Sirah
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Ketulusan Hati Sang Ummul Masakin

Penulis: Azhar Abi Usamah

Editor: Athirah Mustadjab


Ironis, tatkala modernitas justru meningkatkan potensi stres dan tekanan hidup. Pintu-pintu dunia semakin terbuka, manusia berlomba mengumpulkan pundi-pundi dunia. Jika tak diberi hidayah oleh Allah Ta’ala, tentunya jiwa akan terbawa arus gaya hingga tak lagi indahkan agama. Hasilnya, kaum muslimin yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan kuat lahir-batin, kini menjadi lemah seakan kehilangan arah dan tujuan. Sungguh benar ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semenjak dahulu telah mensinyalir fenomena ini di dalam haditsnya, “Hampir saja para musuh Islam menyantap kalian sebagaimana orang-orang lapar melahap hidangan di nampan.” Para sahabat bertanya, “Apakah ketika itu kami berjumlah sedikit?” Rasul menjawab, “Bahkan kalian berjumlah banyak, hanya saja kalian seperti buih yang terbawa oleh arus bah. (Saat itu) Allah benar-benar akan hilangkan rasa takut dari hati musuh kalian dan campakkan pada kalian penyakit ‘wahn’.” Ada seorang bertanya, “Rasulullah, apakah wahn itu?” beliau menjawab, “Cinta dunia dan benci mati.”

Di tengah keadaan ini, mari kita istirahat sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Kita buka kembali lembaran kisah generasi terbaik. Semoga ada inspirasi yang kita temukan dari perjalanan hidup mereka.

Kali ini, kita akan berkenalan dengan seorang sahabiyah teladan. Zainab binti Khuzaimah namanya. orang-orang biasa menggelarinya Ummul Masakin.

Latar Belakang

Tokoh kita kali ini bernama Zainab binti Khuzaimah bin Al-Harits Al-Hilaliyah radhiyallahu ‘anha. Wanita mulia yang semenjak zaman jahiliah sudah terkenal dengan empatinya yang besar serta keringanan tangannya saat membantu sesama. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai siapakah suaminya sebelum dinikahi oleh baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian ulama mengatakan, bahwa Zainab binti Khuzaimah dinikahi oleh Thufail bin Al-Harits bin Al-Muththalib lalu diceraikan. Setelah itu ia dinikahi oleh saudara Thufail, yaitu Ubaidah bin Al-Harits bin Al-Muththalib yang kemudian gugur sebagai syahid dalam Perang Badar, tahun 2 Hijriah.

Adapun sebagian ulama lainnya menyatakan, bahwa Zainab binti Khuzaimah dahulu dinikahi oleh Abdullah bin Jahsy, kemudian menjanda tatkala sang suami gugur pada Perang Uhud, tahun 3 Hijriah. Pada intinya, para ulama bersepakat, bahwa status Zainab saat dinikahi oleh Rasulullah adalah seorang janda dermawan dari seorang syahid yang gugur di jalan Allah.

Dengan keistimewaannya itulah, Rasulullah pun tertarik mempersunting dirinya setelah selesai masa ‘iddah-nya. Sebab, jodoh itu akan selalu sejenis dan sekufu. Seakan Nabi ingin menyempurnakan keutamaan yang dimiliki Zainab, dengan memberinya kehormatan menjadi “ibunda kaum muslimin” di akhir hidupnya. Rasulullah menikahi Zainab binti Khuzaimah pada bulan Ramadhan tahun 3 Hijriah, setelah beliau menikahi Aisyah, Saudah, dan Hafshah radhiyallahu ‘anhunna. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggelar acara walimah dengan cukup meriah. Beliau menyembelih seekor unta dan mengundang banyak orang miskin, sebagaimana kesukaan Zainab. Beliau memberi mahar sebanyak 400 dirham dan menempatkan Zainab di sebelah rumah ibunda Aisyah.

Kesempatan Zainab hidup sebagai bagian dari rumah tangga Rasulullah hanya berjalan sesaat. Hal itu lebih terlihat seperti anugerah yang diberikan oleh Allah kepada beliau untuk melengkapi daftar keutamaan yang dimilikinya. Meski hanya sesaat, Zainab dapat memanfaatkan waktu-waktu emas tersebut untuk semakin memfokuskan diri berderma kepada sesama dan memperbanyak ibadah kepada Allah Ta’ala. Tidak ada drama, tidak ada konflik yang menghiasi interaksi Zainab dengan para madunya. Seakan para istri Rasulullah yang lain juga tahu, Zainab berada di pos yang berbeda dengan mereka.

Ibunda kaum fakir miskin

Semenjak zaman jahiliah Zainab binti Khuzaimah telah memperoleh gelar istimewa. Dirinya dikenal sebagai ibunda kaum fakir miskin lantaran banyak janda dan para yatim yang ditanggung kebutuhan mereka olehnya. Di samping itu, ia juga gemar melakukan sedekah dan sangat berempati kepada mereka yang tak punya.

Memang benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik kalian di dalam Islam ialah orang-orang terbaik semasa jahiliah, jika ia faqih (memahami Islam).” Jika memang emas, di manapun letaknya akan tetap menjadi emas. Demikianlah kira-kira ungkapan yang sangat tepat mengenai sosok kita kali ini.

Ketika ibunda Zainab binti Khuzaimah radhiyallahu ‘anha masuk Islam, pemahamannya semakin terang mengenai orientasi terbesar dalam hidup yang sebenarnya. Tak seperti kebiasaan Arab Jahiliah yang menganggap kehidupan hanya sekali saja, Zainab yang telah menjadi muslimah mengetahui bahwa ada kehidupan lagi setelah kehidupan dunia. Bahkan, kehidupan kedua itu lebih kekal. Beliau pun semakin memfokuskan perhatiannya kepada setiap amal shalih yang bisa dikerjakan. Dengan bekal ilmu agama tersebut, semakin besarlah kasih Zainab kepada orang-orang fakir, para janda, dan anak-anak yatim.

Zainab selalu meluangkan waktu untuk mereka, hingga tak ada waktu untuk kesia-siaan. Para ulama mengisahkan bahwa rumah tangga Zainab dan Rasulullah tak pernah sekali pun dihinggapi cekcok atau masalah. Alasannya, fokus Zainab binti Khuzaimah tetap seperti biasanya, yaitu menjadi ibunda para fakir miskin yang kekurangan. Setiap kali Zainab bisa berbagi, seakan beliau bisa mendapatkan kebahagiaan yang tak bisa dilukiskan. Sebaliknya, hati beliau selalu gelisah ketika melihat orang-orang yang membutuhkan tak mendapatkan bantuan. Duhai, rasa bahagia itu tak dapat dipahami kecuali oleh orang-orang yang terbiasa berbagi.

Tak mengherankan sama sekali karena perangai suami beliau pernah dikisahkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Beliau menjadi semakin dermawan ketika Ramadhan tiba …. Kedermawanan Nabi melebihi cepatnya hembusan angin.”

Semoga Allah meridhai beliau, Zainab binti Khuzaimah, sang Ummul Masakin yang diberi kehormatan oleh Allah Ta’ala di penghujung hidupnya untuk menjadi istri Nabi dan ibunda kaum muslimin. Disebutkan bahwa Zainab wafat pada usia sekitar 30 tahun. Namun, Dr. Mahdi Rizqullah menyebutkan bahwa pendapat yang menyatakan beliau wafat di usia 30 tahun sedikit bermasalah. Hal itu lantaran julukan yang diperoleh beliau sebagai “Ibunda Kaum Fakir Miskin” didapat semenjak zaman jahiliah, sedangkan Zainab hidup hingga lebih dari 15 tahun setelah dakwah Islam berjalan. Jadi, yang lebih masuk akal adalah sebuah pendapat yang menyebut bahwa Zainab wafat pada usia 60-an tahun. Wallahu a’lam.

Menggali Pelajaran Berharga

Dari kisah perjalanan Ibunda Zainab ini setidaknya kita mendapatkan dua pesan tersirat. Pertama, kurang tersedianya referensi sejarah tentang kehidupan rumah tangga Zainab sebelum dinikahi oleh Nabi serta perbedaan pendapat tentang usia beliau saat wafat menunjukkan bahwa dua hal tersebut tidak terlalu penting untuk diperdebatkan.

Adapun pesan tersirat kedua, dari sumber literatur manapun, semua bersepakat menunjukkan bahwa keutamaan Zainab ialah dengan menyandang predikat sebagai wanita dermawan yang mendedikasikan hidupnya untuk memberi manfaat kepada orang-orang yang membutuhkan dan sangat bersemangat serta fokus dalam beribadah kepada Allah. Hal ini seakan memberi pelajaran kepada kita, bahwa pelajaran moral inilah yang harus kita ambil dari figur kita kali ini, persis sebagaimana Allah beberapa kali menceritakan sebuah kisah di dalam Al-Qur’an, tetapi Dia tidak menjelaskan secara detail hal-hal yang tidak terlalu bermanfaat untuk diambil pelajarannya.

Sesungguhnya kedamaian hati dan kebahagiaan jiwa bukanlah dengan cara mengumpulkan materi demi memuaskan syahwat semata. Sejatinya, semua perbendaharaan dunia di genggaman hanya sebuah titipan dari Allah Ta’ala. Memberilah, dan temukan ketenangan jiwa di dalamnya. Kuatkan azzam untuk menjadi muslim yang dermawan, dengan mengimani sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

دَاوُوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ

“Obati orang-orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah!”

Mata seakan tak percaya tatkala melihat betapa ringan tangannya Rasulullah serta para salaf lainnya dalam berbagi kepada sesama. Hanya saja, masih banyak dari kita yang gagal meyakini dengan hati untuk segera mengamalkan contoh nyata tersebut. “Tetapi kamu lebih memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” Allahul Musta’an.

Semoga pada momentum Ramadhan kali ini Allah Ta’ala membukakan pemahaman kepada kita serta menganugerahkan keimanan, sehingga kita semua menjadi hamba-Nya yang giat beramal shalih, besar empatinya terhadap sesama, dan selalu ingat orientasi terbesar kita dalam hidup di dunia. Semoga Allah mengampuni kita semua. Amin.

Referensi:

  • Siyar A’lamin Nubala’, Al-Hafizh Syamsuddin Adz-Dzahabi, Mu’assasah Ar-Risalah, Lebanon. (Al-Maktabah Asy-Syamilah)
  • Al-Ishabah fi Tamyizis Shahabah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, Darul Kutub Al-Ilmiyah, Lebanon. (Al-Maktabah Asy-Syamilah)
  • Shahabiyat Haular Rasul, Mahmud Al-Mishri Abu ‘Ammar, 1426 H/2005 M, Maktabah Ash-Shafa, Mesir.
  • As-Sirah An-Nabawiyah Fi Dhau’i Mashadiriha Al-Ashilah, Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad, cetakan ke-3, tahun 1434 H, Dar Zidni (Dar Imam Ad-Da’wah), Arab Saudi.
  • Ar-Rahiqul Makhtum, Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, tahun 1431 H, Al-Maktabah At-Taufiqiyah (Darul Wafa’), Mesir.
  • Ma’rifatus Shahabah, Abu Nu’aim Ahmad bin Abdillah Al-Ashbahani, tahqiq: Adil bin Yusuf Al-‘Azzazi, cet. 1 tahun 1419 H/ 1998 M, Darul Wathan, Saudi Arabia. (Al-Maktabah Asy-Syamilah)
  • Al-Bidayah Wan Nihayah, Abul Fida’ Ibnu Katsir, tahqiq: Dr. Abdul Muhsin At-Turki, cetakan ke-1, tahun 1418 H/1997 M, Dar Hajar, Lebanon. (Al-Maktabah Asy-Syamilah)


754