Aqidah
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Iman dan Ihtisab, Fondasi Sukses Puasa Ramadhan

Penulis: Abu Ady

Editor: Yum Roni Askosendra, Lc,. M.A.


Dalam menjalani kehidupan di dunia, manusia akan mengalami kelelahan dalam setiap aktivitasnya. Ada jenis kelelahan yang tidak bisa diukur dengan jam tidur dan tidak bisa disembuhkan dengan liburan panjang. Ia bukan kelelahan otot, bukan pula kelelahan pikiran semata, tetapi kelelahan jiwa. Semua permasalahan itu, jika ditelusuri hingga ke akar terdalamnya, bermuara pada satu kenyataan: hati sedang berjauhan dari Allah.

Allah Ta‘ala telah mengabarkan realitas ini dengan sangat jelas dalam firman-Nya,

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“Barang siapa berpaling dari mengingat-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124).

Ibnu Katsir menjelaskan makna ayat ini: dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, yaitu menyelisihi perintah-Ku dan apa yang telah Aku turunkan kepada Rasul-Ku; ia berpaling darinya, melupakannya dan mengambil petunjuk dari selainnya, maka sungguh baginya kehidupan yang penuh kesempitan di dunia.

Orang seperti itu tidak memperoleh ketenangan, tidak pula kelapangan dada. Bahkan dadanya sempit dan sesak karena kesesatannya. Sekalipun secara lahiriah ia hidup dalam kenikmatan, mengenakan pakaian apa saja yang ia kehendaki, memakan apa saja yang ia inginkan dan tinggal di mana saja yang ia mau, namun sesungguhnya hatinya selama belum sampai pada keyakinan dan petunjuk, maka akan tetap berada dalam kegelisahan, kebingungan dan keraguan. Ia senantiasa berada dalam kebimbangan dan keguncangan. Maka keadaan seperti inilah yang termasuk bagian dari kehidupan yang sempit. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/283).

Kehidupan yang sempit tidak selalu tampak dalam bentuk kemiskinan atau kesusahan lahiriah. Banyak orang yang secara materi hidup dalam kelapangan, tetapi jiwanya terhimpit, hatinya gelisah dan pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Inilah kesempitan batin yang lahir dari berpalingnya hati dari dzikir kepada Allah Ta’ala.

Di sinilah Ramadhan hadir, bukan sebagai agenda tahunan belaka, tradisi budaya, dan bukan sekadar bulan penuh aktivitas keagamaan. Ramadhan adalah panggilan Allah kepada jiwa-jiwa yang lelah agar kembali kepada fitrahnya. Namun Ramadhan tidak otomatis menyembuhkan. Ia hanya menjadi healing sejati bagi mereka yang memasukinya dengan iman dan ihtisab (mengharap pahala).

Iman sebagai ruh puasa

Iman bukan sekadar pengakuan lisan atau identitas keagamaan. Iman adalah kekuatan ruhani yang hidup, berubah, bertambah dan berkurang. Kualitas puasa seseorang sangat bergantung pada kualitas imannya. Puasa yang dilakukan dengan iman yang hidup akan melahirkan ketenangan, sedangkan puasa dengan iman yang lemah justru sering melahirkan kejengkelan dan emosi.

Allah Ta‘ala berfirman,

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْ ۗ

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4).

Iman sifatnya bisa berubah, ia tidak selalu berada pada satu keadaan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Nah, puasa merupakan salah satu sarana terbesar untuk menambah atau menguatkan iman, karena ia menghimpun banyak ketaatan sekaligus: sabar, ikhlas, dzikir, pengendalian diri dan tobat.

Namun, iman tidak akan tumbuh secara otomatis hanya karena seseorang berpuasa. Jika puasa dilakukan tanpa menghadirkan makna iman, ia hanya menjadi aktivitas menahan diri tanpa ruh. Inilah sebabnya mengapa sebagian orang merasa Ramadhan berlalu tanpa perubahan apa pun dalam hidupnya.

Ihtisab kunci ibadah puasa

Jika iman adalah fondasi, ihtisab adalah arah perjalanan. Ihtisab berarti mengharap pahala dari Allah dengan penuh keyakinan, kerelaan dan keikhlasan. Ihtisab menjadikan seorang hamba sadar bahwa setiap detik ibadahnya tidak sia-sia, meskipun terasa berat.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa yang puasa Ramadhan karena iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Al-Bukhari nomor 37 dan Muslim nomor 759).

Ibnu Hajar berkata, maksud iman adalah keyakinan terhadap kebenaran kewajiban puasa tersebut. Sementara itu, maksud ihtisab adalah mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala. Al-Khathabi berkata, ihtisab maksudnya adalah tekad dan kesungguhan, yaitu seseorang berpuasa dengan adanya dorongan untuk mengharap pahalanya, dengan jiwa yang lapang dan ridha, tidak merasa berat menjalankannya, serta tidak menganggap hari-harinya berjalan terasa lambat.” (Fathul Bari, 4/115).

Imam An-Nawawi berkata tentang makna hadits ini, makna iman adalah membenarkan dengan keyakinan bahwa hal itu benar, dengan sikap lurus dan mengharapkan keutamaannya. Makna ihtisab adalah seseorang berharap kepada Allah Ta'ala semata, tidak bertujuan agar dilihat manusia dan tidak pula mengharapkan selain itu dari hal-hal yang bertentangan dengan keikhlasan. Adapun yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan adalah salat tarawih.” (Al-Minhaj, 6/39).

Bisa kita pahami bahwa makna ihtisab adalah melakukan ibadah dengan mengharap pahala dari Allah semata, bukan karena kebiasaan, tekanan sosial, dan karena ingin dipuji manusia. Ihtisab mengubah rasa lapar menjadi ibadah, rasa haus menjadi penghapus dosa dan rasa lelah menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah. Ketika puasa dijalani dengan ihtisab, jiwa menemukan makna keimanan di balik setiap kesulitan. Dari sinilah lahir ketenangan yang menjadi inti healing sesungguhnya.

Puasa membersihkan jiwa dari noda dosa dan mengisinya dengan ketaatan

Salah satu tujuan terbesar puasa adalah tazkiyatun nafs, yaitu proses pembersihan jiwa dari dosa dan penyakit hati. Jiwa yang terus dibiarkan bergelimang maksiat, ia akan mengeras dan kehilangan sensitivitas terhadap kebenaran.

Ibnu Rajab Al-Hanbali menyebutkan di antara faedah meninggalkan syahwat saat berpuasa adalah mengosongkan hati untuk berpikir dan berzikir; karena sesungguhnya mengonsumsi berbagai syahwat itu dapat membuat hati lupa, membutakannya, serta menghalangi seorang hamba dari berzikir dan berpikir, dan mengundang kelalaian. Dengan kosongnya batin dari makanan dan minuman, itu akan menerangi hati, menumbuhkan kelembutannya, menghilangkan kekerasannya, serta memberikan waktu menyendiri untuk zikir dan tafakur. (Mukhtashar Latha`ifil Ma’arif: 63).

Puasa memiliki peran besar dalam menyucikan jiwa karena ia melemahkan dominasi syahwat. Ketika syahwat melemah, hati menjadi lebih mudah tunduk kepada Allah dan lebih mudah menerima nasihat. Inilah sebabnya mengapa orang yang benar puasanya akan lebih lembut hatinya dan lebih mudah menangis karena takut kepada Allah.

Puasa melatih jiwa untuk bersabar

Puasa adalah latihan sabar yang paling nyata dan paling jujur. Dalam puasa, seseorang belajar menahan diri dari keluhan, emosi dan pelampiasan hawa nafsu.

Allah Ta‘ala berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).

Sabar memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah dan puasa merupakan sarana paling efektif untuk menumbuhkan sifat tersebut. Dalam puasa, terkumpul tiga bentuk sabar sekaligus. Pertama, sabar dalam ketaatan, yaitu kesabaran dalam melaksanakan perintah Allah sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan penuh kepatuhan dan keikhlasan. Kedua, sabar dalam meninggalkan maksiat, yaitu menahan diri dari perbuatan dosa, menjaga lisan, pandangan dan anggota tubuh dari hal-hal yang merusak pahala puasa. Ketiga, sabar dalam menghadapi takdir Allah berupa rasa lapar, haus dan keletihan fisik, yang semuanya diterima dengan ridha dan penuh pengharapan pahala.

Proses pendidikan ini melahirkan ketahanan jiwa yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Orang yang terbiasa bersabar dalam puasa akan lebih mampu mengendalikan diri ketika menghadapi tekanan, cobaan dan kesulitan hidup. Ia tidak mudah panik, tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan dan tidak mudah goyah oleh godaan dunia. Puasa mengajarkan bahwa kesulitan bersifat sementara dan kesabaran selalu berujung pada pertolongan serta ganjaran dari Allah Ta'ala.

Puasa mengajarkan kita melepaskan diri dari ketergantungan terhadap dunia

Salah satu sumber kegelisahan manusia adalah ketergantungan yang berlebihan pada dunia. Ketika hati terlalu terikat pada kenyamanan, kenikmatan dan pengendalian diri, maka kehilangan sedikit saja akan melahirkan kegoncangan.

Allah Ta‘ala berfirman tentang dunia yang bersifat sementara dan kita seharusnya mengharapkan sesuatu yang abadi yaitu akhirat,

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ

“Apa yang ada di sisi kalian akan binasa, dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal.” (QS. An-Nahl: 96)

Orang beriman hendaknya meyakini dunia tidak layak dijadikan sandaran utama bagi hati. Segala sesuatu yang berada di tangan manusia pasti akan berakhir, baik harta, kesehatan, jabatan maupun hubungan sesama manusia. Sementara apa yang berada di sisi Allah bersifat kekal dan tidak pernah berkurang. Ramadhan hadir untuk menanamkan kesadaran ini secara mendalam dan nyata bagi kehidupan seorang mukmin.

Dalam puasa, seorang hamba dengan sengaja meninggalkan perkara-perkara halal seperti makan, minum dan pemenuhan syahwat pada waktu tertentu semata-mata karena menjalankan perintah Allah. Tindakan ini melatih hati untuk memahami bahwa kenikmatan dunia bukan tujuan akhir, melainkan sarana yang tunduk kepada ketaatan.

Ramadhan sebagai jalan pulang bagi jiwa yang gersang

Ramadhan adalah jalan pulang bagi jiwa yang gersang serta tersesat dalam hiruk-pikuk dunia. Ia tidak menjanjikan kesenangan instan, tetapi ketenangan yang jujur dan mendalam. Iman dan ihtisab adalah kunci agar puasa dan shalat malam benar-benar membuahkan perubahan.

Jika Ramadhan berlalu tanpa perubahan, hal yang perlu dikoreksi bukanlah Ramadhan itu sendiri, tetapi cara kita beriman dan beramal selama Ramadhan. Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita hamba-hamba yang berpuasa dan melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan iman dan ihtisab yang benar, hingga dosa-dosa kita diampuni dan pada akhirnya kita berharap dimasukkan ke dalam surga yang penuh kenikmatan bersama orang-orang yang kita cintai. Amin.

Referensi

  • Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Shahih Al-Bukhari, Imam Al-Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Shahih Muslim, Imam Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Fathul Bari, Ibnu Hajar, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Al-Minhaj, Imam An-Nawawi, Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Mukhtashar Latha`ifil Ma’arif, Ibnu Rajab Al-Hanbali (diringkas oleh Dr. Ahmad bin Utsman Al-Mazid) Madar Al-Wathan, cetakan ketiga belas, 2015, Riyadh.

1169