Khitanan Massal HSI Berbagi 2025 : Meringankan Beban, Meluaskan Jangkauan Dakwah

Reporter: Leny Hasanah

Editor: Subhan Hardi


Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

الفطرة خمس -يعني السنة خمس- الختان والاستحداد وقلم الأظافر وقص الشارب ونتف الإبط

“Sunnah fitrah yang lima adalah khitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kuku, mencukur kumis, dan mencabut rambut ketiak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Kitab Ushul Tsalatsah, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menyatakan kriteria Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk patuh dengan menaati-Nya, dan berlepas diri dari kesyirikan serta pelakunya. Maka sebagai muslim sejati selayaknya kita berlomba-lomba dalam ketaatan termasuk membantu muslimin lain menjalankan ketaatan karena hal ini tentu berpahala.

Segala puji hanya milik Allah yang dengan nikmat-Nya, segala kebaikan menjadi sempurna. Alhamdulillah, atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, HSI BERBAGI telah merampungkan kegiatan akbar Khitanan Massal 2025 yang dilaksanakan di tiga provinsi utama—Sumatra Selatan, Jambi, dan Bengkulu—serta mendukung pelaksanaan serupa di Ambon dan wilayah timur Indonesia lainnya.

Dari Solo ke Lubuklinggau: Awal Perjalanan

Perjalanan dimulai pada 16 Juni 2025, saat tiga personel utama HSI BERBAGI—Ustadz Heru Nur Ihsan (Ketua Yayasan), Akhuna Mujiman Abu Ibrahim (Ketua Divisi), dan Akhuna Muhammad Gigih (Pengawas Program)—bertolak dari Solo menuju Lubuklinggau, Sumatra Selatan. Di hari yang sama, tim medis RS Nur Hidayah Bantul, Yogyakarta yang berjumlah delapan orang, juga melakukan perjalanan menuju lokasi.

“Qadarullah, pesawat yang kami tumpangi mengalami delay. Sesuai jadwal, kami berangkat pukul 13.35 WIB, tapi diundur menjadi sekitar pukul 15.30-16.00 WIB,” ujar Akhuna Mujiman.

Begitu tiba di Lubuklinggau, mereka pun langsung melakukan briefing teknis untuk mempersiapkan segala sesuatunya, karena agenda padat sudah menanti selama sepekan ke depan.

Capaian Wilayah Sumatra: 1.130 Anak Dikhitan

Khitanan massal wilayah Sumatra berlangsung dari 17 hingga 22 Juni 2025. Berikut rincian titik lokasi dan jumlah peserta:

• 17 Juni 2025:

  1. Ma’had Darussalam Bin Baz 9, Muara Beliti - 207 anak
  2. Megang Sakti- 45 anak

• 18 Juni 2025:

  1. Masjid Abu Bakr Ash-Shidiq – 80 anak
  2. Raudhatul Jannah – 67 anak
  3. SMP IT Raudhah – 42 anak

• 19 Juni 2025:

  1. Kabupaten Curup – 98 anak
  2. Kabupaten Kepahiyang – 83 anak

• 20 Juni 2025:

  • Empat Lawang – 130 anak
  • Noman Baru, Muaratara – 85 anak

• 21 Juni 2025:

  1. PP Ihya As-Sunnah Singkut – 93 anak

• 22 Juni 2025:

  1. Desa Agra Makmur – 108 anak
  2. Kota Bengkulu – 92 anak

Total pendaftar: 1.205 anak

Tereksekusi: 1.130 anak

Batal: 75 anak (karena takut atau tidak hadir)

“Alhamdulillah, dari target awal 1.000 anak, yang dikhitan justru mencapai 1.130. Ini menunjukkan betapa besar harapan masyarakat terhadap kegiatan ini,” ungkap Akhuna Mujiman.

Beragam Tantangan di Lapangan

Tim relawan menghadapi medan yang menantang. “Perjalanan dari Lubuklinggau ke Jambi, tepatnya di Ponpes Binbaz Singkut, melewati jalan lintas Sumatra yang penuh lubang. Terasa sekali di mobil,” ujar Akhuna Mujiman menceritakan.

Kondisi serupa ditemui di Empat Lawang. “Masyaallah, kondisi khitanan di Puskesmas Sikap Dalam sempit sekali. Udara minim, ruangan tidak cukup lapang untuk orang tua dan tim medis.”

Panitia juga menghadapi kasus peserta yang batal dikhitan karena takut, hingga terjadi ketegangan kecil antara anak dan orang tuanya. Namun secara umum, respons anak-anak beragam dan cenderung positif.

“Respons anak-anak bermacam. Ada yang sedih, ada yang nangis, ada yang biasa saja, bahkan ada yang senang karena dikasih bingkisan,” tambahnya.

Setiap peserta yang dikhitan menerima bingkisan berupa: baju koko, sarung, kopiah, celana khitan, dan uang khitan sebesar Rp50.000.

“Bagus benar lah ini. Kalau bisa dirutinkan karena sangat menolong masyarakat,” ungkap Zaini, salah satu orang tua di Musi Rawas, merasa senang dan terbantu karena khitan laser di tempatnya bisa mencapai Rp1,2 juta.

Kolaborasi Lintas Lembaga

Kesuksesan khitanan massal merupakan kolaborasi yang apik antara HSI BERBAGI dan para mitra yang telah berkomitmen penuh sejak awal, di antaranya: RS Nur Hidayah Bantul, Yogyakarta, RS AR Bunda Lubuklinggau, Lubuklinggau Mengaji, Ma’had Darussalam Bin Baz 9, dan Yayasan Al-Furqon Magelang.

Dari sisi keamanan, aparat setempat termasuk Wakapolres Musi Rawas, Kompol Hendri, S.H., turut hadir dan mendukung penuh jalannya kegiatan.

Adapun total dana kegiatan Khitmas di Sumatra mencapai Rp606.976.100, dengan donasi dukungan hadiah (RS AR Bunda) sebesar Rp206.000.000. Dana tersebut mencakup biaya transportasi tim, akomodasi relawan, obat dan alat medis, hadiah peserta, konsumsi lapangan, serta operasional penyelenggaraan khitan yang mencakup 12 titik.

Khitmas Ambon: Tebar Kebaikan di Kota Manise

Selain Sumatra, HSI BERBAGI juga mendukung khitanan massal di Ambon dan sekitarnya, bekerja sama dengan Yayasan Al-Furqon Magelang. Total peserta mencapai 3.276 anak, tersebar di Ambon, Pulau Buru, Pulau Seram, Ternate, Tidore, Sofifi, Weda, Patani, Morotai, Tobelo, Subaim, dan Maba.

Dalam kegiatan ini, HSI BERBAGI mendukung penuh biaya khitan 500 anak, senilai Rp50.000.000. Namun, logistik, tenaga medis, dan hadiah ditangani oleh panitia lokal.

“Karena kerja sama dengan Yayasan Al-Furqon sudah lama berjalan. Dan Ambon termasuk wilayah yang belum pernah dijangkau HSI BERBAGI. Ini kesempatan besar mengenalkan HSI AbdullahRoy dan dakwah sunnah melalui pelayanan nyata,” ujar Akhuna Qodri Abu Hamzah, tim HSI BERBAGI yang turun langsung ke Ambon.

Uniknya, peserta khitan di Ambon tidak hanya dari kalangan Muslim. Anak-anak dari keluarga non-Muslim dan kepercayaan lokal (animisme) juga ikut dikhitan secara sukarela.

“Mereka datang tanpa paksaan. Mereka ingin dikhitan karena tahu manfaatnya secara medis dan sosial. Ini bentuk dakwah yang alami,” jelas Qodri meyakinkan.

Dalam giat daksos tersebut, dirinya memantau langsung empat lokasi: Liang, Namlea, Kaki Air, dan Namrole. Seluruh perjalanan ditempuh via udara, laut, dan darat tanpa anggaran transportasi tambahan.

Harapan dan Evaluasi

“Kegiatan ini sangat kami syukuri. Namun masih ada catatan evaluasi, terutama koordinasi teknis di beberapa titik. Kami akan perbaiki untuk ke depan agar bisa lebih tertib dan terstruktur,” ujar Akhuna Mujiman coba merinci hasil akhir khitanan massal Sumatra, yang telah dilalui dengan penuh semangat dan kerja keras oleh seluruh tim yang terlibat .

“Kami ingin giat seperti ini terus berlanjut—lebih luas, lebih matang, dan lebih maslahat. Dakwah sunnah harus terus menyebar ke wilayah yang belum tersentuh, baik di Kalimantan, Sulawesi, maupun Papua,” tutupnya.

Dari Sumatra hingga Maluku, dari desa ke desa, dari masjid ke pesantren—khitanan ini bukan hanya tentang menunaikan sunnah. Ia adalah dakwah yang hidup: nyata, menyentuh, dan penuh kasih. Semoga setiap upaya kecil ini menjadi amal besar di sisi Allah, dan menjadi pintu kebaikan untuk dakwah yang lebih luas.*

2