Langkah Ringan Penuh Makna di Bulan Dzulhijjah
Reporter: Putri Oktaviani
Redaktur: Gema Fitria
Dzulhijjah adalah salah satu dari 4 bulan haram yang mulia bersama dengan Muharram, Rajab, dan Dzulqa’dah, tapi Dzulhijjah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki bulan haram lainnya, yaitu berlangsungnya ibadah haji, ibadah qurban dan Idul Adha, serta hari-hari yang paling dicintai Allah untuk beribadah. Tanggal 9 Dzulhijjah adalah hari Arafah yang merupakan puncak ibadah haji. Bagi yang tidak berhaji, sangat disunnahkan berpuasa pada hari Arafah yang ganjarannya adalah dapat menghapuskan dosa satu tahun sebelum dan sesudahnya.
Kesempatan ini adalah sumber untuk mencari pahala dan kebaikan dari Allah karena dengan ibadah yang sederhana pun kita bisa mendapat rahmat yang melimpah. Ibadah dapat dilakukan dari yang ringan seperti memperbanyak dzikrullah (tasbih, tahmid, takbir), bertaubat, dan berdoa. Kemudian dilanjutkan puasa dan shalat sunnah serta membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Selain itu, dapat juga diisi dengan amalan seperti berbakti pada orang tua, bersabar, menghindari ghibah dan marah.
Ibadah pada 10 hari awal Dzulhijjah adalah ibadah yang paling dicintai Allah. Ibadah ringan pada awal bulan Dzulhijjah lebih dicintai Allah dibandingkan ibadah yang berat dan sulit seperti jihad di waktu yang lain. Dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada hari-hari yang amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini.” Yang dimaksud dalam hadits itu adalah 10 hari pertama Dzulhijjah. Bahkan pahala jihad di jalan Allah pun tak dapat menandinginya.
Menanam Benih Kebiasaan Ibadah
Ibadah wajib adalah fondasi utama kehidupan seorang muslim. Tanpa fondasi, suatu bangunan akan rapuh dan mudah runtuh. Seperti itulah kehidupan. Ibadah wajib adalah keharusan yang menopang hubungan seorang hamba dengan Allah. Penting sekali untuk menjaga dan mempertahankannya. Ukhtuna Shofiyah Az Zahra, santri HSI angkatan 241, menceritakan pengalamannya menjaga shalat wajib, “Pertama, ubah mindset bahwa shalat wajib itu prioritas di atas segalanya, jadi bukan kalo sempat tapi harus disempatkan. Ketika adzan berkumandang, ana sebisa mungkin langsung shalat. Ana juga menjaga wudhu. Jadi waktu lebih efisien,” ucapnya.
Sedangkan Ukhtuna Adjeng Khairunnisa, santri HSI angkatan 241, terbantu dengan kegiatan shalat wajib di sekolah. “Alhamdulillah, kegiatan pertama di sekolah diawali dengan tahfidz dan dilanjutkan shalat Dhuha. Untuk shalat Zuhur dan Ashar dilakukan di sekolah juga dan wajib berjamaah,” tuturnya. Ia mengatakan bahwa shalat bersama membuatnya semakin bersemangat dan termotivasi. “Karena kewajiban, saya berharap mendapatkan pahala, menjadikan hati lebih tenang, dan membuat dekat dengan pertolongan Allah,” tukasnya. Selain itu, Ukhtuna Adjeng juga selalu termotivasi oleh nasihat ibunya, “Saya selalu ingat nasihat ibu saya, bahwa kita yang perlu Allah bukan Allah yang butuh ibadah kita. Tidak akan berkurang kekuasaan Allah walaupun kita tidak beribadah kepada-Nya,” imbuhnya.
Jika ibadah wajib adalah fondasi, ibadah sunnah adalah bagian-bagian yang membuat bangunan layak huni. Setelah ibadah wajib, ibadah sunnah adalah tambahan yang berfungsi untuk menambal kekurangan dan menaikkan derajat seorang hamba. Ibadah sunnah seringkali diremehkan karena jika tidak dilakukan tidak mendapat dosa. Padahal ibadah sunnah juga memiliki banyak manfaat. “Ana tiap ingin melakukan sesuatu ana lihat dulu manfaatnya untuk diri sendiri dan itu menjadi dorongan untuk ana terus melakukan amalan-amalan sunnah,” tutur Ukhtuna Shofiyah. “Awalnya memang ngga terbiasa. Bahkan dulu dzikir pagi-petang berasa lama banget. Ana tidak memaksakan diri. Jika ana ingat, akan ana lakukan dan sebaliknya. Alhamdulillah kebawa sampai sekarang karena sudah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari,” ungkapnya.
Ibadah juga perlu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Ukhtuna Riznah Thoriq Attamimi, santri HSI angkatan 252, berusaha beribadah sesuai kemampuan kesehatannya yang mudah terganggu. “Dengan kesehatan saya yang mudah sakit, saya hanya bisa semampu saya seperti puasa, shalat malam, shalat Dhuha, dan sedekah di masjid,” ucapnya. Ibadah tidak harus dilakukan dengan banyak, setiap hal dimulai dari hal kecil dahulu. Meskipun begitu Ukhtuna Riznah selalu semangat untuk menambah ibadah sunnah. “Saya beribadah tentu untuk mendapatkan pahala dan mendekatkan diri kepada Rabb yang selalu menjaga dan melindungi kita, dan agar pintu rezeki selalu terbuka,” tandasnya.
Ketika Kendala Melanda
Segala kebaikan tak luput dari kendala. Kendala yang biasa menghinggapi adalah malas dan futur. “Ya, memang itu ngga bisa dihindari. Jika gitu bisa dikerjakan sedikit-sedikit aja yang membuat kita merasa lebih mudah untuk mengerjakannya atau meletakkan hadiah untuk diri kita sendiri sebagai target dan agar setelah menyelesaikannya kita jadi semangat kembali,” ujar Ukhtuna Riznah yang menjadikan self-reward untuk memotivasi dirinya. “Apa saja boleh sih, kalau ana ya misalnya kaya nyemil atau ngerjain hobi yang kita suka,” tuturnya mencontohkan.
Tidak berbeda jauh dengan Ukhtuna Siti Nafisah Azis, santri HSI angkatan 201, yang tetap berusaha melaksanakan ibadah meskipun sedang futur. “Biasanya saat futur, saya mencoba mengingat lagi bahwa iman memang naik dan turun, jadi jangan sampai karena futur malah menjauh dari Allah. Saya berusaha tetap memaksakan diri melakukan ibadah walaupun sedikit, karena kalau ditinggalkan justru makin berat untuk memulai lagi. Kadang juga mengingat betapa banyak nikmat Allah yang sudah diberikan, jadi malu kalau terlalu lama lalai,” ungkap santri yang biasa dipanggil Nafisah ini. Namun, ia tidak memaksa diri dengan keras. “Yang paling penting, jangan terlalu keras pada diri sendiri saat futur, tapi jangan juga dibiarkan berlarut-larut. Pelan-pelan bangun lagi kebiasaan baiknya dan terus minta sama Allah agar diberi hati yang istiqamah,” ujarnya memotivasi.
Selain tantangan dari dalam diri, juga terdapat tantangan dari lingkungan sekitar. “Tantangan saya berasal dari lingkup pertemanan. Pertemanan yang sekarang apa-apa mengikuti hawa nafsu semata atau nafsu dunia,” paparnya. Lingkungan yang mengutamakan duniawi akan membuat kita ikut terhanyut dan melalaikan akhirat. “Biasanya ana coba ingetin dulu, tetapi kalau tidak bisa, ana menjauhkan diri agar tidak terjerumus. Jika sudah diingatkan tapi masih begitu, ana memilih menghindar agar bebas dari tanggung jawab akhirat. Kan sudah diingatkan toh!” cerita Ukhtuna Shofiyah mengenai lingkungannya.
Lingkungan sangat berpengaruh kepada diri seseorang. Ia bisa mengajak kepada kebaikan ataupun sebaliknya. Namun, kita tetap harus berhubungan baik dengan semua kalangan seperti yang dilakukan Ukhtuna Nafisah. “Saya mencoba tetap menghargai semua orang tanpa harus ikut dalam hal yang kurang baik,” katanya. Meskipun begitu ia tetap mencari lingkungan yang membuatnya sealu ingat akan akhirat. “Selain itu, saya berusaha mencari lingkungan dan teman yang bisa saling mengingatkan dalam kebaikan karena ternyata itu sangat membantu menjaga semangat ibadah. Biasanya saya juga lebih banyak mendekat ke aktivitas yang membawa manfaat. Karena saya sadar hati itu mudah terpengaruh lingkungan. Jadi kalau ingin tetap istiqamah, kita juga perlu menjaga tempat dan pergaulan yang baik,” sambungnya.
Langkah Ringan Namun Sepenuh Hati
Amalan yang paling Allah cintai adalah amalan rutin walaupun kecil dan terlihat remeh. Hal ini menunjukkan kestabilan iman seseorang dibandingkan dengan amalan besar tapi dilakukan pada saat-saat tertentu saja. Amalan sederhana akan menjadi kebiasaan yang membentuk pola hidup yang selalu berisi ibadah dan kebaikan. Amalan ringan adalah langkah awal karena membangun kebiasaan pasti terasa berat. “Awalnya justru dengan memaksakan diri untuk tetap menjalankan ibadah dan amalan sunnah, walapun kadang masih berat dan malas. Tapi pelan-pelan dibiasakan terus, karena sesuatu yang dipaksa dalam kebaikan lama-lama bisa menjadi kebiasaan,” Ukhtuna Nafisah memberikan tips.
Ukhtuna Adjeng juga memberikan kiatnya dalam istiqamah. “Pertama, luruskan niat. Lalu, cari lingkungan pertemanan yang baik, lakukan amalan sunnah secara rutin, belajar agama, berdoa minta keteguhan hati, dan perbanyak mengingat kematian,” urainya. Dengan melakukan langkah tersebut, secara bertahap kita akan istiqamah dalam beribadah.
Langkah paling awal adalah meluruskan niat, karena niat yang salah dapat menjadikan usaha kita sia-sia. Ibadah yang tidak ikhlas tidak akan diterima sehingga hanya menghasilkan kelelahan. Dengan niat beribadah hanya untuk Allah, kita akan lebih semangat karena tahu tujuan kita adalah Allah sang maha pemurah. “Bersamaan dengan memperbaiki amalan, saya selalu mengingatkan diri bahwa semua amalan yang ikhlas berpeluang lebih besar untuk diterima Allah,” kata Ukhtuna Riznah mengingatkan. Namun niat sangat rentan untuk melenceng. Ukhtuna Shofiyah memberikan tips untuk menjaga niat. “Ana sebisa mungkin tidak mengekspos ibadah di sosial media atau cerita-cerita karena sejatinya manusia jika dipuji akan berbangga diri dan ujung-ujungnya riya,” sambungnya.
Pertolongan Allah adalah Kunci
Segala usaha tersebut hanya akan tercapai dengan pertolongan Allah. Seorang hamba bisa mendapatkan pertolongan Allah melalui doa. Doa adalah sumber utama kebaikan, karena hati manusia berada di antara dua jari Allah. “Ketika ingin mengerjakan amalan, saya berdoa terus agar dimudahkan untuk tetap beramal dan istiqamah,” ucap Ukhtuna Riznah bersemangat. “Alhamdulillah banyak yang bisa disyukuri dari rezeki yang tak disangka-sangka, ilmu yang saya dapatkan, dan semangat yang insyaallah tidak terputus,” ujarnya menyambung.
Hidayah adalah milik Allah dan Allah memberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Tanpa hidayah dan taufik dari Allah, kita pun tidak akan bisa melakukan ibadah. Sungguh ibadah dan hati kita bergantung pada rahmat Allah, sehingga ibadah harus diiringi dengan doa. “Dengan terus berdoa kepada Allah agar senantiasa diberi hati yang selalu mengingat-Nya, semoga dimudahkan untuk istiqamah menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Selain itu berusaha selalu bersyukur atas setiap keadaan, karena rasa syukur membuat hati lebih tenang dan lebih mudah menjaga kedekatan dengan Allah,” jelas Ukhtuna Nafisah.
“Dulu pernah ada masa shalat masih bolong-bolong dan ibadah belum terjaga. Waktu itu terus berdoa kepada Allah supaya diberi hidayah dan dimudahkan istiqamah. Selain doa dari sendiri, pasti ada juga doa dari orang tua yang terus menginginkan anaknya menjadi lebih baik,” kenang Ukhtuna Nafisah. “Masyaallah, pelan-pelan Allah bantu memperbaiki hati dan ibadah. Jadi makin sadar kalau kita tidak bisa berubah sendiri tanpa pertolongan Allah, dan salah satu bentuk pertolongan itu bisa lewat doa-doa orang tua juga,” ungkapnya terharu.
Penutup
Bulan Dzulhijjah adalah momentum yang tepat untuk mulai menanam benih kebaikan, karena amalan pada 10 hari pertama Dzulhijjah adalah amalan yang paling Allah cintai. Tidak mengapa memulai dengan amalan kecil, seperti dzikir, istighfar, menuntut ilmu agama, karena ia akan tumbuh menjadi kebiasaan yang menguatkan iman. Ketika hati sudah terbiasa, ibadah tak lagi memberatkan, justru akan selalu dirindukan. Semoga Allah memudahkan kita dalam memulai langkah ringan di bulan penuh kebaikan ini! Barakallahufiikum.