Sirah

Laits bin Sa’ad[1]

Penulis: Azhar Rizki

Editor: Athirah Mustadjab

Sosok Pilihan

Imam Laits adalah salah satu putra terbaik negeri Mesir dan kebanggaannya. Seorang imam panutan dan hafizh pilihan. Nama lengkapnya Laits bin Sa’ad bin Abdurrahman Al-Fahmi, berjuluk Abul Harits, dan memiliki asal garis keturunan Persia.

Beliau dilahirkan di daerah Qarqasyandah, Mesir pada tahun 94 Hijriah. Laits bin Sa’ad mengambil ilmu dari jajaran tabi’in semisal Atha’ bin Abi Rabah dan Syihabuddin Az-Zuhri. Beliau hidup sezaman dengan Imam Malik dan para ulama yang lainnya. Semasa beliau hidup, sunnah Rasulullah dan agama Islam kuat sedangkan pemikiran menyimpang dan para ahli bid’ah tak memiliki kekuatan. Berbeda dengan zaman Imam Ahmad yang datang setelahnya, para ahli bid’ah mulai memiliki panggung untuk menyebarkan kebid’ahan mereka. Karena itulah, tidak mengherankan jika Laits bin Sa’ad mengatakan, “Sampai usia 80 tahun, aku belum pernah sama sekali membantah seorang ahli bid’ah.”

Dalam ranah keilmuan, Laits bin Sa’ad adalah gunung yang kokoh. Dalam kedermawanan, beliau adalah teladan yang hebat. Dalam ketawadhu’an, Laits bin Sa’ad adalah simbol yang mencolok.

Ibnu Wahab mengatakan, “Seandainya bukan sebab Malik dan Laits, tentu aku akan binasa. Hal itu karena setiap riwayat yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti aku sangka hadits yang harus diamalkan.” Maksud beliau, karena dua orang tersebut yang telah memverifikasi hadits, akhirnya kita dapat mengetahui mana yang benar-benar berasal dari Nabi dan mana yang tidak.

Nama besar Laits bin Sa’ad sangat diperhitungkan di seluruh Mesir, bahkan Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur rahimahullah mencoba menawari Laits bin Sa’ad jabatan sebagai gubernur Mesir, tetapi beliau menolaknya. Ucapan dan masukan dari Laits bin Sa’ad terhadap pemerintah juga sangat didengar. Tak mengherankan apabila ada aduan terhadap seorang hakim atau aparat pemerintah kepada Laits, beliau pun menulis surat kepada Khalifah dan orang yang bermasalah itu akan langsung dipecat.

Di kalangan bawah juga sama. Ucapan beliau sangat didengar. Disebutkan oleh Utsman bin Shalih bahwa dulu masyarakat Mesir sangat membenci Utsman bin Affan, hingga datanglah Laits bin Sa’ad yang menyebutkan keutamaan-keutamaan Utsman sampai membuat semua masyarakat Mesir berhenti mencela Utsman radhiyallahu ‘anhu.

Cara Laits dalam Muamalah dengan Hartanya

Harmalah rahimahullah menceritakan bahwa Laits bin Sa'ad selalu memberi harta kepada Imam Malik sebanyak 100 dinar dalam setahun. Setelah itu Imam Malik menulis surat kepada beliau, "Aku memiliki tanggungan utang." Tak butuh lama, Imam Laits bin Sa'ad langsung memberikan 500 dinar.

Dalam versi lainnya diceritakan bahwa Imam Malik hendak menikahkan putrinya, tetapi beliau tidak memiliki barang untuk dijadikan mahar. Imam Malik menulis surat kepada Imam Laits agar mengirimkan sesuatu yang bisa digunakan sebagai mahar. Setelahnya, Imam Laits mengirimkan 30 pikul kepada Imam Malik. Sebagian barang itu dijual sehingga menghasilkan 500 dinar, sedangkan sisanya disimpan.

Selain itu, Qutaibah juga menceritakan, "Laits bin Sa'ad menghasilkan keuntungan 20 ribu dinar setiap tahunnya. Adapun beliau selalu mengatakan, ‘Aku sama sekali tidak pernah terkena kewajiban menunaikan zakat.’"

Laits bin Sa'ad juga memberikan uang kepada Abdullah bin Lahi'ah, Imam Malik, dan Manshur bin Ammar Al-Wa’izh sejumlah 1.000 dinar serta kepada seorang budak wanita yang setara dengan 300 dinar.

Terdapat pula kisah tentang seorang wanita yang datang kepada Laits bin Sa’ad lalu ia berkata, “Wahai Abul Harits, sesungguhnya aku memiliki seorang putra yang sakit. Dia ingin madu.” Tak butuh waktu lama, sang Imam pun memanggil pembantunya, “Pembantu, tolong beri perempuan tersebut satu muruth madu.” Pada saat itu, satu muruth itu setara dengan 120 rithl. Dalam riwayat yang lain disebutkan, bahwa wanita tadi awalnya hanya membawa kantong kecil, tetapi Imam Laits justru memberinya madu sekantong besar. Awalnya si wanita menolaknya karena kebutuhannya hanya sedikit. Lagi-lagi, Imam Laits rahimahullah mengatakan, “Kami hanya memberimu madu dengan jumlah yang sewajarnya menurut ukuran kemampuan kami.” Allahu akbar!

Bayangkan, andai Imam Laits adalah juragan madu, sewaktu beliau hendak mengeluarkan pemberian semisal dalam bentuk sedekah, beliau akan melihat keadaan dan kelonggaran diri beliau sendiri. Beliau menganggap tak pantas jika hanya mengeluarkan sedikit harta sebagai sedekah, padahal beliau memiliki kelonggaran dalam harta. Hal ini sangat kontras dengan keadaan sebagian besar kita yang walaupun memiliki mobil dan berpenghasilan lumayan, tetapi saat membelanjakan harta dalam bentuk sedekah atau infak, kita mengeluarkan ala kadarnya. Sekali lagi, bukan ala kadar dirinya, tetapi ala kadar orang-orang yang hidupnya pas-pasan dan cenderung kekurangan.

Mungkin inilah gambaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Satu dirham bisa mengalahkan seratus ribu dirham.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana itu terjadi?” Beliau bersabda, “Satu dirham (yang disedekahkan) berasal dari seorang fakir yang hanya memiliki dua dirham, lalu dia sedekahkan salah satunya. (Adapun yang kedua) ialah seorang saudagar dari harta perbendaharaannya, lalu ia ambil seratus ribu dirham dan menyedekahkannya.”[2]

Anak beliau, Syu’ab bin Laits bin Sa’ad, pernah menyatakan, “Aku mendengar ayahku berkata, ‘Aku tak pernah terkena kewajiban zakat semenjak hartaku mencapai nishab.’” Maksudnya, sedekah yang beliau keluarkan akan menguras harta yang beliau punya sebelum masuk haul (satu tahun) dalam hitungan kepemilikian. Jika di antara syarat wajib zakat adalah harta yang kita punya sudah mencapai nishab (nilai minimum wajib zakat) dan sudah melewati satu tahun masa kepemilikian tanpa berkurang (haul), maka syarat yang kedua inilah yang tidak pernah terpenuhi pada harta Imam Laits bin Sa’ad rahimahullah. Hal itu berarti, jika beliau mendapatkan hartanya dengan cara yang mudah, banyak, dan relatif lancar, demikian juga lancarnya beliau tatkala membelanjakannya untuk keperluan sedekah dan f ii sabilillah. Ibarat mesin diesel yang memompa air dari sumber yang besar, debit yang dikeluarkan pun juga besar.

Akibat itulah, berputar spekulasi antara ada atau tidak adanya harta di tempat penyimpanan Imam Laits bin Sa’ad. Perputaran uang di kas beliau amat cepat membuat sebagian orang terheran-heran. Benar-benar cepat: cepat habisnya, cepat pula terisi kembali. Sungguh ini mengingatkan kita tentang buah dari sikap tawakal kepada Allah Ta’ala. Barang siapa yang bertawakal dan hanya bersandar kepada-Nya, niscaya Allah akan menolongnya dan memberikan jalan keluar dari arah yang tak akan pernah dinyana. Allah juga akan memberikan rezeki yang tak terkira. Sayangnya, kemampuan tawakal yang benar seperti ini tidak dimiliki oleh banyak orang.

Seni dalam Berbagi

Bukan seorang ulama dan imam jika kehidupannya biasa-biasa saja. Dalam membelanjakan harta, setiap ulama memiliki seni tersendiri. Termasuk Imam Laits bin Sa’ad rahimahullah ini. Bagi Imam Laits, harta di tangannya sebatas titipan rezeki dari Ar-Razzaq. Seorang pemilik harta semata ibarat talang air yang menjadi perantara hujan sebelum ia jatuh ke tanah dan menumbuhkan tanaman. Demikianlah, seseorang tak pantas bersikap jumawa tatkala dia keluarkan hartanya fii sabilillah. Berawal dari pola pikir seperti inilah, harta di tangan orang shalih akan mendatangkan manfaat karena harta di tangan manusia pasti akan habis. Hanya saja, yang membedakan adalah: harta tersebut dihabiskan untuk perkara apa?

Seni berbagi ala Imam Laits terlukis dalam Riwayat Al-Harits bin Miskin. Bahwa ada serombongan orang yang datang kepada Imam Laits untuk membeli buah-buahan. Mereka menganggap harga yang ditawarkan oleh Imam Laits agak mahal. Mereka pun menawar, lantas Imam Laits menyetujuinya. Tidak hanya itu, Imam Laits bahkan memberi mereka beberapa kantong yang berisi 50 dinar. Karenanya, Al-Harits, putra Laits, menanyai alasan atas sikap sang ayah. Imam Laits pun menjelaskan, “Semoga Allah mengampuni kita. Mereka (para pembeli) itu telah berharap kepada buah tadi dengan sebuah pengharapan (untung). Aku ingin memberi ganti sebagian dari harapan mereka itu dengan uang ini.”

Putra Laits yang bernama Syu’aib juga mengisahkan, “Aku pergi berhaji bersama ayahku. Setibanya di Madinah, Imam Malik memberi hadiah ayah dengan sekeranjang kurma. Lalu ayah menaruh 1.000 dinar di atas keranjang yang tertutup itu dan menghadiahkannya lagi kepada Imam Malik.”

Kebaikan Imam Laits juga dipersaksikan oleh Abdullah bin Shalih yang sudah lama menjadi sahabatnya, “Aku bersahabat dengan Laits selama dua puluh tahun. Dia tidak makan siang atau makan malam kecuali bersama orang-orang. Laits selalu makan lauk daging, kecuali saat dirinya sakit.”

Qutaibah mengisahkan bahwa Laits bin Sa’ad selalu menaiki kendaraan saat beliau pergi ke masjid dan senantiasa bersedekah bagi 300 orang miskin setiap hari. Hal ini mengandung sebuah kesimpulan, bahwa Laits bin Sa’ad ingin mengesankan kepada orang-orang bahwa dirinya adalah saudagar yang kaya dan memiliki kelonggaran harta. Dengan demikian, saat beliau berbagi dengan para fakir miskin, mereka tidak akan ragu menerima pemberiannya. Padahal, orang-orang fakir itu tidak akan percaya bahwa arus perputaran uang kas Laits bin Sa’ad sangat cepat.

Kesimpulan ini dikuatkan juga dengan kisah berikut. Manshur bin Ammar, yang sering disubsidi oleh Laits bin Sa’ad menceritakan kepada anaknya, “Aku menemui Laits secara diam-diam. Beliau langsung mengeluarkan dari bawahnya satu kantong yang berisi 1.000 dinar. Laits berpesan, ‘Wahai Abu Sariy (julukan Manshur), jangan sampai hal ini diketahui anakku lalu harga dirimu jatuh di hadapannya.” Allahu Akbar!

Lihatlah, seni dalam memberi yang dipraktikkan oleh teladan kita yang satu ini. Bukan seberapa banyak pemberian yang diberi, tetapi bahagianya tatkala melihat wajah yang menjadi saksi rasa empati.

Imam Laits Tutup Usia

Laits bin Sa’ad tutup usia pada hari Jumat pertengahan bulan Sya’ban tahun 175 Hijriah. Khalid bin Abdussalam Ash-Shadafi menceritakan, “Aku ikut menghadiri pemakaman Laits bin Sa’ad bersama ayahku. Aku tidak pernah melihat lautan manusia yang lebih besar darinya. Aku melihat semua orang bersedih. Sebagian orang berbela sungkawa kepada yang lain sambil menangis. Aku lalu berkata pada ayahku, ‘Ayah, seakan-akan setiap orang dari manusia di sini adalah kawan dari jenazah ini?’ Ayahku menjawab, ‘Anakku, kamu tidak akan pernah melihat orang yang semisalnya lagi.’”

Semoga Allah merahmati Laits bin Sa’ad yang berjuang dengan ilmu, harta dan kedudukannya di jalan Allah. Semoga Allah memudahkan kita meneladani keindahan kehidupan Laits bin Sa’ad yang berusaha memberi andil orang-orang yang membutuhkan dengan seni bersedekahnya. Amin.

Referensi:

Siyar A’lamin Nubala’. Syamsuddin Abu Abdillah Adz-Dzahabi. Tahqiq: Syu’aib Al-Arnauth. Al-Maktabah Asy-Syamilah.

0