Jejak Filantropi HSI: Dari HSI Peduli hingga LAZNAS HSI Berbagi
Reporter : Muhammad Wildan Zidan
Redaktur : Rizky Aditya Saputra
Filantropi lahir dari kepedulian terhadap sesama. Wujudnya tidak selalu berupa harta, tetapi juga bisa hadir dalam bentuk ilmu, tenaga, dan waktu. Dalam Islam, semangat ini tumbuh dari nilai tolong-menolong sesama kaum muslimin.
Nilai ini juga yang hidup di HSI AbdullahRoy. Sejak awal berdiri, HSI bertumbuh di atas semangat gotong royong dan kontribusi para relawan. Hingga kini, ketika telah berkembang menjadi lembaga pendidikan Islam dengan ratusan ribu penuntut ilmu, budaya filantropi itu tetap terjaga dan menjadi bagian dari denyut perjalanan HSI.
Budaya berfilantropi di HSI tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh secara alami, berawal dari kepedulian antaranggota yang saling mengulurkan tangan ketika ada yang membutuhkan. Dari kebiasaan itulah lahir HSI Peduli sebagai wadah filantropi pertama di HSI.
“Karena nature-nya kita di dunia pendidikan sudah terbentuk, dan permasalahan yang pertama kali muncul adalah berkaitan dengan sosial. Itu sudah habit-nya orang Indonesia untuk saling membantu saudaranya. Dan puncaknya di 2017 mulai terlihat, karena ghiroh (semangat) untuk saling membantu, ta’awun orang Indonesia tinggi, cuma kontrolnya yang belum terbentuk kala itu,” ungkap akhuna Kurnia Adiwibowo, Perintis HSI Peduli.
Sejarah di Balik Musibah
Siapa yang menyangka, sebuah musibah yang dialami seorang admin HSI, menjadi bagian dari lembaran sejarah HSI Peduli. Ketika musibah kecelakaan itu terjadi, belum ada wadah khusus untuk menghimpun bantuan. Melalui broadcast message sederhana, ajakan berdonasi mendapatkan respon yang luar biasa. Pengalaman tersebut menjadi titik awal lahirnya HSI Peduli sebagai wadah untuk menyalurkan semangat rasa tolong-menolong yang tumbuh di lingkungan HSI.
“Kami di HSI tidak pernah merasa sebuah program harus muncul dengan persiapan 100%, apalagi perfect. Semua potensi kebaikan itu harus segera dilaksanakan dengan keterbatasan apapun. Kasus pertamanya ada admin yang kecelakaan, belum ada platform. Kami buat broadcast, kumpulkan dana untuk membantu. Alhamdulillah, kala itu juga terkumpul banyak,” kenang akhuna Kurnia.
“Filantropi ini sebenarnya erat rangkaiannya sama sosial. Kalau kita melihat di dunia Islam sendiri, mungkin kita lebih kenal dengan istilah rahmat, atau mungkin bisa dibilang kasih sayang. Ketika kita menolong saudara kita yang lain yang sedang membutuhkan, sebenarnya itulah yang menjadi penggerak awal dari terbentuknya program ini. Adapun zakat, infak, dan sebagainya itu hanya alat untuk membantu,” pria yang berdomisili di Depok ini menambahkan.
Di balik perjalanan ini, ada banyak tangan yang ikut menopang. Bukan hanya para donatur yang menyisihkan sebagian rezekinya, tetapi juga relawan yang meluangkan waktu, tenaga, dan keahliannya. Sejak awal, dukungan itu hadir melalui ajakan berdonasi yang sederhana di bagian akhir materi pembelajaran.
Peran Sentral Donatur dan Relawan
Semangat filantropi ini kemudian meluas. Para relawan terlibat dalam berbagai program, menyusun sistem kerja, hingga memastikan setiap amanah dapat dijalankan dan dipertanggungjawabkan dengan baik. Dengan visi yang sama untuk saling membantu dalam kebaikan, budaya gotong royong di HSI terus hidup dan menjadi kekuatan di balik setiap langkah dakwahnya.
“Di HSI adalah ibarat sebuah kampus yang isinya 130-an ribu. Padahal ini kampusnya gratis, nah siapa yang akan menyokong? Donasi teman-teman itu yang sebenarnya menghidupi operasional. Di awal dulu munculnya donasi itu dari footer yang ada di grup materi, karena di sana dicantumkan donasi pengembangan dakwah dan operasional HSI,” kata akhuna Kurnia.
Ia menambahkan, “Alhamdulillah, karena background-nya komunitas HSI AbdullahRoy, visinya sama. Misinya teman-teman ketika disampaikan kami mau apa, juga tahu, karena kami pengin membantu saudara kita. Kami melibatkan relawan dalam berbagai aspek dan program. Seperti menyusun SOP, menawarkan peluang-peluang kebaikan kepada para donatur, kemudian juga melaporkan kepada para stakeholder.”
Transformasi HSI Berbagi hingga LAZNAS
Setelah lima tahun berjalan, HSI Peduli bertransformasi menjadi HSI Berbagi. Perubahan ini bukan sekadar bergantinya nama, melainkan juga semangat kebermanfaatan yang lebih meluas. “Awalnya HSI Peduli difungsikan untuk membantu santri-santri yang memiliki kemampuan ekonomi yang berbeda-beda. Kemudian pada 2022 kami berganti nama ke HSI Berbagi,” ucap Kadiv HSI Berbagi akhuna Mujiman.
Tiga tahun berselang, HSI melakukan pengajuan ke pemerintah untuk menjadi Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS). Alhamdulillah, pengajuan itu mendapat hasil positif. Dengan semangat satu hati sejuta kebaikan, LAZNAS HSI Berbagi hadir untuk membangun kemandirian umat melalui pengelolaan zakat dan sedekah yang amanah, transparan, dan profesional
“Di tahun 2025 kami mengajukan ke pemerintah untuk menjadi sebuah Lembaga Amil Zakat Nasional. Filantropi itu sendiri condong pada sebuah konsep. Penyaluran bantuan itu arahnya ke bantuan jangka panjang. Artinya, mustahiq-nya itu akhirnya adalah bisa berdaya, kemudian bisa mandiri, bahkan diharapkan menjadi seorang muzakki atau munfiq. Begitu yang kita harapkan di LAZNAS HSI Berbagi yang menjadi sebuah lembaga filantropi Islam,” jelas akhuna Mujiman.
Ketua LAZNAS HSI Berbagi ini menuturkan, “Tantangan yang biasa dirasakan adalah bagaimana kita bisa menyalurkan dana yang terkumpul dengan baik, dan bahwasannya dana itu adalah dana amanah yang diberikan dari para muhsinin. Kami terus berusaha menyalurkannya dengan ikhlas, bahwasannya dana tersebut bukan dari dana kita masing-masing.”
Filantropi Tak Melulu soal Harta
Filantropi tak selalu berupa uang atau bantuan materi. Memberikan ilmu, keterampilan, dan kesempatan untuk mandiri juga merupakan wujud kepedulian yang membawa manfaat jangka panjang. Semangat inilah yang turut dihadirkan HSI Berbagi melalui berbagai program pemberdayaan.
Selain menyalurkan bantuan kepada para mustahiq, HSI Berbagi membekali mereka dengan keterampilan yang dapat menjadi bekal untuk mencari nafkah, seperti pelatihan servis telepon genggam dan pelatihan barista. Dengan demikian, filantropi tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga menyiapkan bekal untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.
“Selain harta, tentunya kita juga memberikan bentuk pembekalan skill kepada para mustahiq dari santri-santri HSI, dalam bentuk yang sekarang dilaksanakan yaitu program service handphone dan juga skill pembelajaran menjadi seorang barista. Selain harta, berupa ilmu-ilmu agama yang kami berikan kepada para orang tua penerima beasiswa, diberikan pembekalan ilmu agama secara continue oleh asatidzah HSI Berbagi,” Papar akhuna Mujiman.
Menjadi Bagian dari Kebaikan
Pada akhirnya, filantropi bukan semata tentang seberapa besar harta yang diberikan, melainkan seberapa besar kepedulian yang dihadirkan. Bagi yang belum mampu berdonasi, doa pun menjadi bentuk dukungan yang tak kalah berarti bagi keberlangsungan dakwah dan berbagai program kemaslahatan.
Akhuna Mujiman pun menyampaikan pesan dan harapannya, agar HSI Berbagi dapat terus tumbuh sebagai lembaga filantropi yang dipercaya kaum muslimin, serta semakin luas dalam menghadirkan berbagai manfaat.
“Hendaklah saling bantu menyukseskan kebaikan-kebaikan yang diberikan dari HSI Berbagi. Jika saat ini kita tidak bisa memberi bantuan berupa materi, maka doa pun bisa sangat berati bagi mereka. Karena doa adalah senjata seorang muslim yang in syaa Allah sangat besar manfaatnya. Dalam 5 hingga 10 tahun ke depan, HSI Berbagi mengharapkan adanya pengakuan dari masyarakat, bahwasanya kami merupakan sebuah lembaga filantropi yang manfaatnya untuk kaum muslimin itu sendiri,” tutupnya.