Ziarah Kubur bagi Wanita: Hukum dan Hikmahnya
Penulis: Hawwina Fauzia Aziz
Editor: Za Ummu Raihan
Salah satu stigma yang telah melekat erat di tengah masyarakat kita saat ini, khususnya di kalangan anak-anak, adalah kuburan identik dengan hal-hal dan nuansa yang menyeramkan. Setiap kali melewati area kuburan, tak jarang anak-anak merasa ngeri. Suasananya yang sepi, ditambah pohon-pohon rindang yang menaungi batu-batu nisan, memperkuat kesan menyeramkan tersebut.
Sayangnya, ketakutan ini bukanlah fitrah, melainkan hasil dari gambaran yang keliru dan kisah-kisah mistis yang terus diwariskan. Siapa lagi kalau bukan orang dewasa dan lingkungan sekitar yang biasanya mulai menyebarkan cerita horor? Sehingga, kuburan menjadi tempat yang menakutkan bagi anak-anak. Padahal, tidak seharusnya demikian.
Oleh karena itu, sudah sepatutnya orang tua untuk meluruskan pandangan dan menanamkan pemahaman kepada anak tentang hakikat kuburan dalam pandangan Islam. Kuburan bukanlah tempat horor dan mistis sebagaimana yang sering kita dengar, melainkan tempat peristirahatan terakhir kita di dunia, sebagai awal dari perjalanan kehidupan yang sesungguhnya, yakni menuju akhirat.
Manusia Akan Menghadapi Lima Fase Alam dalam Tahapan Kehidupan
Kita bisa mulai dengan menjelaskan kepada anak bahwa dalam tahapan kehidupan, manusia akan menghadapi lima fase alam yang berbeda. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa setiap manusia akan melalui lima tahapan kehidupan, yaitu:
- Alam ruh, ketika manusia belum ada di dunia.
- Alam kandungan, saat manusia berada dalam rahim ibu.
- Alam dunia, fase kehidupan di muka bumi.
- Alam barzakh, yaitu kehidupan di alam kubur setelah kematian.
- Alam akhirat, yaitu kehidupan yang abadi setelah hari kiamat. Tahapan terakhir inilah yang menjadi akhir dari perjalanan kehidupan manusia di dunia, sekaligus awal kehidupan yang kekal di akhirat.[1]
Selanjutnya, jelaskan pula kepada anak bahwa setiap manusia dan yang bernyawa lainnya pasti akan mati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ ثُمَّ اِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Kemudian, hanya kepada Kami kamu dikembalikan." (QS. Al-Ankabut: 57)
Berbekal pemahaman ini, kita dapat menjelaskan kepada anak bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjalanan menuju kehidupan akhirat. Oleh karena itu, orang yang telah meninggal dunia tidak akan berubah menjadi hantu atau “gentayangan” seperti yang sering kita dengar dalam tontonan maupun kisah-kisah yang tidak berdasar.
Orang yang telah meninggal telah berada di alam yang berbeda dengan kita yang masih hidup di dunia. Mereka telah memasuki alam baru yang disebut alam barzakh atau alam kubur, dan tidak akan bisa kembali lagi ke dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ القبرَ أوَّلُ مَنزلٍ من مَنازلِ الآخرةِ، فإن نجا منهُ فما بعدَهُ أيسرُ منهُ، وإن لم ينجُ منهُ فما بعدَهُ أشدُّ منهُ
“Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil, maka setelahnya lebih berat.” (HR. At Tirmidzi no. 2308, dinilai hasan oleh Al-Albani)[2]
Jangan Jadikan Hal-Hal Mistis sebagai Alat untuk Menakut-Nakuti Anak
Ketika kehabisan cara untuk membujuk anak agar segera pulang dari tempat bermain, sebagian orang tua kerap mengatakan, “Awas, di sana ada hantu!” atau, “Kalau tidak pulang, nanti diganggu hantu.” Kalimat semacam ini, meskipun sering dimaksudkan sebagai candaan, terlebih jika terbiasa dijadikan “senjata terakhir” dalam mengontrol anak, justru dapat menanamkan konsep yang keliru dalam aqidah anak.
Anak bisa meyakini bahwa orang yang telah meninggal masih bisa “berkeliaran” untuk mengganggu manusia. Akibatnya, mereka lebih takut kepada hantu daripada kepada Allah; dan memandang kematian semata-mata sebagai sesuatu yang menyeramkan, bukan sebagai kenyataan yang pasti dan harus dipersiapkan.
Sesekali Ajak Anak Berziarah Kubur dengan Teladan Sikap yang Tenang
Tak ada salahnya sesekali mengajak anak yang sudah bisa diberi pengertian untuk berziarah kubur atau mengunjungi makam kerabat yang telah meninggal, seperti kakek, nenek, atau anggota keluarga lainnya. Sebelum berangkat, berikan pemahaman dan pengantar yang menenangkan, misalnya:
“Nak, hari ini kita akan berziarah, mengunjungi makam nenek, ya. Pemakaman atau kuburan itu adalah tempat orang-orang yang telah meninggal dan sedang menunggu untuk dibangkitkan oleh Allah pada hari kiamat nanti. Setiap manusia yang hidup di muka bumi ini pasti akan meninggal, termasuk kita. Kita tidak pernah tahu kapan waktunya tiba. Jadi, nanti di sana, kita doakan mereka, ya, agar mereka bisa menunggu dengan tenang dan bahagia di alam kuburnya.”
Dengan melihat sikap orang tua yang tenang, serta diajak untuk mendoakan kerabat yang telah meninggal dan merenungi hikmah dari berziarah kubur, anak-anak akan belajar bahwa setiap manusia pasti akan mengalami kematian. Mereka juga akan memahami bahwa kematian adalah sesuatu yang harus dipersiapkan dengan baik, bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
Membentengi Diri dari Gangguan Setan dengan Berdzikir dan Berdoa
Jelaskan kepada anak dengan sederhana bahwa Islam tidak mengenal hantu maupun arwah gentayangan, namun jin jahat (yang bersifat setan) terkadang memang bisa menampakkan diri dalam berbagai wujud[3] untuk menakut-nakuti manusia. Itu bukanlah ruh orang yang sudah meninggal. Kita tidak perlu takut dengan itu, melainkan cukup membentengi diri dari gangguannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّمَا ذٰلِكُمُ الشَّيْطٰنُ يُخَوِّفُ اَوْلِيَاۤءَه فَلَا تَخَافُوْهُمْ وَخَافُوْنِ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
"Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya. Oleh karena itu, janganlah takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang mukmin." (QS. Ali 'Imran :175)
Dalam hal ini, orang tua bisa membiasakan anak untuk merutinkan zikir pagi–petang, mengajarkan anak untuk senantiasa berdoa, serta memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala setiap harinya dengan pendampingan orang tua. Yakinkan kepada anak bahwa dengan upaya itu semua, insyaallah, Allah pasti akan selalu menjaga kita dari segala bahaya, gangguan dan keburukan.
Tanamkan Harapan dan Rasa Cinta kepada Allah
Satu hal yang mungkin jarang kita sadari adalah bahwa sejatinya rasa takut terhadap hal-hal semacam itu muncul karena seseorang belum merasa dekat dengan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk menanamkan rasa cinta kepada Allah sejak dini dalam diri anak.
Ajarkan pula sifat-sifat Allah, bahwa Dia adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. Bagi orang-orang yang beriman dan istiqamah dalam keimanannya, kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan salah satu fase untuk menjemput kebahagiaan yang hakiki di akhirat kelak. Sebab, orang-orang beriman adalah mereka yang telah mempersiapkan dirinya sebaik mungkin untuk menghadapi kematian. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْ بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fussilat: 30)
Apabila anak tumbuh dengan rasa cinta kepada Allah dan meyakini kasih sayang-Nya, maka ia akan memandang kematian dan kuburan dengan ketenangan sebagaimana mestinya. Kita bisa menggambarkannya dengan cara yang menenangkan, misalnya:
“Kalau kita menjadi anak yang baik dan shalih, insyaallah alam kubur kita akan lapang dan indah, seperti taman di surga.”
Menjernihkan Aqidah Anak dari Cerita Mistis
Masa kecil anak-anak pasti akan selalu dipenuhi oleh cerita-cerita. Jika kita tidak mengisinya dengan kisah-kisah yang benar, masa kecil mereka hanya akan terisi oleh dongeng dan tontonan yang sia-sia. Maka dari itu, mari menjadi orang tua yang senantiasa mengisi hari-hari anak dengan bacaan atau kisah Islami yang bergizi, serta meminimalkan akses terhadap tontonan yang tidak bermanfaat, bahkan bertentangan dengan syariat.
Isi sudut-sudut rumah dengan buku bacaan bermanfaat yang telah Ayah-Bunda pilihkan secara selektif untuk anak. Jadilah teladan yang baik dengan senantiasa mengisi waktu luang bukan dengan tontonan yang sia-sia, melainkan dengan bacaan yang menambah wawasan serta menguatkan keimanan.
Ceritakan kepada anak kisah-kisah salafus shalih yang menjalani kehidupan dalam ketaatan dan mempersiapkan kematiannya sebaik mungkin, kisah-kisah tentang husnul khatimah, juga gambaran tentang keindahan surga sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadits. Harapannya, dengan itu masa kecil anak tidak akan terisi dengan dongeng maupun kisah yang sia-sia, tetapi dengan pemahaman yang mampu membentengi diri dari cerita-cerita mistis yang bertentangan dengan aqidah Islam.
Berbekal pemahaman ini, insyaallah anak akan tahu ke mana ia akan pergi setelah melewati kehidupan dunia, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih berhati-hati dalam menjaga dirinya agar senantiasa berada dalam koridor syariat Islam.
Semoga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā membalas segala kebaikan dan perjuangan Ayah-Bunda, Aba-Umma, dalam menanamkan nilai-nilai tauhid pada setiap sudut kehidupan anak-anak, serta menjadikannya sebagai amal jariyah yang bermanfaat di hari akhir kelak. Amin.
Referensi:
- Al-Qur’anul Karim.
- Fathul Baari Li Ibni Hajar, Al-Asqalani, Maktabah Syamilah.
- Misykaatul Mashaabiih, At-Tabrizi dan Al-Albani, Maktabah Syamilah.
- Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah, Ibnu Utsaimin, Maktabah Syamilah.