Kabar Yayasan

Jejak Dakwah, Uluran Tangan, dan Ikhtiar Menjaga Umat di Jalan Rasulullah ﷺ

Reporter: Leny Hasanah

Editor: Subhan Hardi


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

"Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaanmu, (ia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin."

(QS. At-Taubah: 128)

Pernahkah kita membayangkan seberapa besar cinta Rasulullah ﷺ kepada umatnya? Ayat di atas adalah buktinya. Allah mengabarkan sebuah rasa yang amat dalam: Nabi kita tidak pernah rela melihat umatnya tersesat, hidup susah, atau tenggelam dalam kelalaian. Beliau hanya ingin umatnya semua selamat, di dunia dan di akhirat.

Itulah mengapa dakwah Rasulullah ﷺ tidak pernah berdiri di atas menara gading. Beliau tidak hanya mengajarkan tauhid di dalam masjid, tetapi juga turun ke jalan, menguatkan yang lemah, menyantuni anak yatim, dan meringankan fakir miskin. Bagi beliau, menyebarkan petunjuk Islam dan menolong sesama adalah dua hal yang tidak tak terpisahkan.

Hari ini, Rasulullah ﷺ memang tidak lagi berjalan menyusuri pasar Madinah. Namun, jejak kaki kasih sayang beliau masih terasa nyata di sekitar kita.

Jejak itu ada pada langkah dai yang menembus hutan pelosok demi mengajarkan Al-Qur'an. Ia hidup pada ketulusan guru ngaji yang tetap mendidik generasi baru meski dompetnya menipis. Ia tumbuh pada semangat remaja yang menjaga hafalan Al-Qur'annya, serta senyum lega seorang ibu saat anaknya bisa dikhitan gratis tanpa pusing biaya.

Kisah-kisah ini mungkin bagai potongan kliping kehidupan yang acak. Padahal, jika kita jahit menjadi satu, semuanya sedang bergerak menuju satu muara yang sama: menghadirkan keselamatan bagi umat manusia.

Saat Ketulusan Mengetuk Pintu Hati

Mari menengok ke pelosok Banten Selatan. Di sana, Ustadz Fuad Muzaky bertugas sebagai dai Kafilah Dakwah HSI Berbagi sejak Oktober 2024. Hari-harinya diisi dengan mengajar tahsin, tahfiz, bahasa Arab, hingga majelis tauhid. Namun bagi Ustadz Fuad, berdakwah bukan tentang membuka kitab di depan jemaah semata.

Di sela kesibukannya, ia memilih melebur dengan warga. Ia mampir ke rumah-rumah, mendengarkan keluh kesah mereka. Dari obrolan sederhana ini lah ia paham bahwa kepedulian adalah kunci pembuka kepercayaan, dan dari sana hidayah Allah biasanya mengetuk hati manusia. "Bisa jadi dakwah itu jauh lebih mudah diterima saat kita hadir duluan untuk membantu apa yang mereka butuhkan," ungkapnya hangat.

Tentu jalannya tidak selalu mulus. Ustadz Fuad yang juga santri ARN212 ini mengaku pernah ditolak saat hendak mengisi kajian, bahkan sempat dilarang menjadi imam karena perbedaan pandangan fikih. Alih-alih baper, ia membalasnya dengan akhlak terbaik, tetap menyapa ramah, dan bersabar. Hasilnya, hubungan yang kaku perlahan mencair dan salam yang dulu diabaikan kini dibalas senyuman. Dakwah, baginya, bukan tempat memenangkan perdebatan, melainkan panggung menunjukkan indahnya akhlak Islam.

Melahirkan Banyak Senyuman

Perjuangan dai di lapangan jelas tidak sendirian. Di balik riuhnya majelis ilmu di pedalaman, ada gerak senyap kaum muslimin yang menyalurkan zakat, infaq, dan sedekahnya. Lewat LAZ HSI Berbagi, amanah dari orang-orang yang bahkan tidak saling kenal ini berubah menjadi bahan bakar utama yang menghidupkan mesin dakwah dan sosial.

Langkah HSI Berbagi kini makin mantap setelah resmi bertransformasi menjadi Lembaga Amil Zakat (LAZ) nasional. Status baru ini adalah tanggung jawab besar untuk mengelola dana umat secara profesional, transparan, dan sesuai syariat agar dampaknya meluas ke seluruh penjuru negeri.

Akhuna Mujiman Abu Ibrahim, Komite LAZ HSI Berbagi, menceritakan, seluruh program HSI Berbagi dirancang untuk memberi dampak jangka panjang. "Kami ingin membangun kesadaran zakat dan mengikis kemiskinan, sekaligus mendukung dakwah agar semakin banyak masyarakat mengenal Al-Qur'an dan As-Sunnah," tegas santri HSI-ARN151 ini dengan mantap.

Program yang dibuat tidak melulu soal bantuan konsumtif sekali habis. Programnya bahkan sangat beragam, di antaranya pengiriman dai ke daerah krisis pembinaan, dukungan operasional guru pelosok, beasiswa pendidikan untuk para penghafal Al-Qur'an, hingga pendampingan ekonomi keluarga dhuafa.

"Harapannya, mereka yang hari ini menjadi penerima manfaat (mustahik), suatu hari nanti bisa mandiri dan berbalik menjadi pemberi zakat (muzakki)," tambah Akhuna Mujiman optimis.

Cerita Nyata dari Ujung Negeri

Semua visi besar itu bukan hanya teori di atas kertas, tapi nyata terjadi di lapangan. Di Ende, Nusa Tenggara Timur, Akhuna Mujiman menyaksikan sendiri perjuangan para guru ngaji yang tetap semangat mengajar meski hanya menerima mukafa’ah sekitar Rp300 ribu setiap bulan.

Di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, warga merasa sangat kehilangan saat mahasiswa STDI Imam Syafi'i Jember yang mengikuti KKN bersama HSI Berbagi pada tahun 2025 harus pamit pulang. Kehadiran mereka mengobati rasa haus warga akan ilmu agama. "Mereka benar-benar haus dengan ilmu syar'i," kenang Akhuna Mujiman.

Melalui Program Peduli Guru, alhamdulillah HSI Berbagi sukses menyalurkan bantuan Rp500.049.000,00 untuk 87 guru di 18 provinsi pada tahun 2026 ini. Salah satu ceritanya datang dari guru RS di Bukittinggi, Sumatra Barat.

"Alhamdulillah, lewat bantuan ini kami bisa melunasi utang kepada orang-orang yang dulu menolong kami saat susah," kata Akhuna RS, santri ARN242. Ia menggunakan uang itu sebagai modal usaha, sebagian untuk ibunya yang menjanda, dan sisanya untuk membeli kasur baru anaknya. Di akhir pesan, ia berdoa, "Semoga Allah membalas seluruh muhsinin dengan balasan berlipat ganda dan melimpahkan keberkahan."

Kisah haru juga datang dari Ukhtuna Erna di Tuban, Jawa Timur, penerima Program Santunan Dhuafa tahun 2025, sebuah program yang menyalurkan dana zakat sebesar Rp1.020.408.000 untuk 255 keluarga dhuafa (1.154 jiwa).

Saat bantuan datang, santri HSI angkatan 222 ini sedang bingung memikirkan biaya terapi rutin anaknya. "Saya tidak dapat bantuan dari desa, tapi Allah ganti lewat HSI Berbagi. Uangnya bisa untuk beli buku, susu, dan kebutuhan anak saya yang mondok," katanya haru. Ia bahkan menyisihkan sebagian uangnya untuk membeli bibit sayur di pekarangan rumah.

Energi positif ini juga merembet ke dunia pendidikan lewat Program Beasiswa Penghafal Al-Qur'an. Akhuna Taufik, salah satu orang tua wali murid, bersyukur karena beban biaya sekolah putrinya runtuh seketika. "Harapan kami, semoga suatu hari nanti kami bisa berganti posisi menjadi orang yang ikut membantu program ini," harapnya.

Ananda Umair bin Achmad Sugandi, santri penerima beasiswa yang sudah mengkhatamkan 30 juz, ikut bersuara, "Beasiswa ini bikin saya makin semangat murajaah. Semoga semakin banyak generasi yang cinta Al-Qur'an,” tandasnya.

Muara Sebuah Kebaikan

Pada akhirnya, di sinilah keindahan dari sebuah infaq yang tulus menemukan bentuknya. Ia tidak pernah benar-benar selesai saat berpindah tangan dari sang pemberi kepada mereka yang membutuhkan. Lembaran materi itu menjelma menjadi aliran kebaikan yang terus hidup dalam bait-bait ilmu yang diajarkan di ruang kelas sederhana, dalam lantunan ayat suci yang dijaga para penghafal Al-Qur'an, hingga pada napas lega sebuah keluarga yang perlahan bangkit dari masa-masa sulitnya.

Boleh jadi, para donatur di luar sana tidak pernah saling bertatap muka, pun tak pernah tahu nama-nama mereka yang berada di Ende, Mentawai, atau Bukittinggi. Namun, di sisi Allah, setiap rupiah yang disisihkan dengan ikhlas telah menunaikan tugasnya dengan indah, menjadi jembatan hidayah, penyambung harapan, dan pembuka jalan keselamatan bagi sesama.

Selayaknya kasih sayang Rasulullah ﷺ yang tak pernah berjarak, kepedulian kita pun akan selalu menemukan jalannya untuk pulang dan menetap di hati umat.***

12