Jadi Sahabat Anak dengan Bahasa Gaul Digital
Reporter: Rizky Aditya Saputra
Redaktur : Hilyatul Fitriyah
“Duh, aku enggak mau FOMO, ah.”
“Aku takut di-ghosting kalau janjian sama dia.”
Kalimat seperti itu mungkin pernah kita dengar meluncur dari mulut anak-anak atau remaja di sekitar kita. Sebagian orang tua mungkin hanya tertegun berusaha menebak arti kata-kata asing yang baru pertama kali terdengar. Sebagian lagi bisa jadi langsung menanggapinya dengan kekesalan, menganggapnya sebagai pengaruh tren negatif dari media sosial.
Padahal, istilah seperti capek mental, nolep, ghosting, hingga FOMO bukan sekadar tren sesaat. Itu adalah bagian dari cara berkomunikasi generasi digital, Generasi Alpha, yang tumbuh dalam arus informasi serba cepat. Mereka mendapatkannya dari percakapan sehari-hari, konten hiburan, hingga dunia maya yang mereka jelajahi.
Memahami istilah-istilah baru ini bukan berarti orangtua harus ikut-ikutan menjadi gaul. Terdapat tujuan jauh lebih penting, yakni agar kita dapat hadir dalam dunia anak tanpa membuat mereka merasa terasing. Karena pada akhirnya, bahasa adalah jembatan dan di tengah derasnya perubahan budaya komunikasi. Peran orangtua menjadi filter yang kokoh. Dengan begitu, anak-anak bisa merasa aman mengekspresikan diri, tanpa khawatir disalahpahami oleh orangtuanya.
Mengapa Istilah Gaul Muncul?
Sejak ribuan tahun lalu, bahasa selalu berkembang mengikuti zaman. Jika ditarik mundur 100 tahun lalu saja, sudah banyak istilah baru yang belum ada sebelumnya. Sebagai contoh, kita yang hidup di kurun waktu 1970-1980, tentu akrab dengan istilah bokap-nyokap yang merujuk pada ayah dan ibu.
Istilah ini ada setelah terjadinya komunikasi antara para pemuda Betawi di Jakarta kala itu. Kemudian kata bokap dan nyokap terbawa masuk dalam komunikasi-komunikasi nonformal hingga sekarang.
Begitu pun yang terjadi saat ini, kata-kata seperti nolep, sigma, dan mewing, merupakan hasil dari perubahan cara berkomunikasi tersebut. Ada beberapa faktor yang menjadi asal-muasal istilah ini muncul, salah satunya media sosial dan teknologi.
Dalam ranah media sosial, jutaan informasi bisa didapatkan dengan sangat mudah setiap harinya. Dari sisi teknologi pun sangat mendukung berkat kehadiran internet, gadget dan jaringan komunikasi yang efeknya mendunia.
Faktor lainnya yang membuat istilah gaul ini muncul adalah pengaruh budaya global. Ini merupakan efek domino dari kecanggihan teknologi. Setiap harinya, ribuan meme lintas negara dapat dengan mudah kita temui. Begitu pun tren internet yang tidak ada habisnya. Setelah satu tren hilang, muncul tren baru yang seakan menjadi hal wajib untuk diikuti semua orang.
Jangan lupakan faktor terakhir yang membuat istilah gaul ini muncul, yakni kecenderungan generasi muda dalam mengekspresikan perasaannya yang kompleks. Sebagai contoh, istilah “kena mental” muncul untuk mengungkapkan perasaan campur aduk secara psikis ketika mendapat tekanan yang bertubi-tubi. Dengan kata lain, bahasa digital ini tercipta sebagai cermin budaya sekaligus cara generasi muda membangun identitasnya.
Di Mata Remaja dan Anak-anak
Bagi Ukhtuna Fiona, siswi kelahiran 2008, bahasa khas Gen Alpha itu seperti dunia kecil yang seru dan penuh warna. Di satu sisi, ia merasa asyik bisa memakai istilah-istilah yang hanya dimengerti oleh teman sebayanya. Tapi di sisi lain, ia juga menyadari bahwa “bahasa gaul” ini bisa membuatnya salah paham dengan orang yang lebih tua.
“Seru sih, rasanya kayak punya bahasa rahasia. Aku enggak hafal semua, tapi tahu sebagian, kayak Rizz, Sigma, Skibidi, atau Nolep. Tapi kalau ngomong sama orang yang lebih tua, kadang terdengar kurang sopan. Jadi aku sesuaikan aja, biar tetap enak didengar,” tutur Fiona sambil tersenyum.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa gaul bukan sekadar tren, tapi juga simbol identitas generasi muda. Mereka merasa nyambung saat berbicara dalam “kode” yang hanya dipahami oleh kelompoknya. Nah, agar para orang tua dan guru tidak bingung lagi, yuk kenali beberapa istilah populer zaman now berikut ini!
Kamus Mini Bahasa Gaul Gen Z & Alpha
- FOMO (Fear of Missing Out) – Rasa takut ketinggalan tren atau informasi terbaru.
- Nolep (No Life Person) – Julukan bagi seseorang yang jarang bersosialisasi dan lebih suka menyendiri.
- Ghosting – Menghilang tiba-tiba tanpa kabar, terutama dalam konteks hubungan atau pertemanan.
- Capek mental – Ekspresi kelelahan emosional atau psikis.
- Vibe – Suasana, kesan, atau energi yang dirasakan dari seseorang, tempat, atau momen.
- Flexing – Pamer harta, pencapaian, atau gaya hidup.
- Ngabers – Gaya berpakaian atau perilaku remaja kekinian (kadang berkonotasi negatif).
- AFK (Away from Keyboard) – Istilah gamer untuk menyebut sedang tidak aktif online.
- Gaskeun – Ayo lanjut! Bentuk semangat atau ajakan untuk segera melakukan sesuatu.
- Cringe – Rasa malu atau jijik melihat sesuatu yang dianggap berlebihan atau tidak keren.
- Sigma – Sosok berkarisma, tenang, dan mandiri.
- Skibidi – Istilah nyeleneh yang biasanya menggambarkan sesuatu yang buruk, aneh, atau “nggak banget”.
- Mewing – Gerakan menempelkan lidah ke langit-langit mulut untuk membentuk rahang lebih tegas (tren dari media sosial).
- Rizz – Daya tarik atau pesona seseorang dalam berinteraksi.
Gaya bahasa baru ini terus bermunculan dari dunia digital. Bagi anak muda, ini cara mengekspresikan diri. Tapi bagi orang tua, memahami istilah-istilah ini bisa jadi jembatan untuk masuk ke dunia anak tanpa harus ikut-ikutan, cukup dengan tahu maknanya dan menyikapinya dengan bijak.
Dukungan Orang Tua Menurut Para Ahli
Bahasa gaul di kalangan remaja ternyata bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian dari proses mereka mencari jati diri. Hal ini diungkapkan oleh Psikolog Anak dan Keluarga Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psi. Menurutnya, penggunaan bahasa gaul adalah simbol identitas sosial yang membantu remaja merasa menjadi bagian dari kelompoknya. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung menolak atau memarahi anak ketika mendengar istilah-istilah baru yang terdengar aneh di telinga.[1]
Pandangan senada juga disampaikan oleh Psikolog Anak dan Remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi. Ia menilai, bahasa adalah bagian dari dinamika komunikasi yang selalu berubah mengikuti zaman. Karena itu, ketika anak-anak menggunakan istilah gaul yang belum dimengerti, orang tua tidak perlu panik atau langsung menghakimi. “Bahasa adalah bagian dari dinamika komunikasi. Ketika anak menggunakan istilah-istilah gaul, jangan buru-buru menghakimi. Gunakan momen itu untuk berdialog dan masuk ke dunia mereka,”[2]
Dua pandangan ini sama-sama menekankan pentingnya peran orang tua untuk memahami, bukan menghakimi. Dengan begitu, komunikasi lintas generasi bisa tetap hangat, dan bahasa dalam bentuk apa pun bisa menjadi jembatan, bukan penghalang, antara orang tua dan anak.
Komunikasi Dua Arah
Bagi Akhuna Anggie, perubahan gaya bicara anak-anak zaman sekarang lumayan ikut dirasakan di rumahnya. Sebagai ayah tiga anak, ia sempat bengong saat anak sulungnya yang masih SD tiba-tiba melontarkan kata yang belum pernah ia dengar sebelumnya. “Saya kaget banget waktu pulang, tiba-tiba dia bilang, ‘Pah, tadi temen aku mewing mulu, aneh deh!’” cerita Akhuna Anggie sambil tertawa kecil.
Awalnya ia mengaku bingung, apa lagi nih “mewing”? Tapi ia memilih tetap tenang. “Saya tanya, maksudnya mewing itu apa? Setelah dijelaskan, baru saya paham ternyata itu gaya yang katanya bisa bikin rahang lebih tegas. Pernah juga dia nyebut sigma, FOMO, dan istilah-istilah lain yang saya baru dengar,” ujarnya.
Dari sana, Akhuna Anggie menyadari bahwa memahami bahasa anak adalah bagian dari upaya menjalin kedekatan.
“Sebagai orang tua kita memang perlu membaur dengan anak-anak. Cari tahu bahasa yang mereka pakai biar nyambung saat ngobrol dan enggak kelihatan gaptek. Tapi tetap ada batasannya, kalau istilahnya enggak sesuai, ya kita luruskan. Kita kan terikat dengan aturan syariat,” tambahnya terdengar bernada tegas.
Hal serupa juga dirasakan Akhuna Hadi. Ia percaya komunikasi dengan anak harus dua arah, hangat, terbuka, dan tidak kaku. Sesekali ia bahkan ikut bermain gim bersama anaknya sebagai cara untuk membangun quality time. Tapi, dari situlah justru muncul kejutan-kejutan kecil. “Pernah waktu main bareng, anak saya nyeletuk, ‘Aku AFK dulu ya, Yah, gaskeun nanti!’ Saya sampai buka Google buat tahu arti AFK itu apa,” ungkapnya sambil tersenyum.
Ternyata, istilah itu ia dengar dari teman-teman sebayanya di dunia gim. “Saya nasihati dia pakai pesan Nabi—kalau bicara, ucapkan yang baik atau diam. Kalau belum paham artinya, lebih baik jangan diucapkan dulu,” tuturnya.
Dari pengalaman dua ayah ini, terlihat jelas bahwa memahami bahasa anak bukan berarti ikut-ikutan bergaya gaul, tapi belajar berbicara dalam frekuensi yang sama. Dengan begitu, komunikasi di rumah tetap hidup, bukan sekadar satu arah, tapi jadi dialog yang saling memahami.
Bukan Jurang Pemisah
Sebagaimana fungsi semula, bahasa merupakan alat komunikasi. Sudah seharusnya, bahasa menjadi jembatan penghubung antara anak dan orangtua, bukan jurang pemisah yang membuat keduanya semakin menjauh.
Di era serba digital, para orangtua dituntut untuk dapat mengimbangi perkembangan zaman. Salah satunya tidak perlu malu untuk mempelajari sesuatu hal yang baru demi kemaslahatan anak-anak. Dengan melek budaya digital, artinya kita sedang menunjukkan kepedulian terhadap mereka. Jika anak telah merasa nyaman, kita akan lebih mudah masuk membimbing adab dan akhlak mereka.
Satu hal yang perlu digarisbawahi, bahwasanya bahasa akan terus berkembang tanpa batas. Namun sebagai muslim, kita diatur dengan sebuah aturan langit yang memiliki nilai-nilai tertinggi. Apapun yang bertentangan dengan ajaran Islam, maka sudah selayaknya kita tinggalkan. Karena pada akhirnya, hanya ridho Allah-lah yang dapat menyelamatkan kita dan keluarga di dunia dan akhirat.
Mari bimbing anak-anak kita. Bukan dengan membuat jarak kian menganga, tapi bisa duduk berdampingan kemudian mewariskan keluhuran. Insyaallah.. Biidznillah..