Aqidah
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Kenali Syiah Rafidhah,  Kaum Pembenci Para Sahabat

Penulis: Abu Ady

Editor: Athirah Mustadjab


Muharram dipenuhi jejak air mata. Pada bulan ini, kaum muslimin mengingat hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebuah perjalanan agung yang dibangun di atas tauhid, pengorbanan, serta persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar. Namun, pada bulan yang sama, sejarah Islam ternoda oleh tragedi Karbala yang kemudian dijadikan pintu masuk berbagai penyimpangan aqidah dan fanatisme kelompok.

Di antara penyimpangan paling berbahaya yang lahir dari fitnah sejarah tersebut adalah Rafidhah. Mereka bukan sekadar kelompok politik, melainkan sebuah aliran aqidah yang dibangun di atas ghuluw kepada Ahlul Bait dan kebencian kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Liciknya Rafidhah, kebencian itu mereka bangun dengan topik sejarah, lantas diam-diam menjalarkannya ke fondasi agama: meragukan sahabat, mencela Ummul Mukminin, bahkan menggugat keabsahan sumber Islam.

Padahal, sebagaimana jamak diketahui oleh kaum Muslimin, agama ini sampai kepada kita melalui para sahabat: mereka mengajarkan Al-Qur’an secara luas, dan mereka meriwayatkan hadits yang merupakan cermin tutur, laku, dan persetujuan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Patut diingat pula, para sahabatlah yang menjelaskan syariat kepada umat, sehingga ajaran Islam masih hidup sampai hari ini. Oleh karenanya, ketika kehormatan sahabat diruntuhkan, sesungguhnya yang sedang diserang adalah bangunan Islam itu sendiri.

Allah Ta’ala berfirman tentang para sahabat radhiyallahu ‘anhum,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهاجِرِينَ وَالْأَنْصارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهارُ خالِدِينَ فِيها أَبَداً ذلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100)

Ayat ini turun sebagai pujian agung dari langit kepada para sahabat. Allah sendiri yang menyatakan keridhaan-Nya kepada mereka. Oleh karenanya, bagaimana mungkin muncul kelompok yang justru membangun keyakinannya di atas kebencian kepada generasi yang telah Allah ridhai?

Ibnu Katsir, di dalam Tafsir-nya,[1] berkata, “Sungguh Allah Yang Maha Agung telah mengabarkan bahwa Dia telah ridha kepada orang-orang terdahulu lagi pertama dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka, celakalah orang yang membenci mereka, mencela mereka, atau membenci dan mencela sebagian mereka.”

Beliau melanjutkan, “Terlebih lagi, pemimpin para sahabat setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang terbaik dan paling utama di antara mereka, yaitu Ash-Shiddiq Al-Akbar dan khalifah terbesar, Abu Bakar bin Abi Quhafah radhiyallahu ‘anhu. Sesungguhnya kelompok Rafidhah yang terhinakan memusuhi sahabat terbaik, membenci mereka, dan mencela mereka. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal itu.”

“Ini menunjukkan,” sambung beliau, “bahwa akal mereka telah terbalik dan hati mereka telah rusak. Di manakah posisi mereka terhadap iman kepada Al-Qur’an, sementara mereka mencela orang-orang yang telah Allah ridhai? Adapun Ahlus Sunnah, maka mereka mendoakan keridhaan bagi orang-orang yang Allah ridhai, dan mereka mencela orang-orang yang dicela oleh Allah dan Rasul-Nya. Mereka mencintai orang yang dicintai Allah dan memusuhi orang yang dimusuhi Allah. Mereka adalah pengikut, bukan pembuat bid‘ah; mereka meneladani, bukan mengada-adakan. Karena itulah, mereka adalah golongan Allah yang beruntung dan hamba-hamba-Nya yang beriman.”

Di sinilah pentingnya mengenal hakikat Rafidhah karena penyimpangan mereka merata di berbagai sisi: sejarah, fondasi agama, sumber syariat, bahkan kehormatan rumah tangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ajaran Agama yang Lahir dari Panggung Politik

Sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, umat Islam menghadapi berbagai ujian besar. Di masa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu muncul perang melawan kaum murtad. Pada masa Umar radhiyallahu ‘anhu wilayah Islam meluas dengan sangat cepat. Hingga pada masa Utsman radhiyallahu ‘anhu, fitnah mulai menyusup perlahan melalui tangan-tangan yang memendam kebencian terhadap Islam.

Di tengah keadaan itulah, muncul seorang tokoh yang banyak disebut oleh para ulama Ahlus Sunnah sebagai salah satu akar awal fitnah Rafidhah, yaitu Abdullah bin Saba’.

Imam Ath-Thabari dan Ibnu Katsir merangkum sejarah munculnya fitnah Rafidhah. Diawali dengan menyebutkan sosok Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi dari penduduk Shan’a. Ia masuk Islam pada masa Utsman, lalu berpindah-pindah di negeri kaum muslimin untuk menyesatkan mereka. Ia memulai dari Hijaz, kemudian Bashrah, Kufah, lalu Syam. Namun penduduk Syam menolaknya dan mengusirnya hingga ia pergi ke Mesir. Di sana ia berkata kepada mereka, “Sungguh aneh orang yang meyakini Isa akan kembali ke bumi tetapi mendustakan bahwa Muhammad akan kembali, padahal Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ

‘Sesungguhnya Zat yang mewajibkan Al-Qur’an kepadamu benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali.’ (QS. Al-Qashash: 85)

Lalu, tatkala orang-orang menerima pemikiran Abdullah bin Saba’ tersebut, ia mulai menyebarkan keyakinan tentang raj‘ah (dihidupkannya kembali sebagian orang ke dunia). Setelah itu, ia berkata kepada mereka, “Setiap nabi memiliki washi (orang yang diberi wasiat untuk melaksanakan suatu urusan setelah wafatnya seseorang); Ali adalah washi Muhammad. Muhammad adalah penutup para nabi dan Ali adalah penutup para washi.”

Selanjutnya, ia berkata lagi, “Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang tidak mengakui wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan merebut urusan umat dari washi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’

Ia lanjutkan hasutannya, “Utsman telah mengambil kekuasaan tanpa hak, sedangkan ini adalah washi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, bangkitlah dalam urusan ini, gerakkanlah manusia, mulailah dengan mencela para penguasa kalian, tampakkan amar makruf nahi mungkar agar manusia condong kepada kalian, lalu ajak mereka ke urusan ini!”

Setelahnya, ia menyebarkan para propagandis. Ia juga berkirim surat dengan orang-orang yang telah rusak pemikirannya di berbagai negeri. Komplotan inilah yang diam-diam menanamkan pemikirannya di tengah masyarakat, dengan dalih amar makruf nahi mungkar. Mereka tulis surat-surat tentang aib para penguasa dan saling bertukar kabar antarnegeri, hingga akhirnya kekacauan melebar hingga ke Madinah.[2] 

Fitnah memang jarang datang dengan wajah aslinya. Ia sering tampil dengan topeng, seperti “amar makruf nahi mungkar”, “membela keluarga Nabi”, atau “menuntut keadilan”. Namun, di balik kalimat manis tersebut, tersembunyi racun yang perlahan merusak aqidah umat.

Ibnu Taimiyah berkata, “Asal-usul madzhab ini berasal dari rekayasa kaum zindiq munafik yang dahulu dihukum oleh Ali Amirul Mukminin radhiyallahu ‘anhu pada masa hidupnya. Beliau membakar sebagian mereka dengan api, memerintahkan hukuman mati sebagian lainnya, lalu mereka melarikan diri dari pedangnya yang tajam. Beliau juga mengancam sebagian kelompok pendusta dengan hukuman cambuk sebagaimana disebutkan dalam berbagai riwayat mutawatir.” (Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah, 1:11)

Mengenal Syiah

Ihsan Ilahi Zhahir menyebutkan, “Kata syiah, pada asalnya, hanya digunakan untuk para pengikut dan pendukung seseorang. Dikatakan ‘Fulan termasuk syiah Fulan’, artinya orang yang mengikuti dan mendukungnya. Pada masa awal Islam, istilah ini digunakan sesuai makna aslinya, yaitu kelompok-kelompok politik yang berbeda pendapat tentang urusan pemerintahan. Istilah Syiah mulai terkenal ketika terjadi perselisihan antara Muawiyah dan Ali radhiyallahu ‘anhuma setelah terbunuhnya Utsman radhiyallahu ‘anhu. Pendukung Ali disebut Syiah Ali karena mereka membela dan mendukungnya dalam peperangan melawan Muawiyah.” (Asy-Syi‘ah wat Tasyayyu‘, hlm. 13–14)

Kendati demikian, sejarah membuktikan bahwa fanatisme itu menjelma sebagai aqidah, dengan menjadikan “kebencian kepada sahabat” sebagai bahan bakarnya. Dengan kamuflasenya, kelompok Syiah Rafidhah mencitrakan diri sebagai bagian dari Islam dengan ciri khas kecintaan pada Ahlul Bait. Pada akhirnya, banyak orang tertipu dan sepakat dengan istilah “Islam Sunni” dan “Islam Syiah”. Padahal, andai mereka berilmu tentang hakikat ajaran Syiah, niscaya mereka akan sadar bahwa Syiah Rafidhah tak layak lagi disebut “Islam”.

Konsep Imamah

Di antara pokok penyimpangan terbesar Syiah Rafidhah adalah konsep imamah atau kepemimpinan seorang Imam. Menurut mereka, kepemimpinan Ali radhiyallahu ‘anhu dan keturunannya bukan sekadar persoalan ijtihad politik, melainkan bagian inti agama yang wajib diyakini.

Asy-Syahrastani berkata, “Syiah adalah orang-orang yang mengikuti Ali radhiyallahu ‘anhu secara khusus. Mereka meyakini imamah dan kekhalifahannya berdasarkan nash dan wasiat, baik secara terang-terangan maupun tersembunyi. Mereka meyakini bahwa imamah hanya boleh diambil dari keturunan mereka. Mereka juga berkata bahwa imamah bukan sekadar urusan kemaslahatan yang diserahkan kepada pilihan manusia, melainkan merupakan pokok agama dan rukun agama yang tidak boleh diabaikan oleh para rasul.” (Al-Milal wan Nihal, 1:146)

Keyakinan ini sangat berbahaya karena berarti mereka menuduh para sahabat telah menyembunyikan perkara inti dalam agama. Seandainya imamah benar-benar rukun agama, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskannya dengan penjelasan yang sangat terang sebagaimana beliau menjelaskan syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji. Allah Ta’ala berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Agama Islam telah sempurna. Oleh karenanya, bagaimana mungkin dikatakan ada rukun agama paling besar yang justru disembunyikan dan tidak dijelaskan secara terang!

Asy-Syahrastani juga berkata, “Syiah Imamiyah adalah kelompok yang meyakini bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu menjadi imam setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdasarkan nash yang jelas dan penunjukan yang tegas menurut ajaran Syiah. Mereka berkata bahwa tidak ada perkara yang lebih penting dalam agama selain penunjukan imam. Menurut mereka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib menunjuk seseorang secara khusus sebagai pemimpin umat setelah beliau dan mereka mengklaim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjuk Ali radhiyallahu ‘anhu di beberapa tempat, baik dengan isyarat maupun terang-terangan.” (Al-Milal wan Nihal, 1:162)

Padahal kenyataannya, para sahabat justru sepakat untuk berbaiat pada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Ali radhiyallahu ‘anhu sendiri, pada saat itu, juga membaiat Abu Bakar dan hidup bersama kaum muslimin tanpa membuat kelompok khusus sebagaimana klaim Syiah Rafidhah.

Imam yang Dikultuskan

Selain menciptakan sistem imamiah, Syiah Rafidhah juga mempraktikkan sikap berlebih-lebihan terhadap para imam mereka, bahkan menempatkan para imam tersebut pada derajat yang hampir menyamai para nabi.

Al-Idrisi menjelaskan, “Menurut Syiah, fungsi imam melampaui sekadar kepemimpinan politik dan duniawi sebagaimana dalam pandangan Ahlus Sunnah. Imamah menurut mereka adalah kelanjutan dari kenabian. Fungsi imam sama dengan fungsi nabi dan sifat-sifat imam sama dengan sifat-sifat nabi. Penunjukan imam harus berdasarkan pilihan Ilahi sebagaimana penunjukan nabi. Oleh karena itu, mereka meriwayatkan berbagai narasi yang menggambarkan imam-imam mereka dengan seluruh sifat kesempurnaan yang selayaknya hanya dimiliki oleh para nabi dan rasul.” (Al-Fadhih li Madzhab Asy-Syi‘ah Al-Imamiyyah, hlm. 16–18)

Selain itu, Abul Hasan Al-Asy‘ari menjelaskan bahwa terkait keyakinan perihal keilmuan para imam, kaum Syiah Rafidhah terbagi menjadi dua kelompok: Kelompok pertama, yang meyakini bahwa imam mengetahui seluruh perkara yang telah terjadi dan yang akan terjadi. Tidak ada satu pun urusan agama maupun dunia yang tersembunyi dari ilmu mereka. Kelompok kedua, yang meyakini bahwa imam mengetahui seluruh hukum syariat meskipun tidak mengetahui segala sesuatu.” (Maqalatul Islamiyyin, 1:57)

Keyakinan semacam ini sangat bertentangan dengan prinsip aqidah Islam yang mengakui bahwa hanya Allah Ta’ala yang menguasai ilmu gaib. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib selain Allah.’” (QS. An-Naml: 65)

Terlebih lagi, kaum Muslimin pun sepakat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak mengetahui perkara gaib kecuali yang Allah wahyukan kepada beliau. Dengan demikian, bagaimana mungkin ada imam yang dianggap mengetahui seluruh rahasia alam semesta!

Kebencian terhadap Sahabat Nabi

Salah satu ciri paling jelas Syiah Rafidhah adalah kebencian kepada para sahabat, khususnya Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Ibnu Hazm berkata, “Di antara keyakinan mereka adalah bahwa seluruh sahabat radhiyallahu ‘anhum telah kafir setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena menolak imamah Ali radhiyallahu ‘anhu. Mereka juga mengatakan bahwa Ali telah kafir ketika menyerahkan urusan kekhalifahan kepada Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Kemudian, mayoritas mereka mengatakan bahwa Ali dan pengikutnya kembali masuk Islam setelah terbunuhnya Utsman ketika Ali menampakkan dirinya dan mengangkat pedangnya. Sebelum itu mereka menganggap Ali dan pengikutnya sebagai orang murtad dan musyrik.” (Al-Fashl fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal, 4:140)

Bayangkan, betapa rusaknya keyakinan seperti ini! Mereka menuduh generasi terbaik umat telah murtad, padahal Allah memuji para sahabat dalam banyak ayat di Al-Qur’an. Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan,

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Jangan cela sahabatku! Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, itu tidak akan menyamai satu mud infak mereka, bahkan tidak pula setengahnya.” (HR. Bukhari no. 2470 dan Muslim no. 2540)

Mereka adalah manusia yang dipilih Allah Ta’ala untuk menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menyaksikan turunnya wahyu. Mereka berjihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi mencintai mereka dan mereka mencintai Nabi. Bagaimana mungkin orang sebaik mereka pantas dibenci oleh para pendaku “cinta Nabi”?

Dari paparan yang disampaikan sejauh ini, terang-benderanglah bahwa penyimpangan Syiah Rafidhah bukan sekadar irisan kecil ala perbedaan mazhab, melainkan kerusakan pada akar aqidah. Secara logis, jika para sahabat dianggap pengkhianat, siapa yang membawa Al-Qur’an, yang menyampaikan hadits, dan menjaga syariat?

Ketika kebencian kepada sahabat dijadikan ibadah yang berpahala, maka yang runtuh bukan sekadar hubungan emosional dengan generasi terdahulu. Yang runtuh adalah kepercayaan terhadap Islam itu sendiri.

Tuduhan terhadap Aisyah radhiyallahu ‘anha

Ternyata, daftar panjang penyimpangan Syiah Rafidhah masih berlanjut. Kali ini, tentang tuduhan mereka terhadap Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Syiah sungguh lancang menuding Aisyah berzina, padahal Allah sendiri telah membebaskan beliau dari tuduhan dusta melalui ayat-ayat Al-Qur’an yang dapat dibaca hingga hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian juga.” (QS. An-Nur: 11)

Allah Ta’ala juga berfirman,

يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَن تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Allah memperingatkan kalian agar jangan kembali melakukan yang seperti itu selama-lamanya jika kalian orang-orang beriman. (QS. An-Nur: 17)

Tuduhan Syiah terhadap Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan menyakiti hati sang wanita mulia, sekaligus mendustakan Al-Qur’an yang telah menyatakan kesucian beliau. Aisyah adalah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan akhirat. Rumah beliau menjadi tempat turunnya wahyu. Ribuan hadits diriwayatkan melalui beliau. Oleh karenanya, ketika seseorang menghina Aisyah radhiyallahu ‘anha, sungguh ia sedang menyerang rumah kenabian.

Apa Pun Topengnya, Jangan Sampai Tertipu!

Di zaman ini, pemikiran Syiah sering dibungkus dengan slogan persatuan, perjuangan politik, atau pembelaan terhadap Palestina. Akibatnya, sebagian orang mulai berkata, “Tidak perlu mempermasalahkan aqidah Syiah.” Padahal, aqidah bukan perkara kecil.

Penyimpangan Syiah Rafidhah turut menyebar, seiring berkembangnya teknologi, melalui media digital, film, konten sejarah, narasi emosional, bahkan slogan “cinta Ahlul Bait”.

Nyatanya, Ahlul Bait yang sejati justru berlepas diri dari keyakinan batil Syiah Rafidhah tersebut. Yang benar, mencintai Ahlul Bait harus dibangun di atas ilmu yang shahih, bukan sikap emosional. Ahlus Sunnah mencintai Ali radhiyallahu ‘anhu, Hasan radhiyallahu ‘anhu, Husain radhiyallahu ‘anhu, dan seluruh keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, mereka juga mencintai Abu Bakar, Umar, Utsman, seluruh sahabat, serta istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengenal kesesatan Syiah, kaum Muslimin sangat perlu mengetahuinya. KH. Hasan Basri, Ketua Umum MUI Pusat periode 1985-1998, mengilustrasikan akibat buruk ajaran Syiah, “Dari segi ajaran, bahaya Syi'ah melebihi ekstasi dan narkotik sebab dia meracuni aqidah. Kalau ekstasi dan narkotik, dia meracuni fisik—fisik manusia. Tapi, kalau aqidah diracuni, itu sangat berbahaya sekali bagi manusia. Majelis Ulama pernah memutuskan bahwa aqidah Syiah ini tidak benar. Kemudian, kita didatangi para duta besar dari mana-mana. Yang satu mendukung kita; bagus sekali. Tapi, satu duta besar berkata, ‘Kenapa, kok, tidak menyetujui Syiah?’ Saya katakan, ‘Kami menyelamatkan aqidah kami, menyelamatkan umat kami.’

Itu yang diputuskan Majelis Ulama. Jadi, jangan bawa-bawa masalah politik, apalagi politik negara masing-masing memiliki masalah. Jadi, jangan dibawa-bawa. Murni kita pada hari ini, secara ilmiah, membicarakan Syiah ini, dengan kepala dingin. Tunjukkan! (Mengenal dan Mewaspadai penyimpangan Syiah di Indonesia, hlm. 143)

Penutup

Dengan menyaksikan bahaya Syiah Rafidhah dengan segala kepalsuan dan kelicikannya, tampaklah bahwa setiap Muslim perlu mempelajari aqidah Islam dengan benar agar dapat mengenali kelompok yang memalsukan identitas keislaman demi menyebarkan penyimpangan dan kerusakan. Kecintaan kepada Ahlul Bait harus berjalan beriringan dengan kecintaan kepada seluruh sahabat. Selain itu, loyalitas kepada Islam harus dibangun di atas ilmu dan dalil, bukan emosi dan propaganda. Semoga Allah menjaga kaum Muslimin di atas aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, yang mencintai para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berlepas diri dari setiap pemikiran yang memusuhi mereka.

Referensi

  • Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Tarikh Ath-Thabari, Ath-Thabari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Asy-Syi‘ah wat Tasyayyu‘, Ihsan Ilahi Zhahir, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Minhajus Sunnah An Nabawiyyah, Ibnu Taimiyah, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Al-Milal wan Nihal, Asy Syahrastani, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Al-Fadhih li Madzhab Asy-Syi‘ah Al-Imamiyyah, Al-Idrisi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Maqalatul Islamiyyin, Abul Hasan Al-Asy‘ari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Al-Fashl fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal, Ibnu Hazm, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Shahih Al-Bukhari, Imam Al- Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Shahih Muslim, Imam Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia, Tim Penulis MUI Pusat, Nashirus Sunnah, cetakan kedua, 2013.
0