Khotbah Jumat
๐ŸŽง Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Jangan Remehkan Kewajiban Haji!

Penulis: Abu Ady

Editor: Yum Roni Askosendra, Lc., M.A.


Khotbah Pertama

ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ู†ูŽุญู’ู…ูŽุฏูู‡ู ูˆูŽู†ูŽุณู’ุชูŽุนููŠู†ูู‡ู ูˆูŽู†ูŽุณู’ุชูŽุบู’ููุฑูู‡ูุŒ ูˆูŽู†ูŽุนููˆุฐู ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุดูุฑููˆุฑู ุฃูŽู†ู’ููุณูู†ูŽุง ูˆูŽู…ูู†ู’ ุณูŽูŠู‘ูุฆูŽุงุชู ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ูู†ูŽุงุŒ ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽู‡ู’ุฏูู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽู„ูŽุง ู…ูุถูู„ู‘ูŽ ู„ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูุถู’ู„ูู„ู’ ููŽู„ูŽุง ู‡ูŽุงุฏููŠูŽ ู„ูŽู‡ู.

ุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู’ ู„ูŽุง ุฅูู„ูฐู‡ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุญู’ุฏูŽู‡ู ู„ูŽุง ุดูŽุฑููŠูƒูŽ ู„ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู‹ุง ุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู. ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูู…ู’ ูˆูŽุจูŽุงุฑููƒู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู†ูŽุจููŠู‘ูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏูุŒ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุขู„ูู‡ู ูˆูŽุตูŽุญู’ุจูู‡ู ุฃูŽุฌู’ู…ูŽุนููŠู†ูŽ.

ุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูุŒ ููŽูŠูŽุง ุนูุจูŽุงุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ุฃููˆุตููŠูƒูู…ู’ ูˆูŽู†ูŽูู’ุณููŠ ุจูุชูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽู‚ู’ูˆูŽู‰ ุฎูŽูŠู’ุฑู ุฒูŽุงุฏู ู„ูู„ูู‚ูŽุงุกู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู.

ู‚ุงู„ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุญูŽู‚ู‘ูŽ ุชูู‚ูŽุงุชูู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽู…ููˆุชูู†ู‘ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ู…ูุณู’ู„ูู…ููˆู†ูŽ

โ€œWahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian wafat kecuali dalam keadaan Muslim!โ€ (QS. Ali Imran: 102)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Taโ€™ala

Waktu terus berjalan, tanpa pernah menoleh ke belakang. Ia tidak menunggu kesiapan manusia, tidak memberi jeda bagi yang masih menunda, dan tidak memberikan peringatan sebelum berakhir. Setiap hari yang berlalu adalah bagian dari umur yang berkurang, mendekatkan manusia kepada saat di mana ia akan berdiri di hadapan Allah, membawa seluruh amal yang pernah ia lakukan.

Di tengah arus kehidupan yang semakin cepat dan penuh tuntutan, banyak kewajiban besar dalam agama yang perlahan bergeser dari prioritas, bahkan terlupakan. Salah satu di antaranya adalah ibadah haji.

Padahal, haji bukanlah sekadar perjalanan spiritual yang bersifat tambahan. Ia adalah kewajiban utama dalam Islam, rukun Islam yang kelima, yang Allah tetapkan sebagai hak-Nya atas hamba-hamba-Nya yang mampu. Namun, realitas hari ini menunjukkan sesuatu yang berbeda. Banyak orang yang telah diberikan kelapangan rezeki, kesehatan, dan kesempatan, tetapi masih menunda ibadah haji tanpa alasan yang syarโ€™i. Dunia terasa lebih mendesak, urusan pekerjaan lebih diutamakan, sementara panggilan Allah ditunda dengan harapan waktu masih panjang.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Taโ€™ala

Dalam Al-Qurโ€™an, Allah menyampaikan kewajiban haji dengan redaksi yang tegas, sehingga tidak menyisakan ruang bagi penafsiran yang meremehkan. Allah Taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุญูุฌู‘ู ุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุชู ู…ูŽู†ู ุงุณู’ุชูŽุทูŽุงุนูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุณูŽุจููŠู„ุง ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูƒูŽููŽุฑูŽ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุบูŽู†ููŠูŒู‘ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู†ูŽ

โ€œDan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu menempuh jalan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.โ€ (QS. Ali Imran: 97)

Ayat ini bukan sekadar perintah, melainkan penegasan tentang hak Allah atas hamba-Nya. Lafaz โ€œู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูโ€ (kewajiban manusia terhadap Allah) menunjukkan kewajiban yang mengikat dan harus ditunaikan ketika kemampuan telah ada.

Imam An-Nawawi berkata, โ€œHaji merupakan kewajiban individu (fardhu โ€˜ain) bagi setiap orang yang mampu, berdasarkan kesepakatan (ijmaโ€™) kaum muslimin. Dalil-dalil dari Al-Qurโ€™an dan As-Sunnah tentang hal ini sangat jelas dan saling menguatkan, demikian pula telah menjadi kesepakatan umat.โ€ (Al-Majmuโ€™ Syarh Al-Muhadzdzab, 7:7)

Imam Ibnu Hajar berkata โ€œKewajiban haji merupakan hal yang sudah sangat jelas dan diketahui oleh setiap muslim dalam agama ini.โ€ (Fathul Bari, 3:378)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Taโ€™ala

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam juga menegaskan kedudukan haji dalam pilar keisla,

โ€Œุจูู†ููŠูŽ โ€Œุงู„ู’ุฅูุณู’ู„ูŽุงู…ู โ€ŒุนูŽู„ูŽู‰ โ€ŒุฎูŽู…ู’ุณู: ุดูŽู‡ูŽุงุฏูŽุฉู ุฃูŽู†ู’ ู„ูŽุง ุฅูู„ูŽู‡ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู‹ุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽุฅูู‚ูŽุงู…ู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉูุŒ ูˆูŽุฅููŠุชูŽุงุกู ุงู„ุฒู‘ูŽูƒูŽุงุฉูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุฌู‘ูุŒ ูˆูŽุตูŽูˆู’ู…ู ุฑู…ุถุงู†

โ€œIslam dibangun di atas lima landasan, yaitu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa di bulan Ramadhan.โ€ (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Taโ€™ala

Tentang pelaksanaan haji, Imam An-Nawawi menjelaskan, โ€œPara ulama berbeda pendapat tentang kewajiban haji, apakah harus segera dilaksanakan atau boleh ditunda. Imam Asy-Syafiโ€™i, Abu Yusuf, dan sekelompok ulama berpendapat bahwa haji boleh ditunda, kecuali jika seseorang berada dalam kondisi yang dikhawatirkan akan kehilangan kesempatan, maka saat itu ia harus segera melaksanakannya. Sementara itu, Abu Hanifah, Malik, dan ulama lainnya berpendapat bahwa haji wajib dilaksanakan segera. Wallahu aโ€™lam.โ€ (Al-Minhaj, 8:73)

Di zaman sekarang, khususnya di Indonesia, keadaan seperti ini sangat mungkin terjadi. Untuk berangkat haji, seseorang harus melewati antrean yang sangat panjang dan menyiapkan anggaran yang besar. Seseorang yang sudah mampu hari ini, belum tentu di masa depan masih mampu, baik dari sisi kesehatan, kesempatan, maupun biaya. Oleh karena itu, kondisi di negeri kita ini termasuk dalam keadaan โ€œdikhawatirkan akan kehilangan kesempatanโ€. Oleh karena itu, sikap yang lebih berhati-hati adalah segera menunaikan haji ketika sudah mampu, agar tidak terhalang di kemudian hari.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Taโ€™ala

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam memberikan peringatan yang sangat jelas,

โ€ŒุชูŽุนูŽุฌู‘ูŽู„ููˆุง โ€Œุฅูู„ูŽู‰ โ€Œุงู„ู’ุญูŽุฌู‘ู - ูŠูŽุนู’ู†ููŠ ุงู„ู’ููŽุฑููŠุถูŽุฉูŽ -ุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏูŽูƒูู…ู’ ู„ูŽุง ูŠูŽุฏู’ุฑููŠ ู…ูŽุง ูŠูŽุนู’ุฑูุถู ู„ูŽู‡ู

โ€œSegeralah menunaikan haji karena salah seorang dari kalian tidak mengetahui apa yang akan menghalanginya!โ€ (HR. Ahmad no. 2869)

Dalam riwayat lain disebutkan,

โ€Œู…ูŽู†ู’ โ€ŒุฃูŽุฑูŽุงุฏูŽ โ€Œุงู„ู’ุญูŽุฌู‘ูŽ โ€ŒููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽุนูŽุฌู‘ูŽู„ู’ุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุฏู’ ูŠูŽู…ู’ุฑูŽุถู ุงู„ู’ู…ูŽุฑููŠุถูุŒ ูˆูŽุชูŽุถูู„ู‘ู ุงู„ุถู‘ูŽุงู„ู‘ูŽุฉูุŒ ูˆูŽุชูŽุนู’ุฑูุถู ุงู„ู’ุญูŽุงุฌูŽุฉู

โ€œBarang siapa ingin berhaji, hendaklah ia segera melakukannya karena bisa jadi ia jatuh sakit, kendaraannya hilang, atau muncul suatu kebutuhan (yang menghalanginya).โ€ (HR. Ibnu Majah no. 2883)

Sabda Nabi ini bukan sekadar anjuran, melainkan panggilan tegas agar seorang muslim tidak menunda untuk melaksanakan ibadah agung ini ketika ia telah mampu.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Taโ€™ala

Manusia hidup di bawah bayang-bayang ketidakpastian. Ia tidak tahu apa yang menantinya di esok hari. Hari ini ia sehat, esok bisa terbaring lemah. Hari ini ia mampu, esok bisa kehilangan kemampuan. Hari ini jalan terbuka, esok bisa tertutup tanpa peringatan.

Betapa banyak orang yang dahulu berkata, โ€œNanti saja,โ€ tetapi tak pernah sampai pada waktu yang ia nantikan. Betapa banyak yang memiliki harta, tetapi kehilangan kesempatan. Betapa banyak yang berencana, tetapi tak mampu mewujudkannya.

Khotbah Kedua

ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ุฑูŽุจู‘ู ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู†ูŽุŒ ู†ูŽุญู’ู…ูŽุฏูู‡ู ุญูŽู…ู’ุฏู‹ุง ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง ุทูŽูŠู‘ูุจู‹ุง ู…ูุจูŽุงุฑูŽูƒู‹ุง ูููŠู‡ูุŒ ูˆูŽู†ูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู’ ู„ูŽุง ุฅูู„ูฐู‡ูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽู†ูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู‹ุง ุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู. ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุขู„ูู‡ู ูˆูŽุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจูู‡ู ุฃูŽุฌู’ู…ูŽุนููŠู†ูŽ.

ุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูุŒ ููŽูŠูŽุง ุนูุจูŽุงุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽุŒ ูˆูŽุงุนู’ู„ูŽู…ููˆุง ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุนูู…ู’ุฑูŽ ู‚ูŽุตููŠุฑูŒุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ููุฑูŽุตูŽ ุชูŽู…ูุฑู‘ู ุณูŽุฑููŠุนู‹ุง.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Taโ€™ala

Jika kewajiban haji begitu besar, maka balasan bagi yang menunaikannya dengan benar juga sangat luar biasa. Haji yang mabrur bukan hanya menggugurkan kewajiban, tetapi menjadi sebab pengampunan dosa secara total. Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู…ูŽู†ู’ ุญูŽุฌู‘ูŽ ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ููŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฑู’ููุซู’ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูู’ุณูู‚ู’ ุฑูŽุฌูŽุนูŽ ูƒูŽูŠูŽูˆู’ู…ู ูˆูŽู„ูŽุฏูŽุชู’ู‡ู ุฃูู…ู‘ูู‡ู

โ€œBarang siapa yang berhaji karena Allah, lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.โ€ (HR. Bukhari no. 1449 dan Muslim no. 1350)

Dalam hadits lain, beliau bersabda,

ุงู„ู’ุญูŽุฌู‘ู ุงู„ู’ู…ูŽุจู’ุฑููˆุฑู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ูŽู‡ู ุฌูŽุฒูŽุงุกูŒ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู

โ€œTiada balasan bagi haji yang mabrur melainkan surga.โ€ (HR. Bukhari no. 1683 dan Muslim no. 1349)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Taโ€™ala

Haji bukan akhir perjalanan, tetapi awal perubahan. Orang yang telah berhaji seharusnya kembali dengan hati yang berbeda, iman yang lebih kuat, dan tekad untuk menjaga ketaatan. Jika setelah haji seseorang kembali kepada kebiasaan lama, maka ia perlu mengevaluasi dirinya.

Akhirnya, kita memahami bahwa haji adalah panggilan Allah. Tidak semua orang mendapatkannya. Tidak semua orang diberi kesempatan. Oleh karenanya, barang siapa yang telah mampu, jangan menunda. Adapun bagi orang yang belum mampu, berusahalah untuk meraihnya.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang menyegerakan ketaatan, mengagungkan perintah-Nya, dan dimudahkan untuk mengunjungi Baitullah dalam keadaan iman dan keikhlasan. Aamiiin.

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูู…ู’ ูˆูŽุจูŽุงุฑููƒู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู†ูŽุจููŠู‘ูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏูุŒ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุขู„ูู‡ู ูˆูŽุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจูู‡ู ุฃูŽุฌู’ู…ูŽุนููŠู†ูŽุŒ ูƒูŽู…ูŽุง ุตูŽู„ู‘ูŽูŠู’ุชูŽ ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ู’ุชูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุขู„ู ุฅูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู…ูŽุŒ ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุญูŽู…ููŠุฏูŒ ู…ูŽุฌููŠุฏูŒ.

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ูŽุงุชูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชูุŒ ุงู„ู’ุฃูŽุญู’ูŠูŽุงุกู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงุชูุŒ ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุณูŽู…ููŠุนูŒ ู‚ูŽุฑููŠุจูŒ ู…ูุฌููŠุจู ุงู„ุฏู‘ูŽุนูŽูˆูŽุงุชู.

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ู‘ูŽุง ู…ูุณู’ุชูŽุทููŠุนู‹ุง ู„ูู„ู’ุญูŽุฌู‘ู ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุญูุฌู‘ูŽุŒ ููŽูŠูŽุณู‘ูุฑู’ ู„ูŽู‡ู ุณูŽุจููŠู„ูŽ ุจูŽูŠู’ุชููƒูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ูุŒ ูˆูŽุงุฑู’ุฒูู‚ู’ู‡ู ุงู„ู’ู…ูุจูŽุงุฏูŽุฑูŽุฉูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุฌู’ุนูŽู„ู’ู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูููŽุฑู‘ูุทููŠู†ูŽ ุงู„ู’ุบูŽุงููู„ููŠู†ูŽ.

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุฑู’ุฒูู‚ู’ู†ูŽุง ุญูŽุฌู‘ู‹ุง ู…ูŽุจู’ุฑููˆุฑู‹ุงุŒ ูˆูŽุณูŽุนู’ูŠู‹ุง ู…ูŽุดู’ูƒููˆุฑู‹ุงุŒ ูˆูŽุฐูŽู†ู’ุจู‹ุง ู…ูŽุบู’ูููˆุฑู‹ุงุŒ ูˆูŽุนูŽู…ูŽู„ู‹ุง ู…ูุชูŽู‚ูŽุจู‘ูŽู„ู‹ุงุŒ ูˆูŽุชูุฌูŽุงุฑูŽุฉู‹ ู„ูŽู†ู’ ุชูŽุจููˆุฑูŽ.

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูู‚ูŽุฏู‘ูŽุฑู’ ู„ูŽู‡ู ุงู„ู’ุญูŽุฌู‘ูุŒ ููŽู„ูŽุง ุชูŽุญู’ุฑูู…ู’ู‡ู ุฃูŽุฌู’ุฑูŽู‡ูุŒ ูˆูŽุงุฑู’ุฒูู‚ู’ู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ู ู…ูŽุง ูŠูŽุจู’ู„ูุบู ุจูู‡ู ู…ูŽู†ูŽุงุฒูู„ูŽ ุงู„ู’ุญูุฌู‘ูŽุงุฌู.

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ู„ูŽุง ุชูŽุฌู’ุนูŽู„ู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑูŽ ู‡ูŽู…ู‘ูู†ูŽุงุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ู…ูŽุจู’ู„ูŽุบูŽ ุนูู„ู’ู…ูู†ูŽุงุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ู…ูŽุตููŠุฑูŽู†ูŽุงุŒ ูˆูŽุงุฌู’ุนูŽู„ู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ู‡ููŠูŽ ุฏูŽุงุฑูŽู†ูŽุง ูˆูŽู‚ูŽุฑูŽุงุฑูŽู†ูŽุง.

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฃูŽุนูุฒู‘ูŽ ุงู„ู’ุฅูุณู’ู„ูŽุงู…ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽุŒ ูˆูŽุฃูŽุฐูู„ู‘ูŽ ุงู„ุดู‘ูุฑู’ูƒูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู†ูŽุŒ ูˆูŽุฏูŽู…ู‘ูุฑู’ ุฃูŽุนู’ุฏูŽุงุกูŽ ุงู„ุฏู‘ููŠู†ูุŒ ูˆูŽุงุฌู’ุนูŽู„ู’ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุจูŽู„ูŽุฏูŽ ุขู…ูู†ู‹ุง ู…ูุทู’ู…ูŽุฆูู†ู‘ู‹ุง ูˆูŽุณูŽุงุฆูุฑูŽ ุจูู„ูŽุงุฏู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ.

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฃูŽุตู’ู„ูุญู’ ูˆูู„ูŽุงุฉูŽ ุฃูู…ููˆุฑูู†ูŽุงุŒ ูˆูŽูˆูŽูู‘ูู‚ู’ู‡ูู…ู’ ู„ูู…ูŽุง ุชูุญูุจู‘ู ูˆูŽุชูŽุฑู’ุถูŽู‰ุŒ ูˆูŽุงุฌู’ุนูŽู„ู’ู‡ูู…ู’ ู‡ูุฏูŽุงุฉู‹ ู…ูู‡ู’ุชูŽุฏููŠู†ูŽ.

ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ู„ูŽุง ุชูุฒูุบู’ ู‚ูู„ููˆุจูŽู†ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฅูุฐู’ ู‡ูŽุฏูŽูŠู’ุชูŽู†ูŽุงุŒ ูˆูŽู‡ูŽุจู’ ู„ูŽู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ู„ูŽุฏูู†ู’ูƒูŽ ุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู‹ุŒ ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุฃูŽู†ู’ุชูŽ ุงู„ู’ูˆูŽู‡ู‘ูŽุงุจู.

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุขุชูู†ูŽุง ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู‹ุŒ ูˆูŽูููŠ ุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉู ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู‹ุŒ ูˆูŽู‚ูู†ูŽุง ุนูŽุฐูŽุงุจูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู.

ุนูุจูŽุงุฏูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูŠูŽุฃู’ู…ูุฑู ุจูุงู„ู’ุนูŽุฏู’ู„ู ูˆูŽุงู„ู’ุฅูุญู’ุณูŽุงู†ู ูˆูŽุฅููŠุชูŽุงุกู ุฐููŠ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุจูŽู‰ูฐุŒ ูˆูŽูŠูŽู†ู’ู‡ูŽู‰ูฐ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ููŽุญู’ุดูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูู†ู’ูƒูŽุฑู ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุบู’ูŠูุŒ ูŠูŽุนูุธููƒูู…ู’ ู„ูŽุนูŽู„ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุชูŽุฐูŽูƒู‘ูŽุฑููˆู†ูŽ.

ููŽุงุฐู’ูƒูุฑููˆุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุธููŠู…ูŽ ูŠูŽุฐู’ูƒูุฑู’ูƒูู…ู’ุŒ ูˆูŽุงุดู’ูƒูุฑููˆู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู†ูุนูŽู…ูู‡ู ูŠูŽุฒูุฏู’ูƒูู…ู’ุŒ ูˆูŽู„ูŽุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑูุŒ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู ู…ูŽุง ุชูŽุตู’ู†ูŽุนููˆู†ูŽ.

ุฃูŽู‚ูู…ู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉูŽ.

Referensi

  • Shahih Bukhari, Imam Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Shahih Muslim, Imam Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Musnad Ahmad, Imam Ahmad, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Sunan Ibnu Majah, Imam Ibnu Majah, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Sunan Tirmidzi, Imam At-Tirmidzi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Al-Majmuโ€™ Syarh Al-Muhadzdzab, Imam An-Nawawi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Al-Minhaj Syarh Sahih Muslim bin Al Hajjaj, Imam An-Nawawi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Fathul Bari bi Syarhil Bukhari, Imam Ibnu Hajar, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
0