Jangan Selalu Merasa Susah
Penulis: Abdullah Yahya An-Najaty, Lc.
Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M.A.
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا»
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa di antara kalian memasuki pagi hari dalam keadaan aman di tengah keluarganya, sehat badannya dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya.”
Takhrij Hadits
Hadits ini hasan. Dikeluarkan At-Tirmidzi dalam sunannya nomor 2346 dengan lafazhnya, Ibnu Majah dalam sunannya nomor 4141, dan Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad nomor 300, dari sahabat Nabi bernama Ubaidullah bin Mihshan Al-Khathmi radhiyallahu ‘anhu.
Syaikh Al-Albani rahimahullah menilai haditsnya hasan dalam Ash-Shahihah nomor 2318.
Makna Umum Hadits
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan, bahwa siapa pun di antara kalian, wahai kaum muslimin, yang pada pagi harinya berada dalam keadaan sehat, selamat dari penyakit dan gangguan, merasa aman dalam diri, keluarga, anak-anak dan perjalanannya tanpa rasa takut, serta memiliki kecukupan makanan halal untuk hari itu, maka seakan-akan seluruh dunia telah dikumpulkan untuknya.[1]
Syarah Hadits
Kalimat (مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ) maknanya adalah kalian wahai kaum mukminin pada hari itu juga[2], dan dalam hal ini terdapat isyarat bahwa seorang mukmin seharusnya tidak terlalu memikirkan masa depan, karena segala urusannya berada di tangan Allah 'Azza wa Jalla.[3] Allah jelaskan tentang kepribadian seorang mukmin dalam firman-Nya,
مَنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٌ فَلَهُۥٓ أَجۡرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ
“Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa khawatir pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 112)
Kalimat (آمِنًا فِي سِرْبِهِ) maknanya aman jiwanya dari pembunuhan, aman rumahnya dari pencurian dan aman kehormatannya dari pelecehan.[4]
Keamanan merupakan salah satu nikmat terbesar dari Allah kepada hamba-hamba-Nya setelah nikmat iman dan Islam. Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An‘am: 82).
Kalimat (مُعَافًى فِي جَسَدِهِ) maknanya sehat, selamat dari sakit dan penyakit baik secara lahir maupun batin.[5] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita agar selalu meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala dari segala penyakit, dalam doa yang biasa beliau panjatkan,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta, dan penyakit-penyakit buruk lainnya.” (HR. Ahmad nomor 13004, dinilai shahih sanadnya oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth)
Bersamaan dengan itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan pentingnya kesehatan dalam sabdanya,
فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ الْيَقِيْنِ خَيْرًا مِنَ الْعَافِيَةِ
“Sesungguhnya tidaklah seseorang dikaruniai sesuatu yang lebih baik setelah dikaruniai keyakinan (iman) dibandingkan dengan keselamatan (kesehatan).” (HR. At-Tirmidzi nomor 3558, dinilai hasan shahih oleh Syaikh Al-Albani).
Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan adalah nikmat besar. Namun, sayangnya kebanyakan manusia melalaikannya dan teperdaya oleh nikmat kesehatan ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia teperdaya dengan keduanya; nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari nomor 6412)
Oleh karenanya, kebanyakan manusia tidak bisa mensyukuri nikmat tersebut, bahkan malah memakainya untuk sesuatu yang tidak diridhai Allah. Sungguh, Allah 'Azza wa Jalla telah menegaskan dalam firman-Nya,
وَءَاتَىٰكُم مِّن ْكُلِّ مَا سَأَلۡتُمُوهُۚ وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34)
Kalimat (عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ) maknanya dia memiliki makanan yang cukup untuk dikonsumsi dan bisa menghidupinya.[6] Sedangkan menurut Syaikh Al-Mubarakfuri rahimahullah, maknanya orang itu memiliki makanan yang cukup yang dia dapatkan dengan cara yang halal.[7] Makanan adalah salah satu nikmat Allah 'Azza wa Jalla yang sangat besar. Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
ٱلَّذِيٓ أَطۡعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَءَامَنَهُم مِّنۡ خَوۡفِۭ
“Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS. Quraisy: 4)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berlindung dari kelaparan, sebab kelaparan bisa mencegah seseorang dari urusan dunia dan ibadahnya.[8] Beliau bersabda,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُوعِ، فَإِنَّهُ بِئْسَ الضَّجِيعُ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari (bahaya) kelaparan, karena sesungguhnya ia adalah seburuk-buruk teman tidur.” (HR. Abu Dawud nomor 1547, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani).
Kalimat (فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا) maknanya seakan dikumpulkan untuknya dunia, dan dalam riwayat di kitab Mashabihus Sunnah[9] nomor 4033, ada tambahan kata (بِحَذَافِيرِهَا), menurut Al-Qariy maknanya adalah dengan sempurna. Penjelasannya, seolah-olah dia dikaruniai dunia dengan segala isinya.[10]
Al-Munawi rahimahullah berkata, ”Barang siapa yang Allah kumpulkan pada dirinya kesehatan jasmaninya, keamanan dalam hatinya, kecukupan dalam makanannya dan keselamatan keluarganya, maka Allah telah mengumpulkan untuknya seluruh nikmat, siapa yang mendapatkannya seolah-olah telah memiliki dunia sekalipun tidak mendapatkan nikmat selain itu. Oleh karena itu, hendaknya dia tidak menyambut hari itu melainkan dengan syukur kepada Allah dengan memanfaatkan nikmat tersebut untuk ketaatan kepada Allah 'Azza wa Jalla, bukan dengan bermaksiat kepada-Nya atau lalai dari zikir kepada-Nya.”[11]
Ketika ujian hidup menghampiri, Ingatlah, bahwa ujian hidup bukan tanda kebencian Allah, melainkan jalan cinta-Nya untuk meninggikan derajat, menghapus dosa dan menguatkan jiwa. Daripada larut menghitung kekurangan, fokuslah pada limpahan nikmat yang masih tersisa; kesehatan, keluarga dan iman. Belajarlah menerima dengan lapang dada, bukan menyerah, tapi bersyukur atas apa yang Allah titipkan hari ini, seraya terus berusaha tanpa mengeluh. Sebab, syukur bukan sekadar ucapan, tapi cara pandang yang menyejukkan hati dan mengundang keberkahan.
Awali hari dengan doa dan syukur sebagai tanda kebangkitan jiwa, bukan sekadar tubuh. Gunakan nikmat yang Allah berikan, seperti kesehatan dan rezeki untuk berbuat baik dan memperbaiki diri. Hindari sikap membandingkan hidup kita dengan orang lain, karena setiap takdir sudah ditetapkan. Cukup bandingkan diri kita hari ini dengan diri kita yang kemarin. Dengan begitu, kita akan mudah mensyukuri dan menghargai nikmat yang kita miliki, meski itu sederhana. Hal ini tergambar dalam sebuah atsar dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya seseorang bertanya kepada beliau.
“Bukankah kita termasuk orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin?” Maka Abdullah berkata, “Apakah engkau memiliki istri yang engkau bersandar kepadanya?” Dia menjawab, “Ya.” Abdullah bertanya lagi, “Apakah engkau memiliki rumah untuk tempat tinggalmu?” Dia menjawab, “Ya.” Maka Abdullah pun berkata, “Jadi engkau adalah orang kaya.” Orang itu berkata lagi, “Sesungguhnya aku juga memiliki pembantu.” Abdullah pun berkata, “Maka engkau termasuk salah seorang raja.” (Atsar riwayat Muslim nomor 2979).
Referensi:
- Shahih Al-Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari, As-Sulthaniyah-Mesir, Cet. 1, Tahun 1422 H.
- Shahih Muslim, Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi, Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, Mathba'ah 'Isa Al-Babi Al-Halabi-Kairo, Cet. Tahun 1374 H/1955 M.
- Sunan At-Tirmidzi, Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi, Tahqiq Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Maktabah Al-Ma’ārif, Riyadh-KSA, Cet. 1, tanpa menyebut tahun.
- Sunan Ibni Majah, Abu Abdillah Muhammad bin Yazid Al-Qazwaini Ibnu Majah, Tahqiq Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Maktabah Al-Ma’ārif, Riyadh-KSA, Cet. 1, tanpa menyebutkan tahun.
- Sunan Abi Dawud, Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistani, Tahqiq dan Takhrij Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Maktabah Al-Ma’ārif, Riyādh-KSA, Cet. 1, tanpa menyebut tahun.
- Al-Adabul Mufrad, Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Takhrij sesuai hukum Syaikh Al-Albani, Maktabah Al-Ma’arif-Riyadh-KSA, Cet. 1, Tahun 1419 H/1998 M.
- Musnad Al-Imam Ahmad bin Hambal, Al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal, Tahqiq Syu’aib Al-Arnauth, Mu’asasah Ar-Risalah-Beirut, Cet. 1, Tahun 1416 H/1996 M.
- Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah Wa Syai’ Min Fiqhiha Wa Fawaidiha, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Maktabah Al-Ma’arif, Cet. Tahun 1995 M/1415 H.
- Tuhfah Al-Ahwadzi Bi Syarh Jami' At-Tirmidzi, Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al-Mubarakfuri, Darul Hadits, Kairo, Cet. 1, Tahun 1421 H/2001 M.
- Faidh Al-Qadir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir, Zainuddin Muhammad bin Tajul Arifin bin Ali Al-Munawi, Dar Al-Kutub Al-‘ilmiyyah-Lebanon, Cet. 1, Tahun 1415 H/1994 M.
- Mashabih As-Sunnah, Muhyissunnah Abu Muhammad Al-Husain bin Mas’ud bin Muhammad Al-Baghawi, Tahqiq DR. Yusuf Al-Mar’asyli, Dar Al-Ma’rifah-Beirut, Cet. 1, Tahun 1407 H/1987 M.
- Website www.alukah.net, https://www.alukah.net/sharia/0/67424/شرح-حديث-من-أصبح-آمنا-في-سربه/, Diakses tanggal 17 Juli 2025.
- Website hadeethenc.com, https://hadeethenc.com/ar/browse/hadith/5840. Diakses tgl 17 Juli 2025.
- Website dorar.net, https://dorar.net/hadith/sharh/28326. Diakses tanggal 17 Juli 2025.