Lahirnya Sebuah Maha Karya
Penulis: Athirah Mustadjab
Editor: Athirah Mustadjab
Pada abad kedua, saat generasi sudah jauh melampaui ratusan tahun setelah zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hadits dha’if bahkan hadits palsu mulai menjamur di tengah umat. Selain itu, bid’ah dari kalangan Khawarij, Rafidhah, dan Qadariyyah menyusup di tengah umat dengan topeng kebusukan.[1]
Mulailah pada akhir-akhir masa para tabi’in, para ulama membukukan hadits-hadits. Imam Malik, misalnya, menyusun kitab Al-Muwaththa’ di kota Hijaz, Abu Muhammad Abdul Malik bin Abdul Aziz di Mekkah, Abu Amr Abdurrahman bin Amr Al Auza’i di Syam, Sufyan Ats-Tsauri di Kufah, dan Hammad bin Samalah di Bashrah. Kendati demikian, selain berisi hadits nabawi, kitab-kitab tersebut juga memuat perkataan para sahabat, fatwa-fatwa para tabi’in, dan fatwa-fatwa orang-orang setelahnya.[2]
Sebagian ulama mengusulkan agar kitab-kitab hadits disusun secara khusus, yaitu hanya menyebutkan hadits-hadits Rasulullah saja tanpa tambahan lain. Walhamdulillah, akhirnya para ahli hadits berinisiatif menyusun hadits-hadits dalam format kitab musnad, misalnya Imam Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, dan Utsman bin Abi Syaibah.[3]
Tatkala Imam Bukhari mengetahui fenomena ini, tebersit dalam hatinya untuk menyusun sebuah kitab yang berisi hadits-hadits shahih saja, tanpa hadits hasan, apalagi hadits dhaif. Keinginan ini semakin kuat manakala gurundanya, yaitu Ishaq bin Rahawaih, memotivasi murid-muridnya dalam sebuah majelis, agar ada di antara mereka yang menyusun kitab yang semata berisi hadits shahih.[4]
***
Pada suatu malam, Imam Bukhari melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpinya. Dia sedang memegang sebuah kipas dan mengipasi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Esoknya, dia menanyakan takwil mimpinya kepada ahli ta’bir mimpi. Ahli ta’bir itu berkata bahwa mimpinya adalah isyarat di kemudian hari bahwa dia akan menjadi orang yang menolak kedustaan atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini membuat niatnya menguat untuk mengumpulkan hadits-hadits shahih saja dalam satu kitab.[5]
Semenjak itu, perjuangannya pun dimulai.
***
Untuk membuat sebuah maha karya, tentu saja seseorang harus meninggalkan sikap berleha-leha dan bersantai-santai. Demikian pula dengan Imam Bukhari. Dengan berbekal kecerdasan dan kekuatan dalam hafalan, dia mulai berpindah dari satu kota ke kota yang lain untuk mengambil hadits dari para guru. Dia menulis hadits yang didapatkannya dengan tenang dan perlahan.
Mekkah dan Madinah adalah dua kota pertama yang ditujunya.[6] Selain itu, dia juga pergi ke Mesir dan Syam dua kali, ke Basrah empat kali, serta berulang kali belajar dari ahli hadits di Baghdad dan Kufah. Dia juga bermukim di Hijaz selama enam tahun belajar hadits.[7]
Imam Bukhari sangat selektif dalam memilih orang yang akan dia ambil haditsnya. “Aku telah menulis hadits dari 1.000 orang tsiqah lebih. Aku juga tidak pernah menulis hadits yang tidak memiliki sanad,” kenang Imam Bukhari.
Imam Bukhari menyusun kitab Shahih-nya dalam rentang waktu yang tidak sebentar. Enam belas tahun dia habiskan untuk menulis sekitar 600.000 hadits, atas taufik dan kemudahan dari Allah Ta’ala.[8]
Kata Imam Bukhari, “Aku menulis hadits shahih sebanyak 600.000 hadits selama 16 tahun. Tiap hendak menulis hadits di dalamnya, aku terlebih dahulu mandi besar kemudian shalat istikharah. Aku tidak menuliskan hadits di dalamnya kecuali aku yakin bahwa hadits tersebut shahih. Aku menjadikannya sebagai hujjah antara aku dan Allah Ta’ala.”[9]
***
Imam Bukhari pernah ditanyai, “Apakah kamu menghafal semua hadits yang ada di dalam kitab Shahih-mu?”
Dia menjawab, “Apa yang ada di dalamnya tidak ada yang tersembunyi sedikit pun dariku. Aku telah memeriksanya sebanyak tiga kali.”[10]
Jawaban tersebut membuktikan bahwa Imam Bukhari menyusun kitab Shahih Bukhari dengan penuh kesungguhan. Dia mengumpulkan, memilah, memeriksa, mengoreksi, dan memastikan kualitas karyanya sebelum dia sebarkan kitab Shahih-nya ke tengah umat.[11]
Perjuangan Imam Bukhari dalam menyusun kitab Shahih Al-Bukhari merupkan perjuangan yang luar biasa. Melalui karyanya, kita bisa mengetahui hadits-hadits shahih tanpa perlu menelitinya kembali. Semoga Allah meridhai Imam Bukhari dan membalasnya dengan balasan terbaik.
Referensi:
- Hadyus Sari Muqaddimatu Fathil Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Kitabut Taudhih li Syarhil Jami’ish Shahih, Ibnul Mulaqqin, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Mirqatul Mafatih Syarhu Miftahul Mashabih, Syaikh Ali bin Muhammad Al-Harawi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani, Al-Maktabah Asy-Syamilah.