Selasar Murabbiyah
🎧 Dengarkan Artikel (Digenerate dengan Gemini AI)

Ibu dan Kewajiban Menuntut Ilmu

Reporter: Loly Syahrul

Redaktur: Gema Fitria


Allah Ta’ala berfirman,

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah, ‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’” [QS. Thaha: 114]

Allah mengajarkan kepada hamba-Nya untuk berdoa memohon tambahan ilmu. Demikianlah salah satu bukti betapa pentingnya ilmu dalam kehidupan anak Adam. Tidak ada batasan usia, termasuk ketika seseorang telah menapaki fase kehidupan menjadi seorang ibu.

Di sisi berseberangan, ada kalanya satu agenda ditunda ketika hari terasa penuh. Belajar sering kali termasuk salah satunya. Bagi seorang ibu, urusan anak, suami, rumah, hingga pekerjaan datang silih berganti. Waktu untuk membuka buku, menyimak kajian, atau mengikuti kelas pun mudah tersisih oleh kesibukan yang seolah tidak pernah selesai.

Namun, bagi seorang muslimah, menuntut ilmu syar’i bukan sekadar aktivitas yang dilakukan ketika memiliki waktu luang. Ia adalah kewajiban yang perlu terus dijaga, termasuk ketika peran sebagai ibu membuat waktu terasa demikian sempit.

Kesibukan tidak selalu bisa dikurangi. Karena itu, sebagian ibu memilih untuk tidak menunggu datangnya waktu yang benar-benar senggang. Mereka belajar di sela aktivitas, mengikuti kelas yang tersedia, menyusun jadwal, dan mencari lingkungan yang membantu menjaga semangat menuntut ilmu.

Tidak Menunggu Waktu Luang

Samudera ilmu demikian luas, sementara umur dan kapasitas berpikir manusia terbatas. Meski demikian, kewajiban tetaplah kewajiban. Menuntut ilmu tak mungkin dikesampingkan. Di tengah tanggung jawab mengurus keluarga, seorang ibu tetap perlu memberi ruang bagi dirinya untuk terus belajar.

Hal ini sangat disadari Ukhtuna Widya, salah satu santri HSI Angkatan 192. “Belajar ilmu syar’i adalah perintah Allah. Jika itu perintah Allah maka pahalanya juga pasti besar. Selain itu, saya berharap bisa menjadi contoh buat anak-anak,” demikian ibu yang juga bekerja sebagai guru les private ini menjelaskan alasannya. Ia tampak bertekad terus belajar karena menurutnya semakin banyak belajar, semakin disadarinya banyak sekali ilmu yang belum ia ketahui.

Perjalanan belajarnya pun terus berlanjut. “Alhamdulillah dengan izin Allah bisa belajar di HSI. Selain di KBM reguler, saya juga sudah menyelesaikan Akademi Bahasa Arab HSI level Qatayef, mengikuti kelas Mahazi, Akademi Zakat, dan alhamdulillah sampai sekarang masih belajar tahsin untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an saya,” ujarnya bernada syukur.

Kemudahan teknologi membuat kesempatan belajar semakin terbuka. Komunitas belajar bermunculan, kajian dapat diikuti secara daring, dan berbagai program pembelajaran bisa diakses tanpa harus selalu hadir secara langsung. Bagi ibu yang memiliki banyak peran, kemudahan tersebut dapat menjadi jalan untuk tetap terhubung dengan ilmu.

Semangat serupa juga berusaha dijaga oleh Ukhtuna Fitra, santri HSI yang mulai masuk tahun 2022. Ibu satu putra ini sudah menyelesaikan kelas Bahasa Arab Akademi Khunafa HSI sampai level terakhir, ikut belajar di kelas Akademi Zakat, dan berpartisipasi aktif sebagai peserta di HSI Tartil Akademi.

“Belajar ilmu agama yang syar’i menjadi panduan saya agar tidak salah arah, mengerti cara hidup yang benar di dunia dan bersiap-siap untuk menghadapi kehidupan setelah mati,” ujarnya.

Sedikit, tetapi Terus Berjalan

Kesibukan seorang ibu mungkin tidak akan pernah benar-benar selesai. Karena itu, menuntut ilmu membutuhkan cara agar tetap bisa berjalan berdampingan dengan tanggung jawab lainnya.

Bagi Ukhtuna Fera, lingkungan yang baik menjadi salah satu cara untuk menjaga semangat tersebut. “Saya menjalin pertemanan dengan teman-teman yang punya semangat yang sama. Kita saling mengingatkan untuk selalu semangat belajar. Selain itu teman juga menjadi penguat iman. Kita saling menyemangati untuk mengamalkan apa yang kita pelajari,” ucap santri HSI warga Jakarta ini.

Sementara itu, Ukhtuna Fitra menerapkan cara lain. “Karena belajar merupakan prioritas utama selain mengurus rumah tangga, maka saya membuat jadwal harian agar keduanya bisa berjalan dengan baik,” ujarnya berbagi formula.

Cara ibu bersiasat memang berbeda-beda. Ada yang memilih belajar melalui kelas daring, mengikuti kajian ketika memiliki kesempatan, sengaja menyisihkan waktu khusus dalam jadwal harian, atau menjadikan lingkungan pertemanan sebagai pengingat agar tetap istiqamah. Yang terpenting, belajarnya para ibu tidak harus menunggu kondisi benar-benar ideal. Ada kalanya waktu yang tersedia tidak panjang. Akan tetapi tentu tetap dapat dimanfaatkan untuk aktivitas belajar meski sejenak demi sejenak.

Menuntut Ilmu Itu Kebutuhan

Faedah belajar bukan sekadar bertambahnya koleksi pengetahuan. Ilmu agama demikian perlu seumpama suluh dan kompas dalam menjalankan kehidupan.

Ukhtuna Fera, merasakan bahwa ilmu syar’i membantunya memahami kembali banyak hal. “Belajar ilmu syar’i mengantarkan saya ke jalan yang lurus dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, menunjukkan tujuan hidup, saya jadi paham mana yang haq dan mana yang bathil, dan ternyata ada amalan yang tidak diterima karena tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah,” paparnya.

Ia melanjutkan, “Pengetahuan akan kehidupan akhirat memotivasi saya untuk semangat beribadah dan meredam hawa nafsu, agar tidak terlalu fokus pada dunia.” Ukhtuna Fera juga mengaku mendapatkan ketenangan jiwa dengan belajar. “Oleh sebab itu saya terus memohon pertolongan Allah agar terus bisa menjaga ilmu dan istiqamah diatas ilmu,” pungkasnya.

Bagi seorang ibu, bekal tersebut tidak hanya dibutuhkan untuk diri sendiri, tetapi juga dalam mendampingi keluarga, karena kewajiban mendidik generasi ada di bahunya.

Terus Belajar Apapun Perannya

Menuntut ilmu tidak berhenti ketika seseorang merasa telah cukup belajar. Kesibukan pun tidak selalu menjadi alasan untuk menunda. Bahkan ketika pencapaian akademik telah tinggi dan tanggung jawab pekerjaan semakin besar, kebutuhan untuk terus belajar agama terus ada.

Umm Lana Saria, santri HSI yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Geologi di Kementerian ESDM, menunjukkan bahwa kesibukan pekerjaan dan pencapaian akademik tidak mengakhiri perjalanan belajar. Di sela padatnya agenda, ia masih menyempatkan diri belajar tahsin dan bahasa Arab. Semua dilakukannya sebagai bentuk syukur kepada Allah.

“Dengan belajar, saya berusaha mengamalkan amalan yang diperintahkan sehingga punya nilai lebih di hadapan Allah Ta’ala, karena gelar akademik tidak punya nilai lebih di akhirat,” ujar Doktor bidang Teknik Perkotaan dan Lingkungan tersebut.

Ibu dua putri ini mengatakan ilmu syar’i menjadikannya tidak ngoyo (memaksakan diri, bahasa Jawa, red) dalam bekerja. Beliau mengaku paham bahwa jabatan hanya amanah yang sudah jadi ketetapan Allah. “Saya harus kerja sebaik-baiknya karena Allah Ta’ala, sebab semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Perasaan saya jauh lebih tenang karena ada keyakinan jika kita selalu ingat Allah, maka Allah pasti akan menolong kita,” ungkapnya. Dan terus belajar adalah jalan menggapai tujuan itu.

Pengalaman para ibu tadi menunjukkan bahwa menuntut ilmu tidak selalu berlangsung dalam kondisi yang lapang. Ada yang harus membaginya dengan pekerjaan profesional, mengurus anak dan rumah tangga, atau berbagai kesibukan lainnya. Namun, keterbatasan waktu tidak harus menjadi alasan untuk berhenti menjalankan kewajiban menimba pengetahuan.

Menuntut ilmu bukan ajang kompetisi. Setiap ibu berada di titik yang berbeda untuk memulainya. Tetaplah semangat walau terasa berat. Tetaplah mengulang-ulang walau hanya satu kalimat. Jangan membandingkan diri dengan pencapaian orang lain. Karena kemenangan seorang ibu adalah tetap terhubung dengan ilmu meski dihimpit kesibukan yang berulang setiap hari.

Semoga Allah mudahkan perjalanan kita dalam menuntut ilmu. Semoga Allah mudahkan jalan kita ke surga. Barakallahufiikunna.

9