Idul Fitri: Bukan Cuma Seru, Tapi Perlu Lurus
Reporter: Putri Octaviani
Redaktur: Gema Fitria
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا، فَقَالَ: «مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟» قَالُوا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الأَضْحَى، وَيَوْمَ الْفِطْرِ
“Ketika Rasulullah ﷺ datang ke Madinah, penduduknya memiliki dua hari yang biasa mereka gunakan untuk bermain. Maka beliau bertanya, “Dua hari apakah ini?” Mereka menjawab, “Kami biasa bermain pada dua hari itu di masa jahiliyah.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengganti untuk kalian dua hari yang lebih baik daripada keduanya, yaitu hari Idul Adha dan hari Idul Fitri.” (HR. Sunan Abu Dawud no. 1134, dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani)
Libur sekolah yang panjang, banyak hidangan istimewa, dan momen berkumpul bersama keluarga, mungkin tiga hal inilah yang terlintas di benak ketika mendengar kata Lebaran.
Ketika pertanyaan tentang makna Idul Fitri yang sebenarnya, dilontarkan kepada teman-teman santri HSI, jawaban pun beragam. Ada yang menyebut hari kemenangan, ada yang mengatakan hari saling memaafkan, ada pula yang sekadar menjawab, “Hari Raya setelah puasa.”
Pertanyaan tentang makna itu, penting. Sebab dalam Islam, Idul Fitri bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah hari raya yang ditetapkan Allah bagi kaum muslimin. Karena itu, generasi muda perlu memahaminya dengan benar, agar kita tidak hanya ikut merayakan, tetapi juga menyadari dan mengenali identitas Islam yang hakiki.
Lebaran Itu Apa Sih?
“Lebaran itu hari kemenangan.”
“Kalau menurutku, yang paling berkesan kumpul keluarga.”
“Setelah puasa sebulan, terus kita shalat Id.”
Jawaban-jawaban itu muncul ketika beberapa teman santri HSI secara acak dipilih dan ditanya tentang makna Idul Fitri yang sebenarnya. Dari jawaban mereka, terlihat bahwa Lebaran memang terasa istimewa. Namun, belum semuanya benar-benar memahami bahwa Idul Fitri bukan sekadar momen tahunan yang datang dan pergi.
Dalam Islam, Idul Fitri adalah satu dari dua hari raya yang Allah tetapkan bagi kaum muslimin. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah telah mengganti dua hari raya orang-orang jahiliyah dengan dua hari yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Artinya, hari raya ini bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan bagian dari syariat.
Mudik, Sunnah atau Tradisi ya?
Tidak semua yang dilakukan saat Lebaran adalah bagian dari ibadah. Ketika ditanya tentang kebiasaan Lebaran, jawaban teman-teman santri cukup beragam.
“Lebaran mudik ke Tebing Tinggi, ke rumah Atuk (sebutan kakek/nenek yang dipakai Suku Melayu, red),” ujar Ahmad yang baru duduk di bangku kelas 1 SMP. Sama halnya juga yang dilakukan keluarga Okta yang hampir selalu mudik dari Bogor ke Garut. “Iya, ke rumah Aki dan Abah. Aki itu kakek aku dari Papa, kalau Abah dari Mamah,” ujar santri Angkatan 252 itu kepada Majalah HSI.
Ada lagi Mysha sekeluarga yang sering mudik dari Jakarta ke Surabaya. “Naik kereta api hari terakhir puasa. Nanti sampainya ketika mau buka malam takbiran,” ujar Mysha berbagi cerita. Sementara Rafa, santri Angkatan 251, juga punya kebiasaan Lebaran keluarga yang tidak jauh berbeda. “Kami sekeluarga mudik ke Klaten, ke rumah Yangti (nenek dalam bahasa Jawa, red),” kisahnya. Dan tentu banyak lagi teman-teman santri yang ikut orang tuanya mudik ke keluarga asal.
Meskipun banyak keluarga muslim melakukan mudik, sebenarnya itu hanyalah budaya, bukan kewajiban agama. Mudik untuk menyambung silaturahmi adalah perbuatan baik. Namun, ia bukanlah ibadah khusus yang dianjurkan pada hari raya Idul Fitri.
“Atuk sudah tua, Bunda ingin lebih sering ketemu,” ungkap Ahmad menceritakan alasan mengapa keluarganya kerap mudik Lebaran. Ia mengaku sudah memahami bahwa setiap kali mudik hanya sekadar kebiasaan masyarakat Indonesia, tapi keluarganya punya alasan lain memilih Lebaran sebagai waktu khusus menemui sang kakek. “Kalau Lebaran, keluarga yang jauh-jauh juga kumpul, jadi Bunda dan Ayah sering pilih momen Lebaran untuk mengunjungi Atuk,” tuturnya.
Tradisi Maaf-Memaafkan
Masih ada kebiasaan lain yang sejatinya bukan ibadah khusus Lebaran. Seperti saling memaafkan. Beberapa teman santri juga bercerita bahwa momen Lebaran sering dimanfaatkan keluarga untuk saling meminta maaf.
Okta misalnya, mengatakan bahwa setelah shalat Id, keluarga besarnya biasa berkumpul di ruang tamu sebelum makan bersama. “Semua salim ke Abah atau ke Aki dulu, lanjut ke yang lebih muda. Kami juga salim ke Papa, ke Mama, sama adik-adik,” cerita gadis yang baru menginjak usia 15 tahun tersebut.
Pengalaman yang hampir sama, juga dialami Rafa. Ia mengaku setiap Lebaran keluarganya punya kebiasaan berbaris untuk bersalaman dengan orang yang lebih tua. “Kami sungkem sama Yangti, Bapak, Ibu, terus saling minta maaf,” ujarnya.
Mysha menceritakan tradisi yang tidak jauh berbeda. “Kalau sudah kumpul di rumah Eyang di Surabaya, biasanya kami saling minta maaf setelah shalat Id. Kadang sampai ada yang nangis,” kata Mysha membagikan pengalaman.
Tradisi saling maaf-memaafkan ini memang sangat dikenal di masyarakat kita. Namun sebenarnya, meminta maaf dan memaafkan tidak hanya dianjurkan pada saat Lebaran saja. Seorang muslim diperintahkan untuk saling memaafkan kapan pun, tidak harus menunggu hari raya.
Lebaran sering menjadi momen yang dipilih banyak keluarga karena saat itulah mereka bisa berkumpul bersama. Namun yang terpenting bukanlah harinya, melainkan keikhlasan hati untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
Gembira yang Tetap Taat
Kegembiraan dalam Islam tidak boleh keluar dari batas syariat. Idul Fitri memang hari yang penuh kebahagiaan. Bahkan Rasulullah ﷺ membolehkan kaum muslimin bergembira di hari raya. Kegembiraan di hari raya bukan tentang bebas dari aturan. Ia adalah tanda syukur setelah menyelesaikan Ramadhan. Karena itu takbir dikumandangkan, mengagungkan asma Allah atas nikmat-Nya.
Teman-teman santri rata-rata turut merasakan suasana Lebaran yang penuh kegembiraan. Rafa misalnya, mengatakan bahwa saat makan bersama setelah shalat Id lah paling membahagiakan hatinya. “Makan enak, kue-kue juga banyak,” ujarnya.
Sementara bagi Mysha, kegembiraan Lebaran terasa sejak perjalanan menuju rumah neneknya di Surabaya. “Seneng jalan-jalan. Naik kereta api lagi,” ungkapnya. Okta juga mengaku senang saat Lebaran karena bisa bertemu sepupu-sepupu. “Seneng kumpul sepupu-sepupu karena banyak yang sebaya,” katanya.
Meski penuh kegembiraan, teman-teman santri juga memahami bahwa kebahagiaan di hari raya tetap harus dijaga agar tidak melanggar syariat. Lebaran adalah momen bersyukur kepada Allah.
Lebaran memang selalu membawa banyak cerita. Ada perjalanan mudik yang panjang, rumah-rumah yang kembali ramai, juga hidangan lezat yang melimpah. Semua menjadi bagian dari tradisi yang melekat kuat di tengah masyarakat kita.
Namun di balik gegap gempita hari istimewa tersebut, ada makna yang jauh lebih dalam. Idul Fitri adalah momen bersyukur kepada Allah dan juga muhasabah atas ibadah kita selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Karena itu, kegembiraan di hari raya seharusnya dijadikan momen untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, bukan semakin menjauhkan. Semuanya menjadi pengingat bahwa kebahagiaan seorang muslim tetap berada dalam bingkai ketaatan.
Semoga kita termasuk orang-orang yang benar-benar meraih makna kemenangan di hari Idul Fitri, yaitu kembali kepada fitrah, dengan hati yang lebih bersih, dan tekad untuk terus taat kepada Allah. Selamat Lebaran, teman-teman. Taqabbalallahu minna wa minkum… Semoga Allah terima ibadah kami dan ibadah kalian. Baarakallahu fiikum.