Indahnya Perangai adalah Cerminan Ilmu
Penulis: Hawwina Fauzia Aziz
Editor: Faizah Fitriah
Sudah menjadi fitrah wanita menyukai berhias, bahkan, tak jarang kita mendapati fakta, ada yang rela menghabiskan jutaan rupiah demi memperindah tampilan dirinya dengan rangkaian perawatan. Teruntuk akhawati fillah, sungguh tidak mengapa tatkala kita “menjaga” fitrah yang Allah Ta’ala berikan kepada kita tersebut. Namun, ada hal lain yang tak kalah penting untuk kita jaga, yakni menjaga diri dengan balutan hiasan akhlak mulia.
Di antara cara untuk mengetahui (bahkan mendalami) segala sesuatu adalah dengan belajar, kemudian beramal. Untuk memperoleh ilmu tentang akhlak yang mulia, kita dapat mempelajarinya dengan duduk di majelis ilmu, mendengarkan, serta mencatat faedah ilmu syar’i yang kita dengar. Dengan demikian, perangai yang baik bi’idznillah akan menjadi buah manis sesungguhnya dari menuntut ilmu.
Akhawati fiddin, ketahuilah bahwa seseorang tidak akan bisa menerapkan adab-adab yang baik dan memperbaiki akhlaknya tanpa ilmu agama. Apabila Allah Ta’ala telah membuka pintu ilmu bagi kita, sudah sepatutnya kita mensyukuri ilmu itu dengan meninggalkan jejak-jejak kebaikan bernama akhlak mulia. Namun, manakala ilmu tersebut belumlah meninggalkan jejak berupa perangai yang baik dari diri kita, maka sudah sepatutnya kita renungkan hal ini serta mengevaluasi diri masing-masing.
Semakin Berilmu, Semakin Berperangai Baik
Barangkali kita pernah mendengar sebuah peribahasa “semakin berisi, semakin merunduk” yang diambil dari metafora tanaman padi. Seyogianya, ketika seseorang semakin berilmu, maka ilmu tersebut akan melahirkan hati yang merendah, jauh dari rasa ujub, sombong, atau penyakit-penyakit hati lainnya. Ilmu tersebut akan mendorong dirinya untuk menjadi pribadi dengan akhlak mulia. Ini juga alasan sehingga setiap dari kita, muslim maupun Muslimah wajib untuk belajar ilmu agama. Dengan ilmulah seseorang bisa “memperindah” dirinya. Sebaliknya, tanpa ilmu, seseorang tidak akan bisa mengontrol dirinya, tutur kata, juga perilakunya.
Memang, seseorang hanya akan dimudahkan dalam kebaikan atas taufik dan pertolongan dari Allah. Namun, bukankah taufik serta pertolongan dari Allah itu juga harus kita perjuangkan melalui doa? Bahkan dalam memanjatkan doa pun ada adabnya, akan tetapi kita tidak akan mengetahui bagaimana adab dalam berdoa yang baik dan benar, serta tidak akan mengetahui apa-apa yang kita butuhkan untuk kebaikan di dunia dan akhirat kelak, kecuali dengan tuntunan ilmu agama. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no 224. Dinilai sahih oleh Syekh Albani dalam Shahiih al-Jaami’ no. 3913).
Perlu kita ketahui, bahwa ketika Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kata “ilmu” saja baik dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah, maka yang dimaksud adalah ilmu syar’i (agama), termasuk pada konteks hadits di atas. Hal ini disimpulkan dari penjelasan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani mengenai maksud dari “ilmu” pada surah Thaha ayat 114,
وَالْمُرَادُ بِالْعِلْمِ الْعِلْمُ الشَّرْعِيُّ الَّذِي يُفِيدُ مَعْرِفَةَ مَا يَجِبُ عَلَى الْمُكَلَّفِ مِنْ أَمْرِ دينه فِي عِبَادَاتِهِ وَمُعَامَلَاتِهِ وَالْعِلْمُ بِاللَّهِ وَصِفَاتِهِ وَمَا يَجِبُ لَهُ مِنَ الْقِيَامِ بِأَمْرِهِ وَتَنْزِيهِهِ عَنِ النَّقَائِصِ.
“Yang dimaksud dengan kata ilmu di sini adalah ilmu syar’i, yaitu bahwa ilmu yang akan menjadikan seorang mukallaf mengetahui kewajibannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, hak yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, dan mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan.”
Akhawaati fillah rahimakunnallaah, pada paragraf pembuka tadi, kita sudah menyinggung mengenai adab dan akhlak, sehingga mungkin akan muncul pertanyaan, apa perbedaan adab dan akhlak?
Perbedaan Adab dan Akhlak
Secara bahasa, akhlak adalah agama, tabiat dan watak. Ia dikaitkan dengan sifat-sifat batin manusia baik itu berupa kebaikan maupun keburukan, seperti jujur, amanah, malu dan lainnya. Adapun secara istilah, akhlak adalah sifat-sifat yang menetap pada jiwa seseorang, yang memiliki banyak pengaruh pada perilaku seseorang, baik itu yang terpuji maupun yang tercela. Sebagian ulama juga ada yang menjadikan akhlak yang mulia sebagai bagian dari adab. Sehingga adab itu lebih umum daripada akhlak. Sebagaimana penjelasan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah,
وَالْأَدَبُ اسْتِعْمَالُ مَا يُحْمَدُ قَوْلًا وَفِعْلًا وَعَبَّرَ بَعْضُهُمْ عَنْهُ بِأَنَّهُ الْأَخْذُ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ
“Adab yaitu menerapkan hal-hal yang dipuji oleh orang, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sebagian ulama juga ada yang berpendapat bahwa adab ialah menerapkan akhlak-akhlak yang mulia.”
Kedudukan Akhlak Mulia dalam Islam
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنما بُعِثتُ لأتمِّمَ صَالِحَ الأخلاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 273)
Hadits ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan akhlak yang baik atau mulia dalam agama kita, sehingga itu menjadi salah satu tugas utama dari diutusnya Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Allah ‘Azza wa Jalla.
Perhatikanlah, bahwa akhlak baik yang diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk disampaikan kepada umat manusia mencakup dua hal, yakni akhlak kepada Allah—yaitu dengan menjalankan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan-Nya, serta akhlak kepada manusia, yaitu dengan berkata baik, tidak mencela, jujur, menjaga amanah, menunaikan hak, dan semisalnya.
Akhlak mulia atau akhlak yang baik itu sangatlah penting dalam agama kita karena akhlak bisa mempengaruhi lingkungan sekitar. Ketika seseorang tidak memiliki akhlak yang mulia, itu akan berdampak buruk pula pada lingkungan sekitarnya. Setidaknya, akan ada pihak yang dirugikan sesuai dengan kadar buruknya akhlak tersebut. Kita ambil contoh: seseorang yang tidak amanah dalam suatu urusan, tidak jujur dalam berdagang, suka mencela, zalim, sombong, kasar, tidak bisa meredam amarah, dan sebagainya. Bukankah dengan demikian akan sangat merugikan lingkungan sekitarnya? Dengan demikian, semakin banyak orang yang tidak berakhlak mulia, semakin rusak pula lingkungan di sekitarnya. Namun, berkebalikan dengan itu, semakin banyak orang yang berakhlak mulia, maka akan semakin baik kondisi lingkungan di sekitarnya.
Berilmu, Berakhlak, dan Beradab
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa akhlak mulia termasuk bagian dari adab. Mempelajari ilmu secara teori saja tidak cukup, melainkan kita juga harus mempelajari dan menerapkan adab dalam kehidupan sehari-hari. Dengan akhlak yang baik, adab juga akan membawa pengaruh baik pada lingkungan sekitar. Adab akan membawa keberkahan dari Allah ‘Azza wa Jalla pada ilmu-ilmu yang sudah kita pelajari. Tanpa adab, segala ilmu yang sudah kita pelajari menjadi sia-sia.
Seseorang yang berilmu dan menerapkan adab setelah berilmu tidak akan merendahkan orang lain atau sombong dengan ilmunya. Selain itu, ia tidak akan menyembunyikan ilmu-ilmu yang dimilikinya, ia akan menghormati gurunya dengan adab yang benar sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta ia akan menjaga ilmu yang telah dimilikinya dan menjaga agamanya dengan tidak sembarangan atau tidak malu dalam mengatakan “wallahu a’lam” ketika ia ditanya mengenai suatu permasalahan agama yang belum diketahuinya.
Akhawati fillah akramakunnallah, termasuk bukti dari kesempurnaan agama Islam juga adalah dengan adanya adab-adab yang dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diterapkan, bahkan pada hal-hal mendetil dalam kehidupan sehari-hari, seperti adab dalam makan, minum, tidur, berpakaian, bermuamalah dan sebagainya. Dengan mempelajari dan menerapkan adab-adab Islam dalam kehidupan sehari-hari, seseorang akan lebih terjaga kehormatan dirinya sebagai seorang muslim, hari-hari dan aktivitasnya akan lebih tertata, kesehatan fisiknya juga akan lebih terjaga, sehingga secara tidak langsung akan mencerminkan keindahan Islam itu sendiri dan menjadi sarana dakwah agama Islam.
Demikian, semoga Allah mudahkan kita menjadi muslimah yang tidak hanya bersemangat untuk berhias diri sebatas penampilan lahiriah, melainkan juga terus bersemangat dalam berhias diri dengan ilmu, akhlak mulia, dan adab. Waffaqanallah. Amin.
Referensi
- Al-Albani, Abu Abd Rahman Muhammad Nashiruddin. Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir wa Ziyadatuhu. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Al-Asqalani, Ibnu Hajar. Fathu Al-Bari. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Al-Adab Al-Mufrad. Al-Maktabah Asy-Syamilah.
- Prasetya, S.H., Abu Yusuf Wisnu. Rangkuman Kitab Al-Akhlaq wa Al-Adab karya Dr. Abdullah bin Wakil Asy-Syaikh dan Dr. Abdullah bin Muhammad Al-Amru, (Pustaka An-Nafidzah, 1444 H/2023 M). Diakses melalui http://t.me/maktabahannafidzah.
- Prasetya, S.H., Abu Yusuf Wisnu. Adab Seseorang setelah Berilmu. (Pustaka an-Nafidzah: 1440 H). Diakses melalui http://t.me/maktabahannafidzah.