JANGAN BIARKAN ANAK TUMBUH BODOH!
Penulis: Indah Ummu Halwa
Editor: Za Ummu Raihan
Sebuah renungan tentang amanah orang tua dalam mendidik anak,
“Anak tidak hanya membutuhkan sekolah yang baik. Ia membutuhkan orang tua yang mau belajar, hadir, membimbing, dan menjadi teladan.”
Kita semua ingin anak-anak kita memiliki masa depan yang baik. Kita memikirkan sekolah terbaik, memilih guru terbaik, membayar les, menyediakan berbagai fasilitas, membelikan buku, menyediakan gawai, bahkan menabung sejak mereka kecil agar kelak mereka memiliki kehidupan yang lebih baik. Semua itu tentu tidak salah. Bahkan, sebagian merupakan bentuk ikhtiar dan kasih sayang kita sebagai orang tua.
Namun, di tengah kesibukan mempersiapkan masa depan mereka, ada satu pertanyaan penting yang terkadang luput kita tanyakan: Siapa yang sedang mendidik hati mereka?
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak sebab anak bukan sekadar proyek masa depan dunia. Ia bukan hanya seseorang yang harus kita persiapkan agar pintar, sukses, mandiri, dan memiliki kehidupan yang mapan. Anak adalah amanah; ketika sesuatu disebut amanah, berarti ada pertanggungjawaban di dalamnya.
ANAK ADALAH AMANAH, BUKAN SEKADAR TANGGUNGAN
Jika anak adalah amanah, tugas orang tua tentu tidak berhenti pada memastikan anak kenyang, sehat, bersekolah, dan memiliki berbagai fasilitas. Ada sesuatu yang jauh lebih besar yang harus kita jaga: arah kehidupannya. Allah Jalla Jalaluhu berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ....” (QS. At-Tahrim: 6)¹
Ayat ini mengingatkan bahwa perhatian orang tua kepada anak tidak berhenti pada kebutuhan fisik. Anak memang membutuhkan makanan, pakaian, rumah, kesehatan, dan pendidikan formal. Namun, anak juga membutuhkan tauhid, ibadah, Al-Qur’an, akhlak, adab, dan ilmu yang menyelamatkannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”²
Dalam hadits tersebut, seorang laki-laki disebut sebagai pemimpin atas keluarganya, sementara seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas apa yang berada dalam pengurusannya. Oleh karena itu, pendidikan anak bukan semata-mata urusan sekolah. Sekolah membantu. Guru membantu. Lingkungan membantu. Akan tetapi, amanah pendidikan anak tidak pernah sepenuhnya berpindah dari pundak orang tua kepada mereka.
Orang tua tetap menjadi bagian terpenting dalam pendidikan anak. Apa yang anak lihat setiap hari, bagaimana ia diperlakukan, bagaimana orang tuanya berbicara, bagaimana keluarga menjalankan ibadah, dan nilai-nilai apa yang hidup di dalam rumah, semuanya ikut membentuk dirinya. Karena itu, jangan sampai kita begitu sibuk mencari sekolah terbaik untuk anak, tetapi lupa menjadi rumah pendidikan terbaik baginya. Pendidikan yang paling sering membekas bukan hanya yang disampaikan melalui nasihat, melainkan yang dilihat, dirasakan, dan dicontohkan setiap hari.
JIKA ENGKAU MENYIA-NYIAKANNYA KETIKA KECIL
Kelalaian dalam pendidikan anak sering kali tidak langsung terlihat. Ia seperti sesuatu yang kita abaikan hari ini, tetapi baru kita rasakan bertahun-tahun kemudian. Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan peringatan yang sangat kuat dalam Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud,
فَمَنْ أَهْمَلَ تَعْلِيمَ وَلَدِهِ مَا يَنْفَعُهُ وَتَرَكَهُ سُدًى فَقَدْ أَسَاءَ إِلَيْهِ غَايَةَ الْإِسَاءَةِ
“Barang siapa mengabaikan pendidikan anaknya dalam perkara yang bermanfaat dan membiarkannya begitu saja, sungguh ia telah berbuat buruk kepadanya dengan keburukan yang sangat besar.”³
Beliau juga menjelaskan bahwa banyak kerusakan pada anak datang akibat kelalaian orang tua, terutama ketika mereka tidak mengajarkan kewajiban dan sunnah agama kepada anak-anak mereka.
Kemudian beliau menyebutkan,
فَأَضَاعُوهُمْ صِغَارًا فَلَمْ يَنْتَفِعُوا بِأَنْفُسِهِمْ وَلَمْ يَنْفَعُوا آبَاءَهُمْ كِبَارًا
“Mereka menyia-nyiakan anak-anak itu ketika kecil, sehingga ketika dewasa mereka tidak dapat memberi manfaat bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang tua mereka.”
Kalimat ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak.
Sebab sering kali kita tidak merasa sedang menyia-nyiakan anak. Kita bekerja untuk mereka. Kita membiayai sekolah mereka. Kita memenuhi kebutuhan mereka. Kita mencarikan les. Kita membelikan buku. Kita menyediakan berbagai fasilitas. Kita merasa sudah melakukan banyak hal. Tetapi bisa jadi, di antara banyak hal yang kita lakukan itu, ada satu hal yang justru paling penting yang perlahan kita serahkan kepada orang lain: pendidikan hati mereka.
Ketika anak masih kecil, kita mungkin berkata, “Ah, masih kecil.”
"Nanti saja belajar agama."
"Nanti kalau sudah besar dia akan mengerti sendiri."
"Nanti kalau sudah remaja baru diberi nasihat."
Padahal, anak sedang tumbuh setiap hari. Setiap hari ada sesuatu yang masuk ke dalam pikirannya. Setiap hari ada nilai yang sedang ia pelajari. Setiap hari ada perilaku yang sedang ia tiru. Dan tanpa kita sadari, semua itu perlahan membentuk cara ia memandang dirinya, orang lain, kehidupan, bahkan Rabb-nya. Anak tidak pernah berhenti belajar hanya karena kita belum sempat mengajarinya.
Jika bukan dari rumah, ia akan belajar dari lingkungan. Jika bukan dari orang tua, ia akan belajar dari teman. Jika bukan dari teladan yang kita berikan, ia akan mencari teladan di tempat lain. Maka, pertanyaannya bukan lagi, “Apakah anak sedang belajar?”
Ia pasti sedang belajar. Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Dari siapa ia belajar, dan apa yang sedang ia pelajari?”
KITA SIBUK MENCARI SEKOLAH, TETAPI SIAPA YANG MENDIDIK?
Jika anak terus belajar setiap hari, dan ia bisa belajar dari banyak tempat, maka pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang paling banyak mendidiknya?
Sekolah penting. Guru penting. Pendidikan formal juga penting. Kita tentu perlu memilih lingkungan pendidikan yang baik untuk anak. Namun, jangan sampai kita berpikir, “Saya sudah membayar sekolah, berarti tugas pendidikan saya selesai.”
Tidak!
Sekolah tidak mengetahui seluruh kehidupan anak kita. Sekolah tidak selalu melihat apa yang anak lakukan setelah pulang. Sekolah tidak selalu tahu apa yang ia tonton sebelum tidur, siapa yang ia ajak berbicara melalui gawai, atau pertanyaan-pertanyaan apa yang sedang memenuhi pikirannya.
Guru mungkin mengenal anak kita di ruang kelas. Tetapi orang tua memiliki kesempatan untuk mengenalnya jauh lebih dalam: ketika ia bangun tidur, ketika ia pulang dalam keadaan lelah, ketika ia kecewa, ketika ia marah, ketika ia gagal, ketika ia mendapatkan sesuatu yang ia inginkan, bahkan ketika ia sedang sendirian bersama gawainya. Karena itu, orang tua perlu tetap hadir.
Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir dalam kehidupan dan dunia pikiran anak.
Tanyakan kepadanya:
“Apa yang kamu pelajari hari ini?”
“Apa yang membuatmu senang?”
“Apa yang membuatmu sedih?”
“Siapa temanmu?”
“Apa yang sedang kamu lihat di internet?”
“Apa yang menurutmu benar?”
“Mengapa kamu berpikir demikian?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini mungkin terlihat sepele. Namun, dari sanalah orang tua bisa mengetahui apa yang sedang tumbuh di dalam pikiran dan hati anak.
Dialog seperti ini bukan sekadar pengawasan. Ini adalah pendidikan.
Mendidik bukan hanya tentang memberi tahu mana yang benar dan mana yang salah. Mendidik juga berarti menemani anak berpikir, membantunya memahami nilai, mengajaknya mengenali perasaannya, dan perlahan membentuk kemampuan untuk mengambil keputusan yang benar meskipun suatu hari tidak ada orang tua di sampingnya.
Lalu, apa yang terjadi jika ruang-ruang seperti ini tidak diisi oleh orang tua?
KETIKA RUMAH MENJADI KOSONG DARI PENDIDIKAN
- Ada sebuah prinsip yang perlu kita pahami: Kekosongan pendidikan tidak pernah benar-benar kosong.
- Jika rumah tidak mengisi pikiran anak dengan ilmu, lingkungan akan mengisinya. Jika orang tua tidak mengajarkan adab, media sosial akan menawarkan standar perilakunya sendiri.
- Jika orang tua tidak mengajarkan tentang kehormatan dan rasa malu, dunia akan menawarkan definisinya sendiri.
- Jika orang tua tidak mengajarkan bagaimana membedakan kebenaran dan kebatilan, anak akan belajar dari siapa pun yang paling sering ia dengar.
Anak tetap membutuhkan jawaban. Ia tetap membutuhkan teladan. Ia tetap membutuhkan seseorang yang menjelaskan kepadanya tentang dunia, tentang dirinya, tentang baik dan buruk, tentang benar dan salah. Jika kita tidak hadir untuk mengisi ruang itu, bukan berarti ruang tersebut akan tetap kosong. Akan ada orang lain yang mengisinya.
Siapa yang paling sering didengar anak kita hari ini?
Bisa jadi bukan ayah.
Bukan ibu.
Bukan pula guru.
Tetapi, layar!
Layar yang selalu ada di dekatnya. Layar yang tidak pernah lelah menawarkan tontonan, pendapat, gaya hidup, nilai, bahkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mungkin belum sempat kita dengarkan.
Maka, mungkin persoalannya bukan sekadar berapa lama anak menggunakan gawai.
Lebih dalam dari itu, kita perlu bertanya, "Ketika anak menatap layar, nilai-nilai siapa yang sedang membentuk pikirannya?"
GADGET BUKAN PENGGANTI ORANG TUA
Jika layar sudah menjadi bagian dari kehidupan anak, mungkin kita tidak perlu terburu-buru memusuhinya. Gadget bukan musuh. Internet juga tidak selalu berarti keburukan.
Teknologi dapat menjadi sarana belajar, membaca, mencari ilmu, berkomunikasi, dan mengembangkan berbagai kemampuan. Namun, pada saat yang sama, teknologi juga dapat menjadi pintu masuk bagi berbagai hal yang belum siap dihadapi oleh anak.
Oleh karena itu, persoalannya bukan hanya tentang “Berapa jam anak menggunakan gadget?”
Kita juga perlu bertanya,
“Apa yang ia konsumsi?”
“Siapa yang ia ikuti?”
“Apa yang sedang membentuk cara berpikirnya?”
“Apa yang ia anggap normal?”
Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena anak bukan hanya menggunakan teknologi. Ia juga sedang belajar melalui teknologi.
Oleh sebab itu, anak tidak hanya membutuhkan batasan. Tetapi anak juga membutuhkan bimbingan.
Kita tidak cukup hanya berkata, “Jangan main HP!” sementara anak melihat ayah dan ibunya sepanjang hari tidak bisa lepas dari layar.
Kita tidak bisa hanya meminta anak membaca buku, sementara orang tua tidak pernah terlihat membaca.
Kita tidak bisa hanya meminta anak menjaga lisan, sementara orang tua mudah mencela.
Kita pun tidak bisa hanya meminta anak berhenti bermain gawai, sementara orang tua sendiri terus-menerus menggulir layar sebab anak belajar bukan hanya dari nasihat yang kita ucapkan. Anak belajar dari kehidupan yang ia lihat setiap hari.
JANGAN HANYA MENDIDIK ANAK UNTUK DUNIA!
Kita ingin anak pintar. Itu baik.
Kita ingin anak sukses. Itu baik.
Kita ingin anak mandiri. Itu baik.
Kita ingin anak memiliki pekerjaan yang layak. Itu juga baik.
Tidak ada yang salah dengan semua harapan tersebut. Justru sebagai orang tua, kita tentu ingin memberikan yang terbaik untuk kehidupan anak. Namun, jangan sampai seluruh perhatian kita hanya tertuju pada keberhasilan duniawi. Jangan sampai kita lebih takut anak mendapatkan nilai matematika yang rendah daripada takut ia meninggalkan salat. Lebih takut anak tidak masuk sekolah favorit daripada takut ia tidak mengenal Al-Qur’an.
Lebih takut anak kalah dalam persaingan dunia daripada takut ia tidak memiliki bekal untuk menghadapi kehidupan akhirat. Jika kita kembali kepada pertanyaan di awal, “Kelak anak kita mau menjadi apa?”, mungkin kita perlu menambahkan satu pertanyaan lagi, “Kelak, ia ingin menjadi manusia seperti apa di hadapan Allah?”
Anak yang memiliki banyak ilmu tetapi tidak memiliki iman bisa saja memiliki jawaban untuk banyak persoalan dunia, tetapi kehilangan arah tentang untuk apa ia hidup. Maka, mungkin ukuran keberhasilan pendidikan anak perlu kita perluas. Bukan hanya tentang seberapa tinggi ia bisa terbang, tetapi juga seberapa kuat akar yang menahannya agar tetap berada di jalan yang benar.
JANGAN WARISKAN KEBODOHAN!
Jika pendidikan bukan hanya tentang apa yang kita katakan, tetapi juga tentang apa yang anak lihat setiap hari, maka ada satu hal yang perlu kita waspadai: jangan sampai kita mewariskan kebodohan kepada anak. Kebodohan tidak selalu diwariskan melalui kata-kata. Terkadang ia justru diwariskan melalui keteladanan yang buruk.
Anak melihat orang tua mudah percaya pada berita tanpa memeriksa. Anak melihat orang tua mudah marah. Anak melihat orang tua senang mencela. Anak melihat orang tua menyebarkan informasi tanpa tabayun. Anak melihat orang tua enggan belajar. Lama-kelamaan, semua itu bisa menjadi sesuatu yang dianggap normal.
Namun, betapa indah ketika seorang ayah mengatakan, “Ayah belum tahu. Mari kita cari tahu.”
Seorang ibu mungkin juga berkata, “Ibu tadi keliru. Maafkan Ibu.”
Kalimat-kalimat sederhana seperti itu sebenarnya sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pengetahuan.
Anak belajar tentang kerendahan hati.
Ia belajar bahwa orang berilmu tidak harus selalu merasa paling tahu.
Ia belajar bahwa mengakui kesalahan bukanlah kehinaan.
Ia belajar bahwa mencari kebenaran lebih penting daripada mempertahankan ego.
Ia juga belajar bahwa menjadi manusia pembelajar bukan berarti harus selalu memiliki jawaban, tetapi memiliki keberanian untuk berkata, “Saya belum tahu, maka saya akan belajar.” Itulah pendidikan yang hidup.
SIAPKAN ANAK MENGHADAPI DUNIA YANG TIDAK BISA KITA AWASI
Orang tua tidak akan selalu berada di samping anak. Suatu hari mereka akan pergi sekolah tanpa kita. Pergi kuliah tanpa kita. Bekerja tanpa kita. Memiliki teman tanpa kita. Menggunakan internet tanpa kita. Bahkan, suatu hari mereka akan mengambil keputusan sendiri. Pada saat itu, kita tidak mungkin lagi berada di sana untuk mengingatkan setiap langkahnya.
Lalu, apa yang akan menjaga mereka ketika kita tidak ada?
Bukan pagar rumah.
Bukan CCTV.
Bukan aplikasi kontrol orang tua.
Bukan pula sekadar larangan.
Semua itu mungkin membantu ketika anak masih berada dalam jangkauan pengawasan kita. Tetapi ketika ia sudah berada jauh dari rumah dan memiliki kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri, kita membutuhkan sesuatu yang lebih dalam.
Yang kita harapkan menjaganya adalah iman dan ilmu yang telah tertanam dalam dirinya.
Oleh karenanya, jangan hanya ajarkan anak apa yang harus dilakukan. Ajarkan pula bagaimana ia berpikir ketika tidak ada orang yang memberitahunya tentang apa yang harus dilakukan.
Ajarkan ia untuk bertanya ketika tidak tahu.
Ajarkan tabayyun sebelum mempercayai berita.
Ajarkan membedakan fakta dan opini.
Ajarkan mengenali sumber ilmu yang terpercaya.
Ajarkan keberanian untuk berkata, “Saya tidak tahu.”
Ajarkan bahwa tidak semua yang viral adalah benar.
Ajarkan pula kepadanya kepada siapa ia harus bertanya ketika menghadapi persoalan agama sebab kita tidak mungkin mengawasi anak selama 24 jam. Kita tidak mungkin mengetahui semua yang ia lihat, dengar, baca, dan lakukan ketika berada jauh dari kita. Tugas kita adalah membangun kesadaran yang tetap bekerja ketika pengawasan kita berhenti.
JANGAN MENUNGGU ANAK RUSAK BARU MENCARI SOLUSI
Jika kita ingin anak memiliki benteng iman dan ilmu ketika kelak berada di luar pengawasan kita, maka benteng itu tidak mungkin dibangun secara mendadak ketika anak sudah remaja dan mulai bermasalah.
Pendidikan tidak dimulai ketika anak remaja bermasalah. Pendidikan dimulai jauh sebelum itu.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan agar anak diperintahkan untuk salat sejak usia tujuh tahun. Ini menunjukkan pentingnya pembiasaan dan latihan sejak dini, bukan menunggu anak dewasa baru mulai diajarkan. Oleh sebab itu, jangan menunggu anak remaja baru berbicara tentang iman, salat, aurat, adab pergaulan, kehormatan diri, teman, fitnah media, syahwat, syubhat, dan tanggung jawab.
Semua itu perlu dibicarakan secara bertahap, sesuai dengan usia dan kesiapan mereka. Bukan berarti semua harus dijelaskan sekaligus. Bukan pula berarti anak harus dibebani dengan berbagai persoalan orang dewasa sebelum waktunya. Justru, orang tua perlu belajar bagaimana menyampaikan ilmu dengan bahasa yang dapat dipahami anak, sedikit demi sedikit, sesuai kebutuhan dan perkembangan mereka sebab anak yang sejak kecil dibiasakan dekat dengan ilmu akan lebih mudah menjadikan ilmu sebagai tempat kembali ketika dewasa.
Ketika ia bingung, ia tahu harus bertanya.
Ketika ia ragu, ia tahu harus mencari tahu.
Ketika ia tergoda, ia memiliki nilai yang menjadi pertimbangan.
Suatu hari, apabila kita tidak lagi berada di sampingnya, semoga ilmu yang telah kita tanamkan tetap menuntunnya. Sejatinya, pendidikan yang baik bukan sekadar membuat anak tahu apa yang benar ketika kita mengatakannya, melainkan membuat anak tetap mampu memilih yang benar meski tidak ada yang mengingatkannya.
APA YANG AKAN KITA PERTANGGUNGJAWABKAN?
Pada akhirnya, anak-anak kita akan tumbuh. Mereka mungkin menjadi dokter, guru, pengusaha, profesional, ustadz, ibu, ayah, atau menjalani profesi apa pun yang Allah takdirkan untuk mereka. Kita tentu berharap mereka sukses. Kita ingin mereka memiliki ilmu, keterampilan, pekerjaan yang baik, kehidupan yang layak, dan masa depan yang cerah.
Tetapi, sebelum kita bertanya, “Anakku jadi apa?”, mungkin kita perlu bertanya lebih dalam,
“Anakku menjadi manusia seperti apa?”
“Apakah ia mengenal Allah?”
“Apakah ia mengenal Rasulullah shallallahu 'alaihi sallam?”
“Apakah ia mencintai Al-Qur’an?”
“Apakah ia tahu bagaimana beribadah?”
“Apakah ia memiliki adab?”
“Apakah ia mampu membedakan yang benar dan yang salah?”
“Apakah ia memiliki keberanian untuk meninggalkan sesuatu yang haram, meskipun teman-temannya melakukannya?”
Akhirnya, ketika ia menghadapi masalah, apakah ia tahu kepada siapa harus kembali?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin lebih penting daripada sekadar mengetahui berapa tinggi nilai akademiknya atau seberapa jauh pencapaian kariernya kelak.
Sebab prestasi dunia akan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Tetapi iman, ilmu, dan adab akan menjadi bekal yang ia bawa dalam perjalanan yang jauh lebih panjang.
RENUNGAN UNTUK AYAH DAN IBU
Sebelum kita sibuk memperbaiki anak, mungkin ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri.
- Sudahkah kita mengajarkan kepada anak ilmu agama yang wajib ia ketahui?
- Siapa yang paling banyak mengajari anak kita setiap hari ayah, ibu, guru, teman, atau layar?
- Apa yang masuk ke dalam pikirannya ketika kita tidak bersamanya?
- Apa yang ia lihat ketika kita sedang tidak mengawasinya?
- Jika suatu hari kita tidak mampu lagi mengontrolnya, apakah ilmu yang telah kita tanamkan cukup untuk menjadi benteng baginya?
Mungkin ada satu pertanyaan yang lebih dalam lagi, "Jika anak kita hari ini belum tahu banyak tentang agama, apakah kita benar-benar sudah mendidiknya atau selama ini kita hanya membesarkannya?"
Pertanyaan ini tentu bukan untuk membuat kita merasa bersalah. Justru, ia adalah ajakan untuk kembali melihat amanah ini dengan lebih jernih. Sebab tidak ada orang tua yang sempurna.
- Kita pun masih belajar.
- Kita masih sering keliru.
- Kita masih harus memperbaiki diri.
“Biarkan anak tumbuh bodoh” bukanlah ajakan untuk membiarkan anak bodoh. Justru, sebaliknya: Ini adalah seruan agar kita jangan menjadi orang tua yang membiarkan anak tumbuh tanpa ilmu.
- Jangan hanya memberi anak fasilitas. Berikan juga arah.
- Jangan hanya memberi anak sekolah. Berikan juga keteladanan.
- Jangan hanya memberi anak pengawasan. Berikan juga pemahaman.
- Jangan hanya membangun pagar. Bangunlah benteng iman.
- Jangan hanya mempersiapkan anak menghadapi dunia.
Persiapkan ia untuk menghadap Allah Jalla Jalaluhu sebab anak bukan sekadar amanah yang harus kita besarkan. Ia adalah amanah yang akan kita pertanggungjawabkan. Maka, mungkin tugas kita sebagai orang tua bukan memastikan anak mengetahui segala sesuatu. Bukan pula memastikan ia selalu berhasil dalam segala hal. Tugas kita adalah berusaha menanamkan iman, ilmu, adab, dan kemampuan untuk terus belajar, sehingga ketika suatu hari kita tidak lagi bisa menggandeng tangannya, ia tetap memiliki sesuatu yang menuntunnya.
Semoga ketika dunia memanggilnya ke berbagai arah, ia tetap tahu ke mana harus kembali.
Semoga Allah Jalla Jalaluhu menjadikan anak-anak kita anak-anak yang saleh dan salehah, mencintai tauhid, mencintai Al-Qur’an, mencintai ilmu, berakhlak mulia, serta menjadi penyejuk hati bagi kedua orang tuanya. Aamiin yaa Rabba 'alamin.
Referensi
¹ Al-Qur’an, QS. At-Taḥrīm: 6. Quran.com – QS. At-Taḥrīm: 6
² Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Jumu‘ah, no. 893; Muslim, Shahih Muslim, Kitab Al-Imarah, no. 1829. Hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu 'anhuma. Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim (muttafaqun ‘alaih).
³ Ibnul Qayyim, Tuhfatul Maudud bi Ahkam Al-Maulud, hlm. 229.