Selasar Murabbiyah
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Ibu: Lokomotif Ketaatan di Bulan Dzulqa’dah

Reporter: Loly Syahrul

Redaktur: Gema Fitria


Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” 

(HR. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829)[1]

Bulan haram adalah bulan yang disucikan, di mana dosa pada bulan-bulan tersebut diberi ganjaran yang lebih besar sebagaimana amalan dilipatgandakan pahalanya. Kini kita telah berada di salah satu bulan haram yaitu bulan Dzulqa’dah. Hendaknya kita sebagai orang beriman yang berorientasi akhirat, memberikan perhatian lebih pada bulan ini.

Ibu sebagai murabbiyah senantiasa menjadi tempat anak-anak bercermin dalam segala hal baik ucapan, tingkah laku, maupun cara ibu berhubungan dengan Rabb-Nya. Hendaknya seorang ibu memulai dari diri sendiri. Kesadaran diri seorang ibu untuk terus-menerus memperbaiki kualitas ibadah secara istiqamah termasuk di bulan Dzulqa’dah ini, tentu akan menjadi teladan yang baik bagi anak-anak.

Memberi teladan kepada putra-putri kita jauh lebih besar dampaknya kepada jiwa mereka ketimbang kita hanya menyuruh tanpa memberi contoh. Jadi, ibu menjalankan dua peran sekaligus: memastikan diri sendiri tidak dalam kondisi lalai dan senantiasa memantau ibadah anak-anak agar tetap berjalan dengan tetap mempertahankan prinsip dasar tarbiyah kepada anak-anak sehingga insyaallah mereka akan merasakan proses ini sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Penyebab Semangat Ibadah Melemah di Bulan Dzulqa’dah

Dzulqa’dah adalah bulan haram kedua setelah Ramadhan. Pada bulan Ramadhan, biasanya energi kita terkuras untuk beribadah, dan di bulan Syawwal sebagian dari kita disibukkan dengan perjalanan ke luar kota baik untuk bersilaturahmi ataupun berlibur bersama keluarga tercinta. Akibatnya, ketika bulan Dzulqa’dah tiba, semangat cenderung melemah. Cahaya ibadah mulai meredup.

Faktor lainnya adalah ketidaktahuan tentang keutamaan dan keagungan nilai ibadah di bulan Dzulqa’dah. “Dulu sebelum belajar, saya tidak tahu bahwa di dalam Islam ada keutamaan waktu dalam beribadah, sehingga bulan-bulan haram tidak menjadi perhatian dan prioritas saya untuk beribadah. Alhasil tidak ada bedanya Dzulqa’dah dengan bulan-bulan biasa,” sesal Ukhtuna Sundari, santriwati HSI ART-221.

Pemahaman kita akan agama ternyata benar-benar akan membawa kita pada tingkatan amal yang lebih baik. Terbukti dari kisah ibu dua putri ini. “Alhamdulillah, bersyukur pada Allah Ta’ala, sejak belajar, saya jadi paham dan berusaha terus istiqamah untuk meningkatkan kualitas ibadah saya dan juga menyampaikan apa yang saya pelajari kepada anak-anak. Mudahan-mudahan saya bisa terus beribadah secara ikhlas karena Allah di sepanjang tahun,” pungkas pemilik usaha event organizer ini.

Tips Menciptakan Suasana Agar Mudah Beribadah

Ibu adalah tokoh sentral di dalam rumah yang menjadi lokomotif bagi putra-putri untuk memimpin dan membimbing mereka untuk tetap dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala khususnya di salah satu bulan haram ini. Kesadaran seorang ibu akan hal ini akan membantu beliau dalam menerapkan syariat agama Allah di dalam rumahnya.

Ukhtuna Risa, santriwati HSI ART-221, berbagi cerita bahwa bahwa beliau senantiasa memberikan sugesti kepada putra tunggalnya tentang adanya pengawasan Allah. “Saya tanamkan di pikiran saya dan putra saya bahwa Allah maha mengawasi dan Allah menyukai ibadah hamba-Nya yang istiqamah sehingga alhamdulillah anak saya dengan mudah bisa paham bahwa kita tetap harus menjaga ibadah, baik di sekolah, di rumah, atau di mana saja kita berada,” ungkap pengusaha kue di Kota Padang tersebut.

Di zaman melesatnya teknologi seperti saat ini, gawai adalah salah satu godaan paling kejam dalam mengalihkan perhatian anak dari ketaatan kepada Allah. Ukhtuna Novita, santriwati HSI ART-212 memiliki trik khusus dalam menyulap suasana rumah agar mudah beribadah. ”Dalam hal ibadah, setelah dua putra saya beranjak dewasa, saya menggunakan cara VOC, tegas dan keras. Tentu saja sebelumnya sudah dijelaskan kepada mereka bahwa visi dari keluarga adalah masuk surga. Sebab makin besar, makin banyak godaan buat mereka, sehingga jika kita tidak mengawasi dengan ketat, maka anak-anak lebih mudah tergelincir dalam maksiat terutama dari gawai yang senantiasa ada di genggaman mereka,” urainya panjang.

Upaya lainnya, Ukhtuna Novita membuat jadwal rutin ibadah harian, mengingatkan ibadah lewat pesan Whatsapp, tadabbur Al-Qur’an, termasuk mewajibkan anak-anaknya menjadi santri HSI. “Saya memang agak keras untuk urusan ibadah. Alhamdulillah karena kami sudah memulai sejak mereka masih kanak-kanak, mereka tidak keberatan atau protes. Buat saya ini adalah salah satu ikhtiar untuk mencari ridha Allah. Aamiin Allahumma Aamin,” harapnya.

Peran Ibu Dalam Memantau Ibadah Anggota Keluarga

Pendidikan dari seorang ibu yang memiliki ilmu agama biasanya akan tergambar jelas di profil putra-putrinya. Lingkungan yang penuh dengan ketaatan maka biidznilah akan memudahkan anak-anak untuk taat. Target ibadah yang diterapkan seorang ibu akan bisa diduplikasi dengan mudah oleh anak-anak ketika ibu juga istiqamah mengejar target tersebut.

Ukhtuna Chaca, santriwati HSI ART-181 yang juga aktif menjadi Muraqibah di KBM Reguler dan LAZ HSI Berbagi, sudah mulai menerapkan target ibadah harian kepada putrinya sejak usia dini. “Jadi pas sudah sebesar sekarang, jika azan sudah berkumandang sebagai penanda waktu shalat, putri kami serta-merta ikut ibunya shalat di rumah. Sudah nggak perlu dipaksa. Hanya namanya anak, tetap saja ada nggak mulusnya. Adakalanya dia ngambek dan nggak mau, maka kita rayu juga dengan mengingatkan bawah Allah sudah memberi nikmat yang banyak. Tentu saja penerapan ibadah di rumah juga butuh kerjasama antara ana dan suami,” ucapnya.

Senada dengan Ukhtuna Chaca, Ukhtuna Eni, santriwati ART-232 yang berprofesi sebagai tenaga pendidik mengungkapkan pentingnya menekankan pendidikan agama bagi anak usia dini dengan cara yang lembut dan menyenangkan. Ukhtuna Eni mengatakan anak-anak adalah peniru ulung. Untuk itu, kita sebagai guru atau orang tua perlu memperlihatkan rasa senang ketika beribadah sehingga anak-anak akan melihat bahwa ibadah itu sesuatu yang menyenangkan.

“Jika diperlukan, kita bisa memberi hadiah sebagai apresiasi ketika anak mencapai target-target ibadah yang kita tetapkan. Pemahaman akan ibadah kita sambungkan dengan kehidupan sehari-hari, sampai mereka memahami bahwa ibadah adalah sesuatu yang harus dibiasakan. Bukan hanya kegiatan khusus pada waktu-waktu tertentu saja,” tutup ibu yang berdomisili di Karawang ini.

Sekelumit kisah dari para murabbiyah di atas, semoga bisa memotivasi kita dan keluarga dalam menjadikan bulan Dzulqa’dah sebagai bulan menabur amal. Dzulqa’dah adalah permulaan dari empat bulan haram (suci) yang Allah Ta’ala tetapkan di dalam Al-Qur’an. Maksiat dan dosa pada bulan-bulan ini akan dilipatgandakan ganjarannya.

Para ibu tidak hanya hanya memberi kepada anggota keluarga untuk beribadah di salah satu bulan haram ini, akan tetapi yang lebih utama adalah menyemangati dirinya sendiri. Tidak masalah kalau ringan. Tidak masalah kalau pelan, yang terpenting tidak putus di tengah jalan.

Tak lupa kita memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memudahkan kita memperbanyak amal di bulan Dzulqa’dah. Kita juga berharap, mudah-mudahan Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai hamba yang menghormati ketetapan-ketetapan-Nya dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba yang terus istiqamah menjalankan syariat Allah dan Rasul-Nya. Aamiin Allahumma Aamiin. Selamat berjuang, para Ibu.

8