Jangan Anggap Remeh Radang Paru (Pneumonia) pada Anak
Dijawab oleh dr. Hery Susanto, Sp.A
Pertanyaan dari Ibu Suci:
Saya adalah ibu yang mempunyai riwayat pneumonia dan asma, rutin berobat ke dokter paru setiap bulan. Pertanyaan yang saya ajukan, apakah pneumonia pada ibu akan menular kepada anak? Jika mempunyai riwayat asma, apakah bisa menyebabkan pneumonia, begitu pula sebaliknya?
Jawaban :
Asma adalah penyakit yang tidak menular, tetapi yang bisa menular pada anak adalah pneumonia-nya. Penyebab yang paling sering pada pneumonia adalah pneumococcus. Pneumococcus akan hidup atau bersarang di daerah tenggorokan atau nasofaring sehingga mana kala ibu batuk atau bersin, maka kuman-kuman yang di tenggorokan tadi akan keluar ke udara yang disebut droplet. Droplet yang mengandung bakteri pneumococcus, akan menyebar ke udara dan akan menempel di alat-alat sekitar maupun di tempat-tempat tertentu. Jika putra-putri ibu ada disekitar tempat tersebut, tentunya itu bisa menjadi penyebab penularan. Jadi pneumonia bisa menyebar melalui udara atau jika seorang anak memegang benda yang terkontaminasi droplet tadi, lalu masuk ke saluran pernapasan, itu menyebabkan penularan.
Kemudian apakah kalau orangtua asma, anaknya pasti pneumonia? Belum tentu, karena itu penyakit yang berbeda. Pneumonia memiliki faktor-faktor resiko dan faktor-faktor yang menyebabkan pneumonia. Sedangkan asma adalah inflamasi atau peradangan kronik. Lalu ada namanya darah bronkus, yang biasanya ditandai dengan batuk, terutama malam hari, kemudian ada mengi, ada suara whizzing, ngik ngik ngik… Bisa sembuh spontan atau tanpa pengobatan. Namun, ada pula yang harus dengan obat.
Kalau asma, ini ada faktor-faktor pencetusnya. Faktor-faktor alergi juga bisa menjadi penyebab. Jadi tidak selalu penderita asma menyebabkan pneumonia pada anaknya. Tetapi memang biasanya, asma itu menyebabkan sesak napas. Asma bisa kambuh manakala ada infeksi virus, jika penderita asma terserang flu, pilek, ataupun batuk.
Pertanyaan dari Nurul Nugraha, ARN191-17027:
Anak ana sering batuk pilek yang otomatis sesak nafas karena lendir menumpuk dan lendir tidak bisa dikeluarkan oleh anak. Apakah ini aman, Dokter? Usia anak 1 tahun 4 bulan. Pertanyaan yang kedua, bagaimana agar anak memiliki imunisasi yang kuat agar tidak mudah sakit atau tertular batuk pilek yang akhirnya disertai sesak karena lendir yang menumpuk?
Jawaban :
Seorang anak dengan riwayat pneumonia atau ada infeksi pernapasan, biasanya batuknya kering setelah itu beberapa hari batuknya berdahak, yaitu ada lendir. Jika lendir makin banyak, tentunya itu berbahaya karena bisa menyumbat saluran pernapasan pada anak. Saluran pernapasan pada anak masih kecil, sehingga jika ada sumbatan lendir atau dahak tentunya ini akan berbahaya. Jika ada banyak lendir yang menumpuk pastikan anak banyak minum untuk mengencerkan dahak.
Kemudian jika di daerah tersebut ada fisioterapis, bisa dilakukan fisioterapi untuk mengeluarkan dahak, di samping juga konsumsi obat-obatan, yaitu mukolitik. Tentunya kita mengobati penyebab dahaknya juga.
Di luar pneumonia, ada penyakit yang disebut bronkitis. Bronkitis adalah infeksi peradangan pada bronkus. Bronkus adalah saluran pernapasan bawah. Atau bisa juga infeksi di saluran pernapasan atas. Atau ada juga ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Semuanya bisa dilakukan fisioterapi, di samping mengobati penyakit yang mendasarinya.
Bagaimana agar anak memiliki imun yang kuat agar tidak mudah tertular batuk pilek? Untuk memiliki sistem imun yang bagus, kita harus menerapkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Untuk anak 1 tahun 4 bulan sebaiknya mendapatkan ASI eksklusif sampai 6 bulan, kemudian dilanjutkan sampai 2 tahun, dan berikan asupan makanan yang bergizi yang cukup dan adekuat. Serta pastikan anak mendapatkan imunisasi dasar yang lengkap, seperti imunisasi campak, juga imunisasi PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine) yang biasanya diberikan tiga kali oleh Puskesmas atau Posyandu. Kalau di dokter anak, biasanya diberikan di bawah setahun tiga kali. Kemudian ada booster. Booster itu penguatan imunisasi PCV pada usia 15 bulan sampai 18 bulan sebanyak tiga kali.
Yang tidak kalah penting adalah menjaga kebersihan perumahan atau lingkungan, hindari polusi udara seperti debu dan paparan asap rokok. Di samping itu, tentunya bisa mengonsumsi vitamin sirup ataupun tablet yang tersedia di apotek terdekat, dan pastikan anak istirahat yang cukup karena bisa membantu mengoptimalkan daya tahan tubuhnya.
Pertanyaan dari Ibu Elia, 37 tahun:
Saat ini anak bungsu dirawat di rumah sakit karena pneumonia. Bagaimana hubungannya pneumonia dengan penggunaan diffuser atau essential oil?
Jawaban:
Penyebab pneumonia juga bisa berupa benda asing atau radiasi yang masuk ke saluran napas kemudian masuk ke paru-paru. Misalnya bisa disebabkan bensin, minyak tanah, kacang tanah, dan sebagainya. Perlu diketahui pula bahwa kita harus hati-hati dalam penggunaan balsem dan lain sebagainya, karena juga bisa membahayakan. Balsem dan minyak-minyak yang biasanya dipakai itu, bisa saja berbahaya untuk kulit dan berbahaya bagi paru-paru jika terhirup, maka obat-obat luar yang indikasinya pemakaian di kulit untuk melegakan napas, sebaiknya dihindari.
Kemudian untuk mengobati pneumonia, harus diberikan antibiotik secara empiris sesuai dengan usia dan pola kumat. Jika ada sesak napas, dapat diberikan bantuan oksigen. Jika pada ananda ada suara whizzing atau suara mengi, biasanya dokter akan memberikan nebulizer atau teknik uap untuk melonggarkan saluran pernapasan yang sempit, sehingga anak bisa bernapas lebih lega. Pneumonia bisa berulang apabila terinfeksi lagi oleh bakteri, virus, atau jamur, sehingga bisa sakit pneumonia lagi. Makanya tadi mencegah lebih penting. Jika belum imunisasi, segera ke dokter untuk imunisasi PCV.
Cara menyembuhkan pasien asma yang terkena pneumonia, bisa dengan pengobatan suportif (pendukung) maupun kausatif, yaitu mengobati penyebabnya dengan antibiotik dan lain-lain. Sedangkan untuk asma, inflamasi kronik pada bronkus, biasanya tidak bisa disembuhkan tetapi bisa dikendalikan supaya tidak menimbulkan serangan, yaitu dengan memperbaiki pola hidupnya, dengan olahraga, dan lain sebagainya.
Pertanyaan dari Ibu Astrid, 32 tahun, Jakarta:
Anak saya dua kali rawat inap karena pneumonia. Yang rawat pertama disuruh berobat rutin 6 bulan. Dua-duanya tidak ada sesak nafas hanya leukosit 2-3 kali lebih banyak dari normalnya. Yang kedua tidak berobat rutin karena bisa kambuh lagi dan tidak bisa sembuh total. Apa ini benar dok?
Jawaban:
Pneumonia itu adalah peradangan akut pada paru-paru. Bisanya pengobatan pneumonia itu bisa dengan rawat jalan, atau minum obat saja. Pasien minum obat di rumah. Kemudian jenis kedua pneumonia berat, harus dilakukan rawat inap di rumah sakit. Biasanya pneumonia pengobatannya membutuhkan waktu 1 minggu sampai 2 minggu. Jika sudah dilakukan pemeriksaan awal, laboratorium, dan foto rontgen, kemudian 1-2 minggu setelahnya dilakukan pemeriksaan ulang. Jika hasil foto rontgen yang kedua ada perbaikan, berarti ada penyembuhan. Dan pengobatan hanya 1-2 minggu.
Jika berobat rutin 6 bulan, bisa saja karena TBC, tapi kadang-kadang diberikan obat-obatan alergi supaya tidak batuk. Makanya ini harus diteliti pengobatan 6 bulan ini obatnya apa. Kemudian dua-duanya tidak ada sesak, leukositnya 2-3 kali lebih banyak. Kalau pneumonia ini penyebabnya bakteri biasanya leukositnya meningkat, leukosit adalah sel darah putih, berarti sel darah putihnya meningkat. Dalam kedokteran disebut leukositosis, itu bisa menunjang diagnosa ke arah pneumonia.
Kemudian tentang tidak berobat rutin karena bisa kambuh lagi, tentunya penyebab yang pasti harus dicari. Jika penyakit diagnosisnya sudah diketahui, insyaallah obatnya ada. Jika belum tuntas, bisa berkonsultasi dengan dokter anak sub spesialis respirologi konsultan. Di Jakarta banyak ahlinya, sub spesialis respirologi konsultan, karena masih banyak yang harus diteliti apa penyebab penyakitnya.
Pertanyaan dari Husnul, Surabaya:
Apakah pneumonia bisa kambuh lagi? Saat ini anak saya sedang dirawat di rumah sakit diagnosanya sesak, radang paru, tapi tidak ada tindakan nebu. Apakah tidak apa-apa? Saya khawatir setelah pulang ke rumah ternyata belum sembuh.
Jawaban:
Pneumonia bisa berulang. Jadi misalkan seorang anak sekarang mendapat pengobatan yang komprehensif, yang lengkap, dinyatakan sembuh, nanti di masa yang akan datang, bisa kambuh lagi. Biasanya pneumonia dikatakan ISPA, radang tenggorokan, batuk pilek, nanti setelah itu sesak napas, napas cepat, dan sebagainya.
Sekarang itu ada salah kaprah. Pasien batuk pilek, kadang mengatakan, “Dok, anak saya butuh nebulizer.” Padahal nebulizer atau tindakan nebulisasi adalah terapi pada pasien asma. Pada pasien asma terjadi penyempitan pada saluran pernapasan bawah, sehingga diberikan nebulizer untuk melonggarkan pernapasan. Pada bayi, ada kasus bronkiolitis, yaitu infeksi pada saluran pernapasan bawah, lebih kecil dari bronkus, pada usia 6 bulan, biasanya ada suara ngik ngik ngik. Pada pneumonia tidak selalu diberikan nebulizer jika tidak ada suara mengi atau suara seperti ngik ngik ngik.
Kalau ananda dirawat di rumah sakit, indikasi penyembuhan pada pneumonia, secara klinis sudah membaik. Anak sudah tidak demam, batuk berkurang, dan tidak ada sesak napas. Tarikan dinding bawah ke atas sudah tidak ada, leukosit menjadi normal. Kemudian dari pemeriksaan ulang foto rontgen ada perbaikan, yang sebelumnya ada infiltrat (gambaran bercak putih pada rontgen paru), atau yang lain. Kalau ada perbaikan maka akan sembuh. Insyallah, anak akan sehat kembali. Setelah pulang dari rumah sakit, biasanya diminta untuk kontrol ke dokter dan obat diminum teratur sesuai anjuran dokter.