Tautan rekaman: https://www.youtube.com/live/xfrl3H6myMs?si=YdhHhQnpLqG7ANV6
Kesucian Hati Sebagai Fondasi Ketaatan Lahiriah
Ditranskrip oleh: Avrie Pramoyo
Editor: Athirah Mustadjab
Kebanyakan manusia lebih memperhatikan perkara-perkara yang bersifat zhahir atau lahiriah. Ketika akan datang ke suatu tempat, misalnya, kita memperhatikan pakaian yang dikenakan, kebersihan rumah, mobil, halaman, dan berbagai perkara lahiriah lainnya. Hal ini tentu merupakan sesuatu yang baik. Namun, ada sesuatu yang semestinya mendapatkan perhatian yang lebih besar, yaitu hati kita masing-masing.
Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits menunjukkan betapa pentingnya kedudukan hati. Sepantasnya seorang muslim dan muslimah memberikan perhatian yang besar terhadap qalbunya, bahkan lebih besar daripada perhatian terhadap pakaian, kebersihan rumah, halaman, motor, maupun mobil.
Allah Melihat Hati dan Amal
Di dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian dan tidak pula kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”
Hadits ini cukup menjadi dorongan bagi seorang muslim dan muslimah untuk memberikan perhatian yang besar terhadap hatinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat hati dan amalan kita.
Selain itu, pada hari kiamat, yang akan mendapatkan keselamatan adalah orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۞ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘ara: 88–89)
Sesuai dengan kadar keselamatan hatinya, seseorang akan mendapatkan keselamatan di akhirat. Maka, bagaimana mungkin seorang muslim tidak memperhatikan hatinya? Bagaimana mungkin seseorang lalai terhadap keadaan hatinya, sementara dia lebih banyak memperhatikan keadaan lahiriahnya?
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.”
Hadits tersebut menunjukkan kedudukan hati yang sangat penting di dalam diri seseorang.
Kondisi Hati Akan Terpancar pada Zhahir
Berbagai dalil di atas menunjukkan keutamaan hati dan kewajiban seorang muslim untuk memperhatikannya. Dari sini kita mengetahui bahwa hati yang bersih akan memberikan pengaruh terhadap lahiriah seseorang.
Ada hubungan yang sangat erat antara apa yang ada di dalam hati seseorang dengan keadaan zhahirnya. Meskipun hati tidak terlihat, dampak dan pengaruh apa yang ada di dalam hati akan tampak pada lahiriah seseorang.
Orang yang bersih dari akidah yang rusak dan keyakinan yang kotor, serta memenuhi hatinya dengan tauhid dan mengesakan Allah dalam rububiyah-Nya, akan terlihat pengaruhnya pada zhahir. Dia berdoa hanya kepada Allah, bersujud hanya kepada Allah, dan bernazar hanya untuk Allah. Keyakinannya yang benar tentang Allah dalam rububiyah, asma’, dan sifat-Nya akan terlihat dalam kehidupannya. Dia pun akan menjauhi berbagai bentuk kesyirikan. Apa yang ada di dalam hatinya akan terwujud pada zhahirnya.
Demikian pula orang yang hatinya bersih dari kemunafikan dan dipenuhi kejujuran. Apa yang ada di dalam hatinya sesuai dengan apa yang dia ucapkan dan lakukan. Tidak ada kemunafikan di dalam hatinya, sehingga dia akan tampak konsisten dalam ucapan dan perbuatannya.
Orang yang hatinya bersih dari hawa nafsu dan kebid’ahan serta penuh dengan ketundukan terhadap syariat, akan tampak pada lahiriahnya semangat untuk mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dia akan berhati-hati dalam beribadah agar tidak melakukan suatu amalan tanpa dalil. Hal tersebut karena hatinya telah bersih dari berbagai hawa nafsu dan dia telah menyerahkan dirinya kepada syariat Allah. Ketundukan tersebut kemudian tampak pada zhahirnya.
Demikian pula orang yang hatinya bersih dari berbagai penyakit seperti kesombongan, iri, dengki, dendam, cinta dunia, dan ketamakan. Dia akan terlihat sebagai orang yang tawadhu, merendahkan diri di hadapan orang lain, tidak sombong, qana’ah terhadap apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan, serta mudah memaafkan orang lain yang melakukan kesalahan kepadanya. Dia juga akan berbahagia ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat, baik nikmat dunia maupun nikmat agama.
Semua ini menunjukkan bahwa perbaikan hati akan terpancar dalam perbuatan lahiriah seseorang. Jika hati kita bersih dari kesyirikan, kebid’ahan, maksiat, dan akhlak tercela, kebersihan tersebut akan muncul pada lahiriah seseorang. Begitu pula sebaliknya.
Cara Menjaga Kebersihan Hati
Secara umum, usaha untuk mendapatkan hati yang bersih terbagi menjadi dua:
- Usaha preventif, yaitu mencegah penyakit agar tidak masuk ke dalam hati.
- Usaha kuratif, yaitu membersihkan hati yang sudah terlanjur kotor.
A. Usaha preventif
1. Menjaga pandangan, pendengaran, dan lisan
Seseorang hendaknya menjaga pandangan, pendengaran, dan lisannya dari kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Banyak kotoran hati yang masuk melalui mata dan telinga. Demikian pula banyak kotoran hati yang berasal dari lisan. Pandangan yang tidak dijaga, seperti melihat aurat, perkara porno, atau sesuatu yang diharamkan dan menimbulkan syahwat, dapat mengotori hati.
Demikian pula mendengarkan hal-hal yang buruk, musik, ghibah, dan perkara-perkara yang mesum dapat mengotori hati. Termasuk di antaranya adalah tidak menjaga lisan dan bermudah-mudahan dalam melakukan ghibah, namimah, dan dusta.
Apabila seseorang terus-menerus melakukan perbuatan tersebut, hal itu dapat merusak hatinya. Maka, apabila seseorang ingin menjaga kebersihan hatinya, hendaknya dia tidak membiarkan berbagai kotoran masuk melalui penglihatan, pendengaran, maupun lisannya.
2. Memperbanyak doa
Di antara usaha menjaga hati adalah banyak berdoa kepada Allah agar hati dijaga dari berbagai perkara yang dapat merusak dan mengotorinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering membaca doa,
يَامُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Di antara makna doa tersebut adalah memohon kepada Allah agar hati dijauhkan dari berbagai perkara yang dapat mengotorinya dan dimudahkan untuk meninggalkan berbagai bentuk kemaksiatan.
3. Sering mengingat kematian dan akhirat
Mengingat kematian dan akhirat juga merupakan sebab seseorang dapat menjaga kebersihan hatinya. Berbagai penyakit hati akan berkurang ketika seseorang mengingat bahwa dirinya akan meninggal dunia. Dia sadar bahwa dunia ini hanya sementara, kemudian dia akan kembali kepada Allah dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukannya.
Salah satu penyakit hati yang dapat berkurang dengan mengingat akhirat adalah cinta dunia. Ketika cinta dunia telah menancap dalam diri seseorang, dia akan mengukur segala sesuatu dengan dunia atau melakukan berbagai perkara dengan tujuan dunia. Bahkan ketika beramal shalih pun dia ingin mendapatkan pujian. Ini termasuk bentuk cinta dunia.
Orang yang senantiasa mengingat akhirat dan menyadari bahwa dia akan meninggalkan dunia beserta seluruh isinya akan menjadi lebih zuhud. Dunia tidak lagi menjadi sesuatu yang memenuhi hatinya. Dengan demikian, dia akan lebih ikhlas dalam beramal, lebih sabar dalam melakukan ketaatan, dan lebih sabar dalam meninggalkan kemaksiatan.
B. Usaha kuratif: Membersihkan hati yang kotor
Adapun tindakan kuratif atau pengobatan hati yang telah terlanjur kotor, di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Bertobat dengan tobat yang nasuha
Apabila seseorang menyadari bahwa di dalam hatinya terdapat penyakit, seperti dengki, tamak, ujub, nifak, su’uzhan, dan penyakit hati lainnya, maka hendaknya dia segera bertobat kepada Allah dengan tobat yang nasuha. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu.” (QS. At-Tahrim: 8)
Tobat menjadi sebab Allah menghilangkan penyakit hati dari diri seseorang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ
“Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak mempunyai dosa.”
Artinya, Allah membersihkan dosa tersebut. Jika seseorang ingin dihilangkan dari hasad, dengki, dendam, sulit memaafkan, su’uzhan, cinta dunia, dan berbagai penyakit hati lainnya, maka di antara usaha yang dapat dilakukan adalah bertobat kepada Allah setiap kali melakukan dosa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)
At-Tawwab adalah orang yang setiap kali berdosa, dia bertobat. Mungkin saja seseorang hari ini muncul su’uzhan dalam hatinya, lalu dia bertobat. Beberapa waktu kemudian, su’uzhan itu muncul lagi, maka dia kembali bertobat. Itulah penyakit hati dan kotoran yang harus segera dibersihkan. Cara membersihkannya adalah dengan bertobat kepada Allah dengan tobat yang nasuha.
2. Memperbanyak istighfar
Cara berikutnya adalah memperbanyak istighfar, memohon ampun kepada Allah dengan mengucapkan “astaghfirullah” dan mengulang-ulang istighfar tersebut dalam keadaan sadar dan khusyuk. Seseorang memohon kepada Allah agar dosa-dosanya ditutupi sehingga tidak diketahui manusia, serta memohon agar dosa-dosa tersebut dihapuskan sehingga dia tidak diazab karenanya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang merupakan al-ma‘shum dan telah diampuni dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang, beristighfar setiap hari minimal 70 kali. Tentunya istighfar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan istighfar yang penuh kesadaran dan kekhusyukan. Demikian pula, seorang muslim hendaknya berusaha membersihkan hatinya dengan memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3. Melakukan amal shalih sebagai penghapus dosa
Ada berbagai amal shalih yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sebab terhapusnya dosa, seperti shalat lima waktu, shalat Jumat ke Jumat berikutnya, membaca tasbih, tahmid, takbir, serta membaca,
لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Demikian pula bersedekah, melakukan umrah ke umrah berikutnya, melaksanakan haji, dan mendapatkan haji yang mabrur. Amalan-amalan tersebut di antara yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat menggugurkan dosa-dosa kecil.
Termasuk penghapus dosa adalah bersabar ketika mendapatkan musibah. Apabila seseorang diuji dengan musibah kemudian dia bersabar, lisannya tidak menggerutu, hatinya pun tidak memberontak, dan tidak melakukan perbuatan lahiriah yang menunjukkan ketidaksabarannya, maka kesabarannya dapat menjadi sebab dihapuskannya sebagian dosa-dosanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا
“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Allah akan menyegerakan hukuman terhadap dosa-dosanya di dunia.”
Maka, apabila kita bersabar dalam menghadapi musibah, semoga hal tersebut menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa yang dilakukan seseorang.
Pengobatan Khusus untuk Penyakit Hati
Selain cara-cara umum di atas, terdapat pula pengobatan yang lebih khusus untuk mengatasi penyakit hati tertentu.
1. Hasad dan Dengki
Di antara cara mengobati penyakit hasad atau dengki adalah mengingat bahwa ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala membagi rezeki, memberikan nikmat, dan menetapkan takdir, Dia melakukannya dengan hikmah dan keadilan.
Apa yang dimiliki oleh orang lain berupa harta, jabatan, atau nikmat lainnya merupakan ketetapan Allah. Allah menetapkannya dengan hikmah-Nya.
Lalu bagaimana mungkin seseorang merasa hasad dan dengki kepada orang lain?
Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat yang membagi rezeki dengan keadilan dan hikmah-Nya. Yang hendaknya dilakukan seseorang adalah meminta karunia Allah, sebagaimana Allah memberikan karunia kepada orang lain. Karunia Allah sangat luas. Mengapa harus dengki?
Hendaknya seseorang juga berusaha memaksa dirinya untuk mendoakan orang yang dia hasadi dengan kebaikan. Apabila muncul hasad dan dengki kepada seseorang, justru doakanlah orang tersebut dengan kebaikan. Semoga hal tersebut menjadi sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala menghilangkan penyakit hasad dari hatinya.
Orang yang hasad sebenarnya telah merugikan dirinya sendiri. Disebutkan dalam hadits bahwa hasad akan menggerogoti kebaikan dan pahala seseorang sebagaimana api menghabiskan kayu bakar. Seseorang mungkin pelan-pelan mengumpulkan kayu bakar. Namun setelah itu, semuanya habis menjadi abu. Demikianlah keadaan orang yang beramal shalih tetapi masih memelihara hasad di dalam hatinya.
2. Ujub
Ujub atau merasa bangga terhadap diri sendiri juga merupakan penyakit hati. Di antara cara menghilangkannya adalah merenungi dan mengenali kekurangan serta kelemahan diri sendiri. Seseorang hendaknya menyadari bahwa apabila dia memiliki kelebihan atau keistimewaan, semuanya merupakan karunia dari Allah, bukan semata-mata karena kepandaian atau kehebatan dirinya.
Dia perlu mengingat berbagai kekurangan yang dimilikinya dan menyadari bahwa setiap kelebihan dan keistimewaan merupakan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian, diharapkan penyakit ujub dan membanggakan diri sedikit demi sedikit dapat hilang.
3. Su’uzhan
Su’uzhan atau berburuk sangka kepada orang lain juga merupakan penyakit hati yang berbahaya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa su’uzhan merupakan ucapan yang paling dusta.
Cara menghilangkan su’uzhan kepada saudara kita adalah dengan melatih diri untuk senantiasa berhusnuzhan. Dalam setiap perkara, sebisa mungkin kita berusaha mencari alasan yang baik bagi saudara kita.
4. Cinta dunia yang berlebihan
Di antara obat cinta dunia yang berlebihan adalah mengingat hakikat dunia yang fana dan akan binasa. Dunia tidak akan kekal. Kita juga perlu mengingat kenikmatan akhirat yang kekal. Dunia akan kita tinggalkan, sedangkan akhirat akan kita hadapi.
Di antara caranya adalah membaca kisah-kisah orang shalih dan para salaf yang dikenal dengan kezuhudan mereka terhadap dunia. Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia sama sekali. Namun, yang dimaksud dengan zuhud adalah jangan sampai hati seseorang bergantung kepada dunia.
5. Putus asa dari rahmat Allah
Putus asa dari rahmat Allah juga termasuk penyakit hati. Seseorang mendapatkan ujian atau musibah, kemudian berputus asa dari rahmat Allah seakan-akan tidak ada jalan keluar. Dia merasa seolah-olah tidak ada orang yang mendapatkan musibah lebih besar daripada dirinya.
Jangan sampai seseorang berputus asa dari rahmat Allah. Sebesar apa pun musibah yang menimpa dan seburuk apa pun masa lalu seseorang, hendaknya dia yakin bahwa rahmat Allah sangat luas dan ampunan Allah lebih luas daripada dosa-dosa yang dilakukan seseorang. Dengan demikian, akan muncul dalam hatinya harapan. Perasaan putus asa berganti menjadi husnuzan kepada Allah, hati yang penuh tekad dan harapan, serta keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan jalan keluar.
6. Merasa aman dari azab Allah
Lawan dari putus asa adalah merasa aman dari azab Allah. Seseorang merasa aman dari hukuman Allah, lalai, dan terus-menerus melakukan dosa. Ini juga merupakan penyakit hati.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi. Azab Allah sangat pedih. Terkadang Allah membiarkan seseorang terus melakukan dosa, bahkan memberikan tambahan kenikmatan kepadanya.
Hal tersebut bukan berarti Allah mencintai atau meridai perbuatannya. Bisa jadi, Allah membiarkan orang tersebut hingga akhirnya mendapatkan azab dari arah yang tidak dia sangka. Oleh karena itu, seseorang hendaknya menanamkan rasa takut kepada Allah dengan membaca dalil-dalil yang berkaitan dengan pedihnya azab neraka dan dahsyatnya hisab pada hari kiamat. Semoga hal tersebut menjadi sebab seseorang tidak lalai dan tidak merasa aman dari azab Allah Subhanahu wa Ta’ala.
7. Riya
Riya termasuk penyakit hati yang sangat halus sekaligus berbahaya. Riya dapat membatalkan pahala amalan. Riya adalah ketika seseorang senang dipuji oleh orang lain karena amalan yang dia lakukan.
Cara mengatasinya adalah dengan berusaha agar orang lain tidak mengetahui amalan kita. Seseorang memuji karena dia melihat. Jika dia tidak melihat, dia tidak akan memuji. Maka, di antara cara mengatasi riya adalah menyembunyikan amal kebaikan sebagaimana kita berusaha menyembunyikan amal keburukan.
Selain itu, tutuplah seluruh celah yang dapat menumbuhkan keinginan untuk mendapatkan pujian dari manusia. Dahulu para salaf sangat bersemangat menyembunyikan amal shalih mereka sebagaimana seseorang bersemangat menyembunyikan amal buruknya.
Selanjutnya, apabila muncul dorongan untuk riya, hendaknya segera dilawan. Seseorang juga harus menyadari bahwa tidak mungkin menghilangkan penyakit tersebut kecuali dengan pertolongan Allah. Maka, kembalilah kepada Allah dan berdoalah, “Ya Allah, aku tidak suka dengan riya. Engkau mengetahui hal tersebut. Jauhkanlah aku dari riya.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Mengabulkan doa. Dengan demikian, diharapkan seseorang terbebas dari penyakit riya tersebut.
Ilmu Syariat: Kunci Kebersihan Hati
Itulah beberapa contoh pengobatan khusus untuk penyakit hati tertentu. Adapun secara umum, menjaga kebersihan hati dilakukan dengan menuntut ilmu syar’i. Inilah salah satu kunci kebersihan dan kebaikan hati.
Ketika seseorang menuntut ilmu, dia akan mengetahui mana penyakit hati dan mana obatnya. Jika seseorang tidak mau menuntut ilmu, bagaimana dia akan mengetahui bahwa sesuatu itu merupakan penyakit? Bagaimana dia mengetahui obatnya?
Jawabannya adalah dengan ilmu. Ilmu akan menuntun seseorang. Ilmu menjadi cahaya sehingga seseorang dapat merawat dan memelihara hatinya.
Penutup
Dari kajian ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hati memiliki kedudukan yang sangat agung dalam agama Islam. Hati menentukan nilai seseorang di hadapan Allah dan menjadi sebab keselamatan seseorang di akhirat. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama membersihkan hati dan memberikan perhatian yang besar terhadapnya.
Menjaga kebersihan zhahir tentu merupakan sesuatu yang baik dan hendaknya tetap dilakukan. Namun, usaha untuk menjaga kebersihan hati hendaknya lebih diperbesar. Di antara usaha tersebut adalah menjaga agar berbagai kotoran tidak masuk ke dalam hati. Apabila penyakit sudah terlanjur ada di dalam hati, kita berusaha membersihkannya dengan tobat, istighfar, dan berbagai amal shalih yang dapat menjadi sebab terhapusnya dosa.
Akhirnya, kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membersihkan hati kita semuanya dan menjadikan hati kita sebagai hati yang salim, sehingga dengannya kita mendapatkan keselamatan di akhirat.