Mutiara Hadits

Jangan Suka Menunda-Nunda

Penulis: Abdullah Yahya An-Najaty, Lc.

Editor: Za Ummu Raihan


عَنْ ‌عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: «أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي، فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا ‌كَأَنَّكَ ‌غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ» وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memegang kedua pundakku” lalu bersabda, ‘Jadilah di dunia ini seperti orang asing atau musafir.’ Ibnu Umar juga berkata, “Jika engkau berada pada sore hari, jangan menunggu datangnya pagi. Dan jika engkau berada pada pagi hari, jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum masa sakitmu dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.”

Takhrij Hadits

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Shahih Al-Bukhārī, Abu Abdillah Muhammad bin Ismā'īl bin Ibrāhīm Al-Bukhārī, As-Sulthāniyah-Mesir, Cet. 1, Tahun 1422 H, No. 6416 sesuai lafadznya; Sunan At-Tirmidzī, Abu ‘Īsā Muhammad bin ‘Īsā At-Tirmidzi, Tahqīq Muhammad Nāshiruddīn Al-Albānī, Maktabah Al-Ma’ārif, Riyādh-KSA, Cet. 1, tanpa tahun, No. 2333; Shahih Ibnu Hibban, Abu Hātim Muhammad bin Hibban Al-Bustī, Tahqīq Muhammad ‘Ali Sunmūz dan Khālish Ay Damīr, Dār Ibn Hazm-Beirut, Cet. 1, Tahun 1433 H/2012 M, No. 4580; Sunan Al-Kubra, Abu Bakr Ahmad bin Al-Husain bin ‘Alī Al-Baihaqī, Dār Al-Kutub Al-Ilmiyah-Beirut, Cet. 3, Tahun 1424 H/2003 M, No. 6512; dalam Syu’abul Iman, Abu Bakr Ahmad bin Al-Husain bin Alī Al-Baihaqī Al-Khurāsānī, Tahqīq DR. Abdul Alī Abdul Hamīd, Maktabah Ar-Rusyd, Riyādh-KSA, Cet. 1, Tahun 1423 H/2003 M, No. 9764, 10059; Syarhussunnah, Al-Husain bin Mas’ūd Al-Baghawī, Tahqīq Syu’aib Al-Arnāuth-Muhammad Zuhair Asy-Syāwīsy, Al-Maktab Al-Islāmī-Beirut, Cet. 2, Tahun 1403 H/1983 M, No. 4029; Musnad Ar-Ruyani, Abu Bakr Muhammad bin Harun Ar-Ruyani, Tahqiq Aiman ‘Ali Abu Yamani, Muasasah Qarthabah-Kairo, Cet. 1, Tahun 1416 H, No. 1417; Al-Ghuraba’, Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain bin Abdullah Al-Ajurri Al-Baghdadi, Tahqiq Badr Al-Badr, Dar Al-Khulafa’-Kuwait, Cet. 1, Tahun 1403 H, No. 19, 20; dan Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah Al-Ashbahani, Mathba’ah As-Sa’adah-Mesir, Cet. Tahun 1394 H/1974 M, 3/301 dari sahabat Abdullah bin Umar.

Makna Umum Hadits

Hadits ini membahas pentingnya mempersedikit urusan dunia, meninggalkan kesibukan yang melupakan akhirat, memperpendek angan-angan, melakukan amal shalih, waspada terhadap menunda tobat, memanfaatkan waktu sehat sebelum datang sakit, dan waktu hidup sebelum kematian.

Syarh Hadits

Kalimat (أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي) berarti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memegang kedua pundak Abdullah bin Umar untuk menarik perhatian dan memperjelas pesan yang akan disampaikan. Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam (كُنْ فِي الدُّنْيَا) maksudnya adalah selama kamu tinggal di dunia ini. (كَأَنَّكَ ‌غَرِيبٌ) berarti serupakan dengan orang asing agar tidak terlalu nyaman dan bersandar pada dunia. (أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ) berarti seperti musafir yang tujuan utamanya adalah mencapai tujuan dengan segenap usaha dan meringankan beban perjalanan.

Ibnu Hubairah berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan agar kita menyerupai orang asing. Orang asing tidak akan mengungguli penduduk setempat dalam majelis mereka, tidak merasa terasing meski berbeda kebiasaan, dan tidak terlalu memperhatikan hal-hal yang tidak penting. Begitu pula musafir tidak akan terlibat dalam perselisihan atau debat yang menghambat perjalanan.”

Demikianlah seorang muslim seharusnya memandang dunia, hanya mengambil yang cukup dan tidak terbuai oleh hawa nafsu. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Jika anak Adam memiliki dua lembah harta, ia akan menginginkan lembah yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perutnya kecuali tanah (kuburan).” [HR. Bukhari, No. 6436]

Kalimat (وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ) mengajarkan agar kita selalu memandang kematian di depan mata, sibuk dengan amal shalih, memperpendek angan-angan, dan bersegera dalam beramal. Jika berada pada sore hari, jangan menunggu pagi, dan jika pagi, jangan menunggu sore.

Kalimat (وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ) menganjurkan agar memanfaatkan waktu sehat untuk beramal, karena kita tidak tahu kapan sakit akan datang. Namun, jika sakit, pahala tetap dicatat setara dengan pahala saat sehat jika kita sudah memanfaatkan waktu sehat untuk ketaatan.

Kalimat (وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ) menganjurkan agar waktu hidup digunakan sebaik mungkin sebagai persiapan kematian dengan amal yang bermanfaat.

Sifat menunda-nunda hanya akan mendatangkan penyesalan dan kehilangan kesempatan. Untuk menghindarinya, lakukan hal berikut:

  1. Tawakal kepada Allah dan berdoa untuk dijauhkan dari sifat ini.
  2. Bergaul dengan orang-orang shalih.
  3. Ingat bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, baik keburukan maupun kebaikan.
  4. Takut kepada Allah dan pertimbangkan akibat negatif dari menunda-nunda.
  5. Manfaatkan kesempatan dan waktu lapang untuk beramal.
  6. Segera lakukan amal kebajikan tanpa menunggu waktu yang tepat.

Faedah Hadits

  1. Seorang guru dapat meletakkan tangannya pada pundak muridnya saat mengajar untuk menunjukkan kasih sayang dan perhatian.
  2. Boleh memulai nasehat dan arahan bagi orang yang belum meminta.
  3. Nasehat yang ditujukan kepada satu orang dapat berlaku umum untuk semua orang.
  4. Metode pengajaran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melalui contoh yang relevan.
  5. Anjuran untuk meninggalkan dunia dan bersikap zuhud.
  6. Waspada terhadap hal-hal rendah seperti hasad dan permusuhan.
  7. Memperpendek angan-angan dan mempersiapkan diri untuk kematian.
  8. Bersegera dalam amal shalih sebelum tidak mampu melakukannya.
  9. Seorang mukmin sejati selalu giat menuju Allah dan beribadah.
  10. Nasihat yang disampaikan pada momen yang tepat akan lebih berkesan.
  11. Nikmat sehat dan hidup hanya dimanfaatkan oleh orang yang bijak.

Referensi:

  1. Shahīh Al-Bukhārī, Abu Abdillah Muhammad bin Ismā'īl bin Ibrāhīm Al-Bukhārī, As-Sulthāniyah-Mesir, Cet. 1, Tahun 1422 H.
  2. Sunan At-Tirmidzī, Abu ‘Īsā Muhammad bin ‘Īsā At-Tirmidzi, Tahqīq Muhammad Nāshiruddīn Al-Albānī, Maktabah Al-Ma’ārif, Riyādh-KSA, Cet. 1, tanpa tahun.
  3. Syarh As-Sunnah, Al-Husain bin Mas’ūd Al-Baghawī, Tahqīq Syu’aib Al-Arnāuth-Muhammad Zuhair Asy-Syāwīsy, Al-Maktab Al-Islāmī-Beirut, Cet. 2, Tahun 1403 H/1983 M.
  4. As-Sunan Al-Kubrā, Abu Bakr Ahmad bin Al-Husain bin ‘Alī Al-Baihaqī, Dār Al-Kutub Al-Ilmiyah-Beirut, Cet. 3, Tahun 1424 H/2003 M.
  5. Syu’ab Al-Īmān, Abu Bakr Ahmad bin Al-Husain bin Alī Al-Baihaqī Al-Khurāsānī, Tahqīq DR. Abdul Alī Abdul Hamīd, Maktabah Ar-Rusyd, Riyādh-KSA, Cet. 1, Tahun 1423 H/2003 M.
  6. Shahīh Ibnu Hibban, Abu Hātim Muhammad bin Hibban Al-Bustī, Tahqīq Muhammad ‘Ali Sunmūz dan Khālish Ay Damīr, Dār Ibn Hazm-Beirut, Cet. 1, Tahun 1433 H/2012 M.
  7. Hilyatul Auliya’ Wa Thabaqat Al-Ashfiya’, Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah Al-Ashbahani, Mathba’ah As-Sa’adah-Mesir, Cet. Tahun 1394 H/1974 M.
  8. Al-Ghuraba’, Abu Bakr Muhammad bin Al-Husain bin Abdullah Al-Ajurri Al-Baghdadi, Tahqiq Badr Al-Badr, Dar Al-Khulafa’-Kuwait, Cet. 1, Tahun 1403 H.
  9. Musnad Ar-Ruyani, Abu Bakr Muhammad bin Harun Ar-Ruyani, Tahqiq Aiman ‘Ali Abu Yamani, Muasasah Qarthabah-Kairo, Cet. 1, Tahun 1416 H.
  10. Al-Ifshah ‘An Ma’ani Ash-Shihah, Abul Mudhaffar ‘Aunuddin Yahya bin Hubairah bin Muhammad Asy-Syaibani, Tahqiq Fu’ad Abdul Mun’im Ahmad, Dar Al-Wathan, Cet. Tahun 1417 H.
  11. Syarh Hadits Kun Fit Dunya Kaannaka Gharib Aw ‘Abirus Sabil, Syaikh Abdul ‘Aal Sa’ad Asy-Syalyah, https://www.alukah.net/sharia/0/107661/شرح-حديث-كن-في-الدنيا-كأنك-غريب-أو-عابر-سبيل/. Diakses pada 20 Agustus 2024.
  12. Artikel ‘Ilaj At-Taswif Fi Al-Islam’, Rima Rabaiah, https://mawdoo3.com/علاج_التسوف_في_الإسلام. Diakses pada 20 Agustus 2024.
  13. Website https://hadeethenc.com/ar/browse/hadith/4704. Diakses pada 20 Agustus 2024.
0