Jagalah Ruh Ramadhan
Penulis: Abu Ady
Editor: Yum Roni Askosendra, Lc,. M.A.
Khotbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيْراً طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، نَحْمَدُهُ عَلَى نِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَنَحْمَدُهُ عَلَى نِعْمَةِ بُلُوْغِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَإِتْمَامِهِ.
نَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْحَيُّ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ رَبُّهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ هِيَ زَادُ الْمُؤْمِنِ فِي كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ، وَلَيْسَتْ خَاصَّةً بِشَهْرٍ دُونَ شَهْرٍ. فَاتَّقُوا اللَّهَ عِبَادَ اللَّهِ، وَاحْفَظُوا رُوحَ رَمَضَانَ فِي قُلُوبِْكُمْ، وَاجْعَلُوا أَيَّامَكُمْ بَعْدَهُ خَيْرًا مِنْ أَيَّامِكُمْ فِيهِ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Ramadhan telah melatih kita untuk beribadah dengan sungguh-sungguh. Namun kita perlu memahami bahwa Idulfitri bukanlah momentum “reset” dosa yang menjadikan seseorang bebas kembali kepada perbuatan maksiat.
Ingatlah bahwa Allah yang kita sembah di bulan Syawwal dan bulan lainnya Dialah juga Allah yang kita sembah di bulan Ramadhan, maka tidak selayaknya ibadah kita berubah setelah Ramadhan.
Allah Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu al-yaqin (kematian).” (QS. Al-Hijr: 99)
Allah Ta’ala memerintahkan kita beribadah bukan hanya pada satu bulan, tapi sepanjang hidup kita di dunia. Tidak ada batasan waktu atau momen tertentu bagi seorang hamba beribadah untuk Allah Ta’ala.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Jangan sampai kita tertipu oleh suasana. Lihatlah diri kita setelah Ramadhan, apakah kita tetap taat atau kembali lalai?
Keberhasilan seseorang menjalankan ibadah di bulan Ramadhan tidak diukur dari seberapa meriah Idulfitri, tetapi dari sejauh mana dia istiqamah setelahnya. Istiqamah adalah konsistensi dalam ketaatan, bukan semangat yang sekejap.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh seorang sahabat tentang suatu hal yang penting dan tidak ditanyakan kepada selain beliau, maka beliau bersabda,
قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
“Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim, no.62)
Perintahnya singkat namun berat untuk diamalkan, itulah istiqamah.
Ramadhan telah melatih kita untuk bangun malam, menahan lisan, menundukkan pandangan, dan memperbanyak sedekah. Maka pertanyaannya, apakah semua itu berhenti di malam takbiran?
Kita harus berusaha untuk menjaga amalan yang kita lakukan selama bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ أَدْوَمُهَا إِلَى اللهِ وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang berkelanjutan walaupun sedikit.” (HR. Al-Bukhari nomor 6464 dan Muslim nomor 783).
Jika di bulan Ramadhan kita sudah membiasakan diri melakukan berbagai ibadah seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, salat sunnah, bersedekah dan ibadah lainnya, hendaknya ibadah-ibadah itu tetap kita kerjakan setelah Ramadhan berlalu, sehingga amalan itu berkelanjutan sepanjang hidup kita.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Tujuan puasa adalah agar kita menjadi hamba yang bertakwa. Jika setelah Ramadhan kita kembali kepada perbuatan maksiat, berarti ruh Ramadhan belum benar-benar tertanam di dalam diri kita.
Memang benar, Ramadhan adalah sebuah momentum penting dalam beribadah. Namun perjalanan menuju Allah bukan hanya di bulan Ramadhan, tapi kita lakukan seumur hidup.
Jangan sampai setelah Ramadhan, shalat berjamaah mulai ditinggalkan, Al-Qur’an kembali berdebu, lisan kembali ringan mencela, dan pandangan kembali bebas tanpa kendali. Jika Idulfitri datang dan seseorang berkata, “Sekarang sudah bebas,” lalu kembali pada kebiasaan lama, sungguh ia telah salah memahami makna hari raya. Oleh karena itu, jangan rusak bangunan takwa yang telah susah payah kita bangun selama Ramadhan.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Hari raya adalah syiar Islam. Kita diperintahkan bergembira dalam batas syariat. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا
“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.” (QS. Yunus: 58)
Kita mesti sadar bahwa perayaan dan kegembiraan tidak boleh berubah menjadi sebuah kelalaian. Idul Fitri adalah hari kebahagiaan bagi yang menundukkan hawa nafsu, bukan hari pembebasan dari ketaatan.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Kehidupan setelah Ramadhan adalah ujian yang sesungguhnya. Ibnu Rajab Al-Hanbali menyebutkan bahwa kaum salaf berdoa enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan dan enam bulan berikutnya berdoa agar ibadah mereka di bulan Ramadhan diterima. (Latha`if Al-Ma’arif: 376)
Perhatikanlah! Setelah Ramadhan berlalu, fokus mereka bukan pada pesta, tetapi pada penerimaan amal.
Khotbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ،
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ
“Maka istiqamahlah engkau sebagaimana diperintahkan.” (QS. Hud: 112).
Ini adalah perintah langsung dari Allah Ta’ala agar kita teguh di jalan ketaatan, bukan hanya semangat yang temporer. Bukan hanya karena suasana Ramadhan, tetapi karena perintah Allah Ta’ala itu sendiri. Istiqamah berarti konsisten dalam iman, ibadah dan akhlak, meskipun waktu dan keadaan berubah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيْمِهَا
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Al-Bukhari nomor 6493).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan bahwa nilai amal kita tidak hanya dilihat dari awalnya, tetapi bagaimana kita menutup perjalanan hidup kita. Jika Ramadhan kita indah dengan tilawah Al-Qur’an, qiyamullail dan sedekah, jangan biarkan hidup kita berakhir dengan kelalaian, kemaksiatan atau kembali pada kebiasaan lama yang buruk.
Oleh karena itu, keberhasilan Ramadhan bukan pada kemeriahan pada hari raya, tetapi bagaimana ketaatan itu terjaga setelahnya. Semoga Allah Ta’ala menjadikan akhir amal kita lebih baik daripada awalnya dan menjadikan penutup kehidupan kita dalam keadaan istiqamah dan husnul khatimah.
Di akhir khutbah ini marilah kita bershalawat dan berdoa untuk kita dan seluruh kaum muslimin.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ.
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى الْاِسْتِقَامَةِ بَعْدَ رَمَضَانَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَنْقُضُ عَهْدَهُ بَعْدَ تَأْكِيْدِهِ، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيْمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا، وَاغْفِرْ لَنَا تَقْصِيْرَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ الْمُسْتَقِيْمِيْنَ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ.
Referensi
- Shahih Al-Bukhari, Imam Al-Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Shahih Muslim, Imam Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Latha’if Al-Ma’arif, Ibnu Rajab Al-Hanbali, Al-Maktabah Asy-Syamilah.