Sirah

Kisah Qurban Dua Anak Adam[1]

Penulis: Azhar Rizki, Lc.

Editor: Athirah Mustadjab 


Sudah menjadi sunnatullah bahwa Iblis dan bala tentaranya tak akan rela melihat Adam ‘alaihissalam bersama keturunannya masuk surga dengan berbahagia. Ikrarnya semenjak hari pengusiran terus diingat-ingat dan diwariskan kepada generasi penyesat hingga hari kiamat. “Demi keagungan-Mu, ya Allah, aku benar-benar akan sesatkan anak keturunan Adam semuanya, kecuali para hamba-Mu yang mukhlasin (ikhlas hanya mengharap wajah-Mu),”[2] kata Iblis pada hari pengusiran. Dirinya juga bersumpah, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian akan kudatangi mereka dari muka dan arah belakang mereka, dari kanan serta kiri mereka. Pasti Engkau tidak akan dapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”[3]

Apabila manusia lupa, Iblis akan selalu ingat. Pembuktian Iblis bukanlah isapan jempol belaka. Terbukti berbagai tipu daya dilancarkan untuk merekrut teman-teman celaka di neraka. Benang-benang jerat tipunya amatlah halus. Termasuk jeratnya ialah menggelincirkan anak manusia dari niat yang benar saat melakukan amal keshalihan.

*****

Pembuktian janji Iblis untuk menyesatkan anak manusia setelah Nabi Adam diturunkan ke bumi dimulai dengan memantik api konflik dua putra Adam sendiri. Kakak beradik itu kemudian dikenal dengan nama Qabil dan Habil.

Allah menyebutkan kisah mereka dalam surah Al-Ma’idah ayat 27-32 sebagai pelajaran untuk kita semua, bahwa ancaman iblis nyata adanya. Pun manusia adalah makhluk yang sangat rentan dan rapuh saat berhadapan dengan musuh bebuyutannya. Lantaran setan dan iblis tak kasat mata, mereka bisa dengan leluasa memberi bisikan-bisikan jahat yang merusak diri kita. Tak terkecuali niat yang mendasari semua amal ibadah kita, tentu akan menjadi fokus utama bala tentara Iblis untuk dirusak dan diselewengkan.

*****

Kegembiraan Nabi Adam ‘alaihissalam dan Hawa semakin lengkap saat keduanya dikaruniai keturunan. Disebutkan bahwa tidaklah lahir anak-anak dari rahim Hawa kecuali kembar sepasang. Setelah itu lahirlah Qabil dengan saudari kembarnya, disusul Habil dengan saudari kembarnya pula. Ketika mereka beranjak dewasa, tibalah waktunya untuk menikah dan berketurunan. Saat itu Allah memerintah Adam agar mengawinkan Qabil dengan saudari Habil, demikian pula Habil dipasangkan dengan saudari Qabil. Raut muka Qabil tak dapat menyembunyikan keengganannya, lantaran saudari kembarnya lebih cantik dibanding kembaran Habil.

Momentum itu bertepatan juga dengan perintah Allah Ta’ala kepada Adam agar mengunjungi Makkah untuk melihat tanah suci-Nya. “Adam, apakah engkau tahu bahwa Aku memiliki rumah di bumi?” tanya Allah. Adam menjawab, “Tidak tahu, ya Allah .…” Allah melanjutkan, “Aku memiliki rumah di Makkah. Datangilah!”

Sebelum berangkat, Nabi Adam ‘alaihissalam menitipkan pesan kepada langit, “Wahai langit, maukah kau jaga anakku dengan amanah?” Namun, langit enggan.

Adam lantas bertanya kepada bumi, “Bumi, maukah dirimu menjaga anakku dengan amanah?” Bumi juga tak kuasa menerimanya.

Adam menawari gunung, sebelum enggan seperti kedua temannya. Terakhir kalinya Adam bertanya kepada Qabil sang kakak, “Maukah kau menjaga putraku dengan amanah?” Qabil menjawab, “Tentu saja, Anda bisa pergi dan kembali lalu mendapati keluargamu dalam keadaan yang membahagiakan.”

Setelah Nabi Adam meninggalkan mereka, keduanya melaksanakan wasiat sang ayah untuk menyediakan qurban (persembahan) kepada Allah. Qabil yang seorang petani menyisihkan hasil pertaniannya sebagai qurban. Demikian juga sang adik, Habil yang seorang penggembala, menyisihkan domba gemuk kesayangannya sebagai qurban.

Sebelum mempersembahkan qurban kepada Allah, Qabil sesumbar di hadapan Habil, “Aku lebih berhak menikahi saudari kembarku sendiri dibanding dirimu! Aku lebih tua secara usia dibanding dirimu, sekaligus ayah menunjukku sebagai wakilnya.” Hanya saja hal itu tak dibarengi dengan mempersembahkan qurban yang sepadan. Qabil berqurban dengan hasil pertanian yang ala kadarnya. Bahkan, sebelum hari penyerahan, dirinya sempat menyeleksi bahan qurbannya; adakah biji-bijian super yang ikut serta? Tatkala ada setangkai biji yang besar dalam ikatan gandumnya, ia lalu mengambilnya untuk dimakan sendiri. Sangat berbanding terbalik dengan sang adik, Habil, tatkala mempersembahkan domba yang sangat ia senangi dan ke mana-mana selalu ia gendong serta.

Keduanya lalu menunggu api dari Allah yang akan datang melahap qurban salah satu dari mereka. Api yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Qurban Habil lenyap tak tersisa. Berbeda dengan qurban Qabil yang masih utuh tergeletak di tempatnya.

Api hasad dan kemarahan semakin membara di dalam dada Qabil. Dirinya berkata penuh emosi, “Apakah kau kira bisa berjalan tenang di muka bumi, sedangkan semua orang akan tahu bahwa qurbanmu yang diterima sedangkan punyaku tertolak! Demi Allah, tak akan kubiarkan manusia melihat dirimu lebih baik daripada diriku! Habil, aku pasti akan membunuhmu! Kau tak akan pernah bisa menikahi saudariku!”

Habil menanggapi dengan tenang, “Lantas apa salahku? Aku mempersembahkan sesuatu yang paling aku cintai, sedangkan dirimu menyerahkan hasil pertanianmu tak sepenuh hati. Kau tahu, Allah tak akan menerima kecuali yang baik saja. Allah pun hanya menerima dari orang yang bertakwa (tulus pada-Nya).” Ucapan sang adik semakin membuat Qabil naik darah. Bertambah yakinlah dirinya untuk menghabisi Habil saat waktunya tiba.

Demikianlah setan merasuki hati Qabil untuk berbuat hasad dan bertindak aniaya terhadap saudaranya yang tak berdosa. Setan menghiasi tindakan keji dalam pikiran Qabil menjadi sebuah hal yang lumrah dikerjakan.

********

Suatu ketika Qabil menemukan momentum yang tepat untuk melampiaskan dendamnya. Mendapati Habil tengah tertidur, tangan Qabil mengendap-endap meraih batu besar.[4] Sesaat Habil tersadar, dirinya berkata kepada sang kakak, “Kakak, kau anggap di mana Allah! Kira-kira, bagaimana Allah akan membalas perbuatanmu padaku? Jikapun kau todongkan tanganmu untuk membunuhku, aku tetap tak akan sudi membalas untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.”

Padahal, jika Habil mau, hampir bisa dipastikan dirinyalah yang akan keluar menjadi pemenang, karena perawakannya lebih kuat dibanding kakaknya. Lantas, apa yang membuatnya tak mau membalas? Tak lain karena Habil takut menjadi manusia jahat semisal kakaknya, ketika membalas kejelekan dengan yang semisal.

Dalam agama Islam pun, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang hal ini,

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ ، فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ قَالَ إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ.

“Jika dua orang muslim berhadapan dengan kedua pedang mereka, pelaku dan korban sama-sama berada di neraka.” Rawi bertanya, “Wahai Rasulullah, pelaku (kami sudah paham), lantas apa urusannya dengan si korban?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya ia juga sangat ingin menghabisi saudaranya (pelaku).”[5]

Karenanya, Habil tak ingin mengotori tangannya dengan darah saudaranya walaupun sebenarnya dia mampu untuk melakukannya. Ia menerimanya dengan tabah, sembari mengharap pahala dari Allah Ta’ala.

Setelah Habil terbunuh, Qabil merasa menyesal dan bingung. Bagaimana ia akan memperlakukan jasad saudaranya? Tak lama berselang, Allah mengirim seekor burung gagak yang memperlihatkan bagaimana cara menguburkan seonggok bangkai.

*****

Dari sepenggal kisah di atas kita saksikan betapa bahayanya memelihara hasad di hati. Dia adalah penyakit yang masih merayap di masa kini, bahkan telah menjangkiti umat-umat sebelum kita. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Telah merayapi kalian penyakit umat-umat terdahulu; hasad dan permusuhan ….”[6]

Selain itu, kita dapat mengingat kembali perihal dua syarat agar sebuah amal diterima: ikhlas hanya mengharap ridha Allah dan mutaba’ah (sesuai dengan contoh Rasulullah). Kita dapat melihat teladan keikhlasan pada diri seorang Habil. Walau awalnya dirinya direndahkan oleh kakaknya, itu tak menjadi halangan. Baginya, yang terpenting ialah melaksanakan perintah Allah dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan ridha-Nya. Berbeda dengan sang kakak, yang sedari awal memperhatikan aspek-aspek lahiriah dan kebanggaan di hadapan manusia. Tujuannya semenjak awal bukanlah Allah, sehingga qurbannya tidak diterima.

Qabil juga sempat berbangga di hadapan adiknya bahwa dirinya lebih tua dan pengganti sang ayah di dalam keluarga tatkala ayah mereka, Adam, tengah bersafar. Sungguh, simbol-simbol yang tampak di mata manusia tiada artinya tanpa niat dan keikhlasan yang tersimpan di hati. Apa gunanya kita memburu ridha manusia yang juga akan hancur berkalang tanah dengan mengorbankan ridha Allah, jika hasilnya adalah kerugian dan penyesalan?

Sahabat Abu Darda’ radhiyallahu ’anhu mengatakan, “Sungguh, andai aku tahu dengan yakin bahwa Allah menerima satu shalatku, tentu hal itu lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya. Sebab, Allah berfirman, ‘Allah hanya akan menerima (ibadah) dari orang-orang yang bertakwa.’”

Tak luput pula terlukis dari kisah di atas tentang keberkahan pada sebuah amal yang dilakukan dengan ikhlas. Disebutkan bahwa domba yang diambil oleh Allah Ta’ala dari qurban Habil telah Dia pindahkan ke surga dan digembalakan di sana. Tak sampai di situ. Tatkala Allah memerintah Ibrahim untuk menyembelih Ismail, Allah menebus Ismail dengan domba gemuk milik Habil yang sudah digembalakan di surga. Lihatlah keberkahan qurban yang berasal dari niat ikhlas dan hati yang tulus menjalankan perintah Allah, yang pada akhirnya dapat menebus nyawa Ismail yang berbakti. Wallahu a’lam.

Referensi:

  • Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, cet. 1 tahun 1434 H/2012 M, Ad-Darul ‘Alamiyah, Mesir.
  • Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an, Abu Abdillah Syamsuddin Al-Qurthubi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Al-Furqan min Qashashil Qur’an, Abu Islam Shalih bin Thaha, Ad-Darul Atsariyah, Yordania
0