Khotbah Jumat


Kebodohan yang Membinasakan Diri Sendiri dan Orang Lain

Penulis: Abu Ady

Editor: Athirah Mustadjab


Khotbah Pertama

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، وَالدَّاعِي إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى حَقَّ التَّقْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ مَا يَتَقَرَّبُ بِهِ الْعَبْدُ إِلَى رَبِّهِ أَنْ يَعْبُدَهُ عَلَى عِلْمٍ وَبَصِيرَةٍ، وَأَنَّ مِنْ أَخْطَرِ مَا يَقَعُ فِيهِ الْإِنْسَانُ أَنْ يَتَكَلَّمَ فِي دِينِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah ….

Bertakwalah kepada Allah Ta’ala dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan ketahuilah bahwa di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada seorang hamba adalah ilmu. Dengan ilmu, seseorang dapat mengenal Rabbnya. Dengan ilmu, ia mengetahui bagaimana cara beribadah. Dengan ilmu, ia dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

Sebaliknya, kebodohan adalah kegelapan. Seseorang yang berjalan tanpa ilmu dapat tersesat. Lebih dari itu, ia juga dapat menyeret orang lain ke dalam kesesatan. Tidak semua kebodohan berdampak pada diri orang yang bodoh itu semata; ada kebodohan yang melukai orang lain. Bahkan, ada kebodohan yang menjadi sebab hilangnya nyawa seseorang.

Inilah yang hendaknya kita renungkan melalui sebuah kisah yang terjadi pada masa Rasulullah. Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa berbicara tentang agama tanpa ilmu bukanlah perkara ringan. Seseorang mungkin menganggap jawabannya sederhana. Ia mungkin merasa sedang membantu. Ia mungkin merasa yakin dengan pendapatnya. Akan tetapi, satu jawaban yang keluar dari lisan tanpa ilmu dapat menjadi sebab terjadinya kerusakan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma bahwa para sahabat sedang berada dalam suatu perjalanan, lalu sebuah batu mengenai salah seorang di antara mereka hingga melukai kepalanya. Kemudian ia mengalami mimpi basah, ia mengetahui bahwa mandi janabah adalah kewajiban. Akan tetapi, kepalanya sedang terluka. Penggunaan air dikhawatirkan dapat membahayakan dirinya.

Kemudian, ia bertanya kepada orang-orang yang berada bersamanya,

هَلْ تَجِدُونَ لِي رُخْصَةً فِي التَّيَمُّمِ؟

“Apakah kalian menemukan keringanan bagiku untuk bertayamum?”

Orang-orang tersebut menjawab,

مَا نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَأَنْتَ تَقْدِرُ عَلَى الْمَاءِ.

“Kami tidak menemukan keringanan bagimu selama engkau masih mampu menggunakan air.”

Setelah itu, sahabat tersebut mandi dengan menggunakan air, padahal kepalanya sedang terluka. Akibatnya, kondisinya semakin parah, hingga akhirnya ia meninggal dunia.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar kejadian tersebut, beliau sangat marah terhadap orang-orang yang memberikan jawaban tersebut. Rasulullah bersabda,

قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللَّهُ، أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ، إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ.

“Mereka telah membunuhnya! Semoga Allah membinasakan mereka! Mengapa mereka tidak bertanya ketika mereka tidak mengetahui? Sesungguhnya obat bagi ketidaktahuan adalah bertanya. Sesungguhnya cukuplah baginya untuk bertayamum.” (HR. Abu Daud no. 336 dan Ibnu Majah no. 572)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah ….

Perhatikanlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

قَتَلُوهُ.

“Mereka telah membunuhnya.”

Mereka tidak memegang senjata. Mereka tidak menusuk tubuh sahabat tersebut. Mereka tidak memukulnya. Mereka tidak secara langsung menghilangkan nyawanya. Akan tetapi, Rasulullah menyatakan bahwa mereka telah membunuhnya karena mereka menjadi sebab kematiannya. Sebuah jawaban keluar dari lisan mereka. Jawaban itu kemudian dipercaya dan diamalkan oleh orang lain. Akibatnya, seseorang kehilangan nyawanya.

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa Rasulullah mendoakan keburukan atas mereka karena mereka memberikan fatwa tanpa ilmu, lalu fatwa tersebut menjadi sebab kematian orang tersebut. Beliau berkata “Nabi mendoakan keburukan atas mereka karena mereka telah memberikan fatwa tanpa ilmu.” (I'lam Al-Muwaqqi'in 'an Rabbil 'Alamin, 2:165)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah ….

Berbicara tentang agama bukanlah seperti berbicara tentang perkara biasa. Ketika seseorang berkata, “Ini halal,” atau, “Ini haram,” ketika ia menjelaskan sebuah ibadah, menafsirkan ayat, menjelaskan hadis, atau menetapkan hukum Allah tanpa dasar ilmu yang benar, sesungguhnya ia sedang berbicara dalam perkara yang sangat besar. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ.

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya Rabbku hanya mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dosa, perbuatan zalim tanpa hak, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan tentangnya, dan kalian mengatakan tentang Allah apa yang tidak kalian ketahui.’” (QS. Al-A'raf: 33)

Berbicara tentang Allah tanpa ilmu adalah perkara yang sangat berbahaya. Seorang hamba tidak boleh menjadikan dugaan sebagai dasar dalam agama. Seseorang tidak boleh merasa mengetahui seluruh persoalan agama hanya karena ia pernah mendengar sebuah ceramah, membaca satu tulisan, atau menonton satu video.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah ….

Kebodohan adalah penyakit. Akan tetapi, Islam tidak mengajarkan kepada kita untuk malu mengakui bahwa kita belum mengetahui. Ketidaktahuan bukanlah aib. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang tidak mengetahui, tetapi ia tidak mau belajar. Yang lebih berbahaya lagi adalah ketika seseorang tidak mengetahui, tetapi berani memberikan jawaban.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada hadits sebelumnya,

فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ.

“Sesungguhnya obat bagi ketidaktahuan adalah bertanya.” (HR. Abu Daud no. 336 dan Ibnu Majah no. 572)

Jika seseorang tidak mengetahui suatu permasalahan, ia dapat menemukan jalan keluar dari kebodohan. Ia dapat bertanya. Ia dapat belajar. Ia dapat mencari penjelasan dari orang yang memiliki ilmu. Namun, jika seseorang tidak mengetahui tetapi merasa harus selalu memberikan jawaban, maka ia justru sedang membuka pintu kesalahan bagi dirinya dan orang lain. Allah Ta’ala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ.

“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، مَنْ عَلِمَ مِنْكُمْ شَيْئًا فَلْيَقُلْ بِهِ، وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلْ: اللَّهُ أَعْلَمُ.

“Wahai manusia, siapa di antara kalian yang mengetahui sesuatu, hendaklah ia mengatakannya. Adapun siapa yang tidak mengetahui, hendaklah ia mengatakan, ‘Allah lebih mengetahui.’” (HR. Bukhari no. 4531)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah ….

Setiap orang yang berbicara tentang agama harus mengetahui batas ilmunya. Ia harus mengetahui kapan ia dapat menjawab dan kapan ia harus diam. Kapan ia harus menjelaskan dan kapan ia harus berkata, “Silakan tanyakan kepada orang yang lebih mengetahui.” Tidak semua pertanyaan harus kita jawab. Tidak semua masalah harus kita komentari. Tidak semua persoalan agama harus kita berikan pendapat.

Jika satu jawaban salah, mungkin jawaban itu tidak berhenti pada satu orang. Orang yang mendengar akan menyampaikan kembali kepada orang lain. Orang lain itu mengamalkannya. Kemudian kesalahan itu menyebar dari satu lisan ke lisan yang lain. Ketika seseorang berbicara tanpa ilmu, ia mungkin tidak dapat membayangkan seberapa jauh kerusakan dari perkataannya.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah ….

Kita telah melihat bagaimana kebodohan dapat menjadi sebab kematian orang lain. Orang-orang tersebut tidak mengetahui hukum, tetapi mereka berani memberikan jawaban. Kesalahan mereka akhirnya menjadi sebab meninggalnya seorang sahabat.

Namun, kebodohan tidak hanya dapat membahayakan orang lain. Ada kebodohan yang menghancurkan pelakunya sendiri. Ada kebodohan yang membuat seseorang tersesat, lalu ia menyesatkan orang lain.

Untuk memahami hal ini, marilah kita renungkan kisah yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut dalam sabda beliau,

كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ، فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ، فَأَتَاهُ فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: لَا، فَقَتَلَهُ، فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً.

“Dahulu, pada umat sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa. Kemudian ia bertanya tentang orang yang paling berilmu di muka bumi. Ia ditunjukkan kepada seorang rahib. Ia pun mendatanginya dan berkata bahwa dirinya telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa. Apakah masih ada kesempatan baginya untuk bertobat? Rahib itu menjawab, ‘Tidak.’ Maka orang itu pun membunuhnya sehingga genaplah seratus jiwa.” (HR. Bukhari no. 3283 dan Muslim no. 2766)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah ….

Laki-laki tersebut telah melakukan dosa yang sangat besar. Namun, ternyata di dalam hatinya masih ada keinginan untuk kembali kepada Allah. Ia ingin bertobat. Ia ingin mengetahui apakah pintu ampunan masih terbuka.

Ia bertanya kepada seorang rahib, seorang ahli ibadah. Namun, ahli ibadah tersebut tidak memiliki ilmu yang cukup untuk menjawab pertanyaannya. Ia melihat besarnya dosa orang tersebut, lalu menjawab bahwa tidak ada lagi tobat baginya.

Satu jawaban yang salah itu memiliki akibat yang sangat besar. Orang tersebut kehilangan harapan dan akhirnya membunuh rahib itu. Genaplah seratus jiwa yang telah ia bunuh.

Perhatikanlah, jamaah sekalian! Kebodohan rahib tersebut tidak hanya menyesatkan orang lain. Kebodohan itu akhirnya membinasakan dirinya sendiri. Akan tetapi, laki-laki tersebut tidak berhenti mencari jawaban. Ia kembali bertanya dan akhirnya ditunjukkan kepada seorang alim.

Kepada orang alim tersebut, ia mengajukan pertanyaan yang sama. Ia telah membunuh seratus jiwa. Apakah masih ada jalan untuk kembali kepada Allah?

Orang alim itu menjawab,

نَعَمْ، وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ؟

“Ya. Siapakah yang dapat menghalanginya dari tobat?” (HR. Muslim no. 2766)

Betapa berbeda jawaban seorang alim dengan jawaban orang yang berbicara tanpa ilmu. Orang alim itu mengetahui keluasan rahmat Allah. Ia mengetahui bahwa sebesar apa pun dosa seorang hamba, pintu tobat tetap terbuka selama seseorang benar-benar bertobat kepada Allah sebelum datang batas akhir yang telah ditentukan.

Namun, orang alim tersebut tidak hanya memberikan jawaban. Ia memberikan jalan keselamatan. Ia berkata,

انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ تَعَالَى، فَاعْبُدِ اللَّهَ مَعَهُمْ، وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ، فَإِنَّهَا أَرْضُ سُوءٍ.

“Pergilah ke negeri anu dan anu. Sesungguhnya di sana terdapat orang-orang yang beribadah kepada Allah Ta’ala. Maka beribadahlah kepada Allah bersama mereka. Dan janganlah engkau kembali ke negerimu, karena negerimu adalah lingkungan yang buruk.” (HR. Muslim no. 2766)

Laki-laki tersebut pun meninggalkan negeri yang buruk. Ia meninggalkan lingkungan yang dahulu menjadi bagian dari kehidupannya yang penuh dosa. Ia berjalan menuju lingkungan yang baik, menuju orang-orang yang beribadah kepada Allah.

Akan tetapi, kematian menjemputnya di tengah perjalanan. Dalam hadis tersebut dikabarkan bahwa para malaikat rahmat dan para malaikat azab berselisih tentangnya. Kemudian Allah memerintahkan agar diukur jarak antara negeri yang telah ia tinggalkan dan negeri yang hendak ia tuju. Ternyata ia lebih dekat kepada negeri orang-orang saleh. Maka Allah memberikan rahmat dan ampunan kepadanya.

Allahu akbar! Dua orang memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang sama. Pertanyaannya sama. Orang yang bertanya juga sama. Dosa yang dibicarakan juga sama. Akan tetapi, perbedaan ilmu menghasilkan jawaban yang sangat berbeda.

Yang pertama adalah seorang ahli ibadah yang tidak memiliki ilmu untuk menjawab persoalan tersebut. Ia memberikan jawaban yang salah, lalu jawabannya menjadi sebab bertambahnya satu korban. Yang kedua adalah seorang alim. Dengan ilmu yang dimilikinya, ia memberikan jawaban yang benar dan menunjukkan jalan keselamatan.

Inilah salah satu perbedaan besar antara ilmu dan kebodohan. Ilmu adalah cahaya yang membantu seseorang melihat jalan yang benar. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ.

“Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah ….

Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa banyak beribadah tidak selalu berarti seseorang memiliki ilmu untuk menjawab seluruh persoalan agama. Rahib tersebut adalah seorang ahli ibadah. Akan tetapi, ketika ia berbicara dalam perkara yang tidak diketahuinya, ia melakukan kesalahan yang sangat besar.

Oleh karena itu, janganlah kita mengambil ilmu hanya karena seseorang tampak saleh. Jangan hanya karena ia terkenal. Jangan hanya karena ia memiliki banyak pengikut. Jangan pula hanya karena ia pandai berbicara. Kesalehan dan kefasihan berbicara bukanlah satu-satunya ukuran bahwa seseorang memiliki kemampuan untuk menjelaskan agama Allah. Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata,

تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ فِتْنَةِ الْعَابِدِ الْجَاهِلِ، وَفِتْنَةِ الْعَالِمِ الْفَاجِرِ، فَإِنَّ فِتْنَتَهُمَا فِتْنَةٌ لِكُلِّ مُفْتُونٍ.

“Berlindunglah kepada Allah dari fitnah seorang ahli ibadah yang bodoh dan fitnah seorang alim yang durhaka. Sesungguhnya fitnah keduanya adalah fitnah bagi setiap orang yang tertimpa fitnah.” (Akhlaqul ‘Ulama, hlm. 87)

Mengapa seorang ahli ibadah yang bodoh dapat menjadi fitnah bagi manusia? Karena manusia melihat ibadahnya. Mereka melihat kesalehannya. Mereka kemudian percaya kepada setiap perkataannya. Ketika ia berbicara tanpa ilmu, manusia mungkin menerima ucapannya bukan karena adanya dalil, tetapi karena terpesona dengan pribadinya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya manusia mengikuti para ulama dan ahli ibadah mereka. Apabila para ulama berbuat durhaka dan para ahli ibadah bodoh, maka musibah akan meluas karena keduanya dan kerusakan pun menjadi besar bagi kalangan khusus maupun masyarakat umum.” (Miftah Daris Sa’adah, 1:160)

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khotbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ حَمْدَ الشَّاكِرِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالنَّجْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah ….

Dari dua kisah yang telah kita renungkan, kita melihat dua bentuk kerusakan akibat kebodohan. Pada kisah pertama, orang-orang yang tidak mengetahui memberikan jawaban tanpa ilmu, dan kesalahan mereka menjadi sebab kematian orang lain. Pada kisah kedua, seorang ahli ibadah yang tidak memiliki ilmu memberikan jawaban yang salah, dan jawabannya itu menjadi sebab dirinya sendiri terbunuh.

Dua kisah. Dua bentuk kebodohan. Akan tetapi, keduanya membawa kita kepada satu pelajaran besar: jangan pernah meremehkan kebodohan, terutama dalam perkara agama.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا كُلَّهَا، دِقَّهَا وَجِلَّهَا، أَوَّلَهَا وَآخِرَهَا، عَلَانِيَتَهَا وَسِرَّهَا.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا.

اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا، وَثَبِّتْنَا عَلَى الْحَقِّ وَالْهُدَىٰ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَزَكِّ نُفُوسَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَاغْفِرْ ذُنُوبَنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، وَلَا تَجْعَلْهُ مُلْتَبِسًا عَلَيْنَا فَنَضِلَّ.

اللَّهُمَّ احْفَظْنَا مِنَ الْجَهْلِ وَالضَّلَالِ، وَاحْفَظْنَا مِنَ الْقَوْلِ عَلَيْكَ بِغَيْرِ عِلْمٍ، وَارْزُقْنَا التَّثَبُّتَ وَالتَّبَيُّنَ وَالْحِكْمَةَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ.

اللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَلَبِ الْعِلْمِ النَّافِعِ، وَاجْعَلْنَا مِفْتَاحًا لِلْخَيْرِ، مِغْلَاقًا لِلشَّرِّ، وَاجْعَلْ عِلْمَنَا حُجَّةً لَنَا وَلَا تَجْعَلْهُ حُجَّةً عَلَيْنَا.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَفِتْنَةٍ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

وَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Referensi

  • Shahih Al-Bukhari, Imam Al-Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Shahih Muslim, Imam Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Sunan Abu Daud, Abu Daud, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Sunan Ibnu Majah, Ibnu Majah, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • I'lam Al-Muwaqqi'in 'an Rabbil 'Alamin, Ibnul Qayyim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Miftah Daris Sa’adah, Ibnul Qayyim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Akhlaqul ‘Ulama, Al Ajurri, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
9