Ilmu dan Adab di Mata Seorang Muslim
Penulis: Abdullah Yahya An-Najaty, Lc.
Editor: Athirah Mustadjab
Dalam Islam, ilmu dan adab merupakan dua aspek yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling melengkapi dan menjadi fondasi utama dalam membentuk kepribadian seorang muslim yang paripurna. Ilmu tanpa adab bagaikan pohon tanpa buah, sedangkan adab tanpa ilmu ibarat tubuh tanpa nyawa. Tulisan ini akan membahas secara mendalam tentang pengertian, kedudukan, serta hubungan antara ilmu dan adab dalam kehidupan seorang muslim, dengan merujuk pada teladan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam serta relevansinya di era modern.
Pengertian Ilmu dan Adab
Ilmu, secara etimologi bahasa Arab, adalah antonim kebodohan[1]. Adapun secara terminologi, menurut Al-Jurjani rahimahullah, ilmu adalah keyakinan yang pasti dan sesuai dengan realitas[2]. Definisi ini bersifat epistemologis, berbeda dengan definisi menurut KBBI yang bersifat metodologis, yaitu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara sistematis menurut metode tertentu[3].
Adab, secara etimologi bahasa Arab, bermakna mengundang dan mengajak[4]. Adapun secara terminologi menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah adalah menggunakan segala sesuatu yang terpuji, baik dalam ucapan maupun perbuatan[5]. Definisi ini lebih komprehensif karena mencakup aspek spiritual, personal, dan sosial; berbeda dengan definisi menurut KBBI yang berfokus pada interaksi sosial, yaitu kehalusan dan kebaikan budi pekerti; kesopanan[6].
Ada kata yang semakna dengan adab tetapi memiliki sedikit perbedaan, yaitu akhlak dan suluk. Akhlak adalah kondisi jiwa[7], sedangkan suluk adalah manifestasi lahiriah dari akhlak[8]. Akhlak dan suluk terbagi menjadi dua jenis; ada yang baik (terpuji) dan ada yang buruk (tercela). Sementara itu, adab hanya mencakup hal-hal yang baik dan terpuji saja. Dengan demikian, adab memiliki cakupan yang lebih khusus dibandingkan akhlak dan suluk. Selain itu, adab bisa saja bersumber dari salah satu akhlak yang baik, tetapi juga bisa berasal dari sumber lain yang tidak berhubungan langsung dengan akhlak[9].
Kedudukan Ilmu dan Adab dalam Islam
Ilmu dan adab memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam. Ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia kepada kebenaran, sedangkan adab adalah manifestasi dari keimanan dan ketakwaan. Keduanya harus berjalan beriringan untuk mencapai kesempurnaan dalam beribadah dan bermuamalah. Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan kedudukan ilmu dalam firman-Nya,
يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٍ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan akan kedudukan adab dalam Islam dalam sabdanya,
إنَّمَا بُعَثتُ لِأتَمَّمَ صَالِحِي الأَخْلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 273. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)
Keagungan kedudukan keduanya pun tercermin jelas pada praktik salaf, sebagaimana pengakuan Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah, “Aku mencari adab selama tiga puluh tahun, sedangkan aku mencari ilmu selama dua puluh tahun. Dahulu mereka (para ulama’ salaf) mencari adab kemudian mencari ilmu.”[10] [lihat rubrik Sirah]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Sebagai Teladan Puncak Ilmu dan Adab
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang sempurna dalam ilmu dan adab. Keduanya teraplikasikan dalam keseharian beliau, baik dalam hubungan dengan Allah maupun hubungan dengan sesama manusia. Beliau adalah sumber ilmu yang tak pernah kering, baik ilmu agama maupun kehidupan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ (٣) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌۭ يُوحَىٰ (٤)
“Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara menurut hawa nafsunya. Apa yang diucapkannya tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. An-Najm: 3-4)
Dalam hal adab, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah contoh terbaik. Beliau dikenal sebagai pribadi yang lemah lembut, sabar, jujur, dan penuh kasih sayang. Yang lebih mengagumkan lagi, musuh-musuhnya pun mengakui keagungan adab beliau. Seorang sahabat pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau menjawab,
فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنَ
“Sungguh akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim, no. 746)
Artinya, seluruh perilaku Nabi mencerminkan nilai-nilai Al-Qur’an. Lebih jauh lagi, Allah ‘Azza wa Jalla sendiri memuji keagungan adab dan akhlak beliau dalam firman-Nya,
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)
Al-Khathib Al-Baghdadi rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah bahwa ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah timbangan yang paling agung. Segala sesuatu harus diukur dengan akhlak, perjalanan hidup, dan petunjuk beliau. Apa yang sesuai dengannya adalah kebenaran, dan apa yang bertentangan dengannya adalah kebatilan.”[11]
Pentingnya Adab dalam Menuntut Ilmu dan Pentingnya Ilmu untuk Memperbaiki Adab
Adab adalah fondasi dalam menuntut ilmu. Tanpa adab, ilmu tidak akan bermanfaat, bahkan bisa menjadi bumerang. Tidak ada sesuatu yang lebih menerangi akal selain adab, dan tidak ada pintu ilmu yang terbuka kecuali dengannya. Oleh karena itu, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Beradablah, kemudian belajarlah!”[12]
Abdullah bin Mubarak rahimahullah pernah berkata, “Seseorang tidak akan mencapai kemuliaan dengan satu jenis ilmu pun, kecuali jika ia menghiasi ilmunya dengan adab.”[13]
Di antara adab yang harus dimiliki seorang penuntut ilmu adalah sabar, ikhlas, mengamalkan ilmu, senantiasa merasa diawasi oleh Allah, memanfaatkan waktu dengan baik, ketelitian dan kesungguhan dalam belajar, banyak membaca buku, memilih teman yang baik, serta beradab kepada guru.
Di sisi lain, ilmu juga diperlukan untuk memperbaiki adab. Tanpa ilmu, seseorang tidak akan tahu bagaimana berperilaku sesuai dengan tuntunan syariat. Ilmu mengajarkan kita tentang akhlak mulia dan cara menghindari keburukan. Ilmu adalah cahaya bagi akal dan hati, makanan bagi roh, serta petunjuk bagi jiwa menuju jalan kebaikan. Pemilik ilmu akan selalu memberi manfaat di mana pun ia berada.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Dahulu apabila seseorang menuntut ilmu, maka tidak lama kemudian ilmunya akan tampak dalam penglihatannya, kekhusyukannya, lisannya, tangannya, shalatnya, serta kezuhudannya.”[14]
Sebagian ahli balaghah berkata, “Pelajarilah ilmu! Sebab ilmu akan membimbing dan meluruskanmu saat masih kecil, memuliakan dan mengangkat derajatmu saat dewasa, memperbaiki kekurangan dan keburukanmu, mengalahkan musuh serta orang yang dengki kepadamu, meluruskan kesalahan dan penyimpanganmu, serta menyempurnakan tekad dan harapanmu.”[15]
Jadi, ilmu adalah landasan adab dan adab adalah cerminan ilmu. Antara ilmu dan adab memiliki hubungan timbal balik yang erat, di mana keduanya saling melengkapi dan memperkuat dalam membangun kepribadian yang paripurna.
Menjunjung Adab Tanpa Mengabaikan Ilmu
Dalam Islam, ilmu dan adab memiliki kedudukan yang mulia. Adab seringkali dianggap sebagai fondasi bagi ilmu yang bermanfaat dan berkah. Namun, terkadang kesalahpahaman muncul, seolah-olah penekanan pada adab berarti mengesampingkan atau meremehkan pentingnya ilmu itu sendiri, padahal menjunjung tinggi adab dan mengejar ilmu adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan dan saling melengkapi.
Tak heran bila ada sebagian orang yang terlalu fokus pada adab hingga mengabaikan pentingnya menuntut ilmu. Ini adalah sikap yang keliru. Justru, adab yang benar akan mendorong seseorang untuk terus mencari dan mengembangkan ilmunya. Kesadaran akan pentingnya ilmu, rasa haus akan pengetahuan, dan keinginan untuk memberikan manfaat adalah buah dari adab yang terpuji. Seorang yang beradab akan menyadari bahwa ilmu adalah amanah yang harus diusahakan dan diamalkan dengan sebaik-baiknya.
Oleh karenanya, ilmu dan adab harus seimbang sebagaimana praktek ulama salaf. Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata, “Mereka (para ulama salaf) mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”[16]
Ibnu Jama‘ah rahimahullah juga menasihatkan, “Seorang penuntut ilmu tidak seharusnya berambisi menambah ilmu sementara ia kurang dalam sifat wara’ (kehati-hatian) atau ketakwaan, atau tidak memiliki akhlak yang baik.”[17]
Jangan Pisahkan antara Ilmu dan Adab
Ilmu dan adab adalah dua pilar yang tak terpisahkan. Keduanya memiliki peran krusial dan saling melengkapi. Namun, apa jadinya jika salah satu dari pilar tersebut hilang atau terabaikan?
Ilmu tak disertai adab ibarat pedang tajam di tangan seorang yang tidak bijak, ilmu tanpa adab berpotensi menjadi malapetaka. Orang yang memiliki keluasan ilmu tetapi minim adab cenderung menggunakan ilmunya untuk kepentingan pribadi yang sempit, menindas, atau bahkan merusak tatanan sosial. Kesombongan intelektual, merendahkan orang lain, dan manipulasi demi kekuasaan adalah buah pahit dari ilmu yang tidak diiringi adab.
Di sisi lain, adab tanpa ilmu bagaikan lentera tanpa cahaya. Seseorang yang memiliki sopan santun, tata karma yang baik, dan niat yang tulus, tetapi tidak memiliki pemahaman yang mendalam dan pengetahuan yang memadai, akan sulit memberikan kontribusi, tindakannya bisa jadi salah sasaran, tidak efektif, dan kontraproduktif.
Dalam kehidupan ini, ilmu harus diperhalus dengan adab, dan adab harus diperkaya dengan ilmu. Ketika ilmu dicampur dengan adab, ia akan menyentuh kehidupan dan memberikan kenyamanan kepada manusia. Abu Zakariya Al-‘Anbari rahimahullah berkata, “Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, sedangkan adab tanpa ilmu seperti ruh tanpa jasad.”[18]
Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah berkata, “Barang siapa meremehkan adab, ia akan dihukum dengan terhalangnya dari sunah. Barang siapa meremehkan sunah, ia akan dihukum dengan terhalangnya dari kewajiban. Barang siapa meremehkan kewajiban, ia akan dihukum dengan terhalangnya dari ma‘rifah (pemahaman tentang Allah).”[19]
Sikap yang Benar bagi Seorang Muslim terhadap Hubungan Ilmu dan Adab di Era Modern
Dalam konteks hubungan ilmu dan adab di era modern ada beberapa sikap yang hendaknya dimiliki seorang muslim sebagaimana berikut,
1. Memprioritaskan Ilmu Agama sebagai Dasar Kehidupan
Ilmu agama adalah asas yang perlu dipelajari sebelum ilmu-ilmu lain. Ilmu agama membimbing seseorang untuk memahami tujuan hidup, hubungan dengan Allah ‘Azza wa Jalla, dan cara berinteraksi dengan sesama manusia. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيهِمۡ رَسُولاً مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
“Sungguh, Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imran: 164)
Di era modern, ketika ilmu duniawi seperti sains, teknologi, dan ekonomi berkembang pesat, seorang muslim tidak boleh melupakan kepentingan ilmu agama. Ilmu duniawi perlu dipelajari dengan berpandukan ilmu agama agar tidak terlepas dari nilai-nilai Islam.
2. Menggunakan Ilmu untuk Kebaikan dan Kemaslahatan Umat
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membawa kebaikan kepada diri sendiri dan orang lain. Di era modern, di mana teknologi maklumat berkembang pesat, seorang muslim perlu menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan umat, bukan untuk merusak, menyebarkan fitnah, dan menindas.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
“Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan menanggung dosa seperti dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim, no. 2674)
3. Menjaga Adab dalam Segala Situasi
Adab adalah aspek penting yang tidak boleh diabaikan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Adab bukan sekadar sopan santun, tetapi juga mencakup sikap hormat, rendah hati, dan bertanggungjawab.
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Adab seseorang adalah tanda kebahagiaan dan keberuntungannya, sedangkan kurangnya adab adalah tanda kesengsaraan dan kehancurannya. Tidak ada yang lebih mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat selain adab, dan tidak ada yang lebih mendatangkan kesengsaraan selain kurangnya adab.”[20]
Di era digital, adab dalam berkomunikasi di media sosial menjadi sangat penting. Seorang muslim perlu menjaga adab dalam setiap interaksi, termasuk di platform digital. Menyebarkan maklumat yang benar, menghindari fitnah, dan menjaga hubungan baik dengan orang lain adalah sebagian daripada adab yang perlu dipelihara.
4. Menyeimbangkan Ilmu dan Adab di Era Modern
Di era modern, tatkala maklumat mudah diperoleh, seorang muslim perlu bijak memilih ilmu yang bermanfaat dan mengamalkannya dengan adab yang baik. Tanpa adab, ilmu bisa menjadi alat kehancuran, dan tanpa ilmu, adab tidak akan membawa manfaat yang besar. Yusuf bin Al-Husain rahimahullah berkata, “Dengan adab, seseorang dapat memahami ilmu, dan dengan ilmu, amal dapat dilakukan dengan benar.”
5. Nasihat dan Harapan
Mari kita renungkan ucapan Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah, “Dahulu, seseorang yang ingin menulis hadis akan terlebih dahulu belajar adab dan beribadah selama dua puluh tahun.”[22]
Bagi para ulama salaf, menuntut adab lebih diutamakan daripada menuntut ilmu. Inilah yang ditegaskan oleh Imam Malik rahimahullah ketika ia berkata kepada seorang pemuda dari Quraisy, “Wahai keponakanku, pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.”[23]
Hal ini karena sejak kecil beliau telah memahami keutamaan adab sebagimana arahan ibundanya. Beliau bercerita, “Ibuku memakaikan serban kepadaku dan berkata, ‘Pergilah kepada Rabi‘ah (Rabi‘ah Ar-Ra’yi, guru Imam Malik), dan pelajarilah adabnya sebelum ilmunya.’”[24]
Semoga setiap muslim dapat menjadi pribadi yang berilmu dan beradab, meneladani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta berkontribusi positif bagi kemajuan umat dan bangsa. Dengan ilmu dan adab, kita bisa menjadi cahaya yang menerangi dunia, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ath-Thabarani dalam Mu’jam Al-Ausath, no. 6026. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, no. 906)
Dengan memahami dan mengamalkan ilmu serta adab, seorang muslim tidak hanya akan meraih kesuksesan di dunia, tetapi juga kebahagiaan di akhirat. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa membimbing kita untuk menjadi hamba-Nya yang berilmu dan beradab mulia. Aamiin.
Penutup
Demikian yang bisa penulis jelaskan tentang pengertian, kedudukan, serta hubungan antara ilmu dan adab dalam kehidupan seorang muslim, dan relevansinya di era modern. Semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat untuk kita semua dan membuahkan amal di kemudian hari. Akhir kata, kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala asma’ dan sifat-Nya agar memberkahi dan meridhai tulisan ini. Wabillahi Taufiq Ila Aqwamith Thariq.
Referensi
- Shahih Muslim, Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairi, Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, Mathba'ah 'Isa Al-Babi Al-Halabi-Kairo, Cet. Tahun 1374 H/1955 M.
- Al-Adab Al-Mufrad, Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Takhrij sesuai hukum Syaikh Al-Albani, Maktabah Al-Ma’arif-Riyadh-KSA, Cet. 1, Tahun 1419 H/1998 M.
- Al-Mu'jam Al-Ausath, Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub Al-Lakhmi Ath-Thabarani, Tahqiq Thariq bin 'Iwadhullah dan Abdul Muhsin bin Ibrahim Al-Husaini, Dar Al-Haramain-Kairo, Cet. Tahun 1415 H/1995 M.
- Musnad/Sunan Ad-Darimi, Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman Ad-Darimi, Tahqiq Hasan Salim Asad Ad-Darani, Dar Al-Mughni-KSA, Cet. 1, Tahun 1412 H/2000 M.
- Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah Wa Syai’ Min Fiqhiha Wa Fawaidiha, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Maktabah Al-Ma’arif, Riyadh-KSA, Cet. Tahun 1995 M/1415 H.
- Fath Al-Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, Abul Fadhl Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Al-Asqalani, Dar Al-Ma’rifah-Beirut, Cet. Tahun 1379 H.
- At-Ta’rifat, ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali Al-Jurjani, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah-Beirut, Cet. 1, Tahun 1403 H/1983 M.
- Lisan Al-‘Arab, Abul Fadhl Jamaluddin Muhammad bin Mukrim Ibnu Mandzur, Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi-Beirut, Cet. 3, Tahun 1417 H/1997 M.
- Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, PT. Gramedia Pustaka Utama, Cet. 9, Edisi 4, September 2015.
- Al-Khuluq Al-Hasan Fi Dhau’ Al-Kitab Wa As-Sunnah, Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani, Maktabah Al-Malik Fahd Al-Wathaniyah-KSA, Cet. 1, Tahun 1431 H/2010 M.
- Ghayah An-Nihayah Fi Thabaqat Al-Qurra’, Syamsuddin Abul Khair Muhammad bin Muhammad bin Yusuf Ibnul Jauzi, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah-Beirut, Cet. 1, Tahun 1427 H/2006 M.
- Adab At-Dunya Wa Ad-Din, Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad bin Muhammad Al-Mawardi, Dar Al-Minhaj-Beirut, Cet. 1, Tahun 1434 H/2013 M.
- Al-Adab Asy-Syar’iyah Wa Al-Minah Al-Mar’iyah, Abu Abdillah Syamsuddin Muhammad bin Muflih Al-Hambali, Tahqiq Syu’aib Al-Arnauth dan Umar Al-Qayyam, Muasasah Ar-Risalah-Beirut, Cet. 3, Tahun 1419 H/1999 M.
- Hilyah Al-Auliya’ Wa Thabaqat Al-Ashfiya’, Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah Al-Ashbahani, Mathba’ah As-Sa’adah-Mesir, Cet. Tahun 1394 H/1974 M.
- Al-Jami’ Li Akhlaq Ar-Rawi Wa Adab As-Sami’, Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali bin Tsabit Al-Khathib Al-Baghdadi, Tahqiq DR. Muhammad ‘Ajjaj Al-Khathib, Muasasah Ar-Risalah-Beirut, Cet. 3, Tahun 1416 H/1996 M.
- Tadzkirah As-Sami’ Wa Al-Mutakallim Fi Adab Al-‘Alim Wa Al-Muta’allim, Badruddin Ibnu Jama’ah Al-Kinani, Tahqiq Muhammad Hasyim An-Nadawi, Dairah Al-Ma’arif-Beirut, Cet. Tahun 1354 H.
- Madarij As-Salikin Fi Manazil As-Sairin, Abu Abdillah Muhammad bin Abu Bakr Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Dar ‘Atha’at Al-Ilm-KSA, Cet. 2, Tahun 1441 H/2019 M.
- Adab Al-Imla’ Wa Al-Istimla’, Abu Sa’ad Abdul Karim bin Muhammad bin Manshur As-Sam’ani, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah-Beirut, Cet. 1, Tahun 1401 H/1981 M.
- Iqtidha’ Al-Ilm Al-‘Amal, Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali bin Tsabit Al-Khathib Al-Baghdadi, Tahqiq Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Al-Maktab Al-Islami-Beirut, Cet. 4, Tahun 1397 H.
- Tartib Al-Madarik Wa Taqrib Al-Masalik, Abul Fadhl Al-Qadhi ‘Iyadh bin Musa Al-Yahshabi, Mathba’ah Fadhalah-Maghrib, Cet. 1, tanpa menyebut tahun.
- Situs dorar.net, https://dorar.net/aadab/4/الفرق-بين-الأدب-والخلق-والسلوك. Diakses pada tanggal 23 Maret 2025.