Kabar Yayasan

Lembutkan Hati, Cintai Anak Yatim

Reporter: Leny Hasanah

Redaktur: Subhan Hardi


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَتُحِبُّ أَنْ يَلِيْنَ قَلْبُكَ وَتُدْرِكَ حَاجَتُكَ اِرْحَمِ اليَتِيْمَ وَامْسَحْ رَأْسَهُ وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ يَلِنُ قَلْبُكَ وَتُدْرِكُ حَاجَتُكَ

“Apakah engkau suka hatimu menjadi lembut dan kamu mendapatkan hajatmu (keperluanmu)? Rahmatilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berikanlah makan kepadanya dari makananmu, niscaya hatimu menjadi lembut dan niscaya kamu akan mendapatkan hajatmu.” (HR. ‘Abdurrazaq dalam mushannafnya, 11:97. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, 2544)

Menjadi lembut hati dan dikabulkan hajat dalam menjalani kehidupan dunia adalah harapan setiap insan. Dan, dalam tuntunan Islam, salah satu jalan untuk mencapainya adalah dengan menyayangi dan mencintai anak yatim. HSI BERBAGI melalui Program Santunan Anak Yatim (SAY) menjadi wasilah— juga sebuah upaya yang menyentuh hati untuk melindungi anak yatim, sebagai generasi penerus dari kalangan yang teruji secara sosial dan ekonomi dalam menatap masa depan.

Berawal dari Beasiswa Yatim

Program SAY pertama kali hadir tahun 2021, berawal dari Beasiswa Yatim dan Dhuafa yang diluncurkan sejak Januari 2020 silam. Saat itu, sasarannya adalah anak-anak dari para armalah—baik yang cerai mati maupun hidup—dengan sistem seleksi ketat berbasis data internal HSI AbdullahRoy. Namun, dalam perjalanannya program manfaat ini difokuskan hanya untuk anak-anak yatim yang belum baligh, agar sesuai dengan kriteria syariat.

Setelah sempat vakum tiga tahun, karena Program SAY sebelumnya direncanakan untuk digantikan oleh program KOTA (Kakak dan Orang Tua Asuh)—yang qadarullah belum terealisasi—maka pada tahun 2025 menjadi momentum kebangkitan kembali program ini. Meski, selama masa vakum, bantuan kepada anak yatim tetap diberikan dalam skala sederhana di bulan Ramadhan.

Kini, Program Santunan Anak Yatim kembali hadir dengan skema yang lebih matang, cakupan yang diperluas, dan semangat pemberdayaan yang lebih kuat.

”Program SAY 2025 menargetkan lebih kurang 120 anak yatim dari keluarga dhuafa dengan total anggaran sebesar Rp720 juta, seluruhnya berasal dari dana zakat,” jelas Ketua Program SAY HSI BERBAGI, Ukhtuna Rita Mujiati.

Ukhtuna Rita mengungkapkan, ada beberapa kriteria untuk Program SAY tersebut, di antaranya yatim (ayah wafat), belum baligh (perempuan belum haid, laki-laki belum mimpi basah), berasal dari keluarga dhuafa, belum pernah menerima bantuan dari HSI BERBAGI dalam satu tahun terakhir, serta satu keluarga hanya boleh mengajukan 1 anak yatim.

Proses pendaftaran juga dibuka secara luas melalui formulir digital dan diperluas agar tidak hanya pengurus HSI/HSI BERBAGI yang bisa merekomendasikan, tetapi juga semua santri HSI, selama jarak dengan calon anak yatim tidak lebih dari 5 kilometer.

Hingga penutupan pendaftaran per 26 Mei 2025, jumlah pemohon yang masuk sebanyak 63 orang, tetapi hanya 56 permohonan yang dapat ditindaklanjuti dalam tahapan seleksi awal dan sisanya tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

Dalam pelaksanaannya, target penyelesaian program selama dua bulan. Namun, proses sedikit molor karena BC (broadcast) informasi SAY baru berjalan efektif dua minggu lebih lambat dari rencana. Namun, tim tetap optimis program akan selesai sesuai waktu yang ditargetkan.

”Saat ini tim sedang melakukan verifikasi terhadap seluruh permohonan yang masuk. Biidznillah, semoga target kami menyelesaikan program ini selama 2 bulan dapat tercapai. Semoga Allah mudahkan semua urusan kita,” tutur Ukhtuna Rita.

Bangun Harapan, Bukan Sekadar Pemberian

Program Santunan Anak Yatim 2025 bukan sekadar tentang pemberian santunan tahunan, tetapi bagian dari visi besar untuk membangun ketahanan dan semangat untuk bangkit bagi keluarga yatim.

Dalam rapat internal HSI BERBAGI, Ukhtuna Rita menjabarkan bahwa Ketua Divisi HSI BERBAGI menyampaikan harapan agar ke depan orang tua atau wali anak yatim juga bisa dibekali skill praktis—seperti menjahit atau produksi barang yang dapat dikembangkan dalam ekosistem internal HSI—agar mereka bisa berdaya secara finansial dan tidak bergantung pada bantuan tahunan.

Saat ini, tim HSI BERBAGI terus berupaya memikirkan rencana baik ini, dan menjalin kolaborasi lintas program untuk menjembatani produksi dan pemasaran hasil karya para ibu yatim, tentu dengan memperhatikan aspek kualitas.

Masyarakat luas pun diajak berkontribusi. Dengan kepercayaan umat yang terus dibangun, HSI BERBAGI berharap menjadi salah satu lembaga tepercaya untuk penyaluran zakat dari muzakki yang telah mencapai nishab dan haul-nya.

Zakat yang disalurkan akan digunakan tidak hanya untuk SAY, tetapi juga untuk berbagai program sosial lain dan berkelanjutan dalam menebar manfaat yang lebih luas untuk umat. Insyaallah.

0