Ketaatan Total Sang Ayah di Bulan Dzulhijjah
Reporter : Rizky Aditya Saputra
Redaktur : Gema Fitria
Allah memberikan waktu-waktu istimewa bagi hamba-Nya untuk melipatgandakan amalan, salah satunya adalah bulan Dzulhijjah. Dzulhijjah adalah satu di antara Asyhurul Hurum (bulan haram). Bukan sekadar istimewa karena di dalamnya ada hari-hari yang dipilih Allah sebagai hari-hari terbaik sepanjang tahun, tapi juga karena ada ibadah agung yang membutuhkan pengorbanan luar biasa, yakni haji. Biaya, waktu, tenaga, dan kondisi di tanah suci yang mungkin jauh dari ideal, sejatinya merupakan didikan untuk senantiasa ikhlas, bersabar, berserah, dan mengendalikan diri.
Para ulama mengatakan, orang yang cerdas adalah orang yang mengenali dan tidak menyia-nyiakan kesempatan emas yang telah diberikan Allah. Maka, menjadikan Dzulhijjah sebagai momentum yang pas bagi para Qawwam untuk menentukan arah ketaatan keluarga adalah pilihan yang tepat. Sejarah mencatat, Nabi Ibrahim dan Ismail memberikan keteladanan nan tinggi dalam penghambaan total kepada Allah. Keduanya tunduk tanpa syarat, meletakkan cinta kepada Allah di atas cinta kepada dunia.
Tanggung Jawab Seorang Ayah
Seorang ayah tidak hanya bertanggungjawab atas kebutuhan dasar keluarga, tapi lebih dari itu: memberikan perhatian serius dalam hal agama dan pelaksanaannya di rumah tangga. Mumpung masih diberi kesehatan dan umur, para ayah harus bersegera memastikan anak-istrinya mendapat pendidikan agama dan tidak melalaikan kewajiban syariat. Dzulhijjah datang membawa pesan itu, bahwa ketaatan total bisa diusahakan sebagaimana ketaatan Khalilullah dan putra beliau, Ismail.
Akhuna Abu Thalha, ayah dari 3 anak, mengatakan bahwa Dzulhijjah adalah waktu yang pas untuk memulai ketaatan karena amal shalih dilipatgandakan nilainya di bulan ini. Secara umum, ia melanjutkan, ingin menambah quality time bersama keluarga dengan shalat berjamaah, tilawah bersama, dan membantu anak mengerjakan tugas. Abu Thalha menegaskan, seorang ayah harus hadir tidak hanya secara fisik, namun betul-betul memanfaatkan waktu dengan kebersamaan, misalnya menghadiri momen-momen penting anak-istri.
Hal senada juga diutarakan oleh Akhuna Abu Khalifah. Menurutnya, tanggung jawab ayah sangat berat. “Tanggung jawab seorang ayah tentunya mendidik istri dan anak-anak, sebagaimana yang diwajibkan Allah dalam Al-Qur’an untuk menjaga mereka dari api neraka. Dan ini tanggung jawab yang berlaku sampai kita meninggal,” tuturnya.
Ketaatan Sesungguhnya
Baik-buruknya seseorang sering kali diukur hanya dari ibadah yang tampak, padahal iman dan takwa yang menetap di hati jauh lebih penting. Di dunia para ayah, hal-hal yang tak terlihat seperti pengambilan keputusan atau pengorbanan dalam menjaga keluarga agar menaati perintah Allah juga adalah bagian dari ketaatan.
Abu Khalifah mengatakan selalu berusaha memonitor agar anak-anaknya membiasakan doa dan dzikir harian, mulai dari bangun pagi sampai tidur di malam hari, mengajak anak-anak untuk muraja’ah hafalan, dan mengulang-ulang kisah para nabi agar anak-anak bisa mengambil pelajaran. Itu semua tentu saja tidak selalu berjalan mulus. “Tantangannya adalah waktu yang terkadang enggak ketemu. Misalkan ada pekerjaan sampai pulang malam, enggak ketemu istri dan anak, jadi ada yang missed keesokan harinya,” ungkapnya seolah menyesali.
Sementara itu, selalu mendahulukan alasan agama dibanding yang lain dalam menjawab pertanyaan anak adalah cara Abu Thalha dalam mengarahkan mereka ke jalan ketaatan. “Misalnya ketika ditanya mengapa kita berpuasa, maka jawabannya adalah karena Allah yang memerintahkannya di dalam Al-Qur’an. Setelah itu, barulah kita jelaskan manfaat puasa dari sisi duniawi, seperti puasa membuat tubuh sehat,” jelasnya menerangkan.
Abu Thalha merasa tertantang untuk belajar agama lebih banyak lagi agar bisa menjawab pertanyaan anak-anak yang mendapat ilmu dari sumber lain. “Kadang anak-anak dapat ilmu lebih dulu di sekolah atau dari temannya. Jadi, kadang di rumah kita sudah ajarkan A, lalu di sekolah ada guru atau temannya yang bilang B, nah harus diluruskan lagi. Jadi kita harus berilmu juga,” tukasnya.
Kebahagiaan Sang Qawwam
Tak ada yang lebih membahagiakan seorang ayah selain melihat keluarganya hidup rukun dalam ketaatan kepada Allah. Ini pula yang dirasakan Abu Thalha. "Sebagai ayah, melihat istri dan anak hidup cukup, tidak kelaparan, itu sudah sangat bahagia. Apalagi kalau mereka taat, shalatnya lancar, hafalan Al-Qur'an juga bertambah, terus adabnya baik.. wah.. itu nikmat banget," ucapnya seolah sedang merasakan kebahagiaan.
Abu Thalha menyampaikan, ia ingin keluarganya mengenangnya sebagai suami dan ayah yang bertanggungjawab. Oleh sebab itu, ia berusaha membahagiakan anak-istri meski kadang pengorbanannya tak terlihat. "Bekerja pagi-malam, panas-dingin, mereka semua (keluarga-red) enggak tahu gimana beratnya seorang ayah bekerja. Tapi enggak apa-apa. Itulah pengorbanan yang pasti dilakukan oleh setiap ayah yang beriman kepada Allah. Dan semua lelah itu enggak terasa saat pulang lihat istri dan anak-anak," tandasnya bangga.
Abu Khalifah pun melontarkan hal yang tak jauh berbeda. Santri angkatan 211 ini merasakan kegembiraan yang meluap melihat keluarganya taat beribadah. "Melihat mereka dalam ketakwaan itu hal terindah bagi ana. Rasanya semua lelah yang dirasakan, hilang seketika saat pulang melihat istri dan anak, misalkan, sedang baca Al-Qur'an bareng. Itu enggak bisa digambarkan dengan kata-kata," akunya.
Dari lubuk hati terdalam, ia ingin dikenang sebagai suami dan ayah yang selalu dirindukan setelah wafatnya. "Suami dan ayah yang meninggalkan warisan ilmu," sambungnya terharu. Sebagai bentuk cinta kepada keluarga, ia mengungkapkan sering mendoakan kebaikan bagi anak-istrnya. "Mereka tidak akan pernah tahu betapa seringnya ana berdoa untuk kebaikan mereka. Mungkin bisa dibilang ini adalah bentuk ibadah yang paling ikhlas, karena mereka tidak tahu sedang didoakan dan ana tidak pernah mengumbar hal ini kepada mereka," tutup pria yang berdomisili di Jakarta ini.
Penutup
Bulan Dzulhijjah adalah bulan haram yang istimewa dengan segala amalan di dalamnya. Kedatangan bulan ini hendaknya diisi dengan ketaatan dan menyerahkan seluruh ibadah kepada Allah dengan kepasrahan sebagaimana kisah yang tak lekang oleh zaman, yakni penghambaan total yang ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Ismail dalam menaati perintah Allah.
Semoga para ayah bisa menjadikan bulan ini sebagai momentum untuk menentukan arah ketaatan keluarga menuju ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala.