Ikatlah Ilmu, Dekaplah Buah Hati: Cerita di Balik Layar Santri Cilik HSI
Reporter: Dian Pujayanti
Redaktur: Dian Soekotjo
Di tengah perkembangan teknologi yang demikian pesat, orang tua menghadapi tantangan besar dalam menjaga anak-anak dari derasnya arus informasi yang tak selalu baik. Di sisi lain, teknologi sebenarnya bisa menjadi sarana kebaikan apabila digunakan dengan bijak. Memanfaatkan gawai sebagai media belajar ilmu agama atau gerbang madrasah kontemporer, misalnya. HSI AbdullahRoy merintisnya sejak 2013 atau 13 tahun lampau.
Pemandangan orang tua dan anak belajar bersama di HSI Abdullah Roy boleh jadi adalah potret yang menghangatkan hati di masa ini. Melalui pembelajaran daring, sekeluarga bersama-sama belajar ilmu syar’i. Ini mempererat hubungan keluarga, sekaligus memupuk semangat menuntut ilmu sejak dini.
Kesadaran bahwa ilmu adalah landasan sebelum beramal mendorong banyak orang tua turut mendampingi putra-putri belajar agama. Sebab, pendidikan yang baik merupakan bekal penting bagi anak dalam menghadapi kehidupan dan menjaga agamanya di tengah tantangan zaman.
Langkah ini selaras dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Al Hakim: “Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al Hakim: 7679)[1]. Sebagaimana pula ditegaskan oleh Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, “Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.” (Tuhfah al Maudud hal. 123)[2].
Edisi Keliling HSI kali ini menghadirkan kisah santri cilik yang tumbuh bersama suasana belajar ilmu syar’i di lingkungan keluarganya. Semoga menjadi inspirasi dan pengingat bahwa menanamkan kecintaan kepada ilmu agama dapat dimulai sejak usia dini, dari rumah, dan dari kebersamaan yang sederhana.
Meniti Pijar Tauhid di Usia Muda
Majalah HSI berkesempatan berbincang hangat dengan dua dari 300 lebih santri cilik HSI nan inspiratif. Ada Ananda Ilyasa (12) dan Ananda Majdan Mazayadipa (13). Keduanya santri belia yang tumbuh subur di "taman" keluarga pembelajar. Mereka meniti jalan thalabul ilmi, mengikuti jejak spiritual menuntut ilmu yang selama ini senantiasa dicontohkan di rumah.
Bagi saudara kecil kita Ananda Ilyasa atau yang kerap disapa Ilyasa, HSI adalah bagian dari memori masa kecilnya. Sejak kelas 3 SD, ia kerap memperhatikan orang tuanya tenggelam dalam lembar-lembar ilmu. Rasa penasaran itu pelan-pelan berubah menjadi tekad. "Dulu belum paham sistemnya, jadi belum terlalu tertarik. Tapi melihat Abi Umi, Ilyasa jadi tertarik. Motivasi utama Ilyasa itu ingin memahami agama lebih baik dan menerapkannya sehari-hari," ujar Ilyasa yang tinggal di Tangerang Selatan, Banten.
Namun, jalan menuju program reguler menuntut kesabaran karena umurnya belum memadai. Setelah sempat tertunda, titik balik muncul saat sang ayah mendaftarkannya ke program tahsin umum HSI QITA. Langkah kecil di kelas tahsin inilah yang menjadi wasilah baginya mendapatkan nomor identitas santri (NIP). “Alhamdulillah, pintu menuju HSI Reguler yang awalnya terasa jauh, justru terbuka lebar melalui jalan tahsin,” kenang Ukhtunna Sari Ummu Ilyasa dengan syukur.
Beranjak ke Kota Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur, saudara kecil kita lainnya, Ananda Majdan Mazayadipa atau yang akrab disapa Majdan menyuguhkan cerita yang tak kalah menggugah. Jarak tempat tinggal yang jauh dari sekolah sunnah tak membuatnya patah arang. Majdan memilih jalur homeschooling, dan di garis inilah HSI hadir layaknya oase di tengah padang pasir. “Di keluarga Majdan, Mama duluan yang masuk HSI tahun 2019, program Reguler terus Mahazi. Ada Om (adik Mama) yang kebetulan mengenalkan HSI pertama kali. Kebetulan juga rumah Majdan jauh dari sekolah Sunnah, makanya Mama memilihkan Majdan untuk homescholling. Oiya kalau Abi ikut HSI Reguler,” ungkap Majdan.
Baginya, jarak geografis bukanlah hambatan untuk memuaskan dahaga akan ilmu. "Ikut HSI agar Majdan bisa memiliki bekal ilmu agama yang lebih banyak dan luas," ungkap Majdan singkat, namun terdengar tegas.
Merawat Semangat
Dalam perjalanan menuntut ilmu, semangat tidak selalu berada pada titik yang sama. Ada kalanya tumbuh antusias dan penuh motivasi, namun ada pula masa ketika rasa lelah, bosan, atau sedih saat melakukan kesalahan mulai muncul. Hal ini wajar, terlebih bagi anak-anak yang masih berada dalam masa belajar mengenali dan mengelola perasaan mereka. Karena itu, peran orang tua menjadi sangat penting sebagai pendamping yang menjaga semangat anak agar tetap tumbuh dalam menuntut ilmu agama.
Bagi Ilyasa, HSI menjadi tempat belajar yang memberinya banyak manfaat. Pemahaman tentang pentingnya ilmu agama membuatnya ingin terus bertahan belajar di sana. “Ilyasa bertahan belajar di HSI itu karena HSI sangat bermanfaat. HSI membuat orang mudah belajar ilmu agama sesuai Allah dan Rasul-Nya. Dan ilmunya juga langsung bisa diamalkan,” tuturnya.
Meski beberapa kali sempat terlewat evaluasi karena lupa, Ilyasa merasa dukungan Abi dan Umi menjadi penyemangat tersendiri ketika rasa jenuh datang. Orang tuanya selalu mengingatkan, “Nilai bukanlah tujuan utama. Nikmatilah setiap prosesnya dan jangan memaksakan diri untuk menguasai segalanya, seketika.”
Hal serupa dirasakan Majdan. Ia mengaku senang belajar di HSI karena sistem pembelajarannya terstruktur layaknya sekolah formal. Walau sempat mengalami kesulitan dalam mengatur waktu, dukungan keluarga membuatnya tetap bertahan. Sang Mama menanamkan pentingnya mempelajari ilmu agama sebagai bekal hidup. “Mama memang sangat disiplin. Kata Mama, ‘Kalau Majdan mau selamat dunia akhirat, belajar ilmu agama, meski boleh mempelajari ilmu lain. Lalu berusaha amalkan dengan benar. Mama sebagai orang tua hanya bisa meninggalkan ilmu untuk anak-anak’,” papar Majdan yang terdaftar menjadi santri HSI sejak pertengahan 2023.
Bagi sang Mama, kedisiplinan dalam mendidik anak merupakan bentuk perhatian dan kasih sayang agar anak-anak memiliki pegangan hidup yang kuat. “Mama memang agak terlalu ketat dalam menerapkan ilmu agama. Karena Mama juga seperti itu, disiplin sama ilmu agama,” tambah Majdan.
Strategi Memahat Ilmu
Menuntut ilmu bagi anak adalah proses belajar menyeimbangkan disiplin dan semangat. Dalam Islam, menjaga ilmu dengan menulis juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jagalah ilmu dengan menulis.” (Shahih Al-Jami’, no. 4434. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih)[3].
Menyadari usia Ilyasa dan Majdan yang masih belia, keluarga besar mereka turut mengambil peran dalam mendukung proses belajar di HSI. Orang tua, bahkan Om dan Tante, membantu menyiapkan catatan materi agar keduanya dapat lebih fokus memahami pelajaran tanpa merasa terlalu terbebani oleh proses mencatat. Dengan cara ini, mereka lebih leluasa membaca, mengulang materi, serta menyelesaikan evaluasi dengan nyaman.
“Malam hari adalah waktu bagi Majdan untuk melakukan murojaah materi HSI menggunakan catatan dari Tante,” ungkap Majdan, anak kedua dari dua bersaudara tersebut. Dengan memanfaatkan jeda pagi sampai sore di antara jadwal hafalan dan belajar Al-Qur’an, hadits, bahasa Arab, dan bahasa Inggris, ia berusaha menuntaskan evaluasi harian dengan baik.
Senada dengan Majdan, Ilyasa pun memiliki waktu belajarnya sendiri. “Umi ikut HSI sejak 2018, Abi 2017. Jadi seringnya Ilyasa melihat catatan Umi dan Abi yang lama itu sambil mendengarkan materi setelah pulang sekolah, ba’da Ashar. Lalu mengerjakan evaluasi agar tidak terlewatkan, karena kan besok pagi mau sekolah lagi,” terang Ilyasa.
Dukungan keluarga tersebut semakin terasa dengan fleksibilitas sistem belajar HSI yang memudahkan para santri mengakses materi dari mana saja. “Umi bilang, HSI itu adalah kemudahan yang luar biasa. Bisa diakses dari rumah tanpa harus menempuh jarak jauh. Sistem belajarnya menarik, mengikuti perkembangan teknologi zaman sekarang yang banyak via online, whatsapp, dan web. Ilyasa bisa belajar di mana saja dan kapan saja, tinggal menyesuaikan waktu yang ada,” ungkap Ilyasa menirukan pesan sang Umi.
Ummu Ilyasa juga sering mengingatkan bahwa belajar agama memang memiliki tantangan tersendiri. Tidak hanya anak-anak, orang tua pun merasakan kesulitan ketika materi semakin mendalam. Pendekatan yang penuh pengertian itu membantu menjaga semangat Ilyasa dalam belajar.
Namun, di balik semangat tersebut, terselip rasa sedih karena kebersamaannya dengan HSI akan segera berubah. “Sebenarnya sedih, karena sebentar lagi tidak bisa mengikuti HSI lagi. Setelah lulus SD, insyaAllah akan lanjut ke pondok. Semoga nanti ada caranya agar tetap bisa mengikuti materi HSI,” tutur Ilyasa penuh harap.
Pada akhirnya, kisah Ilyasa dan Majdan bukan sekadar tentang menyelesaikan evaluasi atau mengikuti kurikulum. Ada peran keluarga yang saling mendukung agar anak-anak tetap tumbuh dekat dengan ilmu agama. Di balik lembar catatan dan evaluasi yang dikerjakan setiap hari, ada perhatian, doa, dan ikhtiar orang tua dalam mendampingi anak-anak mereka menuntut ilmu.
Semoga semangat belajar dan kebersamaan seperti ini terus terjaga, sehingga anak-anak dapat tumbuh dengan kecintaan kepada ilmu agama dan memiliki pondasi iman yang kuat dalam menghadapi kehidupan. Aamiin Allahumma Aamiin.