Tanya Dokter
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Kesehatan Itu Penting

Dijawab oleh:

dr. Munif Amar, S.H., M.H., M.Kes


Pertanyaan dari Arisabana

Bismillah, Assalamu’alaikum, Dokter. Bagaimana caranya menjaga kesehatan mental menurut medis dan juga syariat? Apakah kesehatan mental dan fisik ini ada saling keterkaitan, Dokter? Jika sudah terlanjur sakit jiwa, seperti skizofrenia, apa yang harus kita lakukan?

Jawaban:

Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.

Jika kita membahas kesehatan mental menurut medis maupun syariat, sebenarnya dari pandangan Islam dan ilmu medis kesehatan mental itu selaras, saling terkait, dan melengkapi satu sama lain. Namun, pendekatan syariat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif bagi jiwa kita. Kita semua tahu bahwa Al-Qur’an adalah obat. Baik dengan cara membaca maupun mengamalkan petunjuk-petunjuk di dalamnya. Al-Qur’an menjadi obat untuk jiwa sekaligus fisik kita.

Untuk menjaga kesehatan mental, jiwa kita harus bersih. Dalam syariat, kita dilarang memiliki penyakit iri hati dan dengki, serta diwajibkan untuk senantiasa bersyukur. Apapun takdir yang menimpa, baik atau buruk, kita harus menyikapinya dengan syukur dan sabar. Sikap inilah yang menjadi obat bagi jiwa dan mental kita.

Selain itu, agama juga melarang perilaku seperti gibah karena dapat merusak mental. Ketika kita membicarakan atau menjelekkan orang lain, hal itu sebenarnya tidak hanya merugikan orang tersebut, tetapi juga memperburuk jiwa kita sendiri. Kita akan terjebak memikirkan hal-hal negatif yang tidak penting, yang pada akhirnya mengganggu kedamaian pikiran dan berdampak buruk pada kesehatan fisik.

Terkait pertanyaan mengenai gangguan kesehatan mental yang berat seperti skizofrenia, kondisi ini memang ada obat medisnya. Penderita harus rutin minum obat dan kontrol secara konsisten agar bisa beraktivitas secara normal, baik untuk beribadah, bekerja, maupun bersosialisasi. Kunci utamanya adalah tidak boleh terlambat atau putus obat. Meskipun efektivitasnya mungkin tidak langsung maksimal, misalnya dalam hal produktivitas kerja atau sekolah yang agak menurun akibat penyakit tersebut, insyaallah kondisi fisik penderita akan tetap terjaga dengan baik. Kuncinya adalah patuh minum obat, istirahat yang cukup, dan menjaga pola makan yang teratur. Dalam hal ini, ilmu agama dan ilmu medis berjalan selaras. Jika fondasi ibadah dan agama kita kuat, insyaallah kesehatan mental dan jiwa kita juga akan terjaga dengan baik.

Pertanyaan dari Fulan 1

Bismillah, Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Selamat pagi, Dokter. Dokter, seberapa besar sih pengaruh kualitas tidur terhadap sistem imun kita dan berapa idealnya durasi tidur yang disarankan secara medis?

Jawaban:

Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.

Saat kita tidur dan beristirahat, tubuh sebenarnya sedang bekerja aktif untuk memperbaiki diri, sel-sel diperbarui, termasuk sel-sel sistem imun kita. Melalui proses regenerasi ini, imunitas tubuh yang sebelumnya menurun atau telah terpakai seharian, akan dipulihkan kembali.

Istirahat yang cukup selama 6-8 jam sehari, sudah sangat ideal untuk memicu organ tubuh memproduksi komponen imun baru yang berkualitas. Istirahat juga merupakan bentuk pemenuhan hak bagi tubuh setelah seharian penuh digunakan untuk beraktivitas. Kita diwajibkan memberikan hak tidur yang cukup ini agar tubuh dapat menjalankan fungsinya dengan optimal. Oleh karena itu, selain memenuhi kebutuhan nutrisi dari makanan seperti protein serta lainnya, istirahat yang berkualitas memiliki peran yang sangat krusial bagi kesehatan tubuh kita.

Pertanyaan dari Fulan 2

Apa saran Dokter, untuk tetap aktif, bagi mereka yang memiliki pekerjaan dengan tingkat mobilitas rendah atau banyak duduk?

Jawaban:

Bagi kita yang memiliki rutinitas bekerja dari jam 8 pagi hingga 4 sore, belum lagi harus menghadapi kemacetan di kota besar, menjaga tubuh tetap aktif adalah sebuah tantangan. Namun, kita sebenarnya bisa menyiasatinya dengan melakukan aktivitas fisik ringan disela-sela jam kantor. Jangan hanya duduk seharian. Setelah 3 atau 4 jam bekerja, sempatkan diri untuk melakukan refreshing, seperti berdiri, berjalan kaki saat menemui rekan kerja, atau melakukan senam ringan (peregangan). Anda juga bisa melakukan olahraga tangan seperti menggunakan dumbel kecil, serta gerakan seperti push-up atau sit-up dengan intensitas ringan. Pastikan gerakan ini cukup untuk sekedar mengisi waktu luang dan menyegarkan tubuh tanpa membuat anda berkeringat berlebih, agar tidak mengganggu kenyamanan diri dan orang lain saat bekerja.

Penting untuk diingat bahwa aktivitas fisik di kantor tidak sama dengan olahraga. Peregangan di meja kerja, hanya berfungsi untuk melemaskan otot-otot yang kaku, sehingga kita tetap perlu meluangkan waktu khusus untuk berolahraga.

Kita bisa menjadwalkan olahraga sebelum berangkat kerja atau di malam hari setelah pulang kantor, dengan durasi minimal 30 menit per sesi, sebanyak 3 hingga 4 kali dalam seminggu. Esensi dari olahraga adalah ritme yang teratur serta peningkatan denyut jantung (heart rate) dan denyut nadi kita.

Target inilah yang ingin dicapai dari berolahraga, bukan sekedar menggerakan tubuh. Oleh karena itu, mari sempatkan waktu minimal 30 menit di setiap sesi, untuk benar-benar berolahraga demi menjaga kesehatan jangka panjang.

Pertanyaan dari Fulanah, IRT, 54 tahun

Bagaimana cara menjaga kesehatan yang efektif untuk usia 54 tahun? Olahraga apa yang paling baik dan makanan apa yang yang harus banyak saya konsumsi, Dokter?

Jawaban:

Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh. 

Memasuki usia 50 tahun, kita harus memberikan perhatian ekstra terhadap kondisi fisik. Di usia ini, rutinitas olahraga di pagi hari, sangat dianjurkan. Pilihlah jenis olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang seperti jalan kaki, bersepeda, atau berenang dengan durasi sekitar 30 menit per sesi. Sebaliknya, olahraga yang berat seperti lari, bulu tangkis, atau voli tidak disarankan lagi demi menjaga kesehatan sendi dan jantung.

Selain olahraga, pola makan juga perlu disesuaikan. Seiring bertambahnya usia, aktivitas fisik kita cenderung menurun, sehingga porsi karbohidrat sebaiknya dikurangi. Sebagai gantinya, tingkatkan konsumsi protein dan makanan tinggi serat untuk memenuhi kebutuhan vitamin serta mineral yang sangat dibutuhkan bagi tubuh di usia 50 tahun ke atas.

Dan perlu diingat untuk menghindari makanan instan atau cepat saji. Kita bisa menggantinya dengan bahan makanan dan pengolahan yang alami seperti direbus atau dikukus, karena metode ini jauh lebih sehat untuk menjaga kebugaran tubuh jangka panjang insyaallah.

0