Tautan rekaman: https://www.youtube.com/live/vQVeQKcORvo?si=h-01PiolTKA1kYOo
Keistimewaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Ditranskrip oleh: Avrie Pramoyo
Editor: Athirah Mustadjab
Mengapa Kita Perlu Mempelajarinya?
Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan berbagai karunia, kemuliaan, dan keistimewaan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak diberikan kepada orang selainnya. Keistimewaan-keistimewaan tersebut menunjukkan betapa tingginya kedudukan beliau di sisi Allah. Allah Ta’ala berfirman,
وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا
"Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu sangatlah besar." (QS. An-Nisa': 113)
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
"Dan Kami telah meninggikan sebutan (nama)-mu." (QS. Al-Insyirah: 4)
Di antara bukti ditinggikannya kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nama beliau senantiasa disebut berdampingan dengan nama Allah dalam kalimat syahadat. Ini merupakan kemuliaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun selain beliau.
Keutamaan dan Keistimewaan
Keutamaan berbeda dengan keistimewaan. Keutamaan adalah kelebihan yang dapat dimiliki pula oleh nabi-nabi lainnya, sedangkan keistimewaan adalah kekhususan yang Allah berikan hanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, dan tidak diberikan kepada nabi maupun manusia lain. Mempelajari keistimewaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki banyak manfaat.
Pertama, agar kita mengenal kedudukan beliau yang sebenarnya. Dengan mengenalnya, kita dapat memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana mestinya, tanpa merendahkan beliau dan tanpa pula berlebihan dalam memuliakannya.
Kedua, menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semakin seseorang mengenal kemuliaan, akhlak, dan berbagai keistimewaan beliau, semakin besar pula rasa cintanya. Padahal mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan bagian dari kesempurnaan iman. Beliau bersabda,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia." (Muttafaqun 'alaih)
Ketiga, menumbuhkan rasa syukur kepada Allah karena telah menjadikan kita sebagai umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia paling mulia dan penutup para nabi. Rasa syukur tersebut hendaknya diwujudkan dengan mengikuti sunnah beliau dan berpegang teguh kepada petunjuknya.
Keempat, menjadi sarana dakwah. Mengenalkan kemuliaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada manusia dapat menjadi sebab mereka mengenal Islam dan memperoleh hidayah dari Allah.
Keistimewaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Harus Berdasarkan Dalil yang Shahih
Seluruh keistimewaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib ditetapkan berdasarkan Al-Qur'an dan hadits yang shahih. Kecintaan kepada beliau tidak boleh mendorong seseorang menetapkan keutamaan yang tidak memiliki landasan syariat. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
"Dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui." (QS. Al-A'raf: 33)
Oleh karena itu, setiap pembahasan mengenai keistimewaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam harus selalu didasarkan pada dalil yang shahih.
Beberapa Keistimewaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di Dunia
Pertama, seluruh nabi berjanji untuk beriman kepada beliau. Allah mengambil perjanjian dari seluruh nabi bahwa apabila mereka hidup pada masa diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka wajib beriman kepada beliau, mengikuti syariat beliau, dan menolong perjuangan beliau. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ... لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ
"Allah mengambil perjanjian dari para nabi ... agar kalian benar-benar beriman kepadanya dan menolongnya." (QS. Ali 'Imran: 81)
Hal ini menunjukkan betapa agung kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi Allah.
Kedua, seluruh dosa beliau telah diampuni. Allah mengampuni dosa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah berlalu maupun yang akan datang. Allah Ta’ala berfirman,
لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ
"Agar Allah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang." (QS. Al-Fath: 2)
Meskipun demikian, beliau tetap menjadi hamba yang paling tekun beribadah. Ketika ditanya mengapa beliau shalat malam hingga kedua telapak kakinya bengkak, beliau menjawab,
أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا
"Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?" (Muttafaqun 'alaih)
Ketiga, Al-Qur'an adalah mukjizat yang kekal. Mukjizat terbesar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qur'an, wahyu Allah yang tetap terjaga hingga hari kiamat. Berbeda dengan mukjizat para nabi terdahulu yang disaksikan oleh kaum pada zamannya saja, Al-Qur'an terus dibaca, dihafal, dipelajari, dan menjadi petunjuk bagi manusia sepanjang zaman.
Keempat, diutus untuk seluruh manusia dan jin. Jika para nabi sebelumnya diutus hanya kepada kaum tertentu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh manusia dan jin hingga hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
"Katakanlah, 'Wahai seluruh manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua.'" (QS. Al-A'raf: 158)
Atas dasar itulah, seluruh manusia wajib beriman kepada risalah beliau.
Kelima, penutup para nabi. Allah menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup seluruh nabi dan rasul.
وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ
"Tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi." (QS. Al-Ahzab: 40)
Sesudah beliau tidak akan ada lagi nabi yang diutus hingga hari kiamat.
Keenam, Allah memanggil beliau dengan gelar kehormatan. Di dalam Al-Qur'an Allah memanggil beliau dengan panggilan yang penuh penghormatan, seperti "Wahai Nabi" (Ya ayyuhan Nabi) dan "Wahai Rasul” (Ya ayyuhar Rasul), bukan dengan nama beliau secara langsung; berbeda dengan panggilan Allah kepada nabi-nabi yang lain. Hal ini menunjukkan kemuliaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi Allah, sekaligus mengajarkan umat Islam agar selalu menjaga adab kepada beliau.
Ketujuh, dihalalkannya harta rampasan perang. Salah satu keistimewaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya adalah dihalalkannya harta rampasan perang (ghanimah). Pada umat-umat terdahulu, harta tersebut tidak boleh dimanfaatkan. Ini merupakan bentuk kemudahan dan karunia Allah bagi umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kedelapan, seluruh bumi dijadikan tempat shalat dan sarana bersuci. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا
"Seluruh bumi dijadikan bagiku sebagai tempat shalat dan sarana bersuci." (Muttafaqun 'alaih)
Syariat Islam memberikan kemudahan. Seorang muslim dapat melaksanakan shalat di mana saja selama tempatnya suci, dan ketika tidak mendapatkan air, ia dapat bertayamum dengan tanah yang suci.
Kesembilan, setan tidak dapat menyerupai beliau dalam mimpi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي
"Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia benar-benar telah melihatku, karena syaithan tidak dapat menyerupai diriku." (HR. Muslim)
Namun, mimpi tersebut harus sesuai dengan sifat-sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dijelaskan dalam hadits-hadits yang shahih.
Kesepuluh, memiliki banyak nama. Di antara nama-nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Muhammad, Ahmad, Al-Mahi, Al-Hasyir, dan Al-'Aqib; sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih. Banyaknya nama beliau merupakan salah satu bukti kemuliaan dan keagungan kedudukan beliau di sisi Allah.
Keistimewaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di Akhirat
Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia, Allah juga menganugerahkan berbagai keistimewaan kepada beliau pada hari akhir. Keistimewaan-keistimewaan ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling mulia di sisi Allah.
Pertama, mendapatkan syafaat agung (Asy-Syafa'ah Al-'Uzhma). Keistimewaan terbesar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat adalah diberikannya Asy-Syafa'ah Al-'Uzhma, yaitu syafaat terbesar bagi seluruh manusia. Ketika manusia berada di Padang Mahsyar dalam keadaan sangat berat dan menunggu keputusan Allah, mereka mendatangi para nabi secara bergantian agar memohon kepada Allah supaya hisab segera dimulai. Mereka mendatangi Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, hingga Nabi Isa 'alaihimus salam. Namun, setiap nabi merasa tidak layak dan mengarahkan mereka kepada nabi berikutnya.
Akhirnya, seluruh manusia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,
أَنَا لَهَا، أَنَا لَهَا
"Akulah yang berhak untuk itu."
Beliau kemudian bersujud memuji Allah dengan pujian yang Allah ilhamkan kepadanya. Setelah itu Allah berfirman,
يَا مُحَمَّدُ، ارْفَعْ رَأْسَكَ، وَسَلْ تُعْطَ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ
"Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu. Mintalah, niscaya engkau akan diberi. Berilah syafaat, niscaya syafaatmu diterima."
Inilah syafaat terbesar yang hanya diberikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak dimiliki oleh seorang nabi pun selain beliau.
Kedua, pemimpin seluruh manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا فَخْرَ
"Aku adalah pemimpin seluruh keturunan Adam pada hari kiamat, dan aku mengatakan ini bukan karena berbangga diri." (HR. Muslim)
Beliau adalah manusia paling mulia di dunia maupun di akhirat. Pada hari kiamat, seluruh manusia akan menyaksikan dengan nyata kemuliaan yang Allah berikan kepada beliau.
Ketiga, orang pertama yang dibangkitkan. Di antara keistimewaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau menjadi manusia pertama yang dibangkitkan dari kubur. Beliau bersabda,
وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ
"Aku adalah orang pertama yang kuburnya dibelah (dibangkitkan)." (HR. Muslim)
Ini merupakan salah satu bentuk penghormatan Allah kepada Nabi-Nya.
Keempat, orang pertama yang memberi syafaat; dan syafaatnya diterima. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ
"Aku adalah orang pertama yang memberi syafaat dan orang pertama yang syafaatnya diterima." (HR. Muslim)
Beliau adalah orang pertama yang memperoleh izin memberi syafaat, dan syafaat beliau pula yang pertama kali diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kelima, orang pertama yang memasuki surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan manusia pertama yang dibukakan pintu surga. Beliau bersabda,
آتِي بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُ
"Aku mendatangi pintu surga pada hari kiamat lalu meminta agar pintunya dibukakan."
Ketika malaikat penjaga bertanya, "Siapakah engkau?" Beliau menjawab, "Aku Muhammad." Malaikat itu pun berkata,
بِكَ أُمِرْتُ، لَا أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ
"Karena engkaulah aku diperintahkan membuka pintu surga. Aku tidak akan membukanya untuk seorang pun sebelum engkau." (HR. Muslim)
Keutamaan ini merupakan kemuliaan yang Allah khususkan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Keenam, imam bagi seluruh nabi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَنَا إِمَامُ النَّبِيِّينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَخَطِيبُهُمْ، وَصَاحِبُ شَفَاعَتِهِمْ، غَيْرَ فَخْرٍ
"Aku adalah imam para nabi pada hari kiamat, juru bicara mereka, dan pemilik syafaat bagi mereka, tanpa berbangga diri."
Beliau menjadi pemimpin para nabi dan memperoleh kedudukan yang tidak dimiliki oleh nabi lainnya.
Ketujuh, pemegang Liwa'ul Hamd. Di antara keistimewaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau membawa Liwa'ul Hamd (Panji Pujian) pada hari kiamat. Beliau bersabda,
وَبِيَدِي لِوَاءُ الْحَمْدِ وَلَا فَخْرَ
"Di tanganku terdapat Panji Pujian, dan aku mengatakan ini bukan karena berbangga diri."
Dalam riwayat lain beliau menjelaskan bahwa seluruh nabi, mulai dari Nabi Adam hingga nabi-nabi sesudahnya, berada di bawah panji tersebut. Liwa'ul Hamd merupakan lambang kemuliaan yang Allah berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjadi bukti bahwa beliau adalah pemimpin seluruh manusia pada hari kiamat.
Menumbuhkan Cinta dan Ittiba’
Keistimewaan-keistimewaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat semakin menegaskan tingginya kedudukan beliau di sisi Allah. Mengenal kemuliaan tersebut seharusnya menambah kecintaan, penghormatan, dan semangat untuk mengikuti sunnah beliau.
Namun, kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam harus diwujudkan sesuai tuntunan syariat, tanpa sikap berlebihan dan tanpa menetapkan keistimewaan yang tidak memiliki dalil yang shahih. Kemuliaan beliau cukup kita yakini sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Menjaga Kemuliaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan Dalil yang Shahih
Mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan bagian dari keimanan. Namun, kecintaan tersebut harus dibangun di atas ilmu dan dalil yang shahih. Oleh karena itu, setiap keistimewaan yang dinisbatkan kepada beliau wajib memiliki landasan yang benar dari Al-Qur'an atau hadits yang shahih.
Di tengah masyarakat, masih beredar berbagai riwayat lemah bahkan palsu yang mengatasnamakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian orang menyebarkannya dengan alasan ingin memuliakan beliau. Padahal, memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak boleh dilakukan dengan cara menyandarkan kepada beliau sesuatu yang tidak pernah beliau sabdakan.
Di antara riwayat yang tidak shahih adalah hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan nabi pertama yang diciptakan. Hadits yang tidak shahih tersebut menjelaskan tentang "Cahaya Muhammad", bahwa beliau diciptakan dari cahaya Allah sebelum seluruh makhluk. Selain itu, juga terdapat hadits lain yang juga tidak shahih, yaitu hadits tentang tawassul Nabi Adam 'alaihissalam dengan hak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bertobat, serta hadis yang menyatakan, "Barang siapa menziarahi kuburku, maka wajib baginya memperoleh syafaatku." Para ulama ahli hadits menjelaskan bahwa riwayat-riwayat tersebut tidak dapat dijadikan hujjah karena lemah, bahkan ada yang berstatus palsu.
Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berhati-hati sebelum menyampaikan sebuah hadis. Tidak semua ucapan yang terdengar indah atau menggugah semangat memiliki dasar yang benar dalam syariat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan peringatan yang sangat keras kepada siapa saja yang berdusta atas nama beliau. Beliau bersabda,
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barang siapa sengaja berdusta atas namaku, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di dalam neraka." (Muttafaqun 'alaih)
Hadits ini menunjukkan bahwa berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dosa besar. Oleh sebab itu, setiap muslim hendaknya memastikan kebenaran sebuah riwayat sebelum menyampaikan atau mengamalkannya.
Penutup
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menganugerahkan berbagai keistimewaan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik di dunia maupun di akhirat. Seluruh keistimewaan tersebut menunjukkan bahwa beliau adalah penutup para nabi, pemimpin seluruh manusia, dan makhluk yang paling mulia di sisi Allah.
Mempelajari keistimewaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenal kedudukan beliau dengan benar, menumbuhkan rasa cinta, memperkuat rasa syukur karena menjadi bagian dari umat beliau, serta mendorong kita untuk semakin berpegang teguh kepada sunnahnya.
Bukti cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah dengan sikap berlebihan ataupun menyebarkan riwayat-riwayat yang tidak shahih, tetapi dengan menaati perintah beliau, menjauhi larangannya, menghidupkan sunnahnya, serta menjadikan ajarannya sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang benar-benar mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, istiqamah mengikuti sunnahnya, memperoleh syafaat beliau pada hari kiamat, dan dikumpulkan bersama beliau di surga-Nya.
Wallahu Ta’ala a'lam.