Tautan rekaman: https://www.youtube.com/live/aWt4hsQezSo?si=A4XE1Vu_Itcjm67n
Konsep Rezeki Dalam Islam
Ditranskrip oleh: Avrie Pramoyo
Editor: Faizah Fitria
Di zaman sekarang, segala sesuatu diukur dengan materi, bahkan hal tersebut turut memengaruhi anak-anak yang sejak dini terbiasa menilai segala sesuatu berdasarkan harta, kekayaan, rezeki, dan jabatan. Sungguh tidaklah mengherankan jika banyak manusia (termasuk kaum muslimin sendiri) merasa gelisah dan resah ketika menghadapi persoalan rezeki.
Sebagian orang yang diluaskan rezekinya oleh Allah, terjerumus ke dalam sikap sombong, dan hidup berlebihan. Sebaliknya, ada pula yang diuji dengan kekurangan rezeki hingga -wal ’iyaadzu billah- jatuh ke dalam keputusasaan, berburuk sangka kepada Allah, bahkan tidak jarang masalah rezeki ini menjadi penyebab seseorang nekat mengakhiri hidupnya sendiri. Sejatinya, jika kita mau kembali kepada agama Islam, kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita akan menemukan seluruh jawaban mengenai persoalan rezeki ini.
Al-Qur’an adalah cahaya dan petunjuk yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk seluruh umat manusia. Jika kita berpegang teguh kepada Al-Qur’an, membaca, dan mentadaburinya, serta mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka urusan rezeki yang oleh sebagian orang dianggap sebagai masalah besar akan tampak jelas dan terang benderang bagi seorang Muslim.
Lantas bagaimana sebenarnya Islam mengajarkan kita tentang masalah rezeki ini?
Menyikapi Rezeki dengan Bingkai Keimanan
Kenaikan harga bahan makanan, biaya hidup yang tidak murah, serta serangkaian kebutuhan primer yang harus dicukupi, barangkali sebagian orang mengeluhkan bahwa dengan penghasilan yang ada saja mereka sudah merasa kesulitan dan sempit dalam mencukupi kebutuhan hidup. Lalu bagaimana jadinya jika harga-harga terus meningkat? Kekhawatiran seperti ini semakin menegaskan betapa pentingnya memahami konsep rezeki dalam pandangan Islam agar hati tetap tenang dan yakin kepada ketetapan Allah.
Berikut ini adalah 9 poin tentang konsep penting mengenai rezeki dalam Islam.
1. Allah-lah Pencipta seluruh alam semesta, termasuk manusia dan jin
Di antara nama-nama Allah yang agung adalah Ar-Razzaq, yang berarti Dzat Yang Maha Memberi Rezeki. Nama-nama Allah bukan sekadar nama, melainkan mengandung sifat-sifat yang sempurna dan agung. Ar-Razzaq menunjukkan bahwa Allah tidak hanya menciptakan makhlukNya, kemudian membiarkannya begitu saja, melainkan Allah juga menjamin dan mencurahkan rezeki kepada setiap makhluk yang Dia ciptakan. Tidak ada satu makhluk pun yang luput dari jaminan rezeki Allah.
Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an,
إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ
"Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh." (QS. Adz-Dzariyat: 58)
Dalam ayat lain, Allah Ta’ala menegaskan,
وَمَا مِن دَآبَّةٍۢ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ
"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS. Hud: 6)
Dari ayat-ayat tersebut, jelas bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Memberi Rezeki, dan setiap makhluk telah ditentukan jatah rezekinya masing-masing.
2. Allah Maha Memberi Rezeki
Lebih jauh lagi, Islam mengajarkan bahwa rezeki setiap makhluk telah ditentukan oleh Allah Jalla wa ‘Ala jauh sebelum mereka diciptakan. Dalam sebuah hadits shahih, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرُ الخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ
"Allah telah menulis takdir semua makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi." (HR. Muslim no. 2653)
Ini menunjukkan bahwa rezeki setiap manusia, jin, maupun hewan telah tercatat di Lauhul Mahfuzh sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Meskipun kita tidak mengetahui secara pasti kapan langit dan bumi diciptakan, namun hadits ini menegaskan bahwa seluruh takdir, termasuk rezeki, telah ditetapkan sejak masa yang sangat lampau.
Oleh karenanya, kita harus yakin bahwa rezeki kita, rezeki anak-anak kita, istri kita, semuanya telah dijamin oleh Allah. Bukan kita yang menanggung mereka, melainkan Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana dalam firman-Nya pada QS. Hud ayat 6:
إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا
"…melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya."
Konsep ini memberikan ketenangan dan keyakinan bagi setiap muslim bahwa rezeki adalah urusan Allah, dan tugas kita adalah berikhtiar serta bertawakal kepadaNya.
3. Allah ‘Azza wa Jalla tidak menjadikan rezeki itu sama bagi seluruh makhlukNya
Ada di antara mereka yang diluaskan rezekinya, dan ada pula yang disempitkan. Semua itu terjadi dengan hikmah dan kehendak Allah, karena Dia adalah Al-‘Alim (Yang Maha Mengetahui) dan Al-Ḥakim (Yang Maha Bijaksana). Ketika Allah memberikan kelapangan rezeki kepada sebagian orang, memudahkan mereka dalam membuka usaha, menemukan peluang, atau memperoleh penghasilan yang besar, maka itu adalah karena hikmahNya yang tidak selalu dapat dipahami manusia. Sebaliknya, ada juga hamba-hamba Allah yang telah berusaha dengan sekuat tenaga, mengeluarkan modal, bahkan memiliki pengalaman yang luas, namun rezekinya tetap terbatas. Itu semua terjadi atas dasar hikmah Allah yang sempurna.
Hal ini sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tegaskan di dalam Al-Qur’an:
ٱللَّهَ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ
"Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang Dia kehendaki)." (QS. Az-Zumar: 52)
Oleh karena itu, ketika kita melihat orang lain atau bahkan diri kita sendiri mengalami kesempitan dalam hal rezeki, hendaknya kita tetap yakin bahwa pasti ada hikmah yang besar di baliknya. Allah tidak akan pernah menzhalimi hambaNya. Bahkan, dalam ayat lain Allah menjelaskan alasan di balik tidak dilapangkannya rezeki kepada sebagian orang,
Allah sebutkan di dalam Al-Quran,
وَلَوْ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزْقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَآءُ ۚ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرٌۢ بَصِيرٌ
"Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambaNya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahateliti terhadap (keadaan) hamba-hambaNya, Maha Melihat." (QS. Asy-Syura: 27)
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa seandainya Allah memberikan kelapangan rezeki secara merata kepada seluruh hambaNya, bahkan kepada hamba-hamba yang shalih sekalipun, niscaya akan banyak yang tergelincir dalam keburukan dan melampaui batas. Sebab Allah Maha Mengetahui keadaan setiap hamba-Nya. Dia tahu bahwa sebagian dari mereka yang jika diberi kekayaan, justru akan terfitnah olehnya. Boleh jadi mereka akan menjadi lalai, sombong, atau bahkan meninggalkan ketaatan. Maka dengan kasih sayang dan kelembutanNya, Allah menyempitkan rezeki mereka agar tetap berada di jalan ketaatan dan istiqamah hingga akhir hayat.
4. Luasnya rezeki yang dimiliki seseorang tidak menjadi ukuran kecintaan Allah kepadanya
Banyak orang yang diberikan kelapangan rezeki, tetapi itu bukan berarti Allah mencintai mereka. Sebaliknya, sempitnya rezeki juga bukan pertanda bahwa Allah membenci seseorang. Kecintaan Allah tidak diukur dari banyak atau sedikitnya harta yang dimiliki.
Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لاَ يُحِبُّ ، وَلاَ يُعْطِي الإيْمَانَ إِلاَّ مَنْ يُحِبُّ
"Sesungguhnya Allah memberikan harta kepada orang yang dicintaiNya dan kepada orang yang tidak dicintaiNya. Namun, Allah tidak memberikan keimanan kecuali kepada orang yang dicintaiNya."
Dari hadits ini kita memahami bahwa harta bisa dimiliki oleh siapa saja, termasuk orang kafir, sedangkan keimanan hanya diberikan kepada orang yang dicintai oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala. Keimanan itu mencakup keyakinan kepada Allah, hari akhir, cinta terhadap amal shalih, dan kecintaan kepada Islam. Keimanan semacam ini, meskipun tidak terlihat oleh mata dan tidak pernah disaksikan secara langsung, tetap hadir di hati seorang mukmin sebagai bentuk karunia dan kecintaan Allah kepadanya.
Sebagian orang keliru ketika mengira bahwa kekayaan adalah bukti kemuliaan di sisi Allah, dan kemiskinan adalah tanda kehinaan. Faktanya, dalam Surah Al-Fajr ayat 15–16, Allah menjelaskan kesalahan anggapan tersebut,
فَأَمَّا ٱلْإِنسَٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ
"Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ (QS. Al-Fajr: 15)
وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَعَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَٰنَنِ
Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku’." (QS. Al-Fajr: 16)
Sebagai contoh, Qarun adalah orang yang sangat kaya, namun ia justru dihina oleh Allah dan ditenggelamkan bersama seluruh hartanya. Sebaliknya, banyak Nabi yang dicintai Allah justru hidup dalam kesederhanaan. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pemimpin para rasul dan kekasih Allah, pernah mengalami masa di mana selama dua bulan berturut-turut tidak ada asap di rumah-rumah beliau karena tidak ada makanan yang bisa dimasak, melainkan yang mereka konsumsi hanyalah kurma dan air putih.
Kesempitan rezeki, dalam banyak kasus, justru menjadi bentuk ujian dan kasih sayang Allah. Sebab, Allah mengetahui bahwa jika seseorang diberikan kelapangan rezeki, mungkin ia akan menyimpang, melampaui batas, dan jauh dariNya. Dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ اللهَ تعالى إذا أحبَّ قومًا ابتلاهم
"Sesungguhnya Allah, apabila mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka." (HR. Ibnu Majah no. 4031)
Hadits ini menunjukkan bahwa ujian, termasuk dalam bentuk kesempitan rezeki, bisa menjadi tanda kecintaan Allah kepada hambaNya.
Ini semua menunjukkan bahwasannya luas atau sempitnya rezeki bukanlah indikator kecintaan atau kebencian Allah. Ukuran sebenarnya adalah keimanan yang Allah tanamkan dalam hati hambaNya, dan kesabaran serta keteguhan dalam menjalani ujian hidup.
5. Tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan sebab utama mendapatkan rezeki
Tawakal adalah fondasi penting dalam ajaran Islam yang berarti bersandar sepenuhnya kepada Allah dengan keyakinan bahwa hanya Dia-lah yang mendatangkan manfaat dan menolak mudharat. Dalam konteks rezeki, tawakal adalah keimanan yang tertanam dalam hati bahwa Allah-lah yang melapangkan dan menyempitkan rezeki sesuai kehendakNya. Maka dari itu, seseorang yang benar-benar menggantungkan hatinya hanya kepada Allah dalam urusan rezeki akan menjadikan tawakal sebagai sebab utama turunnya karunia Allah kepadanya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344)
Hadits ini menunjukkan bahwa kekuatan tawakal dalam hati menjadi faktor penting datangnya rezeki dari Allah. Semakin besar tawakal seseorang, semakin besar pula peluang rezeki itu dimudahkan baginya, meskipun sebab yang dilakukan tampak ringan dan sederhana.
Contoh tawakal yang disertai dengan ikhtiar ringan dapat kita lihat dalam kisah Maryam, ibu dari Nabi Isa 'alaihimassalam. Dalam kondisi hamil tua dan lemah, Allah memerintahkannya,
وَهُزِّىٓ إِلَيْكِ بِجِذْعِ ٱلنَّخْلَةِ تُسَٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا
"Goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu." (QS. Maryam: 25)
Secara logika, seorang wanita lemah menggoyangkan pohon kurma adalah hal yang tidak seimbang. Namun, karena ada kekuatan tawakal dalam diri Maryam dan beliau tetap mengambil sebab sekecil apapun, Allah turunkan rezeki berupa buah kurma segar untuknya.
Demikian pula dengan Nabi Ayyub 'alaihissalam. Dalam kondisi sakit parah dan sangat lemah, Allah Ta’ala berfirman,
ٱرْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَشَرَابٌ
"Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum." (QS. Shad: 42)
Dengan hanya menghentakkan kaki, sebab yang tampak ringan, Allah keluarkan air sebagai obat penyembuh dan sumber kehidupan baginya. Kedua kisah ini menegaskan bahwa ketika hati penuh dengan tawakal dan bersandar hanya kepada Allah, maka sebab-sebab yang ringan pun bisa mendatangkan rezeki dan pertolongan Allah.
Tawakal merupakan sebab yang paling utama dalam mendapatkan rezeki. Meski ikhtiar yang dilakukan tampak kecil, jika hati seseorang penuh dengan kepercayaan dan penyerahan diri kepada Allah; pintu-pintu rezeki akan dibukakan baginya dengan cara yang luar biasa. Ini adalah pelajaran penting yang sering kali luput dari perhatian, padahal tawakal adalah kunci utama dalam membuka keberkahan rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
6. Islam mengajarkan umatnya untuk berusaha dan bekerja
Meskipun takdir telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kita diwajibkan untuk mengimaninya. Namun pada saat yang sama, Allah juga memerintahkan kita untuk mengambil sebab-sebab datangnya rezeki. Kita diperintahkan untuk tidak bermalas-malasan, melainkan berusaha dan bekerja demi mendapatkan rezeki yang halal.
Dalil yang menunjukkan hal ini terdapat dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 10,
فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."
Dalam tafsir para ulama, yang dimaksud dengan “carilah karunia Allah” adalah perintah untuk mencari rezeki. Islam secara jelas mendorong umatnya untuk bekerja dan berusaha.
Para Nabi ‘alaihimussalam pun menjadi teladan dalam hal ini. Mereka tidak hidup bermalas-malasan, tetapi bekerja dan berusaha. Nabi Musa ‘alaihissalam pernah bekerja sebagai penggembala selama delapan tahun, dan sebagai imbalannya beliau dinikahkan dengan salah satu putri dari penduduk Madyan.
Nabi Zakaria ‘alaihissalam disebut dalam hadits shahih sebagai seorang tukang kayu,
كَانَ زَكَرِيَّا نَجَّارًا
“Dahulu Zakaria adalah seorang tukang kayu.” (HR. Muslim no. 2379)
Nabi Yusuf ‘alaihissalam bekerja sebagai bendahara kerajaan dan seorang yang terpercaya Allah pun memerintahkan kita untuk meneladani mereka dalam firman-Nya,
فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقْتَدِهْ
"Maka dengan petunjuk mereka hendaklah kalian mencontoh." (QS. Al-An’am: 90)
Para nabi adalah orang yang paling memahami takdir, namun mereka tetap bekerja, menunjukkan bahwa iman kepada takdir tidak menghalangi seseorang untuk berikhtiar. Islam adalah agama yang menyeimbangkan antara keyakinan kepada takdir dengan perintah untuk berusaha dan bekerja secara aktif dan bertanggung jawab.
Hal ini juga menunjukkan larangan keras terhadap kebiasaan meminta-minta tanpa alasan yang dibenarkan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ
"Seseorang senantiasa suka meminta-minta kepada orang lain hingga pada hari kiamat dia datang dalam keadaan wajahnya tidak berdaging." (HR. Bukhari no. 1474 dan Muslim no. 1040)
Ini adalah gambaran kehinaan bagi orang yang terbiasa meminta-minta padahal ia mampu bekerja, sebagai hukuman atas rasa malunya yang telah hilang di dunia.
7. Tidak menghalalkan segala cara dalam mencari rezeki
Islam memang memerintahkan kita untuk bekerja dan berusaha, dan Allah telah menuliskan rezeki setiap makhlukNya. Namun, pada saat yang sama, Allah juga telah menetapkan batasan-batasan melalui halal dan haram. Maka dari itu, seorang yang beriman kepada takdir harus menyadari bahwa meskipun rezeki sudah ditetapkan dan kita diperintahkan untuk mencarinya, tidak berarti kita mencarinya dengan cara yang dilarang. Terhadap apa-apa yang halal, maka silakan diambil, sementara yang haram wajib ditinggalkan.
Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ ، وَلاَ يَحْمِلَنَّكُمْ اِسْتَبْطَاءَ الرِّزْقُ أَنْ تَطْلُبُوْهُ بِمَعَاصِي اللهَ ؛ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُدْرِكُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ
“Sesungguhnya Ruh Qudus (Jibril), telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya, dan dia habiskan semua jatah rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara dalam mengais rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh, kecuali dengan taat kepadaNya.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166)
Ketahuilah bahwa setiap harta yang kita peroleh akan dipertanggungjawabkan, dan hal ini akan ditanyakan di hari kiamat. Dikhawatirkan, harta yang diperoleh tanpa hak termasuk dalam kategori harta ghulul (harta khianat).
8. Hiaslah diri dengan sifat qana’ah
Salah satu cara untuk menumbuhkan perasaan ini adalah dengan melihat orang-orang yang keadaannya lebih sulit daripada diri kita dalam hal rezeki. Bagaimanapun kondisi kita, pasti ada orang lain di sekitar kita yang lebih susah dan lebih sempit keadaannya.
Tujuannya adalah agar kita tidak meremehkan atau mencela nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Dengan memandang mereka yang kurang beruntung, hati kita akan lebih mudah bersyukur dan menerima takdir Allah ‘Azza wa Jalla dengan lapang dada.
Jika seseorang terus-menerus mengarahkan pandangannya ke atas, selalu membandingkan dirinya dengan orang-orang yang lebih kaya, maka sebesar apa pun rezeki yang Allah berikan kepadanya, ucapan syukur tidak akan keluar dari lisannya. Ia akan selalu merasa kurang dan tidak puas, sehingga kehilangan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
9. Jadikan tujuan utama untuk mencari akhirat
Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
“Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utama dan fokus pikirannya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikan kekayaan itu di dalam hatinya. Allah akan memberinya sifat qana'ah dan akan mengumpulkan, merapikan, serta memudahkan seluruh urusannya.” (HR. Ibnu Majah no. 4105)
Ketika seseorang mengutamakan akhirat, Allah akan memperbaiki keadaan keluarganya, menjadikan anak-anaknya shalih, dan istrinya menjadi wanita shalihah. Bahkan dunia pun akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk mau tidak mau sebagai bentuk karunia Allah kepada hamba yang menjadikan akhirat sebagai prioritasnya.
Sebaliknya, jika seseorang hanya memikirkan dunia baik di luar rumah, di dalam rumah, dalam percakapan, maupun dalam aktivitas hariannya, serta ibadah hanya dikerjakan saat ada waktu luang, maka Allah akan menjadikan kefakiran selalu tampak di depan matanya. Rasa takut miskin yang terus menghantuinya justru akan benar-benar menjadi bagian dari hidupnya. Allah pun akan mencerai-beraikan urusannya.
Segala hal dalam hidupnya menjadi kacau: dirinya sendiri tidak terurus, keluarganya berantakan, hartanya tidak mendatangkan keberkahan, bahkan dengan harta tersebut anak-anaknya menjadi sulit diarahkan, istrinya pun tidak terkendali. Ia tidak tahu dengan siapa anak-anaknya bergaul atau apa yang mereka lakukan di dalam kamar. Lebih dari itu, hartanya justru menjadi penyebab rusaknya hubungan keluarga dan terputusnya tali silaturahim.
Semoga apa yang telah kita sampaikan ini bermanfaat bagi kehidupan kita sehari-hari. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar senantiasa memperbaiki keadaan diri kita, keluarga kita, dan seluruh kaum muslimin. Wallahu a’lam bishshawab.