Ketika Nabi Luth Berdiri di Tengah Masyarakat yang Rusak
Penulis: Azhar Rizki Abu Usamah
Editor: Athirah Mustadjab
Kisah kaum Luth yang melegenda bukanlah sekadar kisah sebuah kaum yang melakukan maksiat lalu diadzab. Ia merupakan sebuah potret lengkap mengenai perilaku masyarakat yang telah membalikkan fitrah suci mereka dan menganggap kemaksiatan sebagai bentuk kebaikan atau kewajaran. Mereka mempertahankan keyakinan yang rusak itu secara kolektif dan berjuang sekuat tenaga demi mengajak semua orang untuk menormalisasi kebejatan yang mereka lakukan.
Al-Qur’an sendiri telah menggambarkan mereka sebagai kaum yang telah melembagakan kemaksiatan dan berbangga diri dengannya secara komunal. Allah Ta’ala berfirman tentang ucapan mereka,
أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ ۖ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ
“Usirlah mereka (Luth dan pengikutnya) dari kampungmu! Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sok suci.” (QS. Al-A'raf: 82)
Nabi Luth ‘alaihissalam
Latar belakang Nabi Luth ‘alaihissalam adalah seorang kelahiran Babilonia (Irak sekarang). Ia bernama Luth bin Haran bin Tarakh (Azar). Beliau merupakan keponakan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Luth beriman kepada dakwah Nabi Ibrahim semenjak berada di Babilonia. Beliau pun ikut serta berhijrah ke negeri Syam setelah insiden kuil Namrud yang dirusak dan pembakaran Nabi Ibrahim.
Kisah Nabi Luth sebenarnya menjadi penyerta dalam rangkaian kisah dakwah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Kaum mereka berdua hidup dalam satu masa. Hal itu juga dikarenakan Nabi Luth merupakan murid dari Nabi Ibrahim. Nabi Luth juga banyak mengambil pelajaran dari ilmu, semangat berdakwah, pengorbanan, dan perjuangan untuk membela agama Allah Ta’ala langsung dari Nabi Ibrahim.
Allah mengangkat Luth menjadi Nabi semasa Ibrahim hidup. Allah kemudian mengutusnya berdakwah ke negeri Sodom, salah satu daerah yang berdekatan dengan Palestina sekarang. Ibnu Katsir menyebutnya dengan daerah Ghaur Zughar.[1] Di wilayah tersebut terdapat beberapa perkampungan, semisal Sodom, ‘Amurah, dan selainnya. Pusat kotanya ada di Sodom.[2]
Kondisi Masyarakat Sodom
Allah Ta’ala mengutus Nabi Luth untuk mendakwahi kaum Sodom dan sekitarnya yang teramat rusak, sebagaimana dijelaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an. Kerusakan kaum Sodom sudah tak terkendali. Daftar dosa yang mereka lakukan amat banyak. Dimulai dari perbuatan syirik kepada Allah, merampok para kafilah yang lewat, mengkhianati amanah, penyimpangan seksual dengan sesama jenis dan daftar maksiat yang lainnya. Terkhusus mengenai masalah penyimpangan dengan sesama jenis ini, mereka merupakan pionir dalam dosa tersebut. Tidak ada manusia semenjak Nabi Adam hingga zaman mereka yang melakukan perbuatan semisal itu. Yang membuat hal ini semakin parah, yaitu mereka menuntut pengakuan dan legalitas dari semua orang bahwa tindakan yang mereka lakukan adalah wajar dan benar. Mereka tidak segan-segan untuk berbuat anarki ketika ada yang menghalangi tujuan itu.
Posisi Nabi Luth sebagai seorang da’i tentu amat sulit. Beliau tidak begitu saja bisa hengkang dari Sodom dan mencari tempat yang baru. Apalagi Nabi Luth telah menjadi bagian dari struktur masyarakat itu sendiri, karena beliau menikahi salah satu wanita pribumi. Tentu beliau harus berjuang mati-matian dan secara maksimal untuk mengajak kaumnya kembali sadar dan mengikuti kebenaran.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa kerusakan yang dilakukan oleh kaum Luth amatlah “lengkap”. Pertama, mereka adalah orang-orang yang menyekutukan Allah Ta’ala dan kafir. Kedua, mereka adalah orang-orang yang menentang dan mendustakan Rasul yang Allah utus. Ketiga, mereka merupakan penggagas utama dosa yang belum pernah dikenal oleh manusia semenjak Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan: dosa penyimpangan seksual berupa hubungan sesama jenis.
Kondisi yang sedemikian parah itu masih harus ditambah lagi dengan pengkhianatan dari dalam rumah Nabi Luth sendiri. Aktor utama perbuatan ini adalah Walighah,[3] istri Nabi Luth sendiri. Jasadnya memang hidup bersama Nabi Luth, tetapi loyalitas dan kesetiaannya adalah untuk kebiadaban kaumnya. Tidaklah mengherankan sama sekali jika Allah Ta’ala nantinya menyebut istri Luth sebagai “pengkhianat” di Al-Qur’an.
Di tengah kondisi yang serba sulit itu, harus ditambah lagi fakta pahit bahwa Nabi Luth bukan penduduk asli daerah Sodom. Akibatnya, Nabi Luth tidak mendapat dukungan dari sebagian masyarakat; berbeda dengan nabi lain yang masih didukung oleh kaumnya, meski segelintir, dalam menghadapi gangguan dakwah, misalnya Nabi Syu’aib, Nabi Hud, dan Nabi Muhammad ‘alaihimush shalatu wassalam. Oleh karena itulah, ketika Nabi Luth berada dalam kondisi terpojok, saat ia bertindak sebagai “palang pintu rumah” untuk mempertahankan keamanan para tamunya dari aksi kaumnya, Nabi Luth berkata, “Seandainya aku mempunyai kekuatan (untuk menolakmu), atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan).”[4]
Usaha Luth Menyadarkan Kaum Sodom
Usaha yang dikerahkan oleh Nabi Luth untuk menyadarkan mereka supaya kembali kepada jalan yang benar sudah maksimal. Titik itulah yang sebenarnya menakutkan.
Langkah pertama yang beliau lakukan adalah secara lisan. Nabi Luth ‘alaihissalam terus menyampaikan kebenaran di tengah kaumnya walaupun tak satu pun dari mereka mau mengikuti ajakkannya.
Selanjutnya, Nabi Luth bertindak dengan aksi nyata, berupa menawarkan solusi kepada kaumnya. "Wahai kaumku, inilah putri-putriku (kaumku yang wanita), mereka lebih suci untuk kalian ...!" Luth menawari mereka agar menikahi para wanita, walau ia tahu bahwa mereka tidak akan mau mengikuti nasihatnya. Namun, sekali lagi, ini merupakan bentuk iqamatul hujjah (menegakkan alasan) bagi kaumnya supaya tidak ada alasan lagi ketika hari pembalasan dari Allah tiba. Benar saja, mereka menjawab penawaran Luth itu dengan angkuh, “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu tentu tahu apa yang sebenarnya kami mau.”[5]
Demikianlah adanya jika hati telah dibutakan oleh nafsu. Kaum Sodom memandang kebiadaban sebagai sesuatu yang wajar. Sesuatu yang sangat menjijikkan di mata orang yang fitrahnya lurus justru dinilai sebagai sebuah sumber kesenangan duniawi oleh kaum Sodom.
Datangnya Azab[6]
Sebelum rombongan malaikat--Jibril, Mikail, dan Israfil--mengeksekusi penduduk Sodom, para malaikat tersebut singgah di rumah Nabi Ibrahim, di Palestina. Rombongan malaikat membawa kabar gembira untuk Nabi Ibrahim, bahwa ia akan segera memiliki putra dari Sarah, istrinya yang sudah renta. Di samping itu, para malaikat menyampaikan bahwa mereka juga telah diperintahkan oleh Allah Ta’ala agar membinasakan kaum Luth. Nabi Ibrahim yang penuh kasih memohon kepada rombongan malaikat supaya tidak menghancurleburkan penduduk Sodom. Beliau bersikukuh bahwa di sana masih ada Nabi Luth dan keluarganya. Sebaliknya, para malaikat meminta uzur, lantaran itu sudah menjadi perintah Allah yang tak bisa ditawar.
Rombongan malaikat berubah wujud menjadi para pemuda yang tampan. Kedatangan mereka kali ini sekaligus untuk menyempurnakan hujjah Allah dan menampakkan bukti di hadapan Luth sebelum mengadzab kaum Sodom. Sehingga tak ada alasan lagi yang membuat kaum Sodom bisa mengelak dari kejahatan yang biasa mereka lakukan.
Ketika malaikat sampai di pinggiran kampung kaum Sodom, mereka bertemu dengan putri Luth. Ketika bertanya tentang tempat menginap, putri Nabi Luth melarang mereka untuk memasuki permukiman sebelum ia kembali. Ia pun melaporkan kedatangan rombongan malaikat yang menyamar kepada sang ayah. Tatkala itu, matahari hampir terbenam.
Nabi Luth menyuruh mereka segera memasuki rumah beliau. Kejadian itu tak ada yang mengetahui, kecuali hanya dan Nabi Luth dan orang yang ada di rumah. Ternyata, istrinya yang sedari awal tak mendukung dakwah sang suami, ia pun membuat api unggun dan mengipas-ngipas asapnya hingga menjadi sebuah tanda yang membumbung di udara dan dapat dikenali oleh kaum Sodom. Demikianlah ia mengkhianati suaminya dengan cara yang licik.
Nabi Luth yakin bahwa ia akan melewati malam yang amat sulit[7] sebab beliau pada asalnya hanyalah orang asing yang tidak memiliki kabilah lokal untuk menolongnya. Selain itu, tidak ada orang beriman dari kalangan penduduk Sodom yang berkuasa untuk membantunya. Apalagi, kaum Sodom sebelumnya sudah memerintahkan Nabi Luth agar tidak memberi tempat menginap bagi tamu asing yang memasuki kawasan mereka, tetapi kali ini Luth melanggar syarat tersebut.
Perkiraan Nabi Luth memang benar. Tak berselang lama, penduduk Sodom yang biadab berduyun-duyun menuju rumah beliau. Nabi Luth lantas meminta uzur kepada rombongan malaikat tadi atas ketidakmampuannya untuk melindungi mereka. Dalam kegentingan, beliau tetap berusaha menyadarkan kaum Sodom agar tidak mengganggu tamunya. Namun, usaha itu menemui jalan buntu.[8]
Ketika Nabi Luth melindungi pintunya dari serbuan penduduk Sodom, Malaikat Jibril keluar rumah lalu mengibaskan sayapnya ke arah mereka. Seketika itu mereka tak bisa lagi menemukan Luth dan rombongan tamunya.[9] Bahkan, penduduk Sodom ketika itu bertambah berang dan berkata, “Seandainya besok kita temukan, antara kita dan Luth masih ada urusan yang harus diselesaikan!”
Pada akhir malam itu juga Allah memerintahkan Nabi Luth agar meninggalkan rumahnya bersama kedua anaknya yang beriman. Malaikat juga berpesan agar mereka tidak menoleh ke belakang saat mendengar suara kaumnya yang diadzab, agar mereka tetap selamat. Kecuali istri Nabi Luth yang tidak bisa diselamatkan karena ia akan tertimpa azab sebagaimana kaum yang ia bela semasa hidupnya.[10]
Setelah itu, Malaikat Jibril mengibaskan sayapnya hingga menerbangkan tanah perkampungan kaum Sodom ke langit. Setelah itu, dia menjatuhkannya lagi ke tanah, disusul hujan batu yang dikirim oleh Allah untuk menghantam seluruh penduduk Sodom tanpa terkecuali, termasuk istri Nabi Luth yang durhaka.[11]
Pelajaran yang Dapat Dipetik
- Kerusakan yang dinormalisasi dapat menyebabkan datangnya azab dan murka Allah Ta’ala.
- Kewajiban seorang mukmin adalah terus berada di atas jalan yang benar, meski harus dimusuhi oleh orang-orang yang melakukan kemungkaran.
- Jika dahulu istri Luth menjadi pengkhianat dengan cara membocorkan keberadaan para tamu kepada kaum Sodom, hal itu juga bisa terjadi pada diri kita saat mendiamkan kemungkaran dan bahkan membela pelakunya hanya dengan dalih, bahwa “masih anak-anak”, “masih puber”, “ini adalah hak asasi setiap orang”, atau alasan lainnya.
- Perlunya menyelamatkan generasi sebelum kerusakan menjadi budaya.
Referensi:
- Taisirul Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Dar Ibnu Hazm, Arab Saudi.
- Tafsir al-Qur’an Al-‘Azhim, Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Ad-Dar Al-‘Alamiyah, Mesir, cet. 1, tahun 1434 H/2012 M.
- Al-Bidayah wan Nihayah, Abul Fida’ Ibnu Katsir, tahqiq: Dr. Abdul Muhsin At-Turki, Dar Hajar, cet. 1, tahun 1997 M (Al-Maktabah Asy-Syamilah).
- Al-Mustafad min Qashashil Qur'an, Dr. Abdulkarim Zaidan, Mu’assasah Ar-Risalah, Lebanon, cet. 1, tahun 1998 M.