Kebaikan Dakwah Menembus Batas Negeri
Penulis: Leny Hasanah
Editor: Subhan Hardi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ، لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat, serta semua makhluk di langit dan di bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan (di lautan), benar-benar bershalawat dan mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan (ilmu agama) kepada manusia.” (HR. At-Tirmidzi)
Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi’i (STDIIS) Jember melepas mahasiswanya untuk menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di berbagai daerah di Indonesia periode Juli-Agustus 2025. Selain belajar hidup bermasyarakat, mereka juga hadir menebarkan cahaya ilmu syar’i dan membumikan nilai-nilai Islam.
HSI BERBAGI turut membersamai langkah ini. Melalui dukungan dana, mahasiswa STDI Imam Syafi’i Jember dalam KKN di 8 wilayah binaan HSI BERBAGI mendapatkan energi tambahan untuk menunaikan amanah dakwah. Lalu, bagaimana perjalanan KKN para mahasiswa ini? Berikut laporannya.
Menembus Pedalaman Mentawai
Akhuna Yusrial Rahman, Ketua TIM 12 Mentawai KKN STDIIS Jember, menceritakan beratnya medan yang harus ditempuh menuju Madobag, Kecamatan Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Dari Padang mereka menumpang kapal Mentawai Fast sejak pagi dan baru tiba sore hari. Perjalanan belum selesai, masih ada dua setengah jam perjalanan darat melewati jalan rusak, apalagi bila turun hujan.
“Medannya sangat menantang dan menguras energi,” katanya sambil mengenang perjalanan.
Namun rasa lelah itu terbayar lunas saat mereka tiba. Walau muslim di Madobag hanya sekitar 19 persen, sambutan masyarakat begitu ramah. Akhuna Yusrial terkesan dengan semangat belajar para mualaf. “Mereka bahkan lebih bersemangat daripada kita yang tinggal di kota,” ujarnya.
Selama menjalani KKN di Mentawai, para mahasiswa mengisi kekosongan guru agama, mengajar di TPQ, memberikan pelatihan komputer dasar, dan menyalurkan mushaf serta Iqra. Sebanyak 100 mushaf dan 100 Iqra yang dititipkan HSI BERBAGI telah diterima Masjid Al-Ikhwah dan dibagikan ke dua masjid lain.
Dana zakat dari HSI BERBAGI sebesar Rp30 juta juga disiapkan untuk mendukung mustahik yang ada di Mentawai, ditambah penyaluran 150 paket sembako bagi keluarga muslim setempat.
“Kami mengucapkan jazaakumullahu khairan wa barakallahu fiikum kepada para muhsinin. Bantuan ini benar-benar membuka jalan dakwah dan menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat muslim pedalaman,” ucap Akhuna Yusrial penuh syukur.
Taparia, Dakwah dan Air Bersih
Berbeda medan, tetapi semangat serupa juga terasa di Taparia, Mamuju. Akhuna Ammar Syaifuddin, Ketua Tim Kelompok 11 KKN, menyebut kegiatan mereka sudah berjalan dengan hasil yang nyata. Beberapa mushaf telah dibagikan ke TPQ dan santri di LKSA Ansharussunnah.
Selain menghidupkan kembali TPQ yang sempat tidak aktif, mahasiswa menginisiasi pasar murah, mengadakan sosialisasi pendidikan karakter, hingga membangun sumur bor dan menara tandon bersama Yayasan Minhajussunnah Surabaya. Dana zakat yang disalurkan pun diarahkan untuk beasiswa santri dan santunan mustahiq di sembilan dusun.
“Anak-anak sangat antusias ikut mengaji. Alhamdulillah, kegiatan yang sebelumnya terhenti kini bisa berjalan lagi,” kata Akhuna Ammar.
Pelatihan Mengurus Jenazah di Pacitan
Sementara itu di Pacitan, Dusun Srau diselenggerakan pelatihan pengurusan jenazah sesuai sunnah. Akhuna Hudzaifah Ibnu Anwar, Ketua Kelompok 7, menuturkan bagaimana masih ditemui praktik yang kurang tepat, misalnya jenazah perempuan dimandikan laki-laki non-mahram atau adanya adat yang memberatkan keluarga.
“Alhamdulillah, kolaborasi dengan HSI BERBAGI memberi solusi, bukan hanya ilmu, tetapi juga fasilitas yang sangat dibutuhkan,” jelasnya.
Melalui dukungan sebesar Rp 11 juta, kini warga memiliki tenda pemandian, selang, dan drum yang menjaga kehormatan jenazah. Sebanyak 50 warga bersama mahasiswa turut belajar praktik mulai dari memandikan, mengkafani, hingga menyalatkan jenazah.
Tak berhenti di situ, kelompok Pacitan juga menyalurkan dana zakat Rp 30 juta untuk pemberdayaan ekonomi dan sosial: membantu yatim, fakir, miskin, janda, kesehatan, UMKM, dan pendidikan. Kegiatan pasar murah pakaian layak pakai pun sukses terlaksana.
“Kami berharap, setelah KKN ini selesai pada tanggal 15 Agustus, ada program lanjutan berupa calon dai dan beasiswa bagi masyarakat yang siap dibina,” kata Akhuna Hudzaifah menutup keterangannya.
Sinergi Dakwah dan Sosial
Ketua Divisi HSI BERBAGI, Akhuna Mujiman Abu Ibrahim, menegaskan bahwa dukungan ini adalah bagian dari strategi dakwah berkelanjutan. “Kami ingin kerja sama ini tak hanya mendukung kegiatan mahasiswa, tapi juga memperkuat kepercayaan masyarakat. Dakwah bukan hanya ceramah, tetapi hadir lewat aksi nyata sosial kemasyarakatan,” ujarnya.
Akhuna Mujiman menyebutkan bahwa delapan lokasi KKN tahun ini adalah bagian dari wilayah binaan dakwah HSI Berbagi meliputi wilayah Mentawai, Empat Lawang, Empat Lawang, Mamuju, Pacitan, Wonogiri, Lebak Banten, dan dua titik lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Setiap kelompok KKN menerima Rp 30 juta dana zakat, bantuan transportasi mahasiswa dan dosen pembimbing, distribusi Al Qur’an dan buku Iqra, serta pakaian layak pakai. Semua bantuan ini diintegrasikan ke dalam program sosial mahasiswa di lapangan.
Akhuna Mujiman menambahkan, kehadiran mahasiswa hanyalah fase awal. Selepas KKN, akan ada Program Kafilah Dakwah yang mengirimkan dai untuk melanjutkan pembinaan. “Semoga donasi yang diberikan menjadi amal jariyah. Kami mengajak para muhsinin untuk terus mendukung dakwah berkelanjutan ini,” tambahnya.
Di Balik Layar Koordinasi
Akhuna Yusnizar R. Ramadhan, tim HSI BERBAGI yang dipercaya sebagai penghubung dengan mahasiswa STDIIS, menuturkan awal keterlibatannya. Ia ditunjuk oleh Ketua Yayasan HSI AbdullahRoy, Heru Nur ihsan, agar koordinasi lebih efisien tanpa harus bolak-balik Solo–Jember.
“Karena saya mengenal mahasiswa, asatidzah, dan staf, maka diharapkan bisa menjadi pintu masuk HSI BERBAGI dalam menjelaskan program KKN ini,” ujarnya.
Perannya beragam. Mulai menjadi penyambung lidah antara HSI Berbagi, kampus, dengan mahasiswa, melakukan audiensi, hingga mengecek kesiapan program sebelum keberangkatan. “Ada yang di-acc, ada yang perlu disesuaikan. Semua dibicarakan lebih dulu,” jelasnya.
Proses koordinasi sendiri dilakukan lewat empat grup komunikasi yang terdiri dari panitia HSI BERBAGI, para ketua kelompok, tiap kelompok, dan asatidzah/masyarakat lokasi KKN. Meski sempat terjadi miskomunikasi, klarifikasi langsung membantu mahasiswa lebih yakin menerima program.
Tantangan terbesar, menurutnya, adalah kondisi lapangan yang mengakibatkan sulit sinyal, jarak tempuh antar daerah yang jauh, hingga perbedaan kebiasaan masyarakat. “Karena itu mahasiswa dibekali pemahaman sosial masyarakat agar dakwah mereka tidak ditolak,” kata Akhuna Yusnizar.
Untuk memastikan penyaluran tepat sasaran, HSI BERBAGI membuat SOP detail hingga format dokumentasi dan laporan. “Alhamdulillah mahasiswa paham, dan HSI BERBAGI juga terus memantau via grup,” imbuhnya.
Akhuna Yusnizar juga membagikan respon mahasiswa terkait program HSI Berbagi ini. Menurutnya mereka tampak senang sekaligus waswas. “Senang karena ada dukungan dana dan transportasi, berbeda dengan kelompok lain yang harus mencari donasi sendiri. Namun, was was karena lokasi yang jauh, minim syiar agama, dan tantangan sosial yang lebih berat,” paparnya.
Perihal pelaporan turut diperhatikan dalam program ini. “Ada standar format laporan dari HSI BERBAGI, mulai dari dokumentasi, input data, hingga laporan akhir. Insyaallah laporan final akan masuk setelah mereka selesai KKN pada pertengahan Agustus 2025,” pungkas Akhuna Yusnizar.
Dari pedalaman Mentawai hingga dusun kecil di Pacitan, mahasiswa STDIIS bersama HSI BERBAGI tampak menorehkan jejak kebaikan yang mudah-mudahan tak hanya dirasakan seketika, tetapi juga membuka jalan dakwah dan penguatan umat dalam jangka panjang. Perjalanan mereka mengajarkan bahwa ilmu dan amal akan selalu menemukan jalannya untuk memberi manfaat bagi sesama.