Jangan Sampai Anak Kita Terpengaruh Perilaku Menyimpang
Penulis: Abu Ady, S.Pd.I., M.Ed., M.A.
Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M.A.
Khotbah Pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ الْمَعَادِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Setiap orang tua menginginkan anaknya menjadi anak yang saleh. Kita ingin anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang mengenal Allah, mencintai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, mencintai Al-Qur’an, menjaga shalat, berbakti kepada orang tua, menjaga kehormatan diri, dan hidup di atas fitrah yang Allah tetapkan. Kita bekerja mencari nafkah untuk mereka, menyekolahkan mereka, memenuhi kebutuhan mereka, bahkan menabung untuk masa depan mereka. Namun ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama: sudahkah kita memberikan perhatian yang cukup kepada keselamatan agama dan hati mereka?
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Anak-anak kita hidup di zaman yang sangat berbeda dengan zaman kita. Dahulu, seorang anak mungkin lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang yang berada di rumah, sekolah, dan lingkungan tempat tinggalnya. Sekarang, dunia dapat masuk ke dalam kamar melalui sebuah layar. Anak kita mungkin duduk bersama kita di rumah, tetapi pikirannya sedang berinteraksi dengan orang-orang yang tidak pernah kita kenal.
Mereka dapat mendengar berbagai pandangan, melihat berbagai gaya hidup, mengikuti berbagai tokoh, masuk ke berbagai komunitas, dan menerima berbagai pemikiran hanya melalui telepon genggam.
Oleh karena itu, pertanyaan bagi orang tua bukan hanya, “Di mana anak kita?” tetapi juga, “Siapa yang sedang memengaruhi hati dan pikirannya?”
Di antara perkara yang perlu kita waspadai adalah penyebaran pemikiran dan perilaku seksual yang bertentangan dengan ajaran Islam. Al-Qur’an telah menceritakan kepada kita kisah kaum Nabi Luth ‘alaihissalam. Kisah ini bukan sekadar cerita tentang umat terdahulu. Di dalamnya terdapat pelajaran tentang bahaya ketika manusia mengikuti syahwat dan meninggalkan petunjuk Allah Ta'ala.
Allah Ta'ala berfirman,
وَلُوطاً إِذْ قالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِها مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعالَمِينَ (80) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّساءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (81)
“Dan Luth ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kalian di dunia ini? Sungguh, kalian benar-benar mendatangi laki-laki untuk melampiaskan syahwat, bukan kepada perempuan. Bahkan kalian adalah kaum yang melampaui batas.’” (QS. Al-A’raf: 80–81)
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Allah Ta'ala menyebut perbuatan tersebut sebagai فَاحِشَة, yaitu perbuatan yang sangat keji. Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh menganggap hubungan seksual sesama jenis sebagai perkara yang halal hanya karena sebagian orang pada zaman ini menganggapnya sebagai kebebasan pribadi atau gaya hidup. Sebab, penyimpangan seksual dalam pandangan Islam bukan sekadar pilihan pribadi, bukan sekadar gaya hidup, dan bukan pula semata-mata urusan privat yang tidak boleh dibicarakan atau dinilai berdasarkan ajaran agama. Ia adalah persoalan yang memiliki hukum dalam syariat. Maka seorang muslim tidak menjadikan selera manusia, perubahan budaya, atau penerimaan masyarakat sebagai ukuran halal dan haram. Sungguh, ukuran halal dan haram bukanlah perubahan budaya. Ukuran halal dan haram bukan pula jumlah manusia yang menyetujuinya. Ukuran seorang muslim adalah wahyu Allah. Apa yang Allah halalkan, kita halalkan. Apa yang Allah haramkan, kita haramkan.
Namun, penolakan terhadap suatu perbuatan tidak berarti kita boleh berbuat zalim kepada orang yang terjatuh dalam perbuatan tersebut. Seorang muslim tetap diperintahkan untuk berlaku adil, menjaga kehormatan manusia, tidak melakukan kekerasan, tidak melakukan persekusi, dan tidak menuduh seseorang tanpa bukti. Kita membenci kemaksiatan karena Allah mengharamkannya, sementara kepada pelakunya kita tetap menginginkan hidayah, taubat, dan keselamatan.
Allah kemudian menceritakan bagaimana kaum Nabi Luth ‘alaihissalam mendapatkan azab karena kedurhakaan mereka. Allah Ta’ala berfirman,
فَلَمَّا جاءَ أَمْرُنا جَعَلْنا عالِيَها سافِلَها وَأَمْطَرْنا عَلَيْها حِجارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ (82) مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ وَما هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ (83)
“Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkannya, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar secara bertubi-tubi, yang diberi tanda di sisi Tuhanmu. Dan siksaan itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zalim.” (QS. Hud: 82–83)
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Oleh karena itu, jangan sampai kita sebagai orang tua menganggap perkara ini ringan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memberikan peringatan yang sangat keras. Beliau bersabda,
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ
“Sesungguhnya perkara yang paling aku takutkan atas umatku adalah perbuatan kaum Luth.” (HR. At-Tirmidzi nomor 1457 dan Ibnu Majah nomor 2563)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut hal tersebut sebagai salah satu perkara yang beliau takutkan menimpa umat ini. Maka kewaspadaan orang tua bukanlah sesuatu yang berlebihan. Kita harus mengawasi dan kita harus membentengi anak-anak kita dengan ilmu dan iman. Namun kewaspadaan tidak boleh berubah menjadi kecurigaan kepada setiap anak.
Kita tidak boleh melihat seorang anak yang pendiam, memiliki teman dekat, berbeda dalam gaya bicara, atau mengalami perubahan perilaku, kemudian langsung menuduhnya melakukan penyimpangan seksual. Itu bukan sikap seorang muslim yang adil.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta.” (HR. Al-Bukhari nomor 4849 dan Muslim nomor 2563)
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Sesungguhnya orang tua perlu belajar membedakan antara kewaspadaan dan tuduhan. Kita perlu memperhatikan perubahan anak, tetapi tidak terburu-buru memberikan label. Kita perlu mengetahui siapa teman-temannya, apa yang mereka tonton, komunitas apa yang mereka ikuti, dan bagaimana perkembangan cara berpikir mereka.
Jika anak tiba-tiba menjadi sangat tertutup, mengalami perubahan perilaku yang drastis, memiliki pergaulan yang tidak kita kenal, sering mengakses konten seksual, masuk ke komunitas yang tidak kita ketahui, atau menunjukkan kegelisahan tentang identitas dan pergaulannya, maka jangan langsung memberikan vonis. Jadikan perubahan tersebut sebagai alasan untuk mendekat, bertanya, mendengarkan, dan memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Bisa jadi anak sedang bingung. Bisa jadi ia mendapatkan paparan dari lingkungan tertentu. Bisa jadi ia sedang menghadapi tekanan pergaulan. Bisa jadi ada persoalan lain yang tidak kita ketahui. Oleh karena itu, kita perlu mencari fakta sebelum memberikan penilaian.
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Di sinilah pentingnya kita memahami bahwa pendidikan anak bukan sekadar memberikan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan pendidikan akademik. Anak memiliki hati yang membutuhkan pendidikan. Mereka memiliki akal yang membutuhkan ilmu. Mereka memiliki fitrah yang membutuhkan penjagaan. Mereka memiliki syahwat yang membutuhkan bimbingan.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Menjaga keluarga dari api neraka dengan mengajarkan tauhid, mengajarkan ibadah, mengenalkan halal dan haram, mengajarkan adab, menjaga pergaulan, dan mendampingi anak ketika mereka menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Jangan sampai anak hanya mengenal Allah sebagai nama yang mereka hafal dalam pelajaran agama, tetapi tidak memahami bahwa Allah adalah Rabb yang menciptakan mereka, memiliki mereka, melihat mereka, mengetahui keadaan mereka, dan berhak menentukan apa yang halal dan apa yang haram.
Pendidikan anak bukan sekadar mengajarkan mereka bagaimana mendapatkan pekerjaan, bagaimana mendapatkan nilai tinggi, atau bagaimana menjadi orang sukses. Pendidikan anak adalah mengajarkan mereka bagaimana menjadi hamba Allah. Di antara bentuk pendidikan itu adalah mengajarkan bahwa tidak setiap perasaan harus diikuti. Tidak setiap keinginan harus dituruti. Tidak semua yang dianggap normal oleh manusia otomatis menjadi halal di sisi Allah.
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Apabila seorang anak datang kepada kita dan menceritakan kebingungan atau pergulatan yang ada dalam dirinya, jangan langsung menghancurkan keberaniannya untuk berbicara. Jangan mempermalukannya. Jangan menyebarkan ceritanya kepada orang lain. Jangan menjadikan masalah pribadi anak sebagai bahan pembicaraan keluarga besar. Dengarkan dengan tenang. Cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bimbing dengan ilmu. Jelaskan batasan agama dengan lembut tetapi tegas.
Jika terdapat tanda-tanda kekerasan, pelecehan, eksploitasi, atau masalah psikologis yang serius, jangan ragu mencari bantuan dari orang yang memiliki ilmu dan kompetensi untuk menanganinya.
Anak yang tidak menemukan jawaban di rumah akan mencari jawaban di tempat lain. Pada zaman ini, tempat lain itu sangat mudah ditemukan. Hanya dengan beberapa sentuhan pada layar, seorang anak dapat menemukan ribuan jawaban. Masalahnya, tidak semua jawaban itu benar. Tidak semua orang yang berbicara di media sosial adalah orang yang berilmu. Tidak semua komunitas yang menawarkan penerimaan benar-benar membawa anak kepada kebaikan.
Jadikan rumah sebagai madrasah pertama. Jadikan ayah dan ibu sebagai tempat pertama untuk bertanya. Jadikan rumah sebagai tempat anak menemukan nasihat, kasih sayang, dan jalan pulang. Jangan hanya mengetahui anak kita pulang pukul berapa. Ketahuilah pula siapa yang mereka dengarkan, apa yang mereka pikirkan, dan kepada siapa mereka menceritakan kegelisahan mereka.
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari nomor 853 dan Muslim nomor 1829)
Ayah akan ditanya tentang keluarganya. Ibu akan ditanya tentang anak-anaknya. Guru akan ditanya tentang amanah pendidikan yang berada di tangannya. Pengelola pesantren akan ditanya tentang amanah para santri yang berada dalam pengawasannya. Maka jangan sampai kita sibuk mempersiapkan masa depan dunia anak-anak kita, tetapi lalai mempersiapkan keselamatan agama dan akhirat mereka.
Jangan sampai kita sibuk membangun rumah yang besar, tetapi lupa membangun hati penghuninya. Jangan sampai kita mengetahui segala sesuatu tentang nilai sekolah anak kita, tetapi tidak mengetahui penyimpangan yang sedang menimpanya.
Anak-anak kita adalah amanah. Mereka bukan sekadar penerus nama keluarga. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang suatu hari akan berdiri di hadapan-Nya. Maka mari kita jaga mereka dengan ilmu, dengan doa, dengan keteladanan, dengan kasih sayang, dan dengan ketegasan yang penuh hikmah.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khotbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْأَمَانَاتِ الَّتِي حَمَّلَنَا اللَّهُ إِيَّاهَا أَمَانَةَ الْأَبْنَاءِ وَالْأُسَرِ.
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Marilah kita pulang dari masjid hari ini dengan tekad untuk lebih dekat dengan anak-anak kita. Luangkan waktu untuk mereka. Dengarkan mereka. Ketahui siapa teman-temannya. Perhatikan apa yang mereka lihat dan dengarkan. Ajarkan tauhid, adab, kehormatan diri, dan batasan halal dan haram.
Jika anak kita menghadapi kebingungan atau masalah, jangan jadikan rumah sebagai tempat yang membuatnya takut untuk berbicara. Jadikan rumah sebagai tempat ia menemukan kasih sayang dan bimbingan.
Sebagai orang tua, kita tentu menyayangi anak kita. Kasih sayang bukan berarti membiarkan kemungkaran. Ketegasan juga bukan berarti berlaku kasar. Kita membimbing anak dengan ilmu, hikmah, kesabaran, dan kasih sayang.
Jamaah Jumat rahimakumullah.
Tanggung jawab menjaga anak juga merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, guru, sekolah, dan masyarakat.
Jangan menunggu sampai anak kita terjerumus jauh baru kita bertanya, “Mengapa ini bisa terjadi?” Jangan menunggu sampai anak kita kehilangan arah baru kita mulai mendekatinya.
Semoga Allah menjaga anak-anak kita, menjaga fitrah dan akidah mereka, serta menjadikan mereka anak-anak yang saleh dan salehah.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا، وَاحْفَظْهُمْ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاحْفَظْ فِطْرَتَهُمْ وَعَقِيدَتَهُمْ وَأَخْلَاقَهُمْ، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا، وَاجْعَلْهُمْ مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَ الْمُسْلِمِينَ، وَاحْفَظْهُمْ مِنَ الْفِتَنِ وَسُوءِ الْأَخْلَاقِ وَسُوءِ الْأَفْكَارِ، وَرُدَّهُمْ إِلَى الْحَقِّ رَدًّا جَمِيلًا.
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى تَرْبِيَةِ أَبْنَائِنَا، وَارْزُقْنَا الْحِكْمَةَ وَالرِّفْقَ وَالصَّبْرَ، وَاجْعَلْنَا لَهُمْ قُدْوَةً صَالِحَةً.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Referensi
- Shahih Al-Bukhari, Imam Al-Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Shahih Muslim, Imam Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Sunan At-Tirmidzi, Imam At-Tirmidzi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Sunan Ibnu Majah, Ibnu Majah, Al-Maktabah Asy-Syamilah.