sikap Seorang Muslim?
Di tengah fenomena maraknya LGBT, beberapa sikap yang penting dilakukan sebagai seorang muslim, antara lain :
- Berpegang teguh pada aqidah yang lurus dan menjalankan ketentuan yang telah Allah syariatkan.
- Dengan berpegang teguh kepada aqidah yang lurus dan menjalankan syariat Allah, diharapkan kita dapat lebih menjaga diri dalam pergaulan sosial dan tidak ikut terseret dalam gelombang LGBT.
- Tidak menganggap perbuatan yang dilarang agama sebagai sesuatu yang dibenarkan.
Meyakini bahwa apa yang Allah larang maka pasti mendatangkan mudharat. Oleh karena itu, sikap kita hendaknya tidak membenarkan dan melanggar apa yang Allah larang. - Tidak menghina, mencaci, merendahkan, menzalimi, dan melakukan kekerasan kepada sesama makhluk ciptaan Allah.
Sebagaimana yang telah Allah tegaskan dalam surat Al Hujurat ayat 11,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
- Memberikan nasihat dengan hikmah dan cara yang baik.
Allah berfirman dalam surat An-Nahl ayat 125,ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
- Menjaga batas pergaulan dan kehormatan diri.
Pergaulan bebas merupakan fakta yang seringkali kita lihat saat ini. Sebagai seorang muslim, kita hendaknya dapat menjaga kehormatan diri dan tegas dalam bergaul, tidak melampaui batas. - Menguatkan keluarga sebagai tempat pendidikan, kasih sayang, dan pembentukan karakter seorang individu.
Rumah adalah tempat pendidikan karakter yang pertama dan utama. Tempat bertumbuhnya kasih sayang antar anggota keluarga. Hal ini adalah modal penting untuk membentengi anggota keluarga dari perilaku yang tidak selaras dengan nilai yang dianut oleh keluarga. - Mengedepankan ilmu, hikmah, dan akhlak ketika menghadapi persoalan LGBT.
Dalam menghadapi persoalan LGBT, hendaknya kita kembalikan kepada ilmu. Menasihati harus dengan hikmah dan akhlak yang baik.
Persoalan LGBT tidak cukup dibahas hanya dengan label atau perdebatan. Dari sisi kesehatan, masyarakat membutuhkan informasi berbasis bukti ilmiah dan tidak menyederhanakan hubungan antara identitas, perilaku, dan kondisi kesehatan. Dari sisi Islam, seorang muslim memiliki pedoman mengenai hubungan seksual dan perilaku, sekaligus kewajiban menjaga akhlak serta kehormatan manusia.
Memahami persoalan ini dengan ilmu bukan berarti mengabaikan ajaran agama. Sebaliknya, pemahaman yang baik membantu seorang muslim bersikap lebih tepat, menjaga batasan syariat, memberikan edukasi kepada keluarga, dan menghadapi persoalan yang kompleks dengan hikmah serta akhlak yang baik.
Sumber :
- https://almanhaj.or.id/9836-termasuk-dosa-besar-suka-mencela.html (hadist larangan mencela)
- Indira et al, 2022, Pelayanan kesehatan terkait infeksi menular seksual pada lesbian, gay, biseksual, dan transgender, Intisari Sains Medis, Vol. 13(3), p.735-746.
- Imawati et al, 2024, Gambaran Kesejahteraan Psikologis Pada Pria Dewasa Awal dengan Orientasi Seksual Homoseksual, MARAS: Jurnal Penelitian Multidisiplin, Vol. 2(2), p. 904-912.
- Kusumawardani Et Al, 2024, Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Seksual Berisiko Pada Remaja, Ensiklopedia Of Journal, Vol. 6(3), P. 89-95.
- https://muslim.or.id/112643-bagaimana-islam-memandang-perilaku-homoseksual.html
- Putri et al, 2024, Tafsir tentang Persetaraan Laki-Laki dengan Perempuan (Transgender), Hikmah: Jurnal Studi Pendidikan Agama Islam, Vol. 1(4), p. 274-289.
- https://rumaysho.com/1942-celakalah-pelaku-sodomi.html
- Suhaid et al, 2026, Correlations between Knowledge, Attitude, Personal Values, Traumatic Experiences, and Risky Sexual Behavior among Indonesian Adolescents, Journal of Health Promotion and Behavior, Vol. 11(03), p. 427-438.
- Supriyanto Et Al, 2023, Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Tentang Seks Dengan Perilaku Seksual Remaja Di Kelas Xi Sma 2 Kota Manna Bengkulu Selatan, Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan, Vol. 10(3), P. 1738-1745.