Kisah Bahagia Hanzhalah di Bulan Syawal
Penulis: Azhar Rizki Abu Usamah
Editor: Athirah Mustadjab
Ramadhan berlalu, Syawal menggantikan. Sebagian orang kelewat bahagia hingga kebablasan. Bergembira karena datangnya bulan Syawal memang boleh, tetapi jangan sampai hal itu melalaikan kita dari fokus utama: istiqamah dalam ketaatan, jaga diri dari godaan.
Ada sebuah kisah dalam sirah nabawiyyah tentang pentingnya wawas diri dan berhati-hati dari bisikan setan. Utamanya pada momen yang membahagiakan. Potret kejadian itu terselip di antara kisah Perang Uhud.
Latar Belakang
Akibat kekalahan Quraisy di Perang Badar, Abu Sufyan mengumpulkan sekutu beserta donasi untuk melakukan serangan balasan. Persis setahun setelah kekalahan di Badar, Abu Sufyan keluar menuju Madinah bersama sekitar 3.000 orang pasukan. Khalid bin Walid bersama Ikrimah bin Abi Jahal yang belum masuk Islam turut menjadi komandan pasukan.
Ketika pasukan kaum muslimin memutuskan untuk keluar menyambut kedatangan Quraisy di Uhud dalam musyawarah terakhirnya, ikut sertalah seorang pemuda yang bertakwa. Namanya Hanzhalah.
Selain bertakwa, Hanzhalah juga terkenal dengan baktinya kepada orang tuanya. Kendati demikian, bakti Hanzhalah kepada sang ayah tak lantas membuat garis ketaatannya kepada Allah menjadi bias. Alkisah, dalam sebuah kesempatan, Hanzhalah bersama Abdullah meminta izin kepada Rasulullah untuk membunuh ayah mereka masing-masing.[1] Alasannya, mereka khawatir apabila ada orang lain yang membunuh ayah mereka, keduanya tak kuasa menahan dendam. Padahal, mereka tahu bahwa ayah mereka adalah tokoh sentral kekafiran yang gemar mengganggu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Seberkuat apa pun mereka, Rasul tetap tak memberi izin. Ayah Hanzhalah lalu pindah ke Mekkah, bergabung bersama Quraisy, sedangkan ayah Abdullah menetap di kota Madinah dan dibiarkan oleh Rasulullah hidup di sana hingga mati.
Pernikahan Hanzhalah bin Abu Amir
Tersirat dalam beberapa referensi sirah bahwa pernikahan Hanzhalah terjadi pada bulan Syawal tahun 3 Hijriah. Bulan itu dipilih -- sebagaimana Rasulullah menikahi Aisyah pada bulan Syawal -- sebagai usaha mendobrak khurafat jahiliah bahwa bulan Syawal mengandung kesialan.[2] Lengkap sudah, setelah sebulan penuh memfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah di bulan Ramadhan, Hanzhalah turut berhari raya bersama kaum muslimin pada bulan Syawal, sekaligus memilih bulan tersebut untuk melaksanakan walimah pernikahannya.
Sebagaimana pengantin baru pada umumnya, Hanzhalah dan istrinya sedang berbunga-bunga. Namun, seruan jihad membangunkan mereka untuk mengutamakan Allah dan Rasul-Nya. Telah sampai kabar di telinga Hanzhalah bahwa pasukan Quraisy tengah menuju Madinah, sehingga Rasulullah meminta para sahabatnya untuk bersiap sedia.
Prioritas Hanzhalah jelas. Insyaallah, esok hari dia masih dapat kembali bersama belahan jiwanya, tetapi jihad fisabilillah tak menerima kata “nanti”. Itulah manisnya iman. Allah masukkan perasaan itu dalam jiwa Hanzhalah, hingga ringan kakinya melangkah ke medan jihad, beriring dukungan istri tercinta.
Waktu begitu sempit. Musuh bisa saja tiba-tiba berdiri di perbatasan Madinah. Bergegas Hanzhalah siapkan baju zirah dan senjata. Bahkan, tak sempat lagi ia mandi janabah. Jelas terlihat, prioritas utama sang Mujahid adalah keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Jikalau pernikahan justru menghambat jalan untuk membela agama Allah, jelas itu bukanlah cinta yang mendatangkan ridha Allah.
Menjemput Syahadah
Di medan tempur, Hanzhalah bagai singa yang menerjang setiap musuh di depan mata. Saat api pertempuran memanas, Hanzhalah merangsek hingga ke tempat berdirinya Abu Sufyan, si Panglima Quraisy. Berhadap-hadapan tanpa pembatas, Hanzhalah merasa mendapat kesempatan emas. Ia berniat untuk membunuh Abu Sufyan saat itu juga.
Akan tetapi, takdir Allah berkata lain. Syaddad bin Al-Aswad[3], salah satu anggota kafirun, lebih gesit dalam menebaskan pedangnya ke tubuh Hanzhalah. Kini, tubuh Hanzhalah jatuh bersimbah darah, sedangkan Abu Sufyan selamat dan mendapat kesempatan untuk hidup lebih lama hingga akhirnya kelak ia bisa bertobat.
Seusai perang, Rasulullah mengabari para sahabat, “Sesungguhnya malaikat telah memandikan Hanzhalah. Coba tanyakan kepada istrinya tentang apa sebenarnya yang terjadi.”
Ketika mereka bertanya kepada istri Hanzhalah, ia ceritakan malam pertamanya bersama suami tercinta. Penghormatan dari Allah di dunia untuk Hanzhalah ditutup dengan pemandian jenazah yang langsung dilakukan oleh malaikat.
Demikianlah sebuah hari raya yang ditutup dengan kemuliaan. Dialah Hanzhalah, yang tahu kapan dapat bergembira dan kapan meletakkan agama Allah di atas segalanya. Dialah Hanzhalah, yang mencari ridha Allah – kapan pun, di mana pun, dan dalam keadaan apa pun. Semoga Allah merahmati Hanzhalah.
Referensi:
- Al-Ishabah fi Tamyizis Shahabah, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, cet. 1, tahun 1412 H, Darul Jil, Lebanon (Maktabah Syamilah)
- Ar-Rahiq Al-Makhtum, Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, Mesir.
- Zad al-Ma’ad fi Hadyi Khairil ‘Ibad, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, cet. 4, tahun 2011, Mu’assasah Ar-Rayyan-Jam’iyah Ihya’it Turats, Kuwait.
- As-Sirah An-Nabawiyah fi Dhau’i Mashadirihal Ashilah, Prof. Dr. Nahdi Rizqullah Ahmad, cet. 3, tahun 1424 H, Dar Zidni/Imam Ad-Da’wah, Saudi Arabia.
- Hadzal Habib Ya Muhibb, Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri, cet. 2, tahun 2016 M, Darul Aqidah, Mesir.
- Syarh Shahih Muslim, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, cet. 2, tahun 1392 H, Dar Ihya’ At-Turats, Lebanon (Maktabah Syamilah)