Ketika Madinah Mengajariku Makna Cinta Rasul
Reporter : Muhammad Wildan Zidan
Redaktur : Rizky Aditya Putra
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
[QS. At-Taubah: 128]
Banyak muslim mengaku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, tidak semua benar-benar menyadari betapa besar cinta beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Bagi Akhuna Nugroho Abu Abdurrahman, pemahaman itu justru tumbuh semakin dalam setelah menetap di Madinah, kota yang menjadi saksi perjuangan dan kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Selama mendalami sirah Nabi, ia merasakan bahwa setiap fase kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu dipenuhi kasih sayang, pengorbanan, dan perhatian kepada umatnya. Kesadaran itulah yang perlahan mengubah cara pandangnya terhadap ibadah, dakwah, dan kehidupan. Baginya, mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga menghadirkan dorongan untuk semakin meneladani beliau dalam setiap langkah kehidupan.
Jejak Takdir Menuju Kota Nabi
"Perkenalkan, ana Nugroho Abu Abdurrahman. Saat ini, ana tinggal di Madinah, Kerajaan Arab Saudi, bersama keluarga. Alhamdulillah, kami sudah hampir dua tahun menetap di Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam," tuturnya mengawali perkenalan dengan Majalah HSI.
Di usia 51 tahun, Akhuna Nugroho bersama istri dan putranya, Abdurrahman (12 tahun), menjalani hari-hari yang diimpikan banyak penuntut ilmu. Tinggal di Madinah memberi mereka kesempatan untuk lebih dekat dengan majelis-majelis ilmu, sekaligus menikmati suasana kota yang setiap sudutnya menyimpan jejak kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Keputusan menetap di Madinah bukanlah langkah yang diambil secara tiba-tiba. Pak Nugroho mengenang bahwa perjalanan itu bermula pada 2016, ketika beliau mulai serius mempelajari Islam di atas manhaj sunnah. Dari proses belajar itulah beliau mengenal berbagai keutamaan Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
"Kami belajar bahwa Madinah sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga sekarang, telah menjadi pusat ilmu dan kebudayaan Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan syariat Islam kepada para sahabat beliau di Madinah," jelasnya. Keutamaan tersebut, ditambah keberadaan Universitas Islam Madinah sebagai salah satu tujuan menuntut ilmu yang didambakan kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia, kian mengobarkan tekadnya untuk membawa keluarga menetap di kota penuh berkah itu.
Harapan kemudian diiringinya dengan ikhtiar dan doa. Demi memberikan kesempatan kepada putranya untuk menuntut ilmu di Madinah, beliau bersama keluarga terus memohon kemudahan kepada Allah Ta'ala. Melalui wasilah informasi dari Ustadz Syaiful Ma'arif dan Ustadz Ahmad Jaelani hafizhahumallah, Allah membuka jalan yang sebelumnya hanya menjadi harapan. Persiapan dimulai pada November 2024, dan sebulan kemudian seluruh persyaratan telah terpenuhi.
Hari-Hari yang Dipenuhi Ilmu
Hampir dua tahun menetap di Madinah, telah membentuk ritme kehidupan baru bagi keluarga Pak Nugroho. Mereka kini tinggal di sebuah syuqqah (apartemen, red) di kawasan Mamsya Quba, yang berada di antara Masjid Nabawi dan Masjid Quba, sekitar satu kilometer dari Masjid Nabawi. Lokasinya yang tepat berada di atas Studio HSI Akademi dan masih termasuk wilayah Tanah Haram menjadi nikmat tersendiri yang senantiasa mereka syukuri.
Hari-hari keluarga ini nyaris tak pernah lepas dari aktivitas ibadah dan menuntut ilmu. Putra mereka, Abdurrahman, tercatat sebagai siswa muntazhim di Ma'had Haram Nabawi. Sang istri menempuh pendidikan di Markaz Nibras, sebuah lembaga ilmu khusus akhwat yang mempelajari bahasa Arab, Al-Qur'an, dan hadits. Sementara itu, Pak Nugroho rutin menghadiri halaqah Ustadz Dr. Ariful Bahri hafizhahullah serta majelis ilmu para masyaikh di Masjid Nabawi.
Di sela kesibukan tersebut, Pak Nugroho juga mengemban amanah sebagai Koordinator Operasional HSI Akademi. Dalam peran itu, beliau membantu Ustadz Lutfi Setiawan hafizhahullah selaku Direktur HSI Akademi.
Ketika Sirah Mengubah Cara Pandang
Perjalanan Pak Nugroho bersama HSI bermula pada masa pandemi Covid-19. Saat itu, hampir seluruh kajian offline terhenti, termasuk majelis ilmu yang biasa ia hadiri, yang dibimbing Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas rahimahullah. Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, Allah Ta'ala justru membukakan jalan lain baginya untuk terus menuntut ilmu. Ia mendaftar sebagai santri HSI Mulazamah (ARMN201), kemudian beberapa bulan berikutnya melanjutkan dengan bergabung di HSI Reguler (ARN202).
Pada awal mengikuti HSI Reguler, beliau mengaku sempat membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan metode pembelajaran melalui pesan suara berdurasi singkat. Namun, materi-materi akidah yang disampaikan secara bertahap justru melengkapi proses belajarnya di HSI Mulazamah. "Sungguh nikmat luar biasa yang Allah Ta'ala berikan kepada kami di waktu yang mana orang lain sulit mendapatkan ilmu agama karena lockdown Covid-19," kenangnya.
Dari proses menuntut ilmu itulah, cara pandangnya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perlahan berubah. Sebelumnya, kecintaan kepada Nabi tumbuh sebagaimana yang umum diwariskan dalam tradisi keluarga muslim. Namun, setelah mempelajari hadits, atsar para sahabat radhiyallahu 'anhum, dan sirah Nabi secara lebih mendalam, beliau mulai memahami hakikat perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
"Hakikat dasar di balik dakwah dan perjuangan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kasih sayang Nabi kepada umatnya. Beliau ingin kita semua selamat di kehidupan akhirat," ungkap Abu Abdurrahman.
Pemahaman itu tidak hanya menumbuhkan kecintaan yang lebih dalam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi juga mengubah cara beliau memaknai kesuksesan. Dahulu, kesuksesan identik dengan pencapaian dunia. Kini, baginya, kesuksesan adalah memperoleh keselamatan di akhirat.
"Yang dahulu sukses itu adalah keberhasilan dunia, segala macam pencapaian. Kini, sukses adalah selamat di akhirat, masuk surga Allah Ta'ala tanpa mendapatkan siksa di neraka," tuturnya penuh harap.
Menyusuri Sirah di Depan Mata
Bagi Pak Nugroho, menetap di Madinah merupakan nikmat besar yang Allah Ta'ala karuniakan. Tinggal di Tanah Haram bukan sekadar berpindah tempat tinggal, tetapi juga menghadirkan kesadaran bahwa dirinya kini hidup di kota yang dimuliakan Allah dan menjadi tempat bersemayamnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
"Tinggal di Kota Madinah, di Tanah Haram, berbeda dengan selainnya karena keutamaan-keutamaan yang Allah Ta'ala berikan kepada umat Islam," ungkapnya.
Salah satu keutamaan yang paling membekas baginya adalah kesempatan menjadi tetangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kesadaran itu menghadirkan dorongan untuk lebih berhati-hati dalam bersikap dan bermuamalah. Di samping itu, beliau juga senantiasa mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan bersabar menghadapi kesulitan hidup di Madinah, bahwa Rasulullah akan menjadi saksi atau pemberi syafaat bagi orang yang bersabar atas kesulitan tersebut pada hari kiamat[1].
Tampaknya kedekatan jarak dengan Masjid Nabawi menjadi nikmat lain yang senantiasa disyukuri Pak Nugroho sekeluarga. Hampir setiap hari, seusai Maghrib hingga Isya, beliau mengikuti kajian Ustadz Dr. Ariful Bahri hafizhahullah yang banyak mengulas sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berbagai keutamaan Kota Madinah.
Dari sanalah, kisah-kisah yang selama ini hanya ia baca seakan hadir di depan mata. Pak Nugroho bahkan telah menapakkan kaki secara langsung ke Masjid Quba, ke Baqi, Bukit Uhud, hingga Badr, tempat kepingan-kepingan sejarah Islam dulu ditorehkan. Maasyaa Allah…betapa nikmatnya.
Laksana Menggenggam Bara
Bagi Pak Nugroho, kedekatan dengan sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kesempatan menetap di Madinah menghadirkan perubahan yang nyata dalam dirinya. Dampak yang paling ia rasakan adalah bertambahnya keimanan serta semakin dalamnya pemahaman terhadap hakikat Islam dan ibadah.
"Karena kita semakin memahami, meyakini, serta merasakan tentang Islam dan hakikat ibadah, termasuk syariat Islam," tuturnya.
Namun, beliau menyadari bahwa tinggal di Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan berarti perjuangan menjaga keistiqamahan menjadi lebih ringan. Justru di sanalah beliau menyaksikan bahwa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berpegang teguh pada agama di akhir zaman laksana menggenggam bara, nyata dirasakan.
Beliau menjumpai secara langsung berbagai praktik yang belum selaras dengan tuntunan syariat, baik dalam muamalah, pergaulan, maupun bentuk-bentuk penyimpangan akidah.
"Semoga Allah Ta'ala senantiasa memberikan kita semua hidayah dan menjaga kita tetap istiqamah di atas Islam," harapnya.
Kesadaran itulah yang mendorong Pak Nugroho untuk terus berusaha mengambil bagian dalam dakwah sesuai kemampuan yang Allah Ta'ala berikan. Selain mengemban amanah sebagai Koordinator Operasional HSI Akademi, beliau juga berupaya menerapkan nilai-nilai yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan keluarga.
"Kasih sayang dan hubungan di dalam keluarga harus berdasarkan ilmu, Al-Qur'an, dan Sunnah. Penerapannya diniatkan untuk mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pelan-pelan namun diusahakan konsisten," tuturnya.
Cinta yang Dibuktikan dengan Amal
Lalu, bagaimana cara membuktikan cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah kehidupan hari ini? Bagi Pak Nugroho, jawabannya sederhana, tetapi membutuhkan kesungguhan.
"Cara terbaik untuk benar-benar mencintai dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamsaat ini adalah dengan berusaha menjalankan sunnah-sunnah beliau yang sudah kita pelajari setiap hari, dan kita niatkan bahwa itu adalah untuk mencontoh sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mulai dari hal-hal terkecil berupa sunnah keseharian, kita lakukan dengan konsisten supaya bisa istiqamah, dan tentunya berdoa supaya Allah Ta'ala memudahkan," ujarnya.
Di penghujung perbincangan, beliau juga menitipkan pesan kepada para santri dan pembaca Majalah HSI.
"Terus berdoa dan meminta hanya kepada Allah Ta'ala agar dimudahkan menjalani hidup sesuai Al-Qur'an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Teruslah menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu yang kita dapatkan, karena ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan," pesannya.
Perjalanan Pak Nugroho mengingatkan bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan sekadar ungkapan di lisan atau luapan rasa di hati. Cinta kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tumbuh bersama ilmu, lalu dibuktikan melalui amal. Meski mungkin belum bisa tinggal di Madinah seperti Pak Nugroho sekeluarga, kita jangan patah semangat apalagi menyerah ya… Semoga Allah Ta'ala mengokohkan kita beramal, beribadah, di atas sunnah, di atas jalan haq, serta kelak menghimpunkan kita bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga-Nya. Wallāhu Waliyyut Taufīq.