Karakter Nabawiyah: Pola Pendidikan yang Tak Lekang oleh Zaman
Reporter: Dian Pujayanti
Redaktur: Ridzky Aditya Saputra
Para orang tua hari ini dihadapkan pada derasnya arus teori parenting. Metode demi metode hadir silih berganti, menawarkan cara terbaik mendidik anak sesuai versinya. Informasi demikian mudah diakses, klaim pun bebas disematkan. Namun tidak semuanya siap menyaring dengan pemahaman agama yang utuh. Tanpa kompas yang jelas, orang tua sangat mungkin terombang-ambing tren.
Padahal sebagai muslim, kita telah memiliki pedoman yang sempurna. Al-Qur’an dan Sunnah menjadi dasar pendidikan, dengan Rasulullah ﷺ sebagai teladan terbaik sepanjang masa. Pendidikan karakter Nabawiyah bukan sekadar konsep. Ia telah teruji secara praktek dengan melahirkan generasi terbaik, yaitu para sahabat radhiyallahu ’anhum ajma’in.
Menyadari pentingnya kembali kepada fondasi tersebut, TK Tunas HSI menghadirkan ruang jeda untuk merenung dan menguatkan arah pendidikan anak. Kajian daring bertema Pendidikan Karakter Nabawiyah Part II diselenggarakan pada 26 Sya’ban 1447 H atau 14 Februari 2026 lalu. Kajian tersebut menghadirkan Ustadz Abdul Kholiq, penggagas Pendidikan Karakter Nabawiyah.
Kembali kepada Pendidikan Berbasis Fitrah
Mendidik anak bukan sekadar tanggung jawab duniawi, melainkan amanah yang berbuah hingga akhirat. Anak dapat menjadi aset yang mengangkat derajat orang tua menuju surga, atau sebaliknya. Karena itu, menjadi sangat riskan apabila orang tua tidak memahami cara mendidik anak dengan benar.
Kepala Sekolah TK Tunas HSI, Ibu Meyta Ramadanti, menyampaikan bahwa sudah saatnya kita menyadari dan kembali kepada metode pendidikan ala Rasulullah ﷺ, yaitu pendidikan berbasis fitrah. “Dimulai sejak dini. Masa di mana stimulasi pada aspek moral (karakter iman), aspek bahasa, aspek kognitif (konsep), aspek sosial emosional, aspek sensori motorik diberikan,” jelas santri HSI Angkatan 191 tersebut.
Senada dengan hal itu, Ustadz Abdul Kholiq sang pemateri, menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini sejatinya berfokus pada pembinaan jiwa, bukan fisik semata. Menurutnya untuk menghasilkan yang terbaik, orang tua harus berguru kepada seseorang yang terbukti berhasil membentuk generasi emas terdahulu. “Seperti disampaikan Imam Malik bin Anas, ‘Tidak ada yang dapat memperbaiki generasi akhir umat ini, kecuali apa yang telah memperbaiki generasi awalnya, yaitu generasi sahabat yang ditatar langsung oleh Rasulullah’,” papar Ustadz Abdul Kholiq, di awal materi.
Metode pendidikan ala Rasulullah ﷺ, bukanlah hasil pemikiran manusia semata. Formula ini lahir atas bimbingan wahyu yang disampaikan oleh Jibril ‘alaihissalam. Maka sebagai muslim, sudah sepatutnya kita berpedoman pada metode itu. Dengan fondasi yang kokoh itulah anak diharapkan tumbuh dalam bingkai syariat Islam, bersikap humanis, dan tetap lekat dengan fitrah asal penciptaannya, yakni Islam dan kebaikan.
“Tinggal orang tua dan guru bisa atau tidak memberikan stimulasi, bimbingan, dan binaan dengan metode yang tepat,” tambah Bu Meyta.
Apa Itu Pendidikan Karakter Nabawiyah?
Seperti apa kondisi anak saat terlahir, adalah bab yang perlu dipahami. Ustadz Abdul Kholiq mengutip sebuah hadits shahih riwayat Imam Al-Bukhari yang mencantumkan bahwa setiap anak terlahir dengan jiwa penuh kebaikan serta beriman pada satu tuhan. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.
Karena kefitrahan ini, maka anak sebenarnya bukan kertas kosong yang dapat ditulis atau dilukis sekehendak pendidiknya. “Nah, sebagian besar umat muslim memaknai fitrah ini adalah suci atau bersih sehingga memunculkan pemahaman bahwa anak terlahir seperti kertas putih yang kosong,” ungkap Ustadz Abdul Kholiq. “Padahal tidak demikian,” sambungnya.
“Sebagaimana perkataan Imam Nawawi bahwa setiap anak yang lahir itu sudah memiliki kecenderungan jiwa yang condong kepada Islam, untuk senantiasa berbuat baik, dan tidak mempunyai niat jahat,” papar praktisi pendidikan formal sejak 1989 itu.
Beliau kembali mendobrak kesadaran dengan berandai-andai. “Bahkan seandainya kita membuka sekolah kebaikan dan kejahatan, yang cenderung repot itu adalah sekolah kejahatan, karena berlawanan dengan kecenderungan anak. Harus dimodifikasi. Dan itu repot sekali. Ini makna fitrah,” jelas Ustadz Abdul Kholiq.
Namun kondisi fitrah anak yang full kebaikan tersebut, Allah sandingkan dengan keadaan dia belum mengetahui apa-apa. Kemudian Allah memberikan pendengaran, perasaan, penglihatan, hingga pengetahuan agar manusia bersyukur. Sehingga adanya indra yang diberikan Sang Pencipta digunakan untuk belajar, mengevaluasi kesalahan-kesalahan yang dibuat, selama proses kehidupannya.
Untuk anak usia 0-7 tahun, kesalahan masih dimaafkan. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Pena diangkat dari tiga orang: orang yang sedang tidur sampai ia bangun, anak yang masih kecil sampai ia baligh, dan orang yang gila sampai ia berakal." (HR. Abu Daud, Tirmizi, Nasai dalam Al-Kubrā, Ibnu Majah, dan Ahmad; dinyatakan shahih dalam Sunan Abī Dāwūd - 4403).
Fase-fase Pendidikan
Banyak nash, menurut pemaparan Ustadz Kaliq, menunjukkan fitrah perkembangan anak yang kemudian menjadi dasar pembagian fase pendidikan karakter Nabawiyah.
Pertama adalah fase Thufulah atau usia 0 hingga 7 tahun. Ini merupakan masa emas di mana anak-anak belajar meniru apapun yang dilihat, atau At-Taklik. Maka pada rentang usia ini, kesalahan anak lebih banyak ketimbang benarnya. Penanaman karakter iman relevan ditekankan karena di taraf ini karakter anak yang sangat menonjol adalah egosentris. Nasihat lisan belum begitu dominan, kecuali pada hal yang berbahaya, sehingga muncul metode bahasa hati. Ini ialah masa-masa tumbuhnya mahabbah cinta. Dan cinta hanya bisa tumbuh dengan hati.
Fase kedua adalah Tamyiz, saat anak berusia 7 hingga 10 tahun. Pada tahap Tamyiz, sifat anak beranjak ke sosiosentris. Ini bukan masanya menimpakan beban akademik berlebihan dengan penjejalan materi atau hafalan semata. Yang lebih penting adalah menumbuhkan motivasi belajar sesuai gaya masing-masing anak. Tugas orang tua dan pendidik adalah membuat anak mencintai proses belajar, memperluas wawasan, serta memberi ruang aktivitas sosial yang menyenangkan sekaligus menantang rasa ingin tahunya. Pada fase Tamyiz, anak belajar dengan metode at-tajribah yaitu mencoba, keliru, lalu mencoba lagi. Dari proses itulah potensi dan bakat mulai terlihat, tentu dengan catatan fondasi pendidikan di usia sebelumnya telah dibangun dengan benar. Pendekatan bahasa pada fase ini adalah lisan. Sebagaimana perintah untuk menunaikan shalat yang mulai dikenalkan dengan tegas, namun tetap tanpa hukuman fisik.
Yang ketiga adalah Fase Murahaqah yaitu ketika anak berusia 10 hingga baligh. Waktu tepat di mana karakter bakat diasah dan dikembangkan. Masa bermain tuntas sudah. Harapannya anak sudah bisa berkarya sesuai bakat. Sikap benar lebih dominan ketimbang salah karena sifat kecintaan yang telah ditanamkan sejak fase thufulah tumbuh menjadi ilmu. Mereka telah mampu membedakan benar atau salah. Rasulullah pun memerintahkan pada usia ini anak dipukul ketika tidak melaksanakan shalat. Kesadaran hanya takut kepada Allah telah tumbuh karena fitrah dan kecintaannya telah terbentuk pada fase-fase sebelumnya.
Metode Pendidikan Karakter Nabawiyah menyadarkan orang tua dan guru bahwa menerima serta menghargai kelebihan dan kekurangan anak bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Setiap anak diciptakan unik, dengan potensi dan jalan tumbuh yang berbeda. Perbedaan itu bukan untuk diseragamkan, tetapi diarahkan.
Dengan bimbingan yang tepat, keunikan tersebut akan berkembang hingga anak tumbuh dewasa menjadi pribadi yang memberi arti. Sebagaimana dalam hadis disebutkan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Inilah hakikat tujuan pendidikan: melahirkan generasi yang bermanfaat bagi umat, kokoh dalam tauhid, dan indah dalam akhlak.
Melalui Pendidikan Karakter Nabawiyah, ikhtiar itu bukan sekadar wacana, tetapi insyaallah menjadi jalan yang bisa ditempuh dengan sadar dan terarah.
Antusiasme dan Harapan
Kajian Pendidikan Karakter Nabawiyah dibuka dengan paparan singkat Penanggung jawab TK Tunas HSI, Bapak Cipto Roso. Lebih kurang selama lima menit, Pak Cipto kembali memperkenalkan profil TK Tunas HSI.
“2026 ini memasuki tahun kedua dan merupakan lembaga pendidikan islam usia dini yang bermuatan diniyah, nasional, individual, serta mengedepankan tumbuh kembang anak sesuai usianya.” Demikian cuplikan petikan Pak Cipto dalam sambutannya. Beliau juga mengingatkan bahwa untuk saat ini TK yang berlokasi di Cikokol, Tangerang, tersebut masih membuka pendaftaran tahun ajaran baru 2026-2027.
Kajian daring Pendidikan Karakter Nabawiyah diikuti 130 peserta dari berbagai daerah dan latar belakang. Angka itu bukan sekadar statistik. Antusiasme terasa sejak awal. Menurut Ukhtunna Sherly, salah satu panitia sekaligus Guru TK Tunas HSI, peserta telah berdatangan bahkan 20 menit sebelum Zoom room dibuka.
Kesungguhan juga tercermin dari alasan para peserta hadir. Salah satunya Ukhtunna Rismawaty Sihotang, orang tua Al Ghifari Bintang, salah satu siswa di TK Tunas. “Saat ini saya memiliki anak TK dan ingin mengetahui cara tepat membersamai mereka, sesuai yang Allah inginkan. Juga menemukan pola asuh penuh kesabaran untuk diri saya dan anak saya,” jelas Ukh Risma yang berprofesi sebagai Konsultan Minat Bakat Anak (Solver Family).
Hal serupa diungkapkan Ukhtunna Nur Pujiati, Ibu Rumah Tangga sekaligus mahasiswi MISBA Tangerang. “Mengikuti seminar ini seperti recharge. Mengingat-ingat kembali ilmu parenting Nabi yang sudah pernah diperoleh sebelumnya. Karena sebagai seorang ibu dengan berbagai aktivitas dan harus membersamai anak, tetap membutuhkan wejangan supaya tetap di jalur yang tepat. Mendengarkan serta melihat Ustadz menyampaikan bagaimana Nabi mendidik, jadi inspirasi lagi untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda dan lebih positif,” ujarnya.
Semangat tersebut juga dirasakan Ukhtunna Siti Rohimah. Dua putrinya yang masih usia dini menjadi alasan utama ia mendaftar sebagai peserta kajian. “Saya adalah seorang ibu dari dua anak perempuan, yang keduanya masih usia dini. Ibu sebagai madrasah pertama harus terus belajar pola asuh utusan terakhir, lalu menyelami kemudian merealisasikannya. Jikalau kita mau menyelam di lautan saja perlu belajar bagaimana teknik bernafas, bagaimana cara berenang, dan lain-lain, lalu mengapa harus malas untuk sinau dengan posisi kita mendapat amanah besar dari Allah, yang mana kelak mereka juga akan menjadi ladang pahala terbesar kita,” paparnya.
Ukhtuna Siti mengaku akhirnya melihat ketimpangan yang kerap ditemukannya. Sebagaimana ditegaskan Ustadz Abdul Kholiq, bahwa mendidik anak bukanlah berfokus pada fisiknya semata, tetapi juga jiwanya. “Sementara fenomena pendidikan hari ini anak-anak tampak dipaksa hafalan Al-Qur’an di atas rata-rata, namun kehilangan ruh dalam pengamalannya. Padahal pada usia thufulah (0 hingga 7 tahun), yang paling utama ditanamkan adalah mengenal dan mencintai Dzat yang memerintahkan ibadah, yaitu Rabb Yang Maha Tinggi,” ujarnya.
“Qadarullah saya dapati banyak yang lompat dari tahapan penanaman ini, tauhid,” ungkap Ukhtuna Siti yang merupakan pendiri HCE (Home Character Education) Indonesia.
Refleksi dan Komitmen Perubahan
Melalui kajian ini tampak terlihat arti penting memahami Pendidikan Karakter Nabawiyah. Ternyata perlu metode parenting yang tepat dan mungkin berbeda-beda pada setiap fase umur seorang anak.
“Orang tua yang cerdas harus belajar parenting. Bukan dari siapa-siapa, tapi dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau mengajarkan juga mencontohkan. Untuk anak saya yang masih TK, menanamkan dan menumbuhkan tauhid harus dimulai dari saya dan suami. Karena kami adalah contoh nyata yang bisa mereka lihat lalu tiru,” tekad Ukhtuna Risma.
Ia sendiri jujur bahwa belum sepenuhnya menerapkan pendidikan karakter ala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ukhtuna Risma juga mengakui masih banyak melakukan kesalahan karena kurang sabar dan tingginya ekspektasi pada anak-anak yang notabene masih usia dini.
“Kadang kami sebagai parent menuntut apa yang kami mau. Lupa kalau mereka masih kecil. Tidak sabar dengan pertumbuhannya. Adanya kajian ini menyadarkan pentingnya bersabar dan jenis bahasa yang tepat dipergunakan kepada anak-anak kami,” imbuh Ukhtuna Risma.
Sementara Ukhtuna Nur mengungkapkan bahwa pemahamannya akan kehadiran fisik sudah cukup menghapus kebutuhan seorang anak, ternyata adalah anggapan yang keliru selama ini. “Pada usia dini, anak dominan membutuhkan bahasa hati dan kebahagiaan supaya menjadi pribadi yang bertauhid dan tangguh. Puncaknya adalah nilai-nilai yang Ustadz jelaskan alhamdulillah mengoreksi parenting saya. Dan saya belajar memberi udzur kepada anak, mengurangi target yang dipaksakan, dan memberi ruang anak untuk bertumbuh lebih leluasa lagi dari segi karakter,” kata Ukhtuna Nur menambahkan.
Ia berharap sekali dalam sebulan diadakan rutin kajian serupa. Sebagai pengingat para orang tua yang sering kali luput karena kesibukan dunia. “Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam membersamai tumbuh kembang anak-anak, sehingga meminimalisir atau bahkan tidak ada hutang pengasuhan yang bisa menjadi hambatan mereka,” ujarnya berharap. Ukhtuna Nur bahkan mengajukan pembahasan metode pendidikan untuk usia tamyiz lebih detail sebagai upaya persiapan membersamai sang buah hati.
Sementara Ukhtuna Siti menyatakan bahwa muatan yang disampaikan Ustadz Abdul Kholiq sudah sejalan dengan yang diaplikasikan di keluarganya. Seminar ini menambah kokoh ilmu parenting yang sudah dimiliki. “Alhamdulillah saya sudah menerapkan parenting pendidikan karakter Nabawiyah, biidznillah. Dengan mengenalkan pada Rabbnya, anak menjadi mudah untuk diajak beribadah maupun belajar. Karena di hati mereka sudah mulai tertanam “aku melakukan ini supaya dapat pahala dari Allah”,” ujar santri HSI Angkatan 261 tersebut.
Proyek Akhirat
Ternyata mengawal arah pendidikan anak agar tetap berada di atas rel adalah hal penting dan TK Tunas HSI telah berusaha mengupayakannya. Bukan saja memastikan langkah lembaga, tapi juga melibatkan peran orang tua yang sejatinya sebagai pendidik pertama. Sejak awal berdiri, menurut Ibu Meyta, TK Tunas HSI berkomitmen melibatkan orang tua dalam setiap proses, agar terbangun keseragaman visi, keselarasan metode, dan kesinambungan pembelajaran antara rumah dan sekolah. Kajian parenting kali ini menjadi bukti ikhtiar tersebut, bukan terbatas untuk wali murid, tetapi juga menjangkau ruang dakwah bagi umat.
“Bahwa mendidik anak adalah proyek akhirat. Sekiranya harus memegang prinsip-prinsip Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam pengasuhan. Ini tugas dan tanggung jawab orang tua sepanjang hayat. Wajib kepada semua orang tua untuk tidak berhenti belajar, karena ayah bagaikan kepala sekolah, ibu sebagai guru di rumah,” tutupnya.
Pernyataan itu terdengar bukan sekadar nasihat, melainkan pengingat yang serius. Pendidikan anak tidak bisa diserahkan pada sistem semata, tidak cukup ditopang fasilitas, dan tidak selesai dengan target akademik. Ia menuntut kesadaran, keteladanan, dan keberanian untuk berpegang teguh pada metode yang telah dicontohkan Rasulullah ﷺ.
Jika fondasi tauhid terlewat, dan jika fase demi fase tumbuh kembang diabaikan sejak dini, maka yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan anak di dunia, tetapi juga pertanggungjawaban orang tua di hadapan Allah kelak. Karena itu, kembali pada Pendidikan Karakter Nabawiyah bukan sekadar pilihan metode. Ia adalah kebutuhan mendesak bagi siapa saja yang ingin menyiapkan generasi yang selamat dunia dan akhirat.
Mari kita kembali kepada metode pendidikan Rasulullah ﷺ, lalu menapakinya dengan konsisten. Karena Islam yang kaffah tidak hanya diajarkan, tetapi diteladankan dan diwariskan.