Jangan Sia-siakan Waktumu!
Penulis: Athirah Mustadjab
Editor: Za Ummu Raihan
LAFAL AYAT
وَما هذِهِ الْحَياةُ الدُّنْيا إِلَاّ لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوانُ لَوْ كانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, jikalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64)
TAFSIR
وَما هذِهِ الْحَياةُ الدُّنْيا
- Pada kenyataannya.[1]
- Inilah tempat orang-orang musyrik bersenang-senang.[2]
إِلَاّ لَهْوٌ وَلَعِبٌ
- Isi dunia ini terbatas pada dua perkara: Lahwu atau la’iba.[3]
- Lahwu (لَهْوٌ) artinya menikmati kelezatan dunia. Dinamakan “lahwu” karena kelezaatannya semu; berkebalikan dengan kelezatan akhirat (yang sejati).[4]
- Lai'iba (لَعِبَ) artinya bermain-main. Dinamakan “la’iba” karena dia digunakan oleh orang yang tidak memikirkan akibat perbuatannya.[5]
- Terdapat beberapa pendapat ulama terkait perbedaan lahwu dan la’iba:[6]
- Pendapat pertama: Lahwu berkaitan dengan lisan, sedangkan la’iba berkaitan dengan anggota tubuh.
- Pendapat kedua: Lahwu berkaitan dengan hati (yang mengalihkan perhatian dari ketaatan kepada Allah 'Azza wa Jalla), sedangkan la’iba berupa amalan anggota badan, baik itu lisan maupun selain lisan.
- Pendapat ketiga: Lahwu adalah dengan hati, sedangkan la’iba berkaitan dengan anggota badan.
- Di dunia ini juga ada orang yang beramal shalih, misalnya mengerjakan shalat, berzakat, berpuasa, berhaji, berbakti kepada orang tua, bersilaturahim, dan sebagainya, tetapi semua amal shalih itu bukanlah termasuk la’iba karena buah dari amal shalih tersebut akan tampak di akhirat nanti. Amal shalih bukanlah termasuk amalan duniawi, sehingga andai seseorang mengharapkan keuntungan duniawi dari amal shalih yang selayaknya untuk tujuan ukhrawi, niscaya amalnya tidak bernilai di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala dan dia tidak akan mendapat pahala. Salah satu dalilnya adalah QS. Hud: 15-16.[7]
- Kehidupan dunia ini tiada lain kecuali sekadar untuk menghibur jiwa dengan kenikmatan yang ada di sana. Lantas dalam sekejap saja semua kenikmatan itu lenyap, tidak abadi dan tidak kekal.[8]
وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوانُ
- Maknanya: Di sanalah kehidupan yang kekal. Ahli bahasa mengatakan, “Al-hayawan atau al-hayah memiliki makna yang sama.” Di negeri akhiratlah kehidupan yang abadi.[9]
- Lafal “al-hayawan” (الْحَيَوَانُ) bermakna “al-hayah” (الْحَيَاةُ). Lafalnya datang dalam bentuk “al-hayawan” (mengikut wazan فَعَلَانُ) sebagai bentuk mubalaghah (superlatif).[10]
- Negeri akhirat adalah kehidupan yang sempurna nan kekal. Tubuh penghuninya kuat tak terkira dan ketangguhan mereka sangat dahsyat karena tubuh mereka tercipta untuk menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Segala sesuatu yang mengelilingi mereka tersedia demi menyempurnakan kehidupan mereka di sana. Dengannya, kelezatan yang mereka nikmati sungguh sempurna, baik itu kegembiraan hati maupun syahwat jasadi, berupa makanan, minuman, kebutuhan biologis, serta kenikmatan lainnya yang tak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tak pernah terlintas di benak seorang pun.[11]
- Sesungguhnya negeri akhirat merupakan tempat kehidupan yang sejati, yang tidak mungkin lenyap dan terputus, dan di dalamnya tidak ada lagi kematian.[12]
- Mujahid berkata bahwa makna لَهِيَ الْحَيَوَانُ adalah tidak ada lagi kematian di sana.[13]
لَوْ كانُوا يَعْلَمُونَ
- Seandainya mereka mengetahui bahwa dunia itu fana, sedangkan akhirat itu kekal.[14]
- Ibnu Abbas menjelaskan tentang makna لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ, “Seandainya orang-orang musyrik itu tahu tentang hakikat kehidupan dunia, mereka pasti akan menjauhi kedustaan terhadap Allah, kesyirikan, dan bentuk ibadah lain yang mereka kerjakan. Akan tetapi, mereka tidak mengetahui hakikat tersebut.”[15]
PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK
- Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan tentang rendahnya kedudukan dunia, kehancurannya, dan akan binasanya dia. Dunia tidak kekal, dan ujungnya bukanlah tawa dan permainan. Adapun negeri akhirat, itulah kehidupan sebenarnya, yaitu kehidupan abadi tanpa kebinasaan, dan negeri tersebut akan terus ada selamanya.[16]
- Malik bin Dinar berkata, “Andai dunia terbuat dari emas yang sirna, sedangkan akhirat tercipta dari tembikar yang abadi, tentunya yang harus dipilih adalah tembikar yang abadi – bukannya emas yang akan sirna. Jika demikian, apatah lagi seandainya akhirat terbuat dari emas dan pasti abadi, sedangkan dunia terbuat dari tembikar dan pasti sirna, (tentu akhirat jauh lebih layak untuk dipilih)!”[17]
- Dunia dihuni oleh hati yang bersenda gurau dan tubuh yang bermain-main karena memang Allah mengisi dunia dengan hal-hal yang indah dan nikmat, memabukkan jiwa yang memang “sakit”, menyilaukan mata yang lalai, serta menggembirakan jiwa yang menyukai kebatilan. Kemudian, itu semua tiba-tiba lenyap dan luluh lantak. Tiada lagi yang tersisa dari cinta-dunia melainkan penyesalan, nestapa, dan kerugian.[18]
- Dunia ini ibarat permainan di mata seorang anak kecil. Permainan itu akan dia sukai selama dia masih kecil. Tatkala dia tumbuh dewasa dan akalnya semakin matang, mainan itu tidak lagi menarik untuknya (karena dia telah mengenali bahwa itu semua hanya permainan yang remeh).[19]
- Singkatnya waktu kita di dunia seharusnya menjadi motivasi bagi kita dalam beramal: berusaha selalu ikhlas, berusaha istiqamah dalam beramal, menyebarkan dakwah Islam sesuai dengan kemampuan kita, serta bersabar dalam menjalani pasang-surut kehidupan.
- Manusia hendaklah cerdas dalam mengisi waktu sehari-hari. Pilihlah segala sesuatu yang hasilnya dapat dipetik di akhirat kelak. Sungguh sia-sia jika hidup hanya diisi dengan bersenang-senang.
- Ada orang yang berkata, “Bersenang-senanglah karena hidup ini hanya satu kali! Bersenang-senanglah karena hidup ini sangat singkat!” Pola pikir semacam itu tidak berlaku bagi seorang muslim karena bagi seorang muslim, yang berlaku adalah, “Beramal shalihlah karena dunia ini fana, sedangkan keabadian hanya ada di akhirat kelak! Beramal shalihlah karena hidup ini sangat singkat; isilah waktumu di dunia ini dengan amalan terbaik untuk akhiratmu!” Begitu mencoloknya dua prinsip hidup tersebut, semata karena pengaruh “ada atau tidak adanya ilmu syar’i di dalam jiwa seseorang”. Demikianlah pentingnya belajar agama karena dengannya sebuah sudut pandang akan terbangun dengan benar.
Referensi:
- Adhwa’ul Bayan. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Tafsir Ath-Thabari. Al-Imam Ath-Thabari. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Tafsir Ibnu Katsir. Al-Imam Ibnu Katsir. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Tafsir As-Sam’ani. Al-Imam As-Sam’ani. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Taisirul Karimir Rahman. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Tafsir Al-’Utsaimin lil ‘Ankabut. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
Lanjut baca? 0%