Mutiara Al-Quran

Jauhi yang Haram Meskipun Menggoda

Penulis: Abi Usamah Azhar Rizki

Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M.A.


Lafal Ayat

قُل لَّا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Katakanlah, 'Tidak sama antara hal yang buruk dengan hal yang baik, meskipun banyaknya hal yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang yang berakal, agar kamu beruntung.'" (QS. Al-Maidah: 100)

Tafsir ringkas

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan,

قُل لَّا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ

“Maksudnya, katakanlah (wahai nabi) kepada manusia agar berhati-hati dari kejelekan dan mendekat kepada kebaikan, bahwa tidaklah sama antara yang jelek dan yang baik dalam setiap hal. Maka, tidaklah sama antara iman dan kufur, antara ketaatan dan maksiat, ahli surga dan ahli neraka, amal kejelekan dan amal kebaikan, juga harta yang haram dan harta yang halal.

وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ

“Meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu.”

Hal yang buruk itu tidak akan bisa memberi manfaat bagi pemiliknya sedikit pun, bahkan hal buruk akan membahayakannya di dunia dan akhirat.

فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.”

Allah memerintah para Ululalbab, yaitu orang-orang yang berakal penuh serta pemahaman yang sempurna. Allah mengarahkan perintah ini kepada mereka, karena merekalah yang paham dan diharapkan kebaikannya.

Setelah itu, Allah mengabarkan bahwa keberuntungan hanya berporos pada ketakwaan yang selaras dengan perintah Allah dan larangan-Nya. Siapa saja yang bertakwa kepada Allah, sungguh dia telah beruntung dengan nyata. Sebaliknya, siapa saja yang meninggalkan ketakwaannya maka ia akan mendapatkan kerugian tanpa untung sama sekali.”[1]

Faedah dari ayat

  1. Ar-Raghib Al-Ashfahani menjelaskan makna khabits, “Secara asal, maknanya adalah apa saja yang dibenci karena jeleknya, baik untuk perkara yang bersifat konkret ataupun abstrak.” Sedangkan terkait surah Al-Ma’idah ayat 100 di atas, Al-Ashfahani berkata, “Yaitu (antara) kafir dan mukmin, (antara) amal perbuatan yang jelek dan amal yang shalih.”[2]
  2. Dari ayat di atas, Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyimpulkan sebuah kaidah yang berharga,[3] “Sedikitnya harta halal yang bermanfaat, lebih baik dibanding dengan banyaknya harta haram yang memudaratkan.” Setelah itu Ibnu Katsir menyebutkan sebuah riwayat, “Apa saja yang sedikit namun mencukupi, itu lebih baik dibanding sesuatu yang banyak namun melalaikan diri (dari ketaatan).” Ibnu Katsir juga menyampaikan riwayat dari Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jamul Kabir,[4] bahwa Tsa’labah bin Hathib Al-Anshari radhiyallahu ‘anhumma meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, doakan kepada Allah agar Dia memberi rezeki kepada diriku berupa harta.” Nabi mengatakan, “Sedikit harta yang bisa mengantarkanmu kepada syukur lebih baik dibanding harta yang banyak namun kau tak sanggup memikul konsekuensinya.”[5]
  3. Imam Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan salah satu pelajaran yang bisa kita ambil dari ayat di atas, “Makna kata ‘hal yang buruk’ dan ‘hal yang baik’ dalam ayat ini mencakup semua urusan, baik itu dalam pekerjaan dan seluruh perbuatan manusia, dalam ilmu pengetahuan, atau selainnya. Hal yang buruk pasti akan berakhir dengan kegagalan dan tak menghasilkan apa-apa. Dia tidak akan memiliki kesudahan yang baik, walaupun jumlahnya banyak (tidak berkah). Sebaliknya, hal yang baik, walaupun sedikit, pasti memiliki kesudahan yang baik. Allah berfirman (yang artinya), 'Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah;  dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana[6]….'” Al-Qurthubi lalu memberikan contoh, “… (Semisal) jika ada orang yang membangun bangunan atau menanam tanaman di atas tanah rampasan, dia wajib merobohkan bangunan tersebut dan mencabut tanamannya karena itu adalah khabits (jelek).”[7] Demikianlah praktik para ulama dalam menjaga kaum muslimin dari dampak buruk hal-hal yang khabits. Tentu cara pandang mereka berbeda dengan cara pandang sebagian kita yang awam. Ulama sudah melihat jauh ke depan tentang efek buruk duniawi dan ukhrawi terhadap sesuatu yang kita lakukan, sedangkan kita masih terkungkung dalam bisikan hawa nafsu, sehingga tidak bisa berpikir objektif pada hal-hal yang dapat membahayakan.
  4. Dalam kondisi yang sulit seperti sekarang ini, baik di dalam lingkup nasional maupun skala internasional, sebagai seorang muslim tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala maupun su’uzhan (buruk sangka) terhadap takdir-Nya. Bentuk buruk sangka terhadap takdir itu di antaranya:


    a. Menganggap rezeki yang halal telah habis, sehingga harus mencarinya dengan cara yang haram. Seakan tidak ada pilihan lagi selain yang haram. Semisal perkataan sebagian saudara kita, “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal!”

    b. Adapun jenis kedua, bisa jadi seseorang merasa putus asa sehingga melakukan bunuh diri guna mengakhiri penderitaan hidup yang menghimpitnya. Jika pun tidak membunuh dirinya, ia akan membunuh orang lain, semisal anaknya, lantaran takut miskin dan tak bisa memberi penghidupan yang layak.[8]

Kedua jenis perbuatan di atas adalah bentuk sikap berburuk sangka kepada Allah. Sesungguhnya Allah yang menjadi Rabb kita adalah Dzat Yang Maha Kaya. Semua takdir yang ditetapkan oleh-Nya tentu mengandung hikmah. Allah berfirman dalam surah Adz-Adz-Dzariyat ayat 58,

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”

Lihatlah, Allah memberi penegasan kepada kita, setelah Dia memerintah kita agar hanya beribadah dan patuh kepada-Nya, lalu Allah jelaskan bahwa ibadah yang kita lakukan bukan untuk kepentingan Allah, sebab Dia tak butuh ibadah dan pemberian kita. Pada ayat 58 ini, Allah mempertegas bahwa Dialah Yang Maha Memberi rezeki lagi Maha Memiliki kekuatan yang kokoh. Seharusnya ayat ini cukup membuat kita tenang saat kita melakukan ibadah dan ketaatan. Bagaimanapun, Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya.

Tiga poin di bawah ini dapat mempertegas hal tersebut:

● Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sungguh Ruhul Qudus (Jibril) pernah membisiki hatiku, ‘Bahwa jiwa manusia tidak akan dicabut kecuali setelah sempurna rezekinya.’ Karena itu bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara kalian dalam mencari rezeki. Jangan sampai (perasaan) lambatnya kedatangan rezeki membuat kalian mencarinya dengan cara yang haram, sebab apa yang ada di sisi Allah (nikmat dunia dan akhirat) tidak akan bisa diraih kecuali dengan menaati-Nya.”[9]

Dalam hadits ini Rasulullah mengabarkan kepada kita bahwa tidak ada rezeki yang terlambat datang. Bagaimana ia akan telat, padahal Allah sendiri telah menentukannya jauh sebelum kita ada. Allah pun menjaminnya, jauh sebelum kita bisa bekerja. Jadi, ini hanya masalah pola pikir dan keimanan. Rezeki akan kembali lagi pada perkara berprasangka baik kepada Allah atau berburuk sangka pada-Nya. Jika kita tak sabar dengan rezeki yang datang kepada kita, dan menilainya sebagai keterlambatan, kita sudah terjatuh pada salah satu bentuk buruk sangka kepada Allah. Sehingga, saat kita berburuk sangka kepada Allah, kita pun akan memutar haluan untuk mencari rezeki dengan cara yang haram. Wallahu a’lam.

● Bentuk kesalahan lain sehingga kita menjadi manusia yang kufur kepada Allah, ialah dengan mempersempit cakupan makna rezeki yang diberikan oleh Allah kepada kita. Sebagian kita selalu membayangkan bahwa rezeki itu hanya berupa harta melimpah, banyaknya anak, istri cantik, punya kendaraan, pekerjaan yang bagus, rumah mewah dan sebagainya. Sedangkan kita sendiri lupa bahwa rezeki lebih luas makna dan cakupannya dari itu semua. Lebih dari itu, mengapa kita tidak meminta rasa cukup di dalam hati dan ketenangan, dibanding dengan meminta harta yang berlimpah atau kehidupan yang mewah? Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kekayaan yang sebenarnya bukanlah kaya harta benda, namun kayanya jiwa. Sungguh Allah 'Azza wa Jalla memberi seorang hamba dari apa yang sudah Dia tuliskan dari jatah rezekinya. Karena itulah, perbaguslah cara kalian mencari rezeki; ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.”[10]

Beginilah salah satu doa yang diucapkan oleh Rasulullah,

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, bantulah diriku agar selalu mengingat-Mu, mensyukuri-Mu dan memperbagus ibadah kepada-Mu.”[11]

● Jangan sampai himpitan kebutuhan hidup kita menjadikan penglihatan kita kabur, dengan melihat kesenangan duniawi sebagai rezeki dan menilai bentuk kesabaran serta berprasangka baik kepada Allah bukan sebagai rezeki. Ingat, kesusahan dan kesulitan hidup kita adalah ujian, namun godaan harta haram di tengah-tengah kesulitan kita juga merupakan ujian yang lain. Jangan pernah berpikir bahwa yang haram itu adalah jalan keluar kita.

Ingatlah kembali doa Nabi Ibrahim 'alaihissalam untuk keturunannya dalam kondisi yang sulit. Inti doa itu hanya meminta supaya Allah jadikan keturunan beliau menjadi hamba-Nya yang taat, sebelum memohon agar mereka diberi rezeki berupa makanan. Tak lupa pula, Nabi Ibrahim 'alaihissalam meminta agar keturunannya dijadikan manusia yang bisa bersyukur terhadap semua pemberian dari Allah. Paket lengkap dalam berdoa yang sayangnya sering dilupakan oleh kita. Ibrahim ‘alaihissalam berdoa, “Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”[12]

Jangan sampai kita termasuk orang yang lupa bahwa memiliki iman dan mampu beramal shalih merupakan nikmat yang sangat besar. Kaidah yang berlaku tetaplah sama; siapa saja yang pandai mensyukuri nikmat Allah, niscaya akan Allah tambah, namun siapa saja yang kufur terhadap nikmat-Nya, pasti akan mendapat siksa.[13]

Referensi:

  1. Al-Mufradat fi Gharibil Qur'an, Ar-Raghib Al-Ashfahani Abul Qasim, Darul Qalam – Lebanon, cet. 1 tahun 1412 H (Al-Maktabah Asy-Syamilah)
  2. Taisirul Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Dar Ibnu Hazm, KSA.
  3. Tafsirul Qur'anil ‘Azhim, Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir, Ad-Dar Al-‘Alamiyyah, Mesir, cet. 1 tahun 1434 H/ 2012 M.
  4. Al-Jami’ li Ahkamil Qur'an, Abu Abdillah Syamsuddin Al-Qurthubi, Darul Kutub Al-Mishriyyah – Mesir, cet. 2 tahun 1383 H (Al-Maktabah Asy-Syamilah).
0