Kasih-Sayang pada Hewan Sembelihan
Penulis: Abu Ady
Editor: Za Ummu Raihan
Khutbah Pertama
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاتُهُ.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِيْنَا رَسُوْلًا مِّنَّا يَتْلُوْ عَلَيْنَا اٰيَاتِهِ وَيُزَكِّيْنَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ، أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْجَمَّةِ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْــــكَ لَهُ شَهَادَةً تَكُوْنُ لـِمَنِ اعْتَصَمَ بِـهَا خَيْرَ عِصْمَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ لِلْعَالـَمِيْنَ رَحْمَةً، وَفَرَضَ عَلَيْهِ بَيَانَ مَا أَنْزَلَ إِلَيْنَا فَأَوْضَحَ لَنَا كُلَّ الْأُمُوْرِ الـْمُهِمَّةِ، فَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ،
صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالْهِمَّةِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ،
أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah Subhanahu wa Ta‘ala,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu takwa yang membuahkan ketaatan dalam melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya.
Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah Subhanahu wa Ta‘ala
Pada kesempatan khutbah hari ini, kita akan membahas tema penting yang sering kali luput dari perhatian, yaitu berbuat baik kepada hewan saat penyembelihan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ
"Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan (baik) dalam segala hal. Maka jika kalian membunuh, bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan memberikan kenyamanan kepada hewan sembelihannya." (HR. Muslim no. 1955)
Hadis ini menunjukkan bahwa berbuat baik (ihsan) adalah perintah dalam setiap aspek kehidupan, termasuk kepada hewan. Kita diperintahkan untuk bersikap baik saat memelihara hewan, dan lebih-lebih saat hendak menyembelihnya.
Syaikh Ali al-Qari rahimahullah berkata:
“Bentuk ihsan saat menyembelih adalah dengan bersikap lembut kepada hewan tersebut.” (Al-Mubīn al-Mu‘īn, hlm. 327)
Bahkan Dr. Bandar Al-‘Abdali menjelaskan:
“Ihsan kepada hewan adalah dengan bersikap lembut kepadanya serta memperlakukannya dengan baik dalam proses membunuh dan menyembelihnya.” (Ad-Durar As-Saniyyah, hlm. 88)
Maka, penyembelihan bukan sekadar proses untuk mendapatkan daging, namun juga merupakan manifestasi dari kelembutan dan akhlak Islam terhadap makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala.
Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah Subhanahu wa Ta‘ala
Lalu, bagaimana bentuk ihsan atau sikap lemah lembut terhadap hewan saat menyembelih?
Dr. Nazhim Al-Misbah menjelaskan bahwa ihsan dalam menyembelih mencakup memenuhi syarat-syarat, menjalankan kewajiban, dan memperhatikan anjuran-anjuran syariat Islam. Di antaranya adalah:
Menggunakan Alat Tajam yang Mengalirkan Darah
Seorang sahabat bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَفَنَذْبَحُ بِالْقَصَبِ؟
Bolehkah kami menyembelih dengan bambu?
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
مَا أَنْهَرَ الدَّمَ، وَذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ فَكُلُوهُ، لَيْسَ السِّنَّ وَالظُّفُرَ، وَسَأُحَدِّثُكُمْ عَنْ ذَلِكَ: أَمَّا السِّنُّ فَعَظْمٌ، وَأَمَّا الظُّفُرُ فَمُدَى الْحَبَشَةِ.
“Apa saja yang dapat mengalirkan darah dan disebut nama Allah padanya, maka makanlah. Kecuali gigi dan kuku. Aku akan jelaskan kepada kalian tentang itu: adapun gigi, maka ia adalah tulang. Sedangkan kuku adalah pisau orang-orang Habsyah (Etiopia).” (HR. Bukhari no. 2488 dan Muslim no. 1968)
Memotong Tenggorokan, Kerongkongan, dan Dua Urat Nadi Sekaligus
Menyembelih yang sempurna adalah dengan memotong tenggorokan, kerongkongan, dan dua urat nadi leher secara bersamaan. Namun, apabila tidak memungkinkan, maka diperbolehkan dengan cara lain yang memungkinkan sesuai kondisi. Diriwayatkan dari salah seorang sahabat:
وَأَصَبْنَا نَهْبَ إِبِلٍ وَغَنَمٍ، فَنَدَّ مِنْهَا بَعِيرٌ فَرَمَاهُ رَجُلٌ بِسَهْمٍ فَحَبَسَهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ لِهَذِهِ الْإِبِلِ أَوَابِدَ كَأَوَابِدِ الْوَحْشِ، فَإِذَا غَلَبَكُمْ مِنْهَا شَيْءٌ فَاصْنَعُوا بِهِ هَكَذَا.
Kami mendapatkan rampasan berupa unta dan kambing. Salah satu unta itu lari, lalu seseorang melemparnya dengan anak panah hingga menghentikannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya unta-unta ini memiliki sifat liar seperti binatang buas. Jika salah satu dari mereka melawan kalian, maka perlakukanlah seperti ini.” (HR. Muslim no. 1968)
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dasar bolehnya menyembelih dengan cara selain dari leher, seperti pada hewan yang jatuh ke dalam lubang, sangat liar, atau dalam kondisi lain yang menyulitkan penyembelihan sempurna.
Menyebut Nama Allah saat Menyembelih
Allah berfirman:
"Janganlah kamu memakan (daging hewan) yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya." (QS. Al-An'am: 121)
Namun, jika seseorang lupa menyebut nama Allah atau tidak mengetahui apakah daging tersebut disembelih dengan menyebut nama Allah, maka cukup dengan membaca bismillah saat hendak memakannya.
Sebagaimana dalam hadits, ketika sekelompok orang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَنَا بِاللَّحْمِ لَا نَدْرِي أَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لَا؟ فَقَالَ سَمُّوا اللَّهَ عَلَيْهِ وَكُلُوا.
"Ada orang yang membawa daging kepada kami, tapi kami tidak tahu apakah mereka menyebut nama Allah saat menyembelih atau tidak?"
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Sebutlah nama Allah dan makanlah." (HR. Bukhari no. 5507)
Penyembelih Harus Orang yang Layak
Penyembelih haruslah orang yang memenuhi syarat, yaitu seorang muslim yang berakal dan telah baligh, atau anak yang sudah mumayyiz (dapat membedakan yang baik dan buruk). Boleh juga dari kalangan Ahli Kitab, yaitu orang Yahudi atau Nasrani. Allah berfirman:
وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ
"Dan makanan (sembelihan) orang-orang Ahli Kitab itu halal bagimu." (QS. Al-Mā’idah: 5)
Namun, jika sembelihan itu diniatkan sebagai bentuk ibadah untuk gereja atau sebagai bagian dari perayaan hari raya mereka, maka sebaiknya ditinggalkan. Hal ini karena dikhawatirkan termasuk dalam kategori sembelihan untuk selain Allah, yang tidak diperbolehkan dalam syariat.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،
Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah
Di antara bentuk berbuat baik kepada hewan saat disembelih adalah:
Tidak mengasah pisau di depan hewan yang akan disembelih.
Dalam sebuah hadits disebutkan:
أَنَّ رَجُلًا أَضْجَعَ شَاةً يُرِيدُ أَنْ يَذْبَحَهَا وَهُوَ يَحُدُّ شَفْرَتَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: أَتُرِيدُ أَنْ تُمِيتَهَا مَوْتَاتٍ؟ هَلَّا حَدَدْتَ شَفْرَتَكَ قَبْلَ أَنْ تُضْجِعَهَا؟
"Seorang lelaki merebahkan seekor kambing dan mulai mengasah pisaunya. Maka Nabi ṣhallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: 'Apakah engkau ingin membunuhnya berkali-kali? Tidakkah engkau mengasah pisaumu sebelum merebahkannya?'" (HR. al-Ḥākim no. 7563)
Tidak Memotong Bagian Tubuh Hewan Sebelum Ia Benar-Benar Mati
Jangan memotong bagian tubuh hewan sebelum penyembelihan sempurna dan hewan benar-benar mati. Juga tidak boleh berlebihan hingga memotong kepalanya karena itu termasuk bentuk penyiksaan, meskipun hewan tersebut tetap halal dimakan. (Qawā‘id wa Fawā’id min al-Arba‘īn an-Nawawiyyah, hlm. 228–229)
Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah Subhanahu wa Ta‘ala
Masih banyak adab dan bentuk kasih sayang kepada hewan yang diajarkan Islam, baik kepada hewan peliharaan maupun hewan liar, baik saat hewan itu hidup maupun ketika hendak dibunuh.
Islam adalah agama rahmat, agama yang penuh kasih sayang, bahkan terhadap hewan sekalipun. Maka, mari kita jaga adab dalam menyembelih hewan sebagai bentuk ketakwaan dan kasih sayang kepada semua makhluk.
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبّنَا لاَتُؤاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى
اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ.
وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Referensi
- Imam Bukhari. Shahih Bukhari. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Imam Muslim. Shahih Muslim. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Al-Hakim. Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Syaikh Ali Al-Qari. Al-Mubinun Mu’in li Fahmil Arba’in An-Nawawiyah. Riyadh: Darul ‘Ashimah, cet. 1, 2014 M.
- Dr. Bandar Al-‘Abdali. Ad-Durarus Saniyah bi Fawaidil Arba’in An-Nawawiyah. Dammam: Dar Ibn Jauzi, cet. 2, 1437 H.
- Dr. Nazhim Al-Misbah. Qawa’id wa Fawaid minal Arba’in An-Nawawiyah. Kuwait: Darul Lathaif, cet. 3, 2017 M.