Keliling HSI

Kala Hidayah Bertandang

Reporter: Loly Syahrul

Editor: Hilyatul Fitriyah


إِنَّكَ لَا تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya engkau tidak akan dapat memberikan petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk [QS Al-Qashash: 56]


Hidayah hanyalah milik Allah Subhanahu wa ta’ala dan Allah jualah yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu termasuk memberikan hidayah-Nya kepada hamba yang Dia kehendaki. Allah Maha Melihat keadaan hati hamba-hamba-Nya. Allah menjadikan tiap manusia lahir dengan fitrah menerima kebenaran. Namun, terkadang lingkungan mengalihkan manusia dari kebenaran itu.

Di hati mana yang hendak Allah letakkan kembali hidayah, di sanalah Allah karuniakan cahaya ilmu hingga membawa hamba kepada petunjuk-Nya. Cahaya Allah menuntun hamba berjalan di muka bumi. Cahaya hidayah ini pula yang dirasakan Ukhtuna Endang Priandari, santri HSI Angkatan 221. Beliau seorang mualaf dan kini terlihat rajin belajar Islam. Bagaimana ya ceritanya beliau istiqamah meniti hidayah Allah? Mari duduk menyimak perjalanan beliau..

Ikut Pelajaran Agama Islam di Kelas

Ketika Allah berkehendak meletakkan hidayah pada kalbu hamba-Nya, Allah akan hadirkan berbagai jalan hingga cahaya itu bertandang. Demikian pula pengalaman Ukhtuna Endang yang justru merasakan kebenaran ketika mengikuti pelajaran Agama Islam sewaktu duduk di bangku SMA.

“Harusnya sebagai murid beragama lain, ana bisa keluar kelas dan memang tidak ada kewajiban untuk mengikuti. Akan tetapi Allah menguatkan ana untuk tetap duduk di kelas dan mendengarkan guru Agama Islam memberi pelajaran,” ujar Ukhtuna Endang berkilas balik.

“Penjelasan guru Agama Islam yang menerangkan tentang Allah itu Esa, tidak dilahirkan, tidak seperti manusia, dan Allah tidak serupa dengan makhluk, mengusik akal ana,” ungkapnya.

Ini berkebalikan dengan kondisi batinnya tiap kali mendengar penjelasan agama yang dianutnya terdahulu. Ukhtuna Endang merasa tidak ada ketertarikan maupun keterikatan batin. “Nyanyian-nyanyian pujian di rumah ibadah tidak menggetarkan jiwa ana. Apalagi ucapan-ucapan misionaris yang sering datang ke rumah untuk penguatan iman, sama sekali tidak membekas,” ungkap ibunda dua putri ini.

Rupanya pelajaran Agama Islam di sekolah, Allah pilih menjadi pintu hidayah. Dari penjelasan sang guru Agama Islam di bangku SMA, Ukhtuna Endang merasa bahwa inilah harusnya agama yang benar.

Bersyahadat di Masjid Sunda Kelapa

Ukhtuna Endang bulat memutuskan untuk bersyahadat. Atas saran teman-teman sekolahnya ia memilih Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, sebagai tempatnya berikrar.

Waktu Majalah menanyakan diantar siapa Ukhtuna Endang bersyahadat di Masjid Sunda Kelapa, ia mengenang, “Dengan sahabat waktu SMAN 21 Jaktim. Di antaranya Endang, Danang. Seingat saya ada yang lain, tapi tidak ingat berapa orang.”

Allah memberikan berbagai kemudahan kepada Ukhtuna Endang masa itu. Selain mengelilingi Ukhtuna Endang dengan teman-teman yang mengiringi jalannya menjadi mualaf, azam Ukhtuna Endang tersebut nyatanya juga tak mendapat penentangan dari keluarga.

Berburu Buku-buku Tentang Islam

Menjadi remaja SMA yang berani mengikuti hati nurani untuk pindah agama dari yang dianut keluarganya sejak lahir, bukanlah perkara mudah. Patut kita yakini keberanian itu timbul dari anugerah Sang Pemberi Hidayah. Meski dikelilingi teman-teman yang mendukung, tak dipungkiri kebanyakan remaja seusianya, umumnya tentu lebih gemar mengejar kesenangan pribadi. Namun, Ukhtuna Endang justru terdorong terus menambah pengetahuan tentang Islam.

Bermodal semangat, Ukhtuna Endang melakukannya secara otodidak. Beliau berburu buku-buku tentang Islam di toko buku. Maklum saja, kala itu, fasilitas internet belum demikian mudah seperti sekarang.

Ukhtuna Endang mempelajari Islam dari bacaannya. Termasuk perkara fikih shalat yang pertama kali diperolehnya justru dari buku bacaan.

Belajar Shalat dari Buku

Setelah mengetahui bahwa seorang muslim dikenai kewajiban shalat, Ukhtuna Endang mencari tahu tentang ibadah utama muslimin ini. Salah satunya melalui buku.

“Walau yakin Allah sebagai Rabb, akan tetapi kesadaran akan kebutuhan shalat yang khusyuk, berkualitas, serta melakukannya dengan tepat waktu sebagai bukti keimanan, belumlah ana pahami,” Ukhtuna Endang membagi liku-liku di masa lalu. “Sudah mulai shalat, akan tetapi ya belang bentong, tidak disiplin,” akunya.

Kemajuan dirinya sebagai muslim pun, baik pengetahuan dan utamanya perkara ibadah, terbilang stagnan, tanpa ada peningkatan yang berarti. Ini penilaian Ukhtuna Endang sendiri. Ia mengaku, “Ana kemudian disibukkan dengan menjadi ibu rumah tangga sambil kuliah, lalu konsentrasi kepada pekerjaan, juga sibuk membesarkan bisnis.”

Hasrat Terus Belajar Islam

“Kadang bersama suami ada terlintas pikiran untuk belajar mengaji tapi kok sepertinya kami malu,” ungkapnya jujur. Diakuinya pikiran tersebut memang kerap melintas kala itu.

Belakangan, setelah hidup menjadi lebih mapan, anak-anak sudah mulai mandiri, informasi juga kian mudah diperoleh, alumnus sekolah sekretaris tersebut, mengaku tergerak kembali mempelajari Islam, meskipun baru lewat internet saja. “Ana tertarik dengan ustadz-ustadz yang menyampaikan hukum-hukum Allah dengan lembut tutur katanya,” ungkapnya.

“Tentu saja ana tidak memahami mana yang sesuai sunnah, mana yang sahih, maupun yang bid’ah karena antusias saja yang tinggi untuk mempelajari agama. Sedangkan mencari guru untuk belajar mengaji masih bingung dan ragu karena waktu itu belum kelihatan jalan untuk itu,” kisahnya.

Ukhtuna Endang bukan patah arang. Nampaknya ia tetap berhasrat mempelajari Islam hingga diputuskannya membaca sendiri terjemahan Al-Qur’an.

“Maka ana memutuskan membaca terjemahan Al-Qur’an. Sampai khatam, biidznillah. Alhamdulillah,” ujarnya. Ukhtuna Endang yang kini tinggal di Bandung itu, menyampaikan bahwa perlu tiga tahun baginya pada kesempatan pertama waktu itu, mengkhatamkan terjemahan Al-Qur’an. Dari terjemahan Al-Qur’an, beliau merasa dapat menangkap tentang perintah dan larangan Allah juga mengambil hikmah dari cerita-cerita para Nabi serta kaum terdahulu.

Meski demikian bukan berarti perjuangan Ukhtuna Endang mulus-mulus selalu. Beberapa bagian dari terjemahan Al-Qur’an juga tak dapat langsung dicerna pemahamannya. Ia mengaku dengan jujur, ”Membaca terjemahan Al-Qur’an tidak semua bahasanya langsung ana mengerti juga.”

Belajar Membaca Al-Qur’an

Menyelesaikan bacaan terjemahan Al-Qur’an, mengusik keinginan mualaf ini untuk belajar membaca kitab suci. “Pucuk dicinta ulam tiba. Suatu hari tidak disangka tidak diduga, ana menerima chat WA dari salah seorang teman lama sesama tim basket di SMP yang sudah bertahun-tahun tidak berjumpa,” ujarnya membeberkan pengalaman. “Isi chat-nya mengajak ikut serta belajar tahsin,” imbuhnya.

Lagi-lagi, Ukhtuna Endang sempat dihinggapi kekhawatiran. “Awalnya ana ragu untuk ikut, sebab yang saya pahami itu teman-teman pasti bukan belajar dari awal, akan tetapi mereka hanya memperbaiki dan memperbagus bacaan. Sementara ana sama sekali buta huruf Hijaiyyah,” ucapnya menirukan keluhan hatinya waktu itu.

Dan lagi-lagi, atas izin Allah, tetap terbuka jalan bagi Ukhtuna Endang untuk mendalami Islam. “Alhamdulillah teman ana mengerti posisi ana, dan menguatkan ana untuk tetap ikut serta, karena katanya ana akan diberikan waktu khusus oleh Ustadzahnya. Alhamdulillah,” ujar Ukhtuna Endang terdengar berkali mengucap syukur.

Belajar dengan Lebih Intensif

Keputusan bergabung dengan grup tahsin tersebut menurut Ukhtuna Endang menjadi awal terbukanya pintu-pintu ilmu agama yang hak bagi dirinya. Atas izin Allah tentunya.

Biidznillah, ana sudah bisa membaca Al-Qur’an, dan kelompok tahsin ini tidak berhenti sekedar memperbaiki bacaan, tetapi juga mendatangkan Ustadz untuk belajar Bahasa Arab tafsir Al-Qur’an. Kami juga sama-sama membaca kitab-kitab yang lain, seperti Kitab Tafsir Ibnu Katsir, Kitab Riyadhus Shalihin, Kitab Fiqih Sunnah, Kitab Asma’ul Husna, dan lainnya,” ujarnya.

Ukhtuna Endang merasa demikian bersyukur karena setelah mempelajari tafsir Al-Qur’an, ia merasa menjadi kian memahami keyakinannya. “Membaca Kitab Tafsir Al-Qur’an sangat menambah khazanah pengetahuan ana tentang Islam, sebab kitab tafsir tidak seperti Al-Qur’an terjemahan. Di dalam Kitab Tafsir, kata demi kata Bahasa Arab diterangkan maksudnya, kemudian bagaimana cerita di balik setiap turun ayatnya, termasuk dibahas hadits-hadits yang melengkapi,” ungkapnya berbagi pengalaman.

Maasyaa Allah, banyak sekali ilmu baru tentang kehidupan yang ana dapatkan dari membaca kitab-kitab tersebut seperti mengenal Allah dari belajar Nama dan Sifat-Nya, mengenal akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kita jadikan uswatun hasanah, belajar bagaimana tata cara ibadah yang sesuai dengan dalil sahih, dan memahami bagaimana bahayanya bid’ah,” pungkasnya.

Menemukan Tujuan Hidup

Berada dalam kondisi dibukakan pintu menuntut ilmu oleh Allah, tampak membawa perubahan signifikan dalam kehidupan Ukhtuna Endang. Ia mengaku berubah sudut dalam memandang kehidupan.

“Hidup bukan untuk mengejar dunia akan tetapi mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat yang kekal abadi. Hidup ana jadi lebih ikhlas dan tenang sebab tidak diburu-buru mengejar target dunia. Bisnis ana jalani dengan tawakkaltu 'alallah sebab alhamdulillah sudah paham bahwa semua hasil ikhtiar, apapun itu, pasti yang terbaik dari sisi Allah dan di dalamnya pasti terselip hikmah yang lebih baik maslahatnya buat ana,” tambahnya memaparkan apa yang dirasakannya kini.

Mengenal HSI

Salah satu teman Ukhtuna Endang dalam kelompok belajar yang diikutinya tadi, ternyata seorang santri HSI. Allah kembali memberikan jalan pada Ukhtuna Endang mempelajari Islam. Kali ini untuk urusan paling fundamental, yaitu perkara tauhid.

Pada awal tahun 2022, Ukhtuna Endang resmi menjadi santri HSI. “Ana sangat bersyukur sebab bergabungnya ana di HSI menjadikan ana lebih mengenal pengetahuan dasar tentang aqidah Islam, tentang bagaimana bertauhid yang benar kepada Allah. Betapa pentingnya mengejawantahkan kalimat tauhid ke dalam amalan,” tuturnya.

“Semua yang kita kerjakan di muka bumi ini menjadi bernilai ibadah jika kita lakukan ikhlas karena Allah. Ini pengetahuan yang belum ana dapatkan di awal keislaman ana. Maasyaa Allah… alhamdulillah,” pungkasnya.

Masih ada tambahan kebahagiaan bagi Ukhtuna Endang rupanya, karena sekarang, semua anggota kelompok belajar tempatnya menuntut ilmu, telah sama-sama menjadi santri HSI. Jelas ini menambah semangatnya.

Tidak ada harapan yang lebih besar kita panjatkan kepada Allah, kecuali mudah-mudahan Allah istiqamahkan Ukhtuna Endang di atas hidayah dan semoga Allah menghapus dosa-dosanya di masa lalu serta mengampuninya. Mari doakan agar harapan beliau untuk terus bisa terhubung dengan Allah, merasa diawasi Allah, terus istiqamah dalam menimba ilmu agama, bisa terwujud. Semoga senantiasa Allah jaga ya, Ukh.. Aamiin Allahumma Aamiin. Baarakallahu fiikum..

0